
Rena duduk di teras rumah menunggu kedatangan Bagas. Mak Irah sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu.
Sebuah mobil berhenti di luar pagar rumah. Rena melihatnya dengan penasaran. Bagas keluar dari mobil tersebut. Rena berdiri sambil memandang tak percaya.
"Mas Bagas."
Bagas masuk dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Itu.." Rena menunjuk mobil yang di bawa Bagas pulang.
"Suami baru pulang kerja bukannya di sambut malah nanyain mobil." Bagas pura-pura merajuk.
"Habis penasaran." Rena mengambil tas dari tangan suaminya kemudian mencium telapak tangannya.
"Masuk dulu, nanti aku kasih tahu."
Mereka berdua masuk dalam rumah dan duduk di ruang tengah.
"Sebentar mas, aku ambilkan minum."
Bagas memandang Rena dengan senyum terus mengembang di bibirnya.
"Ini, di minum dulu." Rena menyodorkan segelas air putih.
"Alkhamdulillah.." Bagas meminumnya sampai habis.
"Kenapa mas, dari tadi senyum terus."
"Mas senang banget hari ini sayang." Bagas mengambil tangan Rena dan memegangnya.
"Tadi mobil siapa."
"Kamu nggak penasaran kenapa hari ini mas senang pake banget."
"Memang kenapa, ada apa suamiku." Rena bertanya dengan suara yang di buat-buat.
"Pertama, karena mas pulang kerja di sambut sama kamu." Bagas memegang dagu Rena.
"Terus.."
"Kedua pinjaman mobil mas di terima, jadi di depan itu mobil kita." Bagas mencium sekilas bibir Rena.
"Mass,, beneran itu mobil kita. Cepat banget prosesnya."
"Iya,, oh iya,, nanti jadi pergi ke butik." Bagas bertanya sambil berjalan menuju kamar.
"Jadi laaahhhh." jawab Rena menyusul Bagas dan berjalan di sampingnya.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Bagas melepas pakaiannya di luar. Rena mengambilkan baju ganti untuk Bagas. Tanpa sepengetahuan Rena, Bagas memotret Rena dari belakang saat dia mengambil pakaian untuk Bagas. Dan mengunggahnya di status WA.
"TETAPLAH BERADA DI SAMPING KU."
Itulah kata-kata yang di gunakan untuk melengkapi foto Rena.
*****
Di tempat lain seseorang memegang hpnya. Dia melihat unggahan Bagas. Dia mengeratkan giginya.
__ADS_1
Di lemparnya hp tersebut ke kasur. Hatinya terasa panas. Di lepasnya pakaian yang masih menempel di tubuhnya dengan kasar lalu masuk ke kamar mandi.
Di nyalakan kran, di biarkan membasahi seluruh tubuhnya.
"Saat ini elo bisa tersenyum dan berada di sampingnya. Tapi suatu hari gue yang akan berada di tempat itu. Kita tunggu saja."
aaaaaaa......!!!!
Dia berteriak dan memukul tembok berkali-kali hingga tangannya terluka.
Orang itu adalah Galih, rasa cemburu telah menguasai hatinya.
*****
Setelah sholat Maghrib Bagas mengantar Rena pergi ke butik.
"Enak ya mas, naik mobil seperti ini."
"Masa sih."
"Rambut ku tetap rapi." Rena memegang rambutnya sendiri.
Bagas tertawa mendengar perkataan istrinya.
Sesampainya di butik Bagas memarkir mobilnya dan ikut Rena masuk ke dalam.
"Mbak Rena." Sari kini berada di kasir menggantikan Rena.
"Hai,, Dona nya ada." Rena dan Bagas mendekat ke kasir.
Keadaan butik saat ini sedang sepi. Hanya ada beberapa pembeli.
"Mau pamit, aku mau berhenti kerja. Mau istirahat di rumah dulu."
"Tapi ke sini lagi kan mbak buat kerja."
"Belum tahu."
Sari memandang Bagas dan tersenyum.
"Aku yang menyuruhnya, kami mau memulai program kehamilan. Takut Rena nanti kecapekan."
Sari menganggukkan kepalanya.
"Nanti mbak sering main ke sini ya, maaf ya mbak kalau selama kita bersama Sari punya salah sama mbak."
"Sama-sama Sari, kamu ini. Saya kan cuma mau berhenti kerja. Nanti kamu bisa datang ke rumah saya. Itupun kalau kamu kangen sama saya."
Mereka tertawa bersama.
"Mas, aku mau ke ruangan Dona. Kamu mau ikut."
"Nggak usah, aku duduk saja di sana." Bagas menunjuk kursi yang letaknya tidak jauh dari kasir.
"Kalau begitu aku tinggal dulu mas, Sari titip suamiku ya." Rena melangkah pergi meninggalkan kasir.
"Mbak Rena ada-ada saja, suami kok di titipkan."
__ADS_1
Sari dan Bagas tertawa bersama.
"Sari, saya mau ke sana dulu."
"Silahkan mas,"
Bagas berjalan menuju tempat dia akan duduk selama menunggu Rena. Di sudut ruangan butik ada yang tengah memperhatikan Bagas dari tadi.
"Wati,, kamu layani ibu ini, aku mau kebelakang."
Intan meninggalkan pembeli dan berjalan ke belakang.
"Mau kemana sih dia, nggak lihat apa aku juga sedang melayani pembeli." batin Wati.
Di belakang Intan mengambil alat make-up nya. Dia menuju kamar mandi. Dia membenahi riasan di wajahnya.
"Kayaknya sudah cantik deh." Intan berbicara sendiri sambil menatap cermin. Di oleskan lagi lipstik pada bibirnya. Kemudian di semprotkan minyak wangi pada pakaiannya. Di pandangi penampilannya di kaca.
"Sempurna."
Dengan percaya diri dia keluar kamar mandi dan menuju tempat Bagas.
"Mas Bagas, sedang apa di sini." Intan bertanya dengan nada lembut.
Mendengar namanya di sebut Bagas mendongakkan kepala ke arah suara.
"Intan,,, saya sedang menunggu Rena."
Intan langsung duduk di kursi dekat Bagas. Di angkat sedikit roknya. Sehingga pahanya terlihat.
"Memang mbak Rena kenapa mas."
"Dia mau pamit sama Dona. Aku menyuruhnya berhenti kerja. Aku khawatir nanti dia kecapekan."
Bagas hanya sekilas memandang Intan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Bre**sek, kenapa nggak melihat ke aku sih. Kurang apa coba, udah cantik, seksi, wangi lagi." batin Intan.
"Biar aku ambilkan minum ya mas, sambil menunggu mbak Rena." tawar Intan dengan suara di buat-buat.
"Nggak usah," tolak Bagas.
Di kasir Sari begitu geram melihat tingkah Intan. Dia memikirkan cara untuk membuat Intan pergi. Dari arah lain Wati juga melihatnya.
"Intan, kamu tunggu kasir sebentar dong, aku kebelet nih." Sari memanggil Intan.
"Sebentar ya mas,"
Intan menggantikan Sari di kasir. Setelah dari belakang Sari menyuruh Intan membantu Wati melayani pembeli.
"Tan, kamu bantu Wati melayani pembeli sana. Nggak enak kalau sampai di lihat mbak Dona."
Intan berjalan dengan hati yang dongkol.
"Dasar nggak tahu malu, udah tahu suami orang, masih di pepet. Mau jadi pelakor apa itu bocah."Sari mengomel sendiri
BERSAMBUNG...
__ADS_1