
"Jangan terlalu dekat dengan Galih."
"Ada apa sih sebenarnya, dari tadi ngomongin Galih." batin Rena.
"Jangan khawatir, dari dulu aku tidak pernah begitu dekat dengan laki-laki selain kamu." Rena sangat penasaran kenapa suaminya bersikap aneh.
"Ada apa sih mas, kamu ada masalah apa sama Galih."
"Galih menyukai kamu."
Seketika Rena tertawa terbahak-bahak.
"Jangan bercanda. Aku istri kamu, sahabatnya. Lagi pula mana mungkin Galih menyukai istri orang. Di luar masih banyak perempuan yang masih belum memiliki pasangan. Aneh-aneh saja kamu itu mas."
Bagas duduk bersila menghadap Rena.
"Tidak ada yang tidak mungkin."
"Memangnya mas tahu dari mana."
"Cara dia memandang kamu, beberapa kali tanpa sengaja aku melihatnya. Dan tadi waktu kita makan, aku sudah memastikannya."
"Memastikannya." Rena bergumam sambil berpikir.
"Astaga,, aku pikir tadi mas kesambet setan dari mana. Sok romantis, ternyata oh ternyata..." Rena mencebikkan bibirnya.
"Maaf." Bagas mencium dahinya.
"Pantas, beberapa kali dia menelpon ku. Tapi tidak aku angkat karena waktu itu aku sedang bekerja."
Tangan Rena menangkup ke dua pipi Bagas menggunakan tangannya.
"Tenang saja, istrimu bukan perempuan gampangan."
Bagas menyambar bibir Rena dan menciumnya lama.
"Mas, aku masih masa nifas." Rena mendorong pelan tubuh Bagas.
Seketika Bagas terlihat murung dan menghentikan kegiatannya.
"Berapa lama." Bagas merajuk pada Rena dengan ekspresi lucu.
__ADS_1
"Apaan sih mas,,, ayo tidur. Kalau sudah selesai aku kasih tahu." Rena menarik tubuh Bagas kesamping nya.
Diambilnya selimut untuk menutupi tubuhnya dan Bagas.
"Sudah dong mas, kayak anak kecil minta jajan nggak di kasih saja." Rena melihat bibir Bagas masih manyun.
Rena menggelitik pinggang Bagas.
"Sayang... stop. Geli."
"Makanya itu mulut di kondisikan. Mau mulutnya aku kuncir." Rena memegang bibir Bagas.
Perdebatan di atas ranjang terselesaikan. Ke duanya kini tengah tertidur lelap dalam tidurnya.
******
"Lih, ada yang ingin aku tanyakan."
Saat istirahat siang di kantor, Bagas menahan Galih yang hendak pergi keluar ruangan. Di dalam ruangan masih ada dirinya, Galih, dan Leon.
"Ada apa." Galih menjawab dengan cuek.
Galih menatap Bagas, Leon masih berdiri di samping meja Galih.
"apa Bagas sudah tahu." batin Leon dengan perasaan cemas.
"Maksudmu."
"Jangan kira aku tidak tahu, kamu menyukai Rena kan. Apa maksud mu mengirim pesan padanya. Hingga menelpon nya." Bagas menaruh tangannya di atas meja Galih dan menekannya.
"Mungkin Galih hanya ingin menanyakan tentang kamu Gas, sudahlah sebaiknya kita makan dulu." Leon meraih tangan Bagas. Dia ingin menghentikan keadaan mencekam ini. Jangan sampai ada baku hantam.
"Lebih baik kamu pergi ke kantin dulu." Bagas melepaskan pegangan tangan Leon.
"mana mungkin aku bisa pergi meninggalkan kalian berdua dengan keadaan seperti ini." batin Leon.
"Memangnya salah jika aku menyukai Rena." Galih berdiri dari duduknya.
"Galih...!"Leon memandang tajam padanya.
"Sudahlah, jangan dengarkan omongannya."
__ADS_1
"Apa maksud mu." Bagas mencengkeram kerah baju Galih.
"Rena berhak bahagia, kamu tidak bisa memberikan keturunan buat dia. Lagi pula dia perempuan yang cantik. Sangat cocok bila bersanding dengan diriku." Galih melepaskan cengkeraman tangan Bagas sambil tersenyum remeh.
Tanpa aba-aba Bagas memukul wajah Galih. Hingga Galih terhuyung ke belakang. Galih pun tak tinggal diam. Dia membalas pukulan dari Bagas. Tetapi tangan nya di cekal oleh Leon terlebih dulu.
"Kalian ini apa-apaan. Ini di kantor. Kalian mau di pecat. Gas, kontrol emosi kamu. Dan kamu Galih, jaga sikap dan bicara kamu."
Bagas memandang tajam pada Galih. Tangannya masih terkepal sempurna.
"Lebih baik kamu berhenti sampai di sini. Jangan sampai aku bertindak di luar dugaan mu."
Bagas keluar meninggalkan mereka dengan menahan amarah dan perasaan kesalnya.
"Sudah aku bilang berkali-kali. Ini salah, perasaan mu ke Rena salah besar. Sekarang lihat. Bagas mengetahuinya."
"Akan lebih baik jika dia tahu, aku akan lebih leluasa menemui Rena dan memandang wajah nya yang cantik." Galih tersenyum membayangkan wajah Rena sambil memegang pipinya yang sakit karena pukulan dari Bagas.
"Elo benar-benar gila. Elo bisa cari wanita lain."
"Gue cuma mau Rena."
"Itu bukan cinta, itu obsesi. Elo terobsesi mendapatkan Rena. Elo harus tahu, mana cinta mana obsesi."
"Gue nggak peduli. Gue hanya ingin Rena jadi milik gue."
"Ba**ngan, bre**sek." Leon memukul wajah Galih dan mencengkeram kerah bajunya.
"Elo memang bener-bener nggak bisa di beri tahu."
Leon melepas Galih dan sedikit mendorongnya ke belakang.
Dia segera pergi meninggalkan Galih dan mencari Bagas.
"Gue pastikan Rena akan menjadi milik gue, gue nggak peduli, apapun akan gue lakukan. Sudah cukup gue mengalah pada Bagas. Dulu orang yang gue suka lebih memilih mengejar dia. Dan gue hanya diam saja. Sekarang gue harus memiliki Rena. Gue nggak boleh menyerah. Gue sangat mencintai Rena. Iya,,, Gue mencintai dia. Rena harus jadi milik seorang Galih."
Galih berbicara sendiri di dalam ruangan.
Dibalik pintu ada seseorang yang mendengar ucapan Galih.....
BERSAMBUNG
__ADS_1