Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 36


__ADS_3

Galih menyetir mobilnya menggunakan tangan satu. Sementara yang satunya memegang ponselnya sambil menciuminya dan mengendusnya.


"Di pegang saja ponselku udah ketempelan wanginya. Gimana kalau....ahhh." Galih membayangkan wajah cantik Rena.


"Ingin sekali aku memelukmu dan menciumimu. Seandainya saat ini kamu mau menjadi milik ku, pasti aku akan sangat bahagia."


Galih memukul stir mobil.


"Satu-satunya penghalang adalah Bagas. Tapi tenang saja, seorang Galih punya beribu cara mendekati pujaan hatinya."


"Aku sampai lupa, kenapa tadi aku tidak menanyakan soal perempuan yang bernama Intan pada Rena."


*****


"Selamat datang mbak Rena."


Wati dan Sari sangat antusias menyambut Rena.


Rena hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu mereka.


"Terimakasih cantik." Rena menjawil dagu mereka secara bergantian.


"Hai hai hai..."


Dona datang dengan merentangkan tangannya. Di peluknya Rena. Ke dua sahabat itu saling berpelukan. Seperti sangat lama tidak bertemu. Padahal beberapa hari yang lalu mereka sempat bertemu. Wati dan Sari hanya senyum melihat mereka.


"Aku tadi sempat khawatir kamu nggak datang."


"Biasalah, tukang ojek langganan pindah ke lain hati. Jadi sulit mau berangkat."


"Kenapa nggak naik mobil atau motor."


"Mobil di pakai sama laki, motor,,, nggak di bolehin."


"Ya elaaaa,, takut istrinya lecet mungkin."


"Oke, sekarang kita buka butiknya. Let's go." Wati bicara dengan suara lantang sambil berjalan mendahului yang lain.


Yang lainnya hanya bisa menutup telinga masing-masing sambil geleng-geleng kepala.


Saat jam makan siang Rena masuk ke dalam ruangan Dona dengan membawa dua porsi makanan.


"Lagi sibuk?"


"Nggak, ada apa?"


"Makan bareng yuk."


Rena makan bersama Dona di ruangan Dona sambil berbincang-bincang. Rena menanyakan tentang hubungannya bersama Angga. Dona kaget saat mengetahui siapa Tio sebenarnya.


"Waktu itu kamu suruh aku telpon mama kamu kan , pakai ponsel kamu. Terus ada foto kamu bersamanya. Dari situ aku tahu."


Rena tidak menceritakan bagaimana dia mengetahui tentang Tio. Dia takut Dona marah padanya dan Bagas karena telah lancang membuka ponselnya tanpa izin dan mengerjai dirinya.


"Jadi kamu dan Bagas..." Dona memandang Rena dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, mas Tio adalah suami dari mbak Mira. Teman kantor mas Bagas. Bahkan mereka satu divisi."


Dona hanya menunduk sambil mengaduk-aduk makanan di piringnya.


"Angga ingin segera mengajak ku menikah. Tapi kamu tahu sendiri kan. Mana mungkin kita menikah tanpa cinta." Dona berhenti bicara. Dia kemudian memandang Rena kembali.


"Aku juga yakin, Angga tidak mempunyai perasan padaku. Selama ini dia hanya terlihat baik karena,,, mungkin tidak enak pada mama."


Rena menatap sahabatnya. Ada rasa kasihan di hatinya.


"Mas Tio bilang akan menceraikan istrinya, setelah itu dia akan menikahi ku." Dona berbicara dengan mengalihkan pandangan kebawah.


"Jika benar yang aku pikirkan, maka disini aku yang akan merasakan sakit hati paling dalam." batin Rena.


"Aku harus bagaimana, aku dan mas Tio saling mencintai. Tapi di sisi lain, aku harus memikirkan perasaan orang tuaku dan juga istri mas Tio. Apalagi semua rekan bisnis papa tahu jika aku dan Angga telah di jodohkan. Dan kami akan menikah."


Mata Rena sudah mulai mengembun. Tidak ingin sahabatnya tahu, ia segera pamit pergi.


Rena masuk ke dalam kamar mandi. Dia menangis di sana. Di sinilah tempat paling aman untuk membuang segala kekacauan yang berkecamuk di hatinya.


"Mereka akan bercerai, Dona akan bersatu dengan mas Tio. Mbak Mira akan sendiri. Jika memang selama ini mereka punya hubungan, pasti tidak akan sulit bagi mbak Mira dan mas Bagas bersama."


Air mata Rena luruh seakan tak mau berhenti. Ponsel di dalam sakunya tiba-tiba berbunyi. Di ambilnya ponsel tersebut, dan di hapusnya air mata di pipinya.


Sebuah pesan bergambar menambah hatinya semakin sakit.


"SUAMI TERCINTAMU SEDANG BEKERJA"


Itulah kalimat yang melengkapi foto tersebut. Foto Bagas dan Mira duduk di satu kursi. Dimana Mira duduk di pegangan kursi. Dan Bagas tepat di sampingnya. Mereka tampak sedang mengamati sesuatu di komputer yang berada di depan mereka dengan tangan Mira terletak di pundak Bagas.


Rena mencoba menghubungi nomor yang mengirimi dirinya foto Bagas dan Mira. Akan tetapi nomor tersebut sudah tidak aktif.


Rena menghubungi Galih, dan ternyata Galih masih berada di kota sebelah. Dia belum kembali ke kantor.


"Berarti selama ini bukan Galih, lalu siapa."


Rena memijat pelipisnya. Rasa pusing tiba-tiba bersarang di kepalanya.


"Oke Rena. Kamu harus jadi wanita kuat. Oke,,," Rena mengambil nafas secara perlahan dan menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian dia berwudhu. Setelah solat dia kembali ke tempatnya bekerja. Yaitu di kasir.


*****


"Makasih, uangnya akan aku transfer. Ingat, tutup mulutmu."


Galih tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Rena, sekarang pasti percaya bahwa bukan aku yang selalu mengiriminya pesan."


Galih berjalan menuju sebuah restoran. Saat ini dia tengah bertemu dengan salah satu rekan kerja yang bekerja sama dengan kantor tempatnya bekerja. Dia mewakili kantor untuk bertemu dengan klien.


"Maaf sudah membuat anda menunggu."


"Tidak, saya juga baru datang. Silahkan duduk."

__ADS_1


Sebelum melanjutkan obrolan mereka berdua saling berkenalan terlebih dulu.


"Galih" Galih mengulurkan tangannya.


"Angga." Angga menyambut uluran tangan dari Galih.


"Maaf, bapak sendiri?"


"Sebenarnya asisten saya yang seharusnya berada di sini. Tetapi dia tidak bisa hadir. Jadi saya sendiri yang datang."


"Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda."


Angga dan Galih berbincang mengenai proyek yang akan di kerjakan bersama.


*****


"Mbak sama mas mu nanti jadi ke sini Lin?"


"Nggak tahu bu, soalnya mbak Rena hari ini sudah mulai bekerja."


Lina bisa mengetahui Rena kembali bekerja karena setiap hari mereka selalu berbalas pesan. Meskipun mereka saudara ipar tetapi mereka bisa di bilang akrab.


"Mbak mu nanti pulangnya di jemput atau nggak?" bu Anis bertanya sambil menjahit baju pak Ramli yang sobek.


"Mana Lina tahu bu.."


"Ya barangkali kamu tahu, tanya sama mas mu sana."


"Ibu,,, ganggu saja..Enak-enak lihat televisi juga. Lagian ponsel Lina di dalam kamar."


"Lama-lama ibu jahit mulut kamu. Di suruh orang tua bukannya berangkat. Malah ngomel aja." bu Anis menyodorkan jarum jahit pada Lina.


"Pakai ponsel saya saja, ini." Intan menyerahkan ponsel pada Lina.


"Kamu punya nomor mas Bagas?"


"Ehh,,, nggak. Maksud ku mbak Rena." kata Intan dengan senyum memaksa.


Ibu melarang mereka menelpon Rena. Karena beliau tahu jika Rena bekerja di bagian kasir. Pasti jarang memegang ponsel.


Akhirnya Lina menyuruh Intan menelpon Bagas. Lina menyebutkan nomor ponsel Bagas pada Intan.


Padahal Intan sudah punya nomor Bagas, tapi dia pura-pura tidak mempunyainya. Sungguh otak licik.


Intan menelpon Bagas, dia berkata bahwa dia di suruh bu Anis untuk menanyakan apakah dia akan ke sini apa tidak.


"Bagaimana?" tanya bu Anis setelah Intan menutup telponnya.


"Mas Bagas pulang kerja langsung ke sini bu."


"Bagus lah, ibu akan masak lebih nanti buat makan malam."


"Ini kesempatan bagus untuk aku. Aku harus bisa mendapatkan simpati dari mas Bagas. Aku akan berdandan cantik malam ini." batin Intan sambil senyum-senyum sendiri.


"Hoe,,, kesambet lo. Senyum-senyum nggak jelas." Lina menyenggol bahu Intan.

__ADS_1


Intan pun hanya cengengesan sambil nyengir nggak jelas. Lina geleng-geleng, dan melanjutkan makan camilan di tangannya sambil menonton acara televisi kesukaannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2