
"Mbak Rena." teriak Sera begitu dia masuk ke dalam rumah.
Keduanya lantas saling berpelukan. Setelah itu, Sera bersalaman dengan kakak iparnya.
"Mbak kok nggak ngomong sih mau ke sini." kata Sera.
"Kamu tahu dari mana kalau mbak yang datang?"
Bukannya menjawab perkataan adiknya, Rena malah bertanya pada Sera.
"Bulek Dewi tadi yang ngasih tahu di depan." jawab Sera.
"Tadi ibu bagi-bagi oleh-oleh kamu dari kota. Ibu bilang dari kamu." jelas bu Yanti.
"Mbak Rena gendutan deh." celetuk Sera.
"Nanti kamu anter mbak mu Ser." kata bu Yanti.
"Periksa. Sudah telat seminggu." imbuh bu Yanti.
"Aa."
Sera berteriak antusias sambil memeluk tubuh kakak perempuannya.
"Mbak kenapa?" tanya Sera merasa heran dengan sikap Rena yang terkesan cuek.
"Ibu cuma menebak Ser. Belum tentu mbak hamil." kata Rena lirih.
"Nggak apa-apa mbak. Siapa tahu tebakan ibu benar. Kita nanti periksa ya. Di polindes. Kalaupun mbak Rena belum hamil, ya nggak apa-apa. Mungkin belum rezeki. Ya mbak." tutur Sera dengan pelan.
Rena tersenyum dan mengangguk pelan. Rena kemudian memandang ke Bagas. Rena sadar, sedari tadi suaminya lebih banyak diam. Bagas tersenyum saat Rena memandang ke arahnya.
*****
Di butik, Lina dan teman-temannya tampak sangat semangat melayani pembeli hari ini. Mungkin saja, setelah mereka meluapkan emosinya semalam pada Intan.
"Gimana?" tanya Wati.
"Apa?" tanya Lina bingung dengan pertanyaan Wati.
"Kita apakan lagi dia?" tanya Wati.
"Santai saja dulu. Kalau masih nekat, nanti kita kerjain lagi." ucap Lina.
"Motor elo belum sembuh?" tanya Wati.
"Sembuh. Elo pikir apaan. Gue juga belum tahu. Soalnya kan yang bawa ke bengkel kak Galih. Gue nggak tahu alamat bengkelnya." jelas Lina.
"Ya ellla. Di telpon Non kak Galihnya." tutur Wati.
"Nggak punya nomor ponselnya." ucap Lina.
"Lah, terus."
"Mau minta ke mbak Dona sih. Tapi malu."
"Malu, malu. Biasanya juga malu-maluin. Sudah sana, mumpung sepi. Elo tanya." suruh Wati.
Dengan langkah gontai, Lina menuju ke ruangan Dona. Di dalam ruangan Lina meminta nomor ponsel Galih. Beruntungnya Dona masih menyimpan nomor ponsel Galih, saat Galih menanyakan soal Rena pada dirinya.
Di dalam ruangan, Dona sempat menggoda Lina saat meminta nomor telepon Galih. Tapi Lina mengatakan bahwa dia hanya ingin mengetahui keadaan motornya saja. Tidak lebih.
Setelah mendapatkan nomor Galih, Lina kembali ke depan untuk bekerja.
******
Setelah di hina oleh ibu Anis, Intan memutuskan untuk menemui Bagas di kantor. Saat berada di depan kantor Bagas, Intan melihat tidak ada mobil ataupun Bagas di parkiran.
__ADS_1
Ya, Intan sangat hapal dengan nomor plat kendaraan milik Bagas. Baik mobil ataupun motornya.
Lantas dia melajukan mobilnya ke rumah Bagas.
"Rumahnya sepi. Mobilnya juga nggak ada. Apa mobilnya masih di dalam garasi." kata Intan dalam hati saat melihat garasi di rumah Bagas masih tertutup.
Intan mengetuk pintu berulang kali. Tapi tidak ada yang membukanya. Dia mencoba mengintip dari kaca jendela. Tapi tidak bisa. Karena gordennya tertutup rapat.
"Ini di mana sih penghuninya." kata Intan mendumal.
Intan mencoba beberapa kali menghubungi ponsel milik Rena. Tapi tidak di angkat.
Saat Intan hendak pergi meninggalkan rumah Bagas, ada tetangga Bagas yang menegurnya.
"Mbak cari siapa?"
"Cari mbak Rena. Saya temannya bu." jawab Intan dengan sopan.
"Rena sama Bagas pergi ke kampung halaman orang tuanya Rena mbak. Tadi saya di kasih tahu sama mak Irah."
"Mak Irahnya sekarang di mana?"
"Sudah pulang. Katanya tadi sudah selesai beberes. Makanya dia pulang. Kan nggak ngapa-ngapain lagi."
"Ibu tahu alamat kedua orang tua mbak Rena?"
"Maaf mbak, saya nggak tahu."
Di dalam mobil, Intan terus mengumpat dan mengomel sambil menyetir.
"Brengsek. Ini pasti akal-akalan Rena. Pasti dia mau menjauhkan mas Bagas dari saya."
Tiba-tiba Intan tersenyum jahat. Dia berhenti di konter ponsel terdekat untuk membeli sim card yang baru.
Dia berniat menggunakan nomor baru untuk menghubungi Bagas.
Intan menelpon seseorang dari ponselnya.
"Oke. Lakukan sekarang. Nanti gue transfer." ucapnya, kemudian mematikan ponselnya.
Intan melajukan mobilnya ke butik Dona. Dia menghentikan mobilnya di seberang jalan.
Saat Sari sedang menghitung uang di kasir, ada dua lelaki yang menghampirinya.
"Mana yang namanya Lina?" tanyanya dengan nada dan raut wajah tidak bersahabat.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Sari.
Sari merasa mereka bukan orang baik. Dilihat dari cara bertanya nya saja, Sari sudah bisa menyimpulkan. Walau pakaian mereka sama dengan pembeli lainnya.
"Kalau di tanya jawab, jangan balik tanya." gertaknya dengan nada tinggi.
Wati dan Lina langsung mendekat ke arah Sari.
"Ada apa Sar?" tanya Lina sambil memperhatikan kedua lelaki tersebut.
"Mana yang namanya Lina?" tanyanya dengan mata memandang tajam ke arah Lina.
Melihat gelagat kedua lelaki tersebut, Wati segera berlari ke ruangan Dona.
"Mau apa kalian cari gue." kata Lina dengan nada sedikit sombong.
"Elo yang namanya Lina." ucapnya dengan nada mengejek.
Lina sepertinya tahu apa yang akan di lakukan oleh kedua lelaki di depannya. Sementara, di dalam kasir, tangan Sari sudah menggenggam sapu.
Benar saja perkiraan Lina. Salah satu lelaki tersebut langsung menyerang Lina dengan mencoba menendang perut Lina.
__ADS_1
Tangan Lina yang gesit, langsung menghalangnya dan memukul kaki lelaki tersebut dengan tangannya.
Sari segera keluar dari dalam kasir dan memukulnya dengan gagang sapu.
"Patah." ucap Sari ketika melihat sapu yang di gunakan untuk memukul salah satu lelaki tersebut terbagi menjadi dua bagian.
Saat lelaki satunya ingin menyerang Lina, pundaknya terlebih dulu di pegang oleh seseorang dari belakang.
Dan bughh,,,
Satu pukulan tepat mengenai wajah lelaki tersebut saat ia hendak menoleh ke belakang.
Lina tidak tinggal diam. Saat lelaki di depannya sedang melihat kawannya, di menyerangnya dengan mengarahkan kakinya untuk menendang tepat di bagian dagu lelaki tersebut.
"Kalian pergi dari sini, atau aku panggilkan polisi." teriak Dona dengan masih berjalan menuju tempat mereka.
Kedua lelaki tersebut sontak meninggalkan butik Dona.
"Aduh. Jantung gue dag dig dug." ucap Sari memegang dadanya.
"Cuma segitu. Nggak asik. Brengsek." umpat Lina.
Lina berkata seperti itu karena dia sudah bisa menebak, siapa dalang di balik penyerangan yang baru saja terjadi.
Semua orang yang mendengar perkataan Lina hanya bisa memandang heran ke arah Lina. Sementara Lina masih terus memandang lurus ke depan.
"Siapa mereka?" tanya Angga.
Lelaki yang baru saja datang dan menghajar salah satu orang suruhan Intan adalah Angga.
"Orang suruhan iblis betina." jawab Lina dengan masih diliputi amarah.
"Iblis betina?" ucap Angga dan Dona bersamaan.
"Lin." kata Sari dengan menyentuh pundak Lina.
"Maaf mbak." kata Lina dengan membalikkan badan dan sedikit membungkukkan badannya.
"Siap yang kamu maksud?" tanya Dona.
"Intan." jawab Lina dengan malas.
Karena harus menyebut nama orang yang sangat ia tidak suka.
"Kenapa dengan Intan. Apa hubungannya dengan kamu?" tanya Dona merasa penasaran.
Linapun menceritakan kejadian tadi malam pada Dona dan Angga.
"Huh. Kamu ini ada-ada saja." kata Angga tersenyum setelah mendengar cerita dari Lina.
"Ekstrim juga ni anak." batin Angga.
"Astaga Lin. Itu berbahaya. Lihat sekarang." ucap Dina khawatir.
"Tenang saja mbak. Lina nggak apa-apa kok. Mbak Dona jangan cerita ke mbak Rena ya. Lina takut mbak Rena akan ngomelin Lina." pinta Lina.
"Iya, sekarang kamu harus hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung telepon mbak saja." kata Dona.
"Oh iya. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Dona pada Angga.
"Kalian lanjutkan kerjanya. Kita bicara di ruangan ku saja." imbuh Dona. Dan mengajak Angga masuk ke dalam ruangannya.
"Dokter, terimakasih. Sudah mau membantu." ucap Lina.
Angga hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Lina.
BERSAMBUNG.
__ADS_1