Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 22


__ADS_3

"Mbak Rena...."


"Mak sudah datang." Rena menoleh ke belakang menghadap mak Irah.


"Mak ngapain bawa bunga segala." tatapan Rena langsung menuju tangan mak Irah.


"Ciee,,, pasti tadi di jalan ketemu sama pacarnya ya,, terus di kasih bunga deh..?" Rena menggoda mak Irah dengan menjawil-jawil pundak mak Irah menggunakan tangan kirinya. Karena tangan kanannya masih memegang tutup panci.


"Aduh,, mbak Rena ada-ada saja. Mana ada saya punya pacar. Mak sudah tua mbak. Sudah nggak laku lagi." mak Irah geleng-geleng melihat tingkah majikannya.


"Ihhh,,, mak Irah. Gak usah malu mak, sama Rena saja pake malu. Jujur saja." goda Rena pada mak Irah.


"Mbak,, mak dapat bunga ini dari depan pintu." jelas mak Irah.


"Pintu siapa mak, pasti pintu rumah mak kan,,?" Rena masih saja menggoda mak Irah.


"Ya ampun,,, mak punya penggemar rahasia." Rena memegang tutup panci dengan kedua tangan nya dan di gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Pintu rumah mbak Rena, di depan situ." kepala mak Irah sedikit bergerak menunjukkan arah diletakkannya bunga.


"Hah." Rena menurunkan tutup panci dan meletakkannya di meja.


Mak Irah menyerahkan bunganya pada Rena.


"Seriusak, dari siapa ya mak?" Di lihatnya bunga mawar merah yang kini sudah ada di tangannya.


Diambilnya sebuah kertas yang di selipkan di antara bunga.


"Semoga kamu menyukainya. Semoga hari-harimu seindah bunga ini. Semoga kita di persatu kan suatu hari nanti." Rena membaca surat tersebut.


Mak Irah dan Rena saling bepandangan.


"Jangan-jangan orang salah kirim mak." Rena melihat bunganya sambil di putar. Siapa tahu masih ada catatan dalam buket bunga tersebut.


"Lagi pula semalem nggak ada orang ketuk pintu. Tante Tika pulang juga sudah larut malam." Rena mencoba menebak siapa yang mengirimnya.


"Ah, sudah lah mak. Kita lanjutkan masaknya. Nanti malah nggak matang-matang masakannya. " Di letakkan bunga nya di kursi dekat Rena berdiri.


Rena dan mak Irah meneruskan memasaknya. Setelah selesai Rena menatanya di meja makan. Sementara mak Irah melanjutkan pekerjaan lain.


"Harum nya tercium sampai dalam kamar." Bagas sudah berada tepat di belakang Rena sambil mengendus-ngendus.


"Aku belum mandi low mas." Rena mencium tubuhnya sendiri.


"Siapa yang bilang kamu harum, yang harum kan masakan mak Irah." Bagas mencubit pelan hidung istri nya.


Rena mencubit lengan Bagas.


"Au,, au,, au,, sakit." Bagas mengusap lengannya.


"Aku juga ikut masak tahu." tangan Rena bersedekap di depan dadanya sambil memajukan bibirnya.


"Iya iya nyonya Bagas." Bagas memegang kedua bahu Rena dan memutarnya.


Sekarang posisi Rena berada di depan Bagas sementara Bagas di belakang Rena.

__ADS_1


"Kamu cepat sana mandi, bau." Bagas berbisik sambil memukul pantat Rena dan berlari meninggalkan Rena.


"Mas,,, usil banget sih." Rena berteriak dan memegang pantatnya sambil cengar-cengir sendiri.


"Tapi aku suka." Gumam Rena.


****


Bagas berjalan ke dapur ingin mengambil air minum. Tanpa sengaja pandangannya menatap sebuket bunga mawar merah di kursi dapur. Dia mendekat dan mengambilnya.


"Milik siapa ini." Bagas berkata lirih sambil melihat bunganya.


"Mas Bagas, ada yang bisa mak bantu." Mak Irah berdiri tak jauh dari Bagas.


"Milik siapa ini mak." Bagas bertanya pada mak Irah dengan ekspresi datar. Tetapi matanya masih melihat bunga di tangannya.


"Tidak tahu mas, tadi sewaktu mak datang, bunga itu sudah ada di depan pintu rumah." mak Irah menjelaskan dengan perasaan takut. Karena mak Irah melihat ekspresi wajah Bagas tidak seperti biasanya. Wajahnya terlihat sedikit menakutkan bagi mak Irah.


"Apa tidak ada kartu ucapannya."


"Tadi sudah di ambil sama mbak Rena, mas." mak Irah menjawab sambil menunduk.


Bagas berjalan melewati mak Irah tanpa berkata.


"Ya Alloh, semoga semuanya baik-baik saja." mak Irah berbicara pelan sambil tangan kanannya memegang dadanya.


****


Bagas masuk ke dalam kamar dengan membawa bunganya.


"Ini dari siapa." Bagas bertanya pada Rena yang masih berada di depan cermin.


"Mana kartu ucapannya."


"Dimana ya tadi aku meletakkan." Rena meletakkan sisirnya dan berdiri. Dia melihat Bagas sambil berfikir.


Rena berjalan menuju meja dekat tempat tidur.


"Ini." Rena mengambil secarik kertas dan menyerahkan pada Bagas.


Bagas melempar bunganya ke kasur dan membaca kertas yang di berikan oleh Rena.


"Ini pasti ulah Galih." Di remasnya kertas yang ada di tangannya.


Bagas mengambil bunganya dan membuang ke keranjang sampah yang ada di dalam kamar.


Ada perasaan takut di hati Rena saat melihat Bagas.


"Mas, aku benar-benar tidak tahu itu dari siapa." Rena memeluk Bagas dari belakang dan meyakinkannya.


"Ini bukan salah kamu, dia memang tidak tahu diri."


Bagas melepas pelukan Rena dan memegang ke dua bahu Rena.


"Kamu harus lebih berhati-hati. Jika ada sesuatu yang janggal, segera hubungi aku."

__ADS_1


"Iya."


"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu, hari ini kita kan ada janji dengan dokter Angga."


*****


Setelah sarapan Bagas duduk di teras rumah sambil memikirkan sesuatu. Sementara Rena membantu mak Irah membereskan meja makan.


"Apa sebaiknya aku pasang cctv saja." gumam Bagas sambil melihat sekitar pekarangan rumah.


Bagas berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.


"Sudah selesai beberes dapurnya."


"Sudah mas, ada apa." Rena meletakkan serbet pada gantungannya.


"Saya ingin berbicara sebentar dengan mak Irah."


Rena dan mak Irah saling pandang kemudian mereka melihat Bagas."


"Maaf mas Bagas, apa mak berbuat salah?" mak Irah bertanya dengan perasaan penasaran campur takut.


"Tidak, ini mengenai jam kerja mak di sini. Mulai besok sebaiknya mak Irah pulang jika saya sudah berada di rumah."


"Memang kenapa mas?" tanya Rena.


"Aku khawatir meninggalkan kamu sendiri di rumah."


"Nggak perlu mas, Rena nggak apa-apa kok. Lagian Rena baik-baik saja. Kasihan mak Irah jika terlalu sore."


"Maaf mbak Rena. Mak juga sedikit khawatir sama mbak. Apalagi tadi ada kiriman bunga yang kita tidak tahu siapa pengirimnya."


"Baiklah, terserah mak saja."


"Terimakasih mak, soal gaji nanti akan saya tambahi." kata Bagas pada mak Irah.


Mak Irah pamit undur diri. Rena dan Bagas masuk ke kamar untuk bersiap-siap.


"Mas, dokter Angga sudah menghubungi mas."


"Memangnya kenapa?"


"Siapa tahu dia membatalkannya."


"Kamu ini, sudah ayo berangkat."


*****


"Kamu sudah memberi tahu mamanya Dona kalau kita akan bertemu dengan dokter Angga sekarang?" Bagas bertanya pada Rena sambil menyetir mobil.


"Sudah mas, tadi sempat aku kirim pesan ke tante Tika. Beliau tidak ikut. Katanya takut."


"Semoga saja semua berjalan seperti rencana kita. Apa Dona pernah menghubungi kamu?"


"Setiap hari aku selalu berbalas pesan dengannya mas. Walau menanyakan hal-hal yang tidak penting."

__ADS_1


"Dasar wanita." gumam Bagas


BERSAMBUNG.


__ADS_2