Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 90


__ADS_3

Intan memegang lengan kokoh Galih yang sedang mencengkeram lengan miliknya. Sementara, tangan yang satunya, ia gunakan untuk menampar dirinya sendiri berulang-ulang hingga wajahnya terlihat memar.


"Ampun,,, tolong lepaskan aku kak." teriak Intan disertai air mata.


"Apa sih maksudnya." ucap Galih ingin melepaskan tangan Intan.


Tapi tidak bisa karena Intan sengaja menahan tangan Galih.


"Apa yang elo lakuin." ucap Bagas sambil mendorong badan Galih dari Intan.


"Kenapa Bagas bisa ada di sini?" kata Galih dalam hati.


Galih sempat bingung melihat kedatangan Bagas. Dan juga, apa tujuan Bagas datang ke sini.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bagas dengan memegang pundak Intan.


Intan langsung memeluk Bagas dengan tangisan masih terdengar. Bagas menepuk-nepuk pelan pundak Intan untuk menenangkannya.


Bagas menatap tajam ke arah Galih. Dan Galih pun mulai mengerti sandiwara yang di mainkan oleh Intan.


prok,,prok,,,prok,,,


"Hebat, hebat." ucap Galih disertai tepuk tangan.


"Memang darah pelakor sudah mengalir dalam tubuh elo. Dan elo, gue acungi jempol." ucap Galih mengangkat ke dua jempol tangannya ke arah Bagas.


"Gue ucapin selamat terlebih dulu. Keluarga elo di ambang kehancuran." kata Galih


Dann dengan santai Galih melangkahkan kakinya keluar dari kamar Intan.


"Dan satu lagi. Rena terlalu berharga untuk lelaki seperti elo." ucap Galih


"Massss."


Intan semakin mengeratkan pelukannya. Bagas membawa Intan untuk duduk di kursi dan mengambilkannya air minum.


Bagas terus memperhatikan wajah Intan yang nampak lebam. Dan juga sedikit darah di ujung bibirnya. Lehernya juga terdapat bekas tangan Galih.


"Kak Galih adalah kakak tiri ku. Mamaku menikah dengan papanya kak Galih. Tapi dia berpikir mama telah merebut papanya. Padahal mereka saling mencintai. Dan itu semua membuat kak Galih sangat membenci kami. Di setiap kesempatan, kak Galih selalu bertindak kasar padaku." kata Intan panjang lebar.


Intan mencoba bercerita untuk mendapatkan simpati dari Bagas. Dia berharap, Bagas akan terenyuh hatinya setelah mendengar cerita darinya.


"Kenapa kamu tidak tinggal bersama mamamu?" tanya Bagas.


"Aku hanya ingin belajar mandiri." jawab Intan.


Sementara Bagas sedang berada di rumah Intan, Rena dan yang lain menunggu kedatangan Bagas di rumah sakit yang tidak kunjung tiba.


Rena sudah menghubungi nomor Bagas berkali-kali, tetapi tidak di angkat. Karena ponsel Bagas tertinggal di dalam mobil saat masuk ke dalam rumah Intan.


Rena memutuskan menghubungi Mira dan bertanya tentang Bagas. Tapi Mira berkata bahwa Bagas sudah keluar sejak tadi.


"Kemana kamu mas?" batin Rena merasa khawatir bercampur kesal.


Rena khawatir jika terjadi apa-apa dengan suaminya. Tapi seketika Rena merasa kesal saat teringat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Intan di ponsel milik Bagas. Apalagi saat Bagas berbohong padanya.


"Bu, sebaiknya kita naik taksi saja." ucap Rena memutuskan.

__ADS_1


"Ayo mak Irah." ajak Rena.


Rena berjalan dengan sedikit tertatih. Diikuti bu Anis dan mak Irah di belakangnya. Mak Irah dan bu Anis hanya saling pandang tanpa berkata.


Bahkan saat Rena dan yang lain sudah sampai di rumah, tidak ada telepon dari Bagas.


"Astaga. Aku harus pergi." ucap Bagas teringat jika tujuannya meminta izin keluar kantor untuk menjemput istrinya.


"Mas,,," panggil Intan manja dengan wajah tampak menyedihkan.


"Maaf, aku harus pergi." ucap Bagas meninggalkan Intan.


"Apa kamu tega meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini mas." ucap Intan menghentikan langkah Bagas.


"Bagaimana jika kak Galih datang lagi. Pada siapa aku akan minta tolong." lanjut Intan.


"Ada pembantu kamu di sini. Jika Galih datang lagi, kamu bisa menghubungiku." kata Bagas sambil melanjutkan langkah kakinya.


Pembantu yang mengobati memar di wajah Intan tertawa dalam hati. Sebenarnya Intan menginginkan Bagas yang mengobati dirinya. Tapi Bagas malah menyuruh pembantu di rumah Intan yang melakukannya.


"Kenapa sih, susah banget menahan mas Bagas lebih lama di sini." ucap Intan geram.


"Sudah, sana kamu pergi. Nggak guna. Malah ganggu." omel Intan sambil mendorong pembantunya.


"Ya Alloh,,," ucap Bagas saat berada di dalam mobil dan melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Rena.


Bagas mencoba kembali menghubungi Rena. Tapi tidak di angkat. Segera Bagas bergegas melajukan mobilnya untuk pulang.


Tapi di tengah perjalanan, mak Irah menghubunginya. Mak Irah berkata bahwa mereka sudah sampai di rumah. Dan Rena meminta Bagas untuk kembali bekerja saja.


Saat Bagas ingin berbicara dengan Rena, mak Irah berkata jika majikannya sedang tidur. Padahal Rena berada di samping mak Irah.


"Mbak Rena." ucap mak Irah sambil memandang Rena.


"Rena ngantuk mak. Mak bisa keluar kan." ucap Rena sambil tersenyum.


"Baik mbak."


"Mak, bilang sama ibu jika Rena sedang tidur." kata Rena.


"Baik mbak." kata mak Irah.


Rena menyandarkan badannya ke sandaran ranjang miliknya. Matanya menatap foto pernikahannya dengan Bagas yang terpasang di dinding.


Rena berdiri dan mengambil sesuatu di laci meja. Di ambilnya map berwarna merah dengan beberapa lembar kertas di dalamnya.


Ternyata itu adalah biodata beberapa orang yang pernah melamar kerja di butik milik Dona. Saat itu memang Rena di percaya oleh Dona untuk menerima siapa saja yang akan bekerja di butik.


Rena mencari biodata milik Intan. Dan membacanya.


Rena menyipitkan matanya saat melihat alamat rumah Intan yang tertulis di lembar kertas tersebut.


"Bukannya itu salah satu perumahan elit di kota ini. Jika benar itu rumahnya, kenapa dia memilih tinggal di kontrakan." gumam Rena.


Rena mengembalikan kertas tersebut ke dalam map dan menaruhnya lagi di dalam laci.


Sekitar pukul 3 sore, Bu Anis pamit untuk pulang. Sedangkan mak Irah sedang masak untuk makan malam. Karena bosan berada di dalam kamar, Rena memutuskan untuk duduk di teras rumah.

__ADS_1


"Mbak Rena." panggil seorang wanita paruh baya, tetangga Rena.


"Iya bu, mau kemana?" tanya Rena dengan sopan.


"Bagaimana mbak, sudah baikan. Kata mak Irah mbak di rawat di rumah sakit."


"Alkhamdulillah, tinggal pemulihan bu."


"Memang mbak Rena sakit apa?"


"Kaki saya terkilir bu." jawab Rena.


Tidak mungkin Rena menceritakan yang sebenarnya. Bisa-bisa akan terjadi kehebohan di perkumpulan ibu-ibu sekitar rumahnya.


"Eh iya mbak, kemarin siapa yang datang ke sini. Emmm,,,, waktu itu mbak masih berada di rumah sakit. Apa adik mbak Rena dari kampung halaman datang berkunjung ke sini. Kan mbak Rena sedang sakit. Pasti mau menemani mbak Rena."


"Iya bu." jawab Rena berbohong.


Beruntung tetangga Rena tidak terlalu hapal akan wajah Sera. Karena Sera jarang sekali datang ke rumah Rena. Jadi Rena tidak ketahuan jika dia sedang berbohong.


"Pantas saja akrab banget. Cium tangan. Bahkan cium pipi mas Bagas."


Deggg....


"Cium tangan, cium pipi. Siapa dia?" batin Rena.


"Ya sudah mbak, saya pamit dulu. Semoga cepat sembuh."


"Iya bu, terimakasih."


Rena memandang lurus ke depan. Di benaknya ada banyak sekali pertanyaan.


"Mbak Rena. Mbak Rena." panggil mak Irah pelan.


"Iya mak, ada apa?"


Panggilan mak Irah membuyarkan lamunan Rena.


"Mbak, sudah sore. Mbak tidak mandi dulu saja.


"Iya mak." ucap Rena beranjak dari duduknya.


Dengan pelan, Rena berjalan menuju kamarnya.


"Ada apa dengan mbak Rena. Setelah pulang dari rumah sakit, sikap mbak Rena menjadi aneh. Mbak Rena juga banyak melamun." gumam mak Irah.


Di dalam kamar mandi, Rena berendam. Dia ingin lebih bersantai dan menikmati nyamannya berendam dengan air hangat.


Rena berendam sambil memejamkan mata. Saat merasa kondisi hatinya lebih baik, Rena keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya.


Dia menuju lemari dan mengambil pakaian. Setelah itu dia duduk di depan meja rias untuk sedikit menaburkan bedak di wajahnya dan mengoleskan lipstik di bibirnya.


Rena menatap wajahnya di cermin tanpa ekspresi. Lantas dia mendongakkan kepalanya. Dan mengambil nafas panjang.


Rena bertekad untuk mencari tahu semuanya.


"Apapun yang sebenarnya terjadi, aku harus tahu. Aku tidak ingin menjadi orang yang bodoh. Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tidak boleh diam di tempat." gumamnya.

__ADS_1


"Huh,, semangat Rena. Kamu bukan wanita lemah." kata Rena dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


BERSAMBUNG.


__ADS_2