
Rena segera mengunci pintunya dan bergegas ke belakang. Rena mencari mak Irah di dapur, tapi tidak ada. Rena kemudian mencari mak Irah di belakang, tempat biasanya mak Irah mencuci baju menggunakan mesin cuci.
"Mak,,,."
"Ada apa mbak?"
Sebelum Rena menjawab pertanyaan mak Irah, terdengar ada ketukan pintu dari luar. Dan itu sangat terdengar keras.
"Sepertinya ada tamu mbak, mak buka dulu."
"Jangan mak."
Rena menghentikan langkah kaki mak Irah dengan memegang lengannya.
"Kenapa mbak?"
Mak Irah bingung dengan sikap majikannya tersebut. Gedoran pintu semakin keras, dengan diiringi ucapan salam.
"Sebentar mbak, mak lihat dulu. Siapa tahu tamu penting."
Mak Irah hendak melepaskan pegangan tangan Rena.
"Mak, jangan di buka. Mak lanjutkan saja pekerjaan mak ini."
Rena berbicara dengan datar. Mak Irah pun hanya bisa menuruti perintah majikannya.
Sedangkan di luar rumah, nampak tamu yang tidak di undang terus mengetuk pintu dengan mengucap salam.
Rena berdiri di ambang pintu belakang sambil bersedekap dan menyenderkan badannya ke pintu.
Mak Irah sesekali melirik majikannya tersebut.
"Kenapa dengan mbak Rena, biasanya jika ada tamu selalu suruh masuk. Sebenarnya siapa tamunya." batin mak Irah.
Mak Irah tidak berani bertanya kepada Rena lebih lanjut lagi.
Setelah beberapa saat tidak lagi terdengar ketukan pintu. Rena pun melangkah pergi meninggalkan mak Irah. Dia mengintip dari balik jendela gorden jendelanya.
Nampak sebuah mobil masih terparkir di depan rumahnya. Dan tidak lama kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan rumah Rena.
"Akhirnya Angga pergi juga." kata Rena bernapas lega.
*****
Sementara sekitar pukul enam pagi tadi di rumah pak Ramli, bu Anis menyindir Intan.
"Maaf bu, Intan telat bangun." kata Intan setelah berada di dekat bu Anis yang sedang menata makanan di meja untuk sarapan nanti.
"Biasanya juga jam segini kamu bangunnya." kata bu Anis sambil mondar mandir mengambil makanan di dapur.
Intan menghembuskan nafas kasar dan langsung membantu bu Anis. Tampak bu Anis tidak seperti biasanya. Hari ini beliau tampak lebih pendiam.
"Orang tuamu kenapa bercerai Tan?"
"Iii,,,Intan kurang tahu bu." jawan Intan gugup.
__ADS_1
"Brengsek, kenapa sih orang tua satu ini." batin Intan sambil memandang bu Anis dengan tatapan tidak suka.
"Pantas saja kamu seperti ini."
"Maksud ibu?" tanya Intan.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja." kata bu Anis membersikan tangannya di wastafel karena semuanya sudah selesai.
"Orang tua sialan. Kamu pikir aku nggak tahu, jika setiap bulan mas Bagas selalu kasih kamu uang. Jika aku sudah menjadi istrinya, akan ku larang dia memberi mu uang. Tidak sepeserpun." batin Intan memandang Bu Anis dari belakang sambil mengepalkan tangannya.
Ternyata pak Ramli berdiri tidak jauh dari mereka, dan menyaksikan semuanya. Sebenarnya tadi pak Ramli di belakang, dia memberikan makanan beberapa burung peliharaannya. Karena telah selesai, beliau pun kembali ke dalam.
Tidak menyangka akan melihat semua ini. Dan Lina sudah berdiri di belakang pak Ramli.
"Bapak tenang saja, ini tidak akan berlangsung lama. Setelah Lina memastikan sesuatu. Lina akan beri tahu bapak." kara Lina yang sudah berdiri di samping bapaknya. Sambil terus memperhatikan ibunya dan Intan.
"Lebih baik kamu tidak perlu mencampuri urusan orang lain Lin, nanti malah terjadi apa-apa sama kamu." kata pak Ramli cemas.
"Orang seperti Intan itu tergolong nekat. Bapak tidak mau terjadi hal yang buruk sama kamu." kata pak Ramli lagi."
"Pak, justru jika Lina hanya diam. Keluarga kita akan hancur. Maka dari itu, Lina ingin memastikan semuanya sebelum terlambat."
Pak Ramli memandang wajah putrinya dengan berbagai macam pertanyaan."
"Jika Lina sudah tahu semuanya, Lina akan beri tahu bapak dan ibu. Lina janji." ucap Lina sambil memandang bapaknya.
Pak Ramli dan Lina berjalan menghampiri bu Anis dan Intan di meja makan.
"Bapak kok malah ke sini, bukannya segera mandi sana." kata bu Anis.
"Sudah kamu bersihkan semuanya Lin?" tanya bu Anis pada putrinya.
Sebenarnya sejak tadi Lina membersihkan halaman rumah. Dia mencabuti rumput liar dan merapikan tanaman bunganya.
"Sebagian belum bu, Lina capek." kata Lina merajuk sambil mendudukkan bokongnya ke kursi.
Di dalam mobil, Angga terus mengumpat dan beberapa kali memukul stir mobil.
"Rena, berani-beraninya dia mengabaikan kedatanganku. Aku harus melakukan sesuatu." kata Angga.
*****
Di kantor, Bagas sedang berbicara pada Leon, Galih, dan juga Mira.
"Kita tidak bisa begini terus. Lama-lama kita akan di pecat." ucap Bagas.
"Iya, benar." kata Leon sambil sesekali memandang Galih yang nampak acuh dengan pembicaraan mereka.
"Jika kalian punya sesuatu yang ingin kalian ungkapkan, lebih baik di bicarakan sekarang saja. Siapa tahu itu bisa jadi jalan keluar." kata Bagas.
"Kita harus seperti dulu lagi. Bekerja bersama. Jadi kita bisa menutupi atau memberi saran pada yang lain. Seperti cara kerja kita sebelumnya." ucap Mira.
"Gimana Lih?" tanya Leon.
"Terserah." jawab Galih.
__ADS_1
Leon hanya mendengus mendengar jawaban dari Galih.
"Kita harus mengesampingkan dulu masalah pribadi saat berada di kantor. Dan gue minta maaf, menyeret kalian berdua dalam masalah gue." ucap Bagas.
"Santai aja kale Gas." kata Mira.
"Maaf, gue egois. Gue hanya mikirin perasaan gue. Gue nggak nyangka bakal kayak gini jadinya. Sekali lagi, sorry." kata Bagas sambil mengatupkan ke dua tangannya di depan dadanya sebagai tanda permintaan maafnya.
prok prok prok
Tiba-tiba Mira dan Leon bertepuk tangan. Bagas pun heran di buatnya. Dia.sedang minta maaf, malah mendapat tepuk tangan.
"Ini baru namanya lelaki." ucap Mira.
"Berani mengakui jika di salah, dan mau memperbaikinya. Bahkan dia sudah mau memikirkan perasaan orang lain. Tidak e-go-is." tutur Leon sembari melirik ke arah Galih.
"Sebenarnya ini juga bukan ide gue sih." kata Bagas cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sontak Leon, Mira, bahkan Galih langsung memandang Bagas.
"Jangan bilang..." kata Mira dengan menahan untuk menyebut sebuah nama.
"Iya. Rena." kata Bagas dengan senyum di bibirnya.
"Beruntung elo Gas, punya istri kayak Rena. Sumpah, jika elo nglepasin dia. Elo bakal rugi bandar." kata Leon.
"Elo pikir judi. Bandar. Memang elo nggak beruntung punya istri kayak istri elo?" tanya Mira.
"Ya beruntung juga sih." jawab Leon.
"Rena." batin Galih sambil tersenyum kecil.
Sehingga tidak ada yang menyadari senyum tersebut.
"Jika itu keinginanmu, akan aku wujudkan." batin Galih.
"Elo gimana Lih?" tanya Mira.
"Gue bilang terserah, ya terserah."
"Jadi elo mau kan jika kita bekerja dengan sistem yang dulu?" tanya Mira penasaran dengan jawaban Galih.
"Elo budek, gue bilang terserah."
"Yeeee,,,"
Secara tidak sadar, Mira memeluk Galih dari belakang.
"Apaan sih."
"Sorry sorry, reflek." kata Mura sambil melepas pelukannya.
Saat mereka sedang membahas masalah di kantor, ponsel Bagas berdering. Lantas, semua menoleh ke arah ponsel Bagas. Kemudian beralih menatap Bagas.
"Kenapa ada namanya di ponsel Bagas. Kenapa dia menelpon Bagas?" batin Galih.
__ADS_1
BERSAMBUNG.