
"Mas bangun." Rena menggoyang pelan tubuh suaminya.
Bukannya bangun, Bagas malah menarik lengan istrinya sampai Rena terjatuh tepat si atas tubuh Bagas.
"Mas, bangun. Kok malah gini sih." ujar Rena.
Bagas mengeratkan pelukannya pada Rena. Teringat sesuatu, Bagas langsung membuka ke dua matanya dan melepaskan pelukannya pada Rena.
"Sayang, sepertinya tadi kamu nggak muntah-muntah." ucap Bagas dengan duduk bersila dengan ekspresi lucu.
"Kata siapa. Kamu yang nggak dengar." ucap Bagas mengerjai Bagas.
Bagun tidur Rena langsung ke kamar mandi membersihkan diri lalu ke dapur. Pagi ini Rena tidak merasakan mual dan muntah seperti pagi-pagi sebelumnya. Tapi perut Rena sudah terasa lapar. Padahal masih subuh.
Beruntung di dapur ada roti. Jadi Rena memakan roti dan segelas susu yang di buatkan oleh mak Irah. Semenjak Rena hamil, mak Irah lebih sering tidur di rumah Bagas.
"Iyakah?" tanya Bagas seperti tidak percaya.
"Sudah sana. Bersihkan badan dulu. Aku mau ke belakang. Haus."
"Ya ampun,,, anak ayah jam segini sudah haus. Memangnya habis ngapain sayang." kata Bagas sambil mengelus lembut perut Rena.
"Yang haus aku. Bukan bayinya." celetuk Rena dan berdiri meninggalkan Bagas yang masih terbengong.
Bagas hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mbak Rena ada apa?" tanya mak Irah.
"Haus mak."
Rena mengambil segelas air dan meminumnya sampai tandas.
"Lina sudah bangun mak?" tanya Rena.
"Belum mbak." jawab mak Irah.
Seperti biasa, Rena membantu mak Irah sebentar lalu kembali lagi ke dalam kamar untuk melihat suaminya.
"Mak, Rena tinggal ya. Nanti tolong bangunkan Lina ya mak." ucap Rena.
"Iya mbak." jawab mak Irah.
"Kok belum mandi?" tanya Rena melihat Bagas masih di depan laptopnya.
"Sebentar. Ini tinggal sedikit lagi." Bagas masih fokus dengan layar laptopnya.
Bagas masih menggunakan sarung dan peci di kepalanya. Rena mengambil sajadah yang masih tergeletak di lantai.
"Maaf ya sayang. Belum aku rapikan." ujar Bagas melihat Rena melipat sajadah yang baru di gunakannya.
"Iya, nggak apa-apa."
"Lagi ngapain sih mas?" tanya Rena mendekat ke arah Bagas.
Bagas menarik pinggang Rena dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Sudah mas, kamu selesaikan dulu. Aku mau bantu mak Irah lagi."
Rena mencoba melepaskan tangan Bagas yang melingkar di perutnya.
Bibir Bagas sudah bersarang di belakang Rena.
"Mas,,,, geli." ucap Rena.
Bagas terus memainkan bibirnya di tengkuk istrinya.
"Mas,,, merinding nih." ujar Rena.
__ADS_1
Sesekali Bagas menyesap leher Rena. Tangan kanan Bagas sudah berada di balik baju Rena dan memainkan buah ceri milik Rena.
Tangan kirinya juga masuk ke dalam kaos Rena dan mengelus pelan perut Rena.
"Mas,,, ini sudah pagi. Jangan seperti ini. Kamu khannn..." suara Rena tercekat saat tangan kanan Bagas meremas pelan tonjolan yang ada di dadanya.
"Punya mu semakin besar sayang." bisik Bagas dengan suara serak dan menggoda.
Tanpa berpikir panjang, Bagas memutar posisi duduk Rena untuk menghadap pada dirinya.
"Masih pagi. Masih banyak waktu." kata Bagas yang sudah berkabut gairah.
Tangan Bagas membuka baju Rena. Dan melepas pengait bra milik istrinya.
"Mumpung ini masih menjadi milikku." kata Bagas memainkan tonjolan besar di dada Rena.
"Nanti kalau dia sudah lahir pasti akan di bagi berdua." imbuhnya.
Rena hanya mengernyitkan keningnya. Dia heran dengan pemikiran suaminya.
Tanpa berlama-lama mulut Bagas sudah di penuhi buah ceri milik Rena. Sementara tangan Bagas berada di pundak Rena dan mengelusnya.
Aahhh....
Rena membusungkan dada dan menggigit bibirnya sendiri. Berharap lebih pada suaminya.
Bagas memindahkan mulutnya ke bibir seksi istrinya.
Lidah keduanya bertautan menjadi satu. Bagas mengakses seluruh rongga mulut Rena. Suara decap mulut menjadi sangat merdu di telinga keduanya.
Tangan Rena melingkar di leher Bagas. Sementara tangan kiri Bagas bermain di buah ceri milik Rena.
Tangan kanan Bagas membelai seluruh badan milik Rena dan secara perlahan masuk ke dalam celana milik Rena.
Aahhh...
Suara Rena keluar saat tangan Bagas menyentuh bagian bawah Rena yang sudah basah.
Dengan mulutnya Bagas memainkan buah ceri dan sesekali bermain di leher dan menyesapnya.
Diciuminya dada istrinya dan memberi tanda kepemilikan. Sementara Rena memejamkan mata dan menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya.
"Keluarkan suaramu sayang." bisik Bagas merdu.
"Jangan gila sayang. Ini sud,,,,,ahh pagg.."
Rena menggeliat saat jari Bagas sudah bermain di dalam goa milik Rena.
Bagas menurunkan Rena dan jongkok di depan Rena sambil melepaskan celana serta dalaman milik Rena.
Sementara peci Bagas sudah tidak lagi berada di kepala pemiliknya. Tapi sarungnya masih setia berada di tubuhnya.
Bagas melihat goa milik istrinya yang berada di tengah hutan tersebut. Di sentuh dan di belainya pintu goa tersebut.
Ahhhh...
Rena menjambak rambut Bagas saat mulut Bagas sudah berada di goa milik Rena. Bagas memainkan lidahnya di dalam goa milik Rena.
Kedua tangan Bagas berada di pantat Rena sambil meremas dan menekannya.
Rena dengan posisi berdiri hendak tumbang karena tidak tahan menahan rasa nikmatnya. Tapi kedua tangan kekar Bagas menopang tubuh Rena supaya terus berdiri. Sementara dirinya masih asik memainkan mulut dan lidahnya di goa milik Rena.
Bagas menghentikan permainannya dan membawa Rena berbaring di ranjang. Bagas segera melepas semua pakaian yang masih menempel di badannya.
"Mas,,, pelan ya." ucap Rena lembut.
"Sayang,,, ayah datang. Mau jenguk kamu." kata Bagas menatap perut Rena yang sudah tidak lagi rata.
__ADS_1
Aaahhhh....
Keduanya mengeluarkan suara merdu dari dalam mulut masing-masing saat pusaka milik Bagas masuk ke dalam goa milik Rena.
"Mbak Rena sama mas Bagas belum bangun mak?" tanya Lina.
"Sudah. Setiap pagi mbak Rena membantu mak Irah di dapur dulu, baru masuk ke kamar lagi menemani mas Bagas bersiap-siap mau kerja." jelas mak Irah.
"Kok belum keluar sih mak." kata Lina resah menunggu kakak dan kakak iparnya.
"Lina panggil saja ya. Bilang sarapannya sudah siap santap." kata Lina.
"Nggak usah mbak, nanti juga keluar sendiri."
Sambil menunggu kakak dan kakak iparnya datang, Lina memainkan ponsel miliknya.
"Kak Galih. Ada di mana sih ini." gumam Lina sambil mengamati unggahan foto Galih di sosmed.
Sementara di dalam kamar, Bagas dan Rena sedang berolah raga. Peluh membasahi badan mereka berdua.
"Terimakasih sayang." kata Bagas menciumi seluruh wajah Rena.
Rena masih memejamkan mata dengan memakai selimut sampai lehernya. Karena Rena masih dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
Bagas berjalan menuju kamar mandi dan membiarkan istrinya untuk beristirahat.
"Sayang, bangun. Bersihkan badan kaku dulu." ucap Bagas setelah keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di pinggangnya.
"Hemmm. Ngantuk." Rena malah menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
Bagas mengambil sendiri pakaian di salam almari. Rena belum sempat menyiapkan pakaian untuk dirinya karena Bagas lebih dulu mengajaknya berolah raga di ranjang.
"Sayang, aku berangkat kerja ya."
Bagas membuka selimut Rena sampai perutnya. Di ciumnya perut hingga dada Rena. Dengan nakal Bagas kembali menghisap ceri milik Rena.
"Mas,,," Rena mendorong kepala Bagas dan menutup badannya dengan selimut kembali.
Rena lantas membuka kedua matanya dan memandang ke arah suaminya yang sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Mas kerja dulu. Jangan nakal ya sayang. Baik-baik di dalam perut ibu."
Bagas memasukkan tangannya ke dalam selimut dan mengelus lembut perut Rena. Di ciumnya wajah Rena berulang-ulang.
"Mas, aku belum mandi." kata Rena.
"Seandainya mas yang punya perusahaan, pasti hari ini mas nggak akan masuk kerja. Mas pengen di sini terus." ujar Bagas menepuk bantal di samping Rena.
"Huft,, Mas berangkat dulu sayang." pamit Bagas.
"Kamu nggak mau keluar. Sarapan." ajak Bagas.
"Nanti saja. Mas sarapan sama Lina saja ya." ucap Rena.
"Iya nggak apa-apa. Kamu istirahat saja dulu."
Rena mencium telapak tangan Bagas.
"Mas berangkat. Kamu hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa langsung hubungi mas." ujar Bagas.
"Mbak Rena mana?" tanya Lina saat melihat Bagas keluar dari dalam kamar sendirian.
"Masih tidur." jawab Bagas seenaknya.
"Masa. Mak Irah tadi bilang sudah bangun." ujar Lina tidak percaya.
"Iya, sekarang tidur lagi. Setelah hamil mbak mu banyak tidur dan makan." kata Bagas sambil mengisi piringnya dengan makanan.
__ADS_1
Lina pun mengikuti Bagas untuk sarapan. Setelah itu dia ingin pulang dulu ke rumah. Karena Lina tidak membawa pakaian ganti untuk bekerja.
BERSAMBUNG.