Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 37


__ADS_3

Sejak mendengar perkataan Dona, Rena menjadi cemas. Dia takut akan sesuatu yang belum pasti terjadi.


"Aku butuh teman bicara yang bisa menyimpan rahasia. Jika terus seperti ini aku bisa stres. Tapi siapa?" batin Rena.


Hingga dia tidak sadar ada pembeli yang ingin membayar di kasir. Pembeli tersebut nampak memperhatikan dirinya.


"Maaf mbak,,, mbak..." dia melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Rena.


"Mbak Rena." Sari menepuk pundak Rena dengan pelan dari belakang.


Sari dan Wati memperhatikan pembeli yang hendak membayar di depan kasir dari tempat mereka. Karena panggilan dari pembeli tidak di respon oleh Rena akhirnya Sari menghampiri Rena.


"Ahhh,,, astaghfirulloh.. Sari, bikin kaget." Rena memegang dadanya karena kaget pundaknya di sentuh oleh Sari.


"Itu, ada yang mau bayar." Sari menggerakkan bola matanya mengarah ke pembeli.


"Ya ampun.. maaf..."


Rena memandang pembeli di depannya dengan tatapan datar setelah tahu siap yang sedang di layani nya. Sedangkan Sari kembali ke tempatnya.


"Kalau kerja jangan banyak nglamun, nanti bisa rugi bosnya. Bayarin karyawan yang nggak kompeten." kata Angga sambil menaruh ke dua tangannya di atas meja kasir.


"Ini pak Dokter belanjaan anda." Rena menyerahkan belanjaan Angga dengan struk pembayarannya.


Respon Rena tampak biasa. Dia tidak ingin terlibat adu mulut dengan calon suami sahabatnya. Itupun kalau mereka jadi menikah.


Pulang dari kota sebelah Angga mampir ke butik untuk membelikan kado ulang tahun untuk anak sahabatnya yang akan di rayakan nanti malam.


"Kalau kerja banyakin senyum. Jangan judes. Kasihan Dona, nanti bajunya nggak laku gara-gara wajah jelek kamu terpampang di sini."


Entah kenapa jika bertemu dengan Rena, Angga menjadi sosok yang cerewet. Padahal saat bersama Dona, ia lebih banyak diam.


"Maaf pak Dokter, saya sedang tidak mood adu mulut dengan anda. Lebih baik anda menemui calon istri anda. Ruangannya ada di sebelah sana." Rena menunjuk sebuah jalan yang menuju ke ruangan Dona.


"Jika tidak, lebih baik anda minggir dari hadapan saya. Merusak pemandangan."


Rena agak mencondongkan badannya ke depan. Sehingga wajahnya lebih dekat dengan Angga.


Tampak mereka berdua seperti sedang beradu kekuatan mata.


"Buang-buang waktu." Angga membayar belanjanya dan mengambilnya dari meja kasir.


"Kembaliannya buat kamu. Beli es teh, biar nggak kebanyakan nglamun."


Dia meletakkan uangnya di meja kasir dan berlalu pergi.


"Ahhh,,,, ****.. maksudnya apa coba, buang-buang waktu."


Rena mengambil uangnya dan menghitungnya.

__ADS_1


"Kembalian cuma 17.000.. Lo pikir gue kere." lalu dimasukkan uangnya ke dalam laci.


Rena merasa kesal dengan kelakuan Angga. Sampai dia lupa dengan apa yang dipikirkan sebelumnya.


*****


Di dalam mobil Angga tampak tersenyum senang. Membuat Rena marah membuat dirinya merasa bahagia.


"Aneh,, kenapa dengan ku. Melihat dia marah malah membuatku bahagia." Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara di rumah pak Ramli tampak bu Anis sedang sibuk di dapur. Dia di bantu oleh Intan.


"Lin, lihat Intan. Dia saja mau bantu ibu di dapur." omel bu Anis pada anak perempuannya yang sedang duduk di meja makan sambil bermain ponsel.


"Lina sedang mencari pekerjaan bu." kilah Lina.


"Kerjaan, kerjaan. Kamu baru sembuh, jangan berpikir kerja dulu."


"Ini di masukkan sekarang bu." tanya Intan sambil membawa mangkok yang berisi sayuran.


"Iya, setelah itu kamu masukkan ini ya, lalu ini." bu Anis menunjuk beberapa bahan dapur.


Intan sebenarnya malas untuk masak. Tapi demi Bagas dia rela melakukannya. Dia ingin menunjukkan pada orang tua Bagas jika dia adalah perempuan mandiri. Dan juga dia ingin nanti Bagas memuji masakannya.


Sekitar pukul 5 sore Bagas tiba di rumah orang tuanya.


Setelah menyapa bapak dan ibunya dia langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


"Bu, mas Bagas sudah datang?"


"Sudah, sekarang sedang mandi."


Mendengar Bagas sudah datang Intan masuk ke dalam kamarnya. Dia menghadap cermin dan memakai make-up kembali. Kemudian dia keluar.


Semua orang yang ada di ruangan menatap Intan. Karena saat ini dia memakai dress singlet dan panjangnya di atas lutut.


"Kamu mau ke mana?" Lina berputar mengelilingi tubuh Intan sekali dan berhenti tepat di depan Intan.


"Eee,,, anu,,, itu,,, baju aku belum kering."


Lina hanya memicingkan sebelah matanya. Dan pergi meninggalkan Intan. Bu Anis dan pak Ramli hanya diam tidak berkata apapun.


"Lin, kamu panggil mas mu. Kita sholat berjamaah."


Mereka sekarang berada di ruangan yang di pergunakan untuk sholat.


Setelah sholat, pak Ramli dan Bagas mengobrol di ruang tengah. Sedangkan para perempuan sedang menyiapkan makan malam. Setelah selesai menyiapkan makanan, bu Anis menyuruh Lina memanggil pak Ramli dan Bagas untuk makan malam bersama.


"Ini tadi ibu masak di bantu sama Intan."

__ADS_1


"Pantas rasanya beda. Lebih enak."


Mendengar pujian dari pak Ramli, Intan merasa senang. Sesekali dia melirik ke arah Bagas. Tetapi Bagas sama sekali tidak pernah bertanya padanya.


"Sial, aku harus melakukan sesuatu."batin Intan.


Setelah selesai makan malam, Bagas duduk di teras rumah. Pak Ramli dan Bu Anis berada di ruang tengah sedang melihat televisi. Mereka menonton siaran berita. Lina juga berada di ruang tengah bersama mereka. Tetapi dia lebih fokus ke ponselnya.


"Mas Bagas nya di mana?" tanya Intan begitu sampai di dekat Lina. Karena dia tidak mendapati Bagas bersama mereka di ruang tengah.


"Biasanya kalau di sini, jika malam mas Bagas suka sekali duduk di teras. Katanya nyaman. Sambil lihat bintang." jawab Lina.


"Kamu buatin kopi mas mu Lin."


"Oke,,"


Saat Lina hendak berdiri Intan mencegahnya.


"Biar saya saja. Sekalian mau bilang terimakasih, karena sudah mengizinkan mbak Rena menggantikan saya sementara di butik." ucap Intan mencari alasan supaya bisa bertemu Bagas.


Intan pergi ke dapur membuatkan kopi untuk Bagas. Lalu membawanya ke teras rumah.


"Ini mas kopinya."


Intan menaruh secangkir kopi di atas meja dekat Bagas.


"Seharusnya nggak usah, jadi ngrepotin kan."


"Nggak apa-apa mas, itung-itung ucapan terimakasih karena sudah memperbolehkan mbak Rena menggantikan saya kerja sementara di butik."


Intan duduk di kursi sebelah Bagas. Di angkatnya sedikit dress yang ia pakai. Nampak paha mulus milik Intan di samping Bagas.


Intan selalu bertanya pada Bagas. Dia tidak pernah kehabisan pertanyaan. Sehingga membuat dia lebih lama berada di dekat Bagas.


Hingga pukul 8 malam, mereka masih di teras rumah. Intan selalu mengalihkan perhatian Bagas dengan pertanyaan mengenai pekerjaan Bagas. Dia beralasan ingin bekerja kantoran.


*****


"Aku antar pulang saja, nanti Bagas tidak jemput kamu." tawar Dona.


Tetapi Rena menolaknya.


"Nggak usah, mungkin masih di jalan. Sudah kamu duluan saja."


"Sudah kamu hubungi."


"Nggak di angkat. Mungkin ponselnya ketinggalan di rumah. Sudah kamu duluan saja. Kelihatannya mau hujan."


Ponsel Bagas berada di dalam kamar. Rena mencoba menghubungi berkali-kali tetapi tidak di angkat. Karena tidak ada yang mendengat suara ponsel Bagas.

__ADS_1


Dona pun akhirnya pulang. Dan Rena duduk di teras butik menunggu suaminya datang menjemput.


BERSAMBUNG


__ADS_2