
Tio tidak menyangka Rena ternyata bisa berbuat sejauh itu. Tio melihat serpihan kaca yang masih berhamburan di lantai.
"Sungguh berani." katanya lirih sambil melihat pecahan kaca yang berhamburan.
Segera di ambilnya pakaian yang dia letakkan di sofa, dan di pakainya. Tidak mungkinkan, jika dia mengejar Rena tanpa memakai pakaian.
"Ini di mana. Mana pintu keluarnya." kata Rena.
Sekarang Rena berada di belakang cafe. Sepanjang mata Rena memandang ke depan, hanya ada tembok pembatas tanpa pintu.
Sedangkan di belakang Rena adalah cafe, dimana Rena tadi berada.
"Iiishhh."
Rena meringis merasakan sakit di kakinya. Samar-samar Rena mendengar suara seseorang yang memberikan perintah.
CARI SAMPAI DAPAT
Rena menajamkan pendengarannya.
"Gawat."
Rena melihat sekelilingnya. Rena berlari ke arah tanaman-tanaman yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup lebat.
Rena memasukkan tubuhnya di antara tanaman tersebut. Tangannya menyibak sedikit daun untuk melihat keluar.
Kini kaki Rena bertambah sakit. Dilihatnya beberapa serpihan yang masih menancap di telapak kakinya.
Tangan Rena terulur untuk mencabut beberapa pecahan kaca di telapak kakinya.
Rena menghela nafasnya. Antara menahan sakit yang ia rasakan pada kakinya, dan juga perasaan takut jika persembunyiannya di ketahui.
"Kenapa pelayan di cafe ini menuruti semua perintah Tio. Tadi saat aku meminta tolong, mereka pun bahkan menulikan pendengarannya." batin Rena dengan matanya terus mengintai dari balik tanaman yang dia gunakan untuk sembunyi.
Para pelayan cafe mondar-mandir mencari keberadaan Rena. Salah satu dari mereka melihat bekas darah Rena yang mengarah ke tanaman-tanaman yang lebat.
"Ya Alloh, tolong hamba Mu." batin Rena saat melihat ada yang mendekat ke arahnya.
Saat pelayan itu mendekat, tiba-tiba ada pelayan lain yang menghampirinya dan menggelengkan kepalanya. Seperti mengisyaratkan sesuatu.
Pelayan tersebut berhenti dan mengangguk. Saat hendak pergi, salah satu dari pelayan tersebut menjatuhkan sesuatu. Dan meninggalkan tempat tersebut.
"Ponsel. Terimakasih, semoga Alloh membalas kebaikan kalian." ucap Rena lirih sambil mengusap air matanya.
Sebenarnya kedua pelayan cafe mengetahui jika Rena bersembunyi di balik tanaman. Tapi mereka merasa kasihan dengan Rena. Apalagi mereka sesama wanita.
Saat Rena di gendong seperti karung oleh Tio, mereka ingin menolongnya. Tapi mereka sudah di ancam oleh Tio.
Ternyata cafe ini adalah salah satu cafe milik Tio.
Karena itu, semua pelayan di cafe menuruti semua perintah Tio. Jika mereka macam-macam, Tio akan dengan senang hati memecat mereka.
Setelah di rasa sepi, Rena merangkak keluar dan mengambil ponsel yang di jatuhkan pelayan cafe.
Ternyata yang di jatuhkan adalah ponsel Rena.
Di layar depan ponsel Rena ada tulisan. Dimana letak pintu belakang cafe tersebut. Pelayan cafe tadi sengaja menulisnya di layar ponsel Rena. Supaya Rena bisa keluar dari cafe ini.
Dengan wajah dan bibir pucat, Rena secara hati-hati mencari pintu keluar dengan panduan tulisan di layar ponselnya.
Di dalam ruangannya, Tio membanting vas bunga di depannya. Entah kenapa, melihat vas bunga membuat emosi Tio meledak. Mungkin karena vas bunga, Rena bisa melarikan diri.
"Bagaimana mungkin aku bisa di kalahkan oleh perempuan. Benar-benar pemberani."
Tio menyeringai. Siapapun yang melihatnya pasti takut. Di raba bahunya yang sudah di perban.
__ADS_1
"Sungguh pemberani dan tidak bisa di tebak." kata Tio lirih.
*****
Di butik, Dona bingung. Dia sudah menelpon rumah Rena menggunakan ponsel Sari. Dan mak Irah bilang sudah berangkat sejak pukul sebelas siang tadi.
"Jam sebelas siang. Kemana Rena." batin Dona.
Dona berjalan menuju ke arah Wati.
"Apa Rena tidak menghubungi kamu atau Sari?" tanya Dona.
"Tidak mbak." jawab Wati.
"Ke mana Rena." kata Dona dengan raut wajah khawatir.
"Tadi saya sudah mencoba menghubungi ponsel mbak Rena, tapi tidak di angkat." kata Wati.
"Mbak Dona...."
Sari berlari ke arah Dona sambil berteriak.
"Mbak Rena menelpon saya, dia meminta di jemput di daerah ini."
Dona segera mengambil ponsel Sari dan melihat lokasi yang di kirimkan oleh Rena.
"Tutup butik. Kita segera ke sana. Kalian kunci saja pintunya. Cepat." kata Dona.
Rena duduk bersandar di tembok. Dia sudah keluar cafe lewat pintu belakang. Saat ini dia di gang sempit. Sekitar gang tampak sepi.
Beberapa kali Rena menelpon Bagas. Tetapi tidak di angkat. Di lihatnya panggilan tidak terjawab dari Sari dan Wati. Akhirnya Rena menelpon Sari.
Baju bagian bawah Rena telah Rena robek. Dia menggunakannya untuk menekan luka karena pecahan kaca. Supaya darah yang keluar tidak terlalu banyak.
Rena hanya bisa diam sambil menyandarkan tubuhnya di tembok dan menunggu bantuan datang.
"Rena..."
"Mbak Rena...."
Dona dan yang lain sudah sampai di mana Rena mengirimkan lokasinya. Mereka berteriak memanggil-manggil Rena. Dan berpencar mencari Rena.
"Mereka sudah datang." kata Rena lirih.
Rena menyeret tubuhnya ke depan. Berharap bisa melihat mereka.
"Itu mereka."
Rena melihat Wati tidak jauh dari tempatnya.
"Wati..." Rena mencoba berteriak memanggil Wati dengan sisa kekuatannya.
"Wati.."
Rena kembali memanggil Wati. Karena Wati tetap tidak melihatnya.
"Wati.."
Merasa ada yang memanggil, Wati menoleh ke belakang.
"Mbak Rena. Mbak Rena ada di sini."
Wati berteriak sambil berlari menghampiri Rena. Dona dan Sari yang mendengar nya langsung menuju ke arah Wati.
"Mbak Rena,, ya Alloh mbak."
__ADS_1
Wati menangis melihat keadaan Rena. Dona dan Sari yang baru sampai tidak kalah terkejut melihat keadaan Rena.
"Cepat, kita bawa ke rumah sakit." ucap Dona.
Mereka bertiga menggendong Rena. Tangan Dona di kepala dan bahu Rena, Wati di tengah, dan Sari di kaki Rena.
"Mbak, apa yang terjadi?" tanya Sari sambil mengelus pipi Rena.
Dona menyetir dengan sedikit cepat. Karena sekarang masih jam kerja. Jadi jalanan tidak terlalu macet.
Rena tersenyum melihat Sari dan Wati menangis.
"Aku tidak apa-apa. Jangan menangis." ucap Rena lirih.
Bukannya berhenti menangis, mereka malah semakin tersedu.
Sampai di rumah sakit, Dona langsung berbicara dengan perawat di depan. Rena di bawa masuk ke ruang rawat.
Mereka bertiga menunggu Rena di luar ruangan.
"Kalian ada yang punya nomor Bagas?" tanya Dona.
Wati dan Sari menggeleng.
"Pinjam ponselnya." kata Dona.
Sari dan Wati langsung memberikan ponsel mereka ke Dona. Dona mengambil ponsel milik Wati. Dan menelpon ke rumah Rena.
Dona bilang pada mak Irah jika Rena sekarang berada di rumah sakit. Dan menyuruh mak Irah menghubungi Bagas, sampai Bagas menerima panggilan dari mak Irah.
"Apa yang terjadi dengan Rena. Kenapa bisa separah itu." kata Dona sambil mengembalikan ponsel milik Wati.
Dokter keluar dari ruangan Rena.
"Bagaimana dok?" tanya Dona sambil berdiri.
"Apa yang terjadi dengan pasien?" bukannya menjawab, dokter malah balik tanya.
"Tidak tahu dok, kami menemukan sudah seperti itu." jawab Dona.
"Kalian siapanya?"
"Kami temannya dok." jawab Dona.
"Keluarganya?"
"Masih berada di jalan."
"Saya akan menyampaikan, bila keluarganya sudah berada di sini." kata dokter sambil tersenyum.
"Baiklah dok."
"Jika keluarga sudah datang, kalian bisa menyampaikannya ke suster. Dan untuk sekarang, lebih baik pasien jangan di ganggu terlebih dulu."
"Baik dok. Terimakasih."
Dokter pun meninggalkan mereka yang masih berdiri.
"Kalian boleh pulang, biar Rena saya yang jaga." kata Dona.
"Nggak mbak, kita di sini saja. Iyakan Sar." ucap Wati.
Sari hanya mengangguk. Mereka bertiga duduk tanpa ada pembicaraan sepatah katapun. Pikiran mereka masing-masing mencoba menebak nebak apa yang terjadi pada Rena.
BERSAMBUNG.
__ADS_1