Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 108


__ADS_3

Dona berencana untuk menemui Intan dan memperingatkannya. Angga yang mengetahuinya pun tidak membiarkan Dona pergi sendirian.


Setelah butik tutup, Dona di jemput oleh Angga dan menuju rumah Intan.


"Apa yang ingin mbak Dona bicarakan?" tanya Intan.


"Jauhi Bagas. Dan jangan pernah menyentuh keluarganya." ucap Dona dengan tegas.


Angga hanya diam dan duduk sembari menyimak obrolan kedua perempuan tersebut.


"Ha ha ha. Apa hak anda berbicara seperti itu." kata Intan.


"Saya tidak akan membiarkan kamu menyakiti hati sahabat saya. Lagi pula di luar sana masih banyak lelaki yang belum memiliki pasangan. Kenapa kamu lebih memilih Bagas. Yang jelas-jelas sudah memiliki istri. Dan juga, kamu dan Rena kan sudah lama kenal. Kenapa kamu begitu tega." kata Dona menahan amarahnya.


"Mbak Dona, mbak Dona. Pertanyaan macam apa itu. Kenapa pertanyaan itu tidak mbak tanyakan saja sendiri pada mbak Dona. Bukannya kita sama. SAMA-SAMA MENYUKAI LELAKI BER-IS-TRI. Di mana perbedaan kita" ucap Intan dengan penuh penekanan.


Deg,,,


Dada Dona seperti di hantam sebongkah batu besar. Terasa sangat sesak. Tapi Dona mencoba untuk tetap tenang. Dan tidak terpancing dengan perkataan Intan.


Begitupun dengan Angga, seketika dia menoleh ke arah Intan. Biar bagaimanapun, perkataan Intan juga mengena kepada dirinya.


Karena selama ini, Angga begitu menginginkan Rena. Padahal Angga juga tahu status Rena. Entah jika sekarang. Hati Angga masih terpaut pada Rena, ataukah sudah berubah. Hanya Angga sendiri yang tahu.


"Itu memang benar. Tapi itu dulu. Dan saya berharap, kamu mau melakukan hal yang sama. Seperti yang saya lakukan." ucap Dona.


"Saya dulu begitu bodoh. Di butakan oleh cinta. Tapi saya sangat bersyukur, punya seorang sahabat yang selalu mengingatkan saya. Yang selalu berada di samping saya. Dan dia tidak pernah lelah untuk membuka mata saya. Bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan." imbuh Dona dengan tersenyum.


Dona teringat bagaimana Rena selalu mengingatkan dia, bahwa apa yang di rasakan oleh hatinya itu adalah sebuah kesalahan.


Bahkan Rena tidak menyerah begitu saja, saat Dona tidak menanggapi perkataannya. Rena selalu punya cara supaya Dona tidak melakukan hal yang akan dia sesali seumur hidupnya.


"Omong kosong. Mbak Dona bisa bicara seperti itu karena ternyata lelaki yang mbak Dona sukai adalah lelaki bajingan. Iya kan. Coba jika lelaki itu seperti mas Bagas. Pasti mbak Dona akan tetap bertahan, dan melakukan berbagai cara untuk tetap bersama." oceh Intan.


Entah dari mana Intan mendapat informasi sedetail itu mengenai Tio.


"Sulit ya bicara baik-baik sama kamu." ucap Dona sambil berdiri.


"Ingat." kata Dona sambil menunjuk pada Intan.


"Jika kamu masih berusaha membuat Rena sakit hati. Dan jika kamu berani menyentuh keluarga Rena maupun Bagas. Saya tidak akan segan-segan membuat kamu dan mama tercinta kamu hidup seperti dulu lagi." ancam Dona.


"Omong kosong." jawab Intan.


"Kamu tahu kan siapa keluarga saya. Dan kamu lihat, siapa dia. Calon suami saya. Pastinya kamu juga tahukan tentang dia. Saya pastikan, kamu dan mama kamu akan kembali menjadi gembel seperti dulu. Bahkan lebih." ancam Dona lagi.

__ADS_1


"Oke. Bagaimana jika ternyata mas Bagas sendiri yang menginginkan saya." ucap Intan dengan angkuh dan percaya diri.


"Ha ha ha. Percaya diri sekali kamu. Kamu pikir Bagas itu bodoh. Membuang berlian yang sangat amat berharga, hanya untuk intan imitasi seperti kamu. Palsu dan tidak berharga. Bahkan jika di letakkan di pinggir jalan saja tidak akan ada yang mengambilnya." kata Dona dengan tertawa mengejek.


"Bangun dari mimpimu sayang, Rena lebih segala-galanya dari pada kamu. Kamu tahu. Meskipun Rena sudah bersuami, masih banyak lelaki di luar sana yang menginginkan dia. Sedangkan kamu. Setahu saya, pacar saja kamu tidak punya. Nggak laku. Kasihan sekali hidup kamu." imbuh Dona dengan nada mengejek.


Dona melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Intan. Angga pun berdiri dari duduknya dan menyusul Dona. Tapi sebelum itu, dia sempat berbicara pada Intan dan memberikan kartu namanya pada Intan.


"Ini kartu nama saya. Jika kamu penasaran dengan saya, kamu bisa cari tahu." ucap Angga dengan senyum menakutkan.


Intan meremas kartu nama yang di berikan oleh Angga dan membuangnya ke sembarang arah. Dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


*****


"Besok apa nggak libur sayang polindes nya?" tanya Bagas sambil berbaring di ranjang dalam kamar.


"Nggak mas. Biasanya hari sabtu tetap buka. Hari minggu saja tutupnya." jelas Rena.


"Kamu berdua sama Sera, apa mau mas antar juga." kata Bagas mencoba menawarkan dirinya.


"Berdua saja sama Sera. Nggak apa-apakan." ucap Rena.


"Iya." kata Bagas sambil mengecup pucuk kepala Rena.


Bu Yanti mengerti tentang rasa gundah yang saat ini di rasakan Rena. Bagaimana Rena takut jika hasil pemeriksaannya ternyata tidak sesuai yang di harapkan. Dan itu pasti akan membuat Bagas kecewa.


Dan dengan penjelasan yang di berikan oleh bu Yanti, Bagas mengerti mengapa bu Yanti melarang Bagas untuk ikut ke polindes besok.


Saat Bagas sedang berkhayal di dalam pikirannya sendiri, dering ponsel membuyarkan lamunannya.


"Siapa mas?" tanya Rena.


"Nggak tahu. Nggak ada namanya. Cuma nomor doang." jawab Bagas sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Rena.


"Halo." ucap Bagas.


"Halo sayang, aku kangen."


Mendengar kalimat tersebut, Bagas langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan kembali melihat nomor yang telah menghubunginya.


"Maaf, anda salah orang." kata Bagas.


"Nggak lah mas. Aku Intan. Tadi aku ke rumah mas Bagas. Tapi nggak ada orang. Aku tahu kok. Yang blokir nomor aku di ponsel kamu pasti mbak Rena. Iya kan."


"Ck. Bukan Rena yang blokir. Tapi saya sendiri." ujar Bagas.

__ADS_1


"Mas nggak usah bohong deh. Aku tahu kok. Mas, tadi aku kirim foto ke mbak Rena. Mas sudah lihat."


"Sudah. Dan aku pikir kamu lebih pantas dengan rambut seperti itu. Dan aku ingatkan lagi. Jangan pernah menghubungi ku lagi." ucap Bagas.


"Mas, bukannya aku sudah pernah bilang. Aku sangat mencintai mas Bagas. Aku rela jika menjadi istri kedua mas Bagas."


"Sebaiknya kamu dengarkan perkataan ku baik-baik. Tidak ada istri kedua dalam hidupku. Dan tidak ada istri lain selain istriku. Rena." ucap Bagas dan langsung mematikan ponselnya.


"Siapa?" tanya Rena.


"Intan." jawab Bagas ketus.


Rena terus memandang ke arah Bagas.


"Hanya kamu istri mas. Hanya kamu. Tidak akan pernah ada yang lain." kata Bagas sambil memeluk Rena.


"Meskipun Rena tidak bisa memberikan anak untuk mas Bagas." kata Rena lirih.


"Iya. Meskipun kita tidak di beri kepercayaan oleh Alloh untuk memiliki anak. Mas akan tetap berada di samping kamu. Hanya kita berdua. Dan anak-anak kita nanti. Kita bisa mengadopsi anak kan. Nggak usah berpikir macam-macam." jelas Bagas.


Entah kenapa perasaan Rena masih tidak bisa tenang mendengar perkataan dari Bagas. Pikirannya masih merasa gelisah.


"Ya Alloh, semoga Kau berikan kami keturunan. Biarkanlah hamba mengandung dan melahirkan seperti perempuan lainnya. Hamba juga ingin merasakan seperti yang perempuan lain rasakan." batin Rena sambil mengeratkan pelukannya pada Bagas.


*****


"Brengsek. Apa sih yang mas Bagas lihat dari Rena. Perempuan mandul. Aaaa." teriak Intan.


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus mendapatkan mas Bagas. Aku sangat mencintai kamu mas." ucap Intan sambil melihat foto Bagas di layar ponselnya.


"Kenapa kamu tidak bisa merasakannya mas, kenapa? Aku sangat mencintai kamu. Aku bahkan akan melakukan apapun yang kamu minta. Apapun, asal kamu mau terima aku. Mas Bagas. Hiks hiks." ucap Intan sambil menangis.


Ponsel Intan berbunyi. Seseorang menghubungi dirinya. Di hapusnya air mata di pipinya, dan di angkat panggilan telepon dari seseorang.


"Oke." ucapnya singkat, kemudian dia matikan panggilan telepon di ponselnya.


"Ternyata. Mungkin aku bisa mengajaknya bekerja sama untuk memisahkan mas Bagas dan Rena." ucap Intan.


"Mas Bagas, kamu memang di takdir kan untuk menjadi pasangan hidupku." ucap Intan sambil tertawa.


Entah apa lagi yang direncanakan Intan untuk mendapatkan Bagas. Sepertinya dia tidak sedikitpun mengindahkan ancaman dari Lina maupun Dona.


Mungkin saja saat ini, cinta yang di miliki Intan berubah menjadi obsesi. Intan terobsesi untuk memiliki Bagas. Dan itu akan sangat berbahaya. Karena biasanya, orang yang terobsesi akan sesuatu akan bertindak lebih nekat, tanpa berpikir panjang.


Apalagi Intan hidup seorang diri. Tanpa kedua orang tua di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2