Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 25


__ADS_3

Rena menelpon Dona dan menyuruhnya datang ke rumahnya. Dia beralasan tidak enak badan. Dia menyuruh Dona membelikan obat ke apotik. Saat Dona bertanya tentang Bagas. Rena beralasan tidak mau di tinggal di rumah sendirian. Tanpa curiga Dona pergi ke rumah Rena dan membelikan dia obat.


Awalnya Bagas tidak mau melakukan ide dari Rena. Tapi karena ancaman Rena akhirnya Bagas mengikuti rencana Rena.


(Kira-kira apa ancaman yang Rena berikan pada Bagas, sehingga Bagas mau melakukan rencana yang Rena telah beri tahukan padanya,,, 🤔🤔🤔)


"Mas, nanti kalau Dona datang mas ambil minum di belakang ya, aku sudah buatkan minum, jadi mas tinggal bawa ke sini. Terus nanti jangan lupa mas tumpahkan minumnya di baju Dona. Oke." Rena menjelaskan rencananya pada Bagas.


"Baik bos."


Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi.


"Mas buka sana, cepat." Rena segera tidur di atas ranjangnya dan menarik selimut sampai dadanya.


Bagas membawa Dona masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu kenapa lagi sih Ren?" Dona mendekat pada Rena dan duduk di pinggir ranjang.


"Kepalaku tiba-tiba terasa pusing." Rena memegang kepalanya dan memijatnya pelan.


Bagas pamit pada Dona sebentar. Ketika kembali ke kamar, Bagas membawa nampan berisi gelas.


"Ini Don, kamu minum dulu. Maaf merepotkan." Bagas menyodorkan segelas teh hangat pada Dona.


"Terimakasih." Dona ingin mengambil gelas pada Bagas. Tapi sebelum tangannya menggapai gelasnya, air dalam gelas tumpah.


"Auu,,," Dona langsung berdiri ketika air mengguyur badannya bagian depan. Sehingga baju yang Dona pakai basah semua.


"Mas,, kamu bagaimana sih." Rena berpura-pura menyalahkan suaminya. Dia menatap Bagas sambil mengedipkan mata. Dona sibuk membersihkan bajunya menggunakan tisu.


"Aduh Don, maafkan mas Bagas ya, kamu bersihkan dulu badan kamu di kamar mandi." Rena mengambil tas Dona dan meletakkan di belakangnya. Dia sedikit mendorong Dona agar membersihkan diri di kamar mandi.


Setelah Dona masuk ke kamar mandi. Rena mendekati suaminya.


"Mas, kamu jaga di depan pintu. Kamu tahan dari luar. Jangan sampai Dona keluar sebelum rencana kita sukses." Rena berbisik pada Bagas.


Bagas hanya mengangguk pasrah dan menuju depan pintu kamar mandi untuk berjaga-jaga. Rena mulai membuka tas Dona dan mencari ponsel Dona. Setelah ponsel di temukan Rena segera mengetik kata sandinya. Kebetulan Rena pernah melihat Dona membuka ponselnya. Dari situlah Rena tahu kata sandi ponsel Dona.


Dilihatnya foto-foto pada aplikasi galeri Dona.

__ADS_1


"Banyak banget sih fotonya." badan Rena terasa panas dingin. Sebentar-bentar dia melihat ke arah pintu kamar mandi.


"Ini dia." Rena menemukan apa yang dia cari.


Dari dalam kamar mandi Dona berusaha membuka pintu. Tapi tak kunjung terbuka.


Sementara di luar Bagas menahan pintunya supaya tidak terbuka.


"Ren, tolong dong! Pintunya nggak bisa di buka?" Dona berteriak dari dalam kamar mandi.


"Iya Don sebentar, aku suruh mas Bagas membuka nya dari luar. Soalnya pintu kamar mandi biasanya macet. Rena berteriak sambil memberi isyarat pada Bagas -pintunya jangan di buka dulu-.


Rena segera mengirimkan beberapa foto ke ponselnya. Di hapus nya jejak aplikasi pada ponsel Dona. Setelah selesai segera di masukkan ponsel ke dalam tas Dona.


Rena memberi isyarat pada Bagas untuk membuka pintu.


"Ya ampun,, kenapa sih pintu kamu." Dona mengomel begitu keluar kamar mandi.


"Memang agak sulit di buka, mas Bagas belum sempat memperbaiki."


Setelah selesai menjenguk Rena, Dona pulang. Di dalam kamar Rena masih melihat foto di ponselnya. Bagas berbaring di sampingnya sambil mengamati mimik wajah istrinya. Terkadang Rena menggumam tak jelas, terkadang menggelengkan kepala dan juga menutup mulutnya menggunakan tangan.


Rena memberikan ponselnya pada Bagas.


"Mas lihat foto ini?"


"Kenapa Dona bisa berfoto bersama Tio?" Bagas bangun dari tidurnya.


"Lelaki yang menjalin hubungan dengan Dona adalah Tio, suaminya mbak Mira."


Rena dan Bagas saling diam. Mereka tidak menyangka ternyata Dona dan Tio memiliki hubungan. Terlebih lagi Bagas, yang dia tahu Mira selalu bersikap ceria jika sedang berada di kantor. Tak tampak jika Mira memiliki masalah sebesar ini.


*****


Rena sedang sibuk di dapur membuat kue. Dia mencoba resep baru dari buku yang di belikan Bagas. Sementara mak Irah berada di belakang menjemur pakaian.


Tring... (ponsel Rena berbunyi)


Di bersihkan tangannya karena terkena adonan kue kemudian Rena mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan bergambar masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


Seseorang mengirimi beberapa foto Bagas dan Mira saat mereka bertemu di toko buku. Di foto tersebut di ambil dari sisi berbeda. Sehingga terkesan sangat akrab dan romantis.


"Apa ini." Rena melihat satu persatu foto tersebut.


"Mas Bagas dan mbak Mira, sedang apa mereka."


Rena melihat siapa pengirimnya. Tetapi tidak ada foto dalam kontak pengirim tersebut. Bahkan nomor pengirim fotonya tidak tersimpan dalam ponsel Rena.


Di letakkan ponselnya di meja dekat dapur. Kemudian Rena duduk di kursi sebelahnya.


Rena tampak berfikir. Dia teringat cerita Dona. Dimana mbak Mira menemui Dona dengan senyum di bibirnya tanpa ada amarah sedikitpun. Bahkan dia akan menerima semua keputusan dari Tio.


"Apa mungkin mbak Mira mengikhlaskan suaminya dengan Dona karena dia sendiri sudah mempunyai lelaki lain. Dan lelaki itu adalah mas Bagas. Tetapi tidak mungkin mas Bagas tega mengkhianati ku. Tapi,, mereka setiap hari bertemu. Ya Alloh,,, apa yang sebenarnya terjadi." batin Rena.


Kepala Rena terasa pusing memikirkannya. Ke dua tangannya memegang kening sambil memijitnya pelan. Di lihatnya adonan kue yang masih utuh.


"Apa perlu aku tanyakan pada mas Bagas. Tapi bagaimana jika tebakanku benar."


"Mbak Rena,, ada apa?" mak Irah sudah berdiri di sampingnya, dia melihat Rena memijat pelan ke dua keningnya.


"Tidak ada apa-apa mak."


Rena meminta mak Irah membantunya membuat kue. Dia berfikir, mungkin dengan sibuk membuat kue pikirannya akan teralih. Dia tidak lagi memikirkan tentang foto tadi. Ternyata semuanya tidak berjalan seperti yang di inginkan. Rena masih tidak bisa fokus.


"Mbak Rena kenapa?" Mak Irah melihat Rena melamun ketika meletakkan adonan pada cetakan loyang.


"Jika ada sesuatu lebih baik di bicarakan mbak, supaya lebih enak. Tidak menjadi beban pikiran."


Akhirnya Rena menceritakan semuanya pada mak Irah. Mak Irah menyarankan Rena bertanya langsung pada Bagas. Supaya lebih jelas. Dan tidak menjadi beban pikiran.


"Siapa tahu foto itu tidak seperti yang terlihat mbak, lebih baik bicara baik-baik pada mas Bagas. Pasti mas Bagas punya alasan yang kuat."


"Tapi ada rasa takut di hati ini mak."


"Mbak, lebih baik mengetahui sebenarnya. Dari pada kita menebak apa yang terjadi. Itu akan membuat setiap langkah kita tidak tenang." saran mak Ira.


"Iya mak, nanti akan Rena tanyakan langsung pada mas Bagas. Terimakasih ya mak."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2