Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 101


__ADS_3

"Bisa gila ibu jika punya mantu seperti dia." ucap bu Anis.


"Sabar bu. Jangan marah-marah. Umur kita ini sudah tua. Jadi jangan sampai membiarkan emosi kita meledak ledak. Bisa-bisa kita darah tinggi lagi." kata pak Ramli.


"Huft, sabar, sabar." ucap bu Anis sembari memegang dadanya.


"Pak, lebih baik bapak telepon Bagas." suruh bu Anis pada suaminya.


"Untuk apa bu?" tanya pak Ramli.


"Aduh, gimanasih bapak. Bagaimana jika Bagas berbuat khilaf lagi. Bisa-bisa di tinggalkan sama Rena dia." kata bu Anis menggebu-gebu.


"Bu, bapak kan sudah bilang. Biarkan Bagas menyelesaikan masalah keluarganya sendiri. Mereka sudah dewasa bu. Bapak percaya. Rena maupun Bagas, mereka mempunyai pemikiran sendiri. Jika nantinya Bagas mengambil sikap atau tindakan yang menurut Bapak tidak di jalurnya, bapak akan tegur dia" jelas pak Ramli.


"Semoga Tuhan segera memberikan mereka momongan ya pak." ujar bu Anis.


"Amin." ucap Pak Ramli.


Di mobil, Intan tengah uring-uringan. Usahanya mempengaruhi keluarga Bagas tidak berhasil.


"Aku harus berbicara dengan Rena. Harus. Jika mas Bagas sudah tidak bisa di hubungi. Bagaimana aku bisa mendekati dia. Keluarganya juga sangat bodoh. Hanya Rena. Iya. Aku akan menceritakan semua sama dia." ucap Intan sambil mengeluarkan ponselnya.


ADA YANG INGIN AKU BICARAKAN.


KITA BERTEMU DI CAFE B&R SORE NANTI.


Intan mengetik dan mengirim kalimat tersebut ke nomor ponsel Rena. Intan berharap, dengan menceritakan semuanya sama Rena, maka Rena pasti akan marah dan meninggalkan Bagas.


Saat sedang duduk bersantai di belakang rumah, ponsel Rena berbunyi. Satu pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


"Intan." gumam Rena saat melihat siapa pengirimnya.


"Mau apa dia mengajak ketemuan." batin Rena.


"Ada apa sayang?" tanya Bagas melihat perubahan pada raut wajah Rena saat melihat ponsel.


Rena menyerahkan ponselnya pada Bagas.


"Mau ngapain lagi dia." ucap Bagas geram.


"Sayang. Sumpah, aku memang hampir khilaf. Tapi hampir. Sumpah, aku nggak bohong." ucap Bagas sambil berlutut di hadapan Rena.


"Iya mas, aku percaya. Tapi aku harap mas jangan mengulangi lagi." kata Rena.


"Terimakasih." ucap Bagas sambil memeluk erat tubuh istrinya yang sedang duduk.


"Meskipun sangat sulit. Tapi aku akan mencoba. Aku percaya tidak ada yang sia-sia. Semoga kamu bisa menjaga kepercayaan yang ku berikan ini mas." batin Rena.


"Kamu manemui Intan?" tanya Bagas.


"Iya. Aku penasaran. Apa yang ingin dia bicarakan sama aku." kata Rena sembari menatap lurus ke depan.


"Biar aku temani." pinta Bagas.


"Iya, tapi mas duduk agak jauh ya. Biar aku sendiri yang menemui dia." jelas Rena.


"Tapi." ucap Bagas.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja." kata Rena menyakinkan suaminya.


Di butik, Lina terus kepikiran tentang ciuman yang tidak sengaja dengan Galih tadi. Saat dia melamun sambil tersenyum, Dona mengagetkannya dari belakang.


"Dor." kata Dona mengagetkan Lina.


"Kak Galih." ucap Lina spontan.


Wati yang berada di samping Lina pun langsung menatap Lina. Sementara Sari yang tengah berada di kasir juga langsung memandang ke arah Lina.


"Galih." kata Dona sambil bersedekap dan memandangi Lina secara intens.


"Eee, ee,, itu mbk, anu, emm." ucap Lina bingung sendiri.


"Kamu suka sama Galih?" tanya Dona setengah membungkuk di hadapan Lina.


Karena saat ini Lina sedang duduk di kursi bersama Wati. Karena butik sedang sepi, dan semua baju sudah tertata rapi dan juga bersih.


"Galih sama Angga itu sama. Mereka menyukai Rena. Aku harus memberitahu Lina terlebih dulu. Jangan sampai dia sakit hati." kata Dona dalam hati.


"Bisa bicara sebentar di ruangan ku." ucap Dona pada Lina.


"Wati, aku pinjam Lina sebentar ya." imbuh Dona.


"Iya mbak, silahkan." kata Wati.


Lina pun mengekor di belakangi Dona untuk menuju ke ruangan Dona.


"Ada apa mbak?" tanya Lina dengan sopan.


"Kamu duduk dulu. Mbak mau bertanya sama kamu." ucap Dona.


"Kenapa mbak?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Dona, Lina malah balik bertanya pada Dona.


"Mbak bukannya ingin ikut campur tentang kehidupan kamu. Tapi mbak hanya ingin kamu tahu. Jika kamu memang mencintai Galih, kamu harus berjuang lebih untuk mendapatkan hatinya." ucap Dona.


Seketika ruangan Dona hening. Dona memandang ke arah Lina duduk. Sedangkan Lina tampak menundukkan kepalanya.


"Saya tahu mbak. Mustahil buat saya bisa mendapatkan hati kak Galih." ucap Lina sembari mengangkat kepalanya memandang Dona dengan senyum.


"Kak Galih mencintai mbak Rena. Iyakan?" kata Lina dengan tersenyum kaku.


"Jika kamu mencintai Galih, tidak apa-apa. Tidak ada yang salah. Tapi, kamu harus berjuang lebih untuk mendapatkan hatinya." ujar Dona.


"Boleh mbak?" tanya Lina dengan raut wajah polosnya.


"Bolehlah, Galih kan juga masih sendiri. Belum ada pasangan." ucap Dona.


"Iya mbak." kata Lina.


"Tapi kamu harus ingat satu hal. Seandainya usaha kamu mendekati Galih tidak berhasil, jangan pernah menyalahkan kakak kamu, Rena. Kamu mengertikan maksud saya." kata Dona.


"Iya mbak, saya mengerti. Lagian bukan salah mbak Rena juga, jika banyak lelaki yang suka sama dia." ucap Lina.


"Termasuk Angga." ucap Dona getir.

__ADS_1


"Semangat mbak. Kita harus semangat mendapatkan hati orang yang kita cintai." ucap Lina dengan semangat dan senyum di bibir.


"Pasti. Lagian, dengan cinta kita, kita bisa menolong rumah tangga Rena dan Bagas." jelas Dona.


Merasa tidak mengerti maksud perkataan Dona, Lina hanya memandang Dona tanpa berkata apapun.


"Maksudnya, dengan aku membuat Angga jatuh cinta padaku. Berarti Angga tidak lagi mengejar Rena. Begitu juga dengan Galih. Jika Galih bisa bersama kamu, dia tidak akan merecoki hubungan Rena dan Bagas." jelas Dona.


"Iya juga sih mbak." kata Lina.


"Intan, apa aku ceritakan saja Intan pada mbak Dona. Siapa tahu, mbak Dona bisa membantu." gumam Lina.


"Ada apa. Ada apa dengan Intan?" tanya Dona yang tampak samar mendengar gumaman Lina.


"Mbak, ada yang ingin Lina katakan sama mbak Dona." ucap Lina.


"Intan, dia. Intan menyukai mas Bagas." imbuh Lina.


"Ngawur kamu itu." kata Dona sembari tertawa.


" Saya nggak bohong mbak. Lina serius. Tapi Lina nggak tahu, mbak Rena sudah tahu apa belum. Soalnya aku di kasih tahu dulu sama mak Irah. Terus, aku juga pernah lihat. Intan merayu mas Bagas." jelas Lina.


"Serius?" tanya Dona.


"Serius banget." jawab Lina.


"Sejak kapan?" tanya Dona sambil memikirkan sesuatu.


Dona tiba-tiba berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan tanpa berbicara apapun pada Lina.


"Loh, mau kemana mbak?" tanya Lina merasa bingung.


Lina pin beranjak dan mengikuti ke mana Dona pergi. Ternyata, Dona hendak menemui Wati dan Sari.


"Sari, sini sebentar." kata Dona sambil melambaikan tangannya.


"Kenapa mereka di kumpulkan di sini?" batin Lina melihat Dona memanggil Sari.


"Ada apa ya?" kata Sari dalam hati sambil berjalan melangkah mendekati Dona.


"Kenapa sih?" batin Wati yang sudah berada di dekat Dona.


"Ada apa mbak?" tanya Sari.


"Begini. Saya ingin menanyakan sesuatu dengan kalian berdua. Ini soal Intan." ucap Dona.


"Emm. Jadi mbak Dona mau nanyain soal Intan." batin Lina.


Wati dan Sari saling memandang sejenak.


"Mau tanya apa mbak?" tanya Wati.


"Apa Intan pernah bercerita sama kalian. Tentang lelaki yang disukainya. Katakanlah, kekasihnya." tanya Dona.


"Pernah mbak." jawab Wati.


Sontak Sari langsung memandang ke arah Wati. Dan sedikit melotot.

__ADS_1


"Wati mau cerita apa sih?" batin Sari sedikit takut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2