Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 34


__ADS_3

"Ren, apa ada seseorang yang menghubungi kamu?" tanya Bagas pada istrinya.


"Menghubungiku, maksudnya bagaimana mas."


Rena bertanya pada suaminya karena merasa bingung dengan pertanyaan dari Bagas.


"Mungkin ada orang yang ngasih pesan atau terus menelpon kamu."


Bagas mencoba bertanya pada istrinya. Tapi secara tidak langsung. Sebenarnya dia sudah menyelidiki tentang nomor yang selalu mengirimi pesan pada istrinya. Tapi hasilnya nihil. Nomor tersebut tidak aktif. Bahkan Bagas juga sudah meminta bantuan Mira. Tapi tidak juga membuahkan hasil. Satu-satunya cara adalah bertanya langsung pada Rena.


"Ada sih mas, tapi tidak Rena tanggapi."


"Kenapa?"


"Habisnya gak kenal. Jadi Rena biarin saja."


"Kamu harus hati-hati. Jangan mudah percaya dengan perkataan orang. Apalagi kamu nggak kenal dia."


"Sebenarnya kenapa sih mas Bagas selalu bertanya tentang itu. Apa dia masih berfikir Galih mendekatiku." batin Rena sambil mengangguk tanda mengiyakan perkataan suaminya.


Rena berpendapat bahwa Galih sudah tidak menginginkannya setelah mereka berbincang di parkiran kantor. Jika Galih menginginkannya tidak mungkin dia menjelaskan hubungan antara suaminya dan Mira. Itulah yang ada di benak Rena sekarang.


Dan itu artinya, rencana Galih berhasil. Dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari istri sahabatnya.


"Kita jadi ke rumah ibu mas?" tanya Rena sambil membereskan sisa makan malam mereka.


"Besok saja. Aku capek banget. Kerjaan jadi dobel karena Leo tidak masuk. Apalagi tadi ada pekerjaan kantor yang aku bawa pulang."


Bagas berdiri dari kursi yang dia duduki.


"Aku ke kamar dulu ya. Masih ada beberapa pekerjaan kantor yang belum selesai tadi." Bagas melangkahkan kakinya menuju kamar tidur.


Setelah selesai beberes di dapur, Rena memastikan semua pintu sudah terkunci. Kemudian dia menyusul suaminya ke kamar.


"Banyak banget ya mas kerjaannya?" Rena berdiri di belakang suaminya sembari mengamati tumpukan kertas yang ada di meja depan Bagas.


"Kalau aku bisa pasti aku bantu mas, maaf ya mas nggak bisa bantu."


"Nggak apa-apa. Inikan kerjaan aku. Tanggung jawab aku. Kenapa kamu mesti minta maaf."


Bagas membawa Rena ke pangkuannya dan menyingkirkan anak rambut yang tergerai di pipi istrinya. Di ciumnya pipi Rena.


"Sudah mas, nanti kamu nggak jadi mengerjakan ini." Rena berdiri dari pangkuan Bagas sambil menunjuk tumpukan kertas di meja.


"Oh iya, aku belum memberitahu Lina jika kita tidak jadi ke sana."


Rena berjalan menuju ranjangnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di ranjang.


Dia mencari nomor kontak Lina dan menghubungi adik iparnya.


"Assalamu'alaikum."


"Maaf ya Lin, mas sama mbak nggak jadi ke situ."


"Soalnya kerjaan yang mas Bagas bawa dari kantor banyak banget."


"Iya, pasti."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu istirahat gih. Biar cepat sembuh."


"Emang kamu baru sakit. Harus banyakin istirahat lah."


"Ya sudah mbak matikan ya."


"Assalamu'alaikum."


Rena mematikan ponselnya dan kembali berdiri di samping Bagas.


"Jangan berdiri. Itu ada kursi, kamu ambil sana."


Rena mengambil kursi di depan meja riasnya dan meletakkan di samping Bagas untuk dia duduki.


"Mas bilang saja jika ada yang bisa Rena bantu."


"Ya sudah jika kamu maksa. Ini kamu rapikan. Urutkan saja sesuai tanggalnya."


Bagas memberikan sebuah map, yang di dalam nya terdapat banyak kertas. Rena mengambilnya dan duduk di lantai.


"Kok di bawah."


"Biar lebih enak ngerjainnya."


Bagas tersenyum simpul melihat istrinya duduk di bawah dengan kaki bersila. Dia pun melanjutkan pekerjaannya.


Setelah selesai Rena memberikan map nya pada Bagas lagi. Dia meminta sesuatu yang mungkin bisa ia kerjakan lagi.


"Sudah, kamu tidur sana."


"Mas, mau kopi." tawar Rena pada suami.


"Boleh." Bagas menjawab tanpa menoleh pada Rena.


Rena bangun dari tidurnya dan melangkah keluar kamar menuju dapur.


"Ini mas kopinya, Rena taruh sini ya."


Rena menaruh kopinya di kursi yang dia duduki tadi. Dia takut jika di taruh di meja akan tersenggol Bagas. Karena banyak sekali kertas-kertas yang ada di meja Bagas. Jika kopinya tumpah, maka akan mengenai berkas di meja Bagas.


Rena kembali ke tempat tidur. Saat hendak mengambil selimut ponsel Rena menyala. Rena mengambil ponselnya dan membukanya.


"Dari siapa?" tanya Bagas di sela-sela kesibukannya.


"Dona, di tanya besok jadi masuk kerja apa tidak."


Rena membalas pesan dari Dona dan menaruh kembali ponselnya di meja dekat tempat tidur.


"Besok kamu naik apa?"


"Motor kamu saja mas, tadi kan sudah di benerin mang Ujang."


Mang Ujang adalah nama tetangga mereka yang membuka bengkel dekat rumah mereka.


"Baiklah, tapi hati-hati. Jangan ngebut."


"Hem.."

__ADS_1


Rena sudah berada di balik selimutnya.


*****


"Mas sama mbak mu nggak jadi ke sini Lin?"


"Nggak bu, mbak tadi telpon. Katanya pekerjaan mas dari kantor di bawa pulang ke rumah."


"Oo.."


Intan hanya mendengarkan obrolan antara ibu dan anak tersebut.


"Percuma tadi dandan cantik. Ternyata zonk." batin Intan kesal.


"Ya sudah, kalian kembali ke kamar. Sudah malam, sebaiknya kalian tidur. Habis sakit nggak baik tidur malam."


Saat ini mereka tengah berada di ruang tengah menyaksikan televisi.


"Ibu sama mbak Rena sama saja. Nyuruh istirahat terus. Tadi mbak Rena di telpon juga nyuruh cepet tidur."


"Kamu ini, itu tandanya kami sayang sama kamu."


Ibu Anis menjewer telinga anak perempuannya.


"Aww,, sakit bu." Lina memegang telinga yang di jewer oleh ibunya.


"Sudah sana, masuk kamar."


"Memang kita apaan. Pake di usir segala." gumam Lina.


Lina dan Intan masuk ke dalam kamar.


"Lin, aku tidur sama kamu boleh?"


"Ya sudah, ayo masuk."


"Mbak Rena itu orangnya seperti apa sih Lin?"


Mereka bercerita sambil tidur di atas kasur. Tubuh mereka sudah berada di balik selimut.


Lina menceritakan tentang Rena. Dalam cerita Lina tidak ada satupun keburukan yang di ceritakan adik iparnya tersebut. Lina menceritakan dengan nada yang senang dan senyum yang selalu merekah di bibirnya.


"Sebegitu sayangnya kamu sama kakak ipar kamu?"


Lina hanya mengangguk menjawab pertanyaan Intan.


"Tapi maaf, aku mau tanya. Mbak Rena kan belum bisa memberikan mas Bagas anak. Terus bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana."


"Orang tua kamu. Mereka bagaimana menanggapinya?"


"Ibu sama bapak biasa saja. Mereka berpendapat bahwa anak itu adalah rejeki dari Alloh. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berserah diri. Asalkan mas Bagas sama mbak Rena baik-baik saja, bagi mereka itu sudah cukup. Jika memang tidak bisa mempunyai anak, mereka bisa mengadopsi."


"Ternyata percuma mendekati mereka. Sialan. Mereka sangat menyayangi menantu tidak berguna itu. Aku harus cari cara lain. Mas Bagas harus menjadi milik ku. Dia tidak pantas bersanding dengan Rena. " batin Intan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2