Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 68


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Lina, mak Irah mendadak menjadi gugup. Antara takut dan khawatir.


"Mak, Lina hanya ingin mak Irah berkata jujur sama Lina." kata Lina sambil memandang mak Irah.


"Mbak Lin...na."


" Mak nggak perlu takut. Mak, kita semua sayang sama mbak Rena dan juga mas Bagas."


Mak Irah menceritakan apa yang di dengarnya saat berada di rumah Bagas. Percakapan antara Bagas dan Intan. Mendengar cerita mak Irah, air mata Lina terjatuh dari pelupuk matanya.


"Ya Alloh mas Bagas. Sejauh mana hubungan kamu dan Intan?"


"Sepertinya mas Bagas mau menjauhi mbak Intan, tetapi mbak Intan terus mendekat mbak."


"Perempuan ular. Kamu pikir aku akan diam saja melihat kamu mau menghancurkan rumah tangga kakakku. Tidak akan." kata Lina sambil mengusap air matanya dengan kasar.


"Apa mbak Rena sudah tahu mak?"


Mak Irah menggeleng pelan. Mak Irah pun sudah tidak kuat menahan air matanya.


"Mak takut mbak, mak takut jika sampai mbak Rena tahu. Bagaimana hancurnya hati mbak Rena."


Mak Irah mengusap air mata di pipinya.


"Aku akan berbicara dengan mas Bagas. Jangan sampai dia menyesal karena menyakiti hati wanita seperti mbak Rena."


"Mak harus ingat. Jika terjadi apapun, mak harus segera menghubungi saya. Dan juga, jika Intan datang ke rumah mas Bagas, mak juga harus memberitahu saya." ucap Intan.


"Pasti mbak."


"Mak, saya percaya sama mak. Saya akan berbicara dengan bapak juga. Kita tidak mungkin merahasiakan ini dari bapak."


Banyak sekali yang Lina bicarakan dengan mak Irah. Sekitar pukul 9 malam, Lina pamit pada mak Irah untuk pulang.


"Hati-hati mbak Lina."


"Iya mak, makasih."


Lina pergi dari rumah mak Irah dengan menaiki motor bebek kesayangannya.


*****


Masih di ruang tengah,,


"Apa sekarang saja ya, aku ceritakan tentang Angga pada mas Bagas." batin Rena.


"Kenapa sayang, kamu sakit." tanya Bagas sambil membelai lembut pipi Rena.


"Nggak mas." jawab Rena.


"Kalau sakit, kita hubungi Angga..." kata Bagas.


Belum sempat Bagas menyelesaikan perkataannya, Rena sudah memotongnya.


"Jangan mas." ucap Rena.


"Kamu kenapa sih sayang." tanya Bagas.


"Mas, ada yang Rena mau ceritakan sama mas, tapi sebelumnya mas janji. Jangan marah ya."


"Apa sih sayang, bikin penasaran saja."

__ADS_1


Bagas melihat raut wajah istrinya tegang. Seperti ada hal serius yang ingin Rena ceritakan pada dirinya.


"Ya sudah, mas akan dengarkan. Ada apa?" tanya Bagas dengan nada lembut.


Sebelum bercerita, Rena menarik nafas dalam-dalam.


Di genggamnya tangan Bagas. Dia takut jika Bagas marah saat mendengar ceritanya, dan pergi dari hadapannya.


"Mas, dokter Angga menyukaiku." ucap Rena sambil memejamkan mata.


Hening sejenak.


Rena memberanikan diri membuka matanya. Dia penasaran, kenapa suaminya hanya diam tanpa berkata atau bertanya.


Bagas tertawa dan melepas tangannya dari genggaman Rena.


"Kamu lucu banget sih."


Bagas mencubit gemas kedua pipi Rena. Sedangkan Rena hanya bengong sambil mengedipkan-ngedipkan matanya.


Rena menghembuskan nafasnya pelan. Jelas saja Bagas tertawa. Dia mengira Rena bercanda. Lagi pula Angga adalah calon suami Dona. Sahabat dari Rena sendiri. Mana mungkin bisa menyukai istrinya.


Dan kemarin saat di cafe, dia melihat Angga sedang bersama Dona. Mereka tampak baik-baik saja.


"Aku serius mas." ucap Rena pelan dengan raut wajah serius.


Bagas menghentikan tawanya. Dia memandangi wajah cantik Rena.


"Dona juga tahu hal ini." lanjut Rena.


Bagas hanya diam. Raut muka yang awalnya terlihat bahagia, sekarang berubah menjadi datar. Ada rasa penasaran yang tergambar di raut wajah Bagas saat menatap Rena.


Rena berangsut mendekati Bagas, tangannya kembali terulur memegang tangan Bagas.


"Lalu?" tanya Bagas singkat.


"Dia bilang dia menyukaiku."


Rena menghentikan perkataannya. Sekarang Rena semakin takut untuk bercerita tentang kelanjutan ceritanya pada Bagas.


Di lihatnya raut muka Bagas yang sudah tidak bersahabat. Tapi Rena sudah memutuskan akan menceritakan semuanya. Dia tidak ingin ada salah paham antara dia dengan Bagas.


"Dia mencium keningku." ucap Rena lirih.


Mendengar ada orang lain yang mencium Rena selain dirinya, membuat hati Bagas bergemuruh hebat. Bagas hendak melepas genggaman tangan Rena pada dirinya.


"Mas, sungguh. Saat itu aku ingin melawan. Ingin berteriak. Tapi aku tidak sanggup. Badanku sangat lemas untuk di gerakkan."


Rena langsung memeluk Bagas. Dia takut Bagas beranjak pergi meninggalkan dirinya. Sama seperti saat Bagas tahu, bahwa dia menyimpan nomor Galih.


"Dan Dona datang tepat waktu." lanjut Rena.


Rena semakin mengeratkan pelukannya pada Bagas.


"Sungguh mas, aku tidak mempunyai perasaan pada Angga. Tidak ada. Sedikitpun. Bahkan pada lelaki lain selain kamu. Aku bercerita seperti ini, hanya khawatir jika nanti mas akan salah paham lagi sama aku. Seperti saat mas tahu aku masih menyimpan nomor Galih. Mas,, jangan marah padaku."


Rena menangis sambil memeluk erat tubuh Bagas.


"Sayang, sudah jangan menangis." ucap Bagas sambil mengelus pelan pucuk kepala Rena.


Mendengar Bagas masih memanggilnya dengan kata sayang, Rena melepaskan pelukannya. Dan memandang Bagas.

__ADS_1


"Mas tidak marah?" tanya Rena dengan nada khawatir.


"Tidak, mereka yang menyukaimu kan. Bukan kamu yang menyukai mereka." kata Bagas.


Rena langsung mengangguk mendengar perkataan Bagas.


"Iya, aku sama sekali tidak menyukai mereka mas. Sumpah." ucap Rena.


"Iya, mas percaya."


Bagas kembali membawa Rena dalan pelukannya.


"Itu hanya sebuah ciuman Ren. Bahkan hanya di kening. Dan itupun kamu dalam keadaan tidak berdaya untuk melawan. Bagaimana dengan diriku. Apa kamu bisa menerima kesalahan ku. Kesalahan yang sangat fatal." batin Bagas.


"Mas."


Rena mendongakkan kepalanya untuk memandang Bagas.


"Bagaimana dengan Dona?" tanya Bagas.


Rena melepas pelukan Bagas dan mulai kembali menata nafasnya.


"Dona tahu mas. Tapi yang aku dengar, dia malah akan merima perjodohannya dengan Angga."


"Dona tahu jika Angga menyukai kamu. Tapi dia tetap menerima perjodohannya." kata Bagas dengan kening berkerut.


"Aku hanya dengar dari mbak Mira."


"Mira, kapan kamu bertemu Mira?"


"Tadi pagi. Ternyata rumah mertua mbak Mira terletak di dekat taman komplek kita mas. Rumah paling ujung yang sangat megah itu."


"Emmm,, rumah itu." ucap Bagas sambil manggut-manggut.


"Mas, besok aku mulai bekerja ya. Bolehkan?"


"Boleh."


"Aku juga heran sama Intan. Kata Dona, dia sudah menelpon Intan. Tapi Intan bilang belum siap bekerja."


Mendengar Rena menyebut nama Intan, Bagas menjadi grogi.


"Mas, tidur yuk. Rena ngantuk."


"Kamu duluan, mas akan menyusul sebentar lagi."


Bagas mencium dahi Rena sebelum Rena beranjak berdiri dan pergi ke kamar.


Sampai di kamar, Rena masuk lebih dulu ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dia melihat pakaian kerja yang di pakai Bagas masih tergantung di gantungan kamar mandi. Di ambilnya lalu di letakkan ke keranjang baju kotor.


Pertama Rena memasukkan celana beserta **********. Kemudian kemeja putihnya. Saat hendak menaruh kemeja putih milik Bagas, Rena mencium parfum lain. Di ciumnya kemeja Bagas.


"Ini wangi apa, bukan milik mas Bagas. Tapi seperti wangi sabun." batin Rena sambil mengendus kemeja Bagas.


"Sudahlah, mungkin penciumanku masih bermasalah. Gara-gara flu kemarin." kata Rena.


Rena meletakkannya dalam keranjang pakaian kotor. Kemudian membuka pintu kamar mandi. Dan keluar.


"Di mana jas yang mas Bagas pakai tadi?" batin Rena.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2