Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 121


__ADS_3

"Kenapa Leon Mir?" tanya Bagas pada Mira.


"Biasa. Yuna masih belum mau di ajak pulang." jelas Mira.


"Maaf brow. Bukannya gue mau ikut campur masalah elo. Tapi jika elo butuh temen buat cerita, gue siap dengerin." kata Bagas.


"Sorry, bukannya gue nggak setia kawan. Tapi gue juga lagi riweh. Tahu sendirilah, gue ngajuin gugatan cerai. Tapi Tio nggak ada. Jadi ya,,, sedikit riweh." ucap Mira.


Di divisi mereka ada karyawan baru. Sebenarnya juga bukan karyawan baru di kantor ini. Lebih tepatnya dia dipindahkan dari divisi lain ke divisi tempat Bagas.


"Maaf, saya terlambat." ucapnya.


"Belum kok. Masih 5 menit lagi San." ujar Mira.


Sani adalah nama karyawan pengganti Galih. Seorang perempuan muda berumur 22 tahun. Cantik dan seksi.


"Cee ileee pakk. Bawa bekal lagi." goda Mira.


"Pasti. Ntah kenapa, sekarang gue nggak bisa makan jika bukan masakan Rena." ucap Bagas.


"Istri elo yang hamil, elo yang bertingkah aneh." ucap Mira.


"Elo sih enak Gas, punya istri seperti Rena. Sudah cantik, baik, penurut lagi. Pokoknya sempurna lah." kata Leon sambil menunduk dan memainkan kakinya.


"Puji wanita lain. Jangan istri gue. Brengsek elo." canda Bagas menimpuk pundak Leon dengan kertas di tangannya.


"Sedangkan gue. Sejak menikah, Yuna tu susah di ajak kompromi. Mau itu, mau ini. Harus di turutin. Jika nggak gue turutin, pasti ngambek. Gue pikir setelah melahirkan dia akan berubah. Lah ini makin parah." keluh Leon.


"Memang Yuna minta apa sekarang Yon?" tanya Mira dengan hati-hati sambil memandang ke arah Leon dan Bagas.


"Katanya rumah sekarang itu kecil. Dia minta rumah yang luas dan mewah. Dia pikir cari uang itu mudah." ujar Galih dengan kesal.


Bagas dan Mira hanya saling pandang. Tatapan mereka seperti mengisyaratkan sesuatu. Dan keduanya sama-sama tahu apa yang ada di benak masing-masing.


"Apa mungkin baby moon, baby bluss. Apa ya namanya. Gue lupa. Pokoknya keadaan psikolog perempuan sehabis melahirkan. Kan biasanya ada yang sedikit aneh gitu. Gue tahunya juga dari televisi." jelas Mira.


"Mungkin sih." imbuh Bagas.


"Dari dulu Yuna memang seperti itu. Sejak pernikahan kita memasuki usia 5 bulan dia mulai minta ini, minta itu. Beda jauh sama Rena." ucap Leon.


"Awww.." seru Leon saat tangan Bagas memukul kepalanya.


"Gue bilang jangan puji istri gue. Elo boleh memuji wanita manapun. Jangan istri gue."


Bagas benar-benar kesal mendengar Leon selalu memuji Rena.


"Gue heran sama elo Gas. Istri di puji malah nggak seneng." ujar Mira.


"Biarin. Cuma gue yang boleh muji istri gue." ucap Bagas dengan santai.


"Semenjak Rena hamil elo jadi aneh tahu nggak." kata Mira.


"Bodo." kata Bagas seenaknya.


Sani hanya bisa mendengar percakapan mereka sedari tadi. Dia yang notabennya masih baru di divisi tersebut memang belum begitu mengenal rekan kerja barunya.


Siang hari saat jam makan siang, Bagas tetap berada di dalam ruangan. Dia megambil bekal yang sudah disediakan oleh Rena.

__ADS_1


"Mas Bagas nggak ke kantin?" tanya Sani.


"Nggak. Sudah bawa bekal dari rumah." jawab Bagas membuka tempat bekalnya.


"Kelihatannya enak." ujar Sani.


"Pastinya. Soalnya di bikin dengan cinta oleh istri tercinta." kata Bagas dengan bangga dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Pasti istri mas Bagas sangat pintar masak." kata Sani.


"Pasti." jawab Bagas mulai kesal.


"Istri mas Bagas sedang hamil ya. Berapa bulan?" tanya Sani lagi.


"Sebaiknya kamu segera ke kantin untuk makan siang. Jangan membuang-buang waktu. Jam makan siang hanya sebentar." ujar Bagas dengan kesal.


Semenjak peristiwa dengan Intan, Bagas mulai menjauhi yang namanya wanita. Apalagi yang baru di kenalnya. Tapi tidak dengan Mira dan Dona. Karena Bagas sudah mengenal mereka berdua dengan baik.


"Gileeee,,,, sadis banget pak." ucap Mira yang mendengar perkataan Bagas pada Sani.


"Makan pak." tawar Mira sambil membuka nasi bungkus di hadapannya.


"Elo ngapain makan di sini." tanya Bagas heran.


"Busyet,,,, dua bungkus lagi." imbuh Bagas.


"Ini gara-gara Leon. Dia nggak mood makan di kantin. Ya udah gue bilang mau beli nasi bungkus saja. Ehh, dia malah nitip." jelas Mira sambil mulai makan.


Leon datang langsung menyambar nasi bungkus di samping Mira.


"Bagi dong Gas." kata Leon.


Leon dan Mira tanpa sungkan langsung mengambil sayur dan lauk milik Bagas. Setiap hari Rena memang membawakan bekal sedikit banyak untuk Bagas. Karena dia tahu di kantor ada Leon dan juga Mira. Siapa tahu mereka ingin merasakan masakan Rena.


"Sumpah Gas. Kalau gue laki, terus punya istri kayak Rena. Pasti betah Gas. Perfect banget istri elo." ujar Mira.


"Enak banget Gas masakan Rena. Gue betah jika tinggal di rumah elo." celetuk Leon.


"Enak di elo, nggak enak di gue." ucap Bagas.


Malam hari Bagas dan Rena berbaring santai di depan televisi.


"Mak Irah mana sayang?" tanya Bagas karena sedari tadi dia tidak melihat mak Irah sama sekali.


"Pulang, tadi sekitar pukul 2 siang. Sudah empat hari mak Irah menginap di sini. Dia bilang mau bersihkan rumahnya." jelas Rena.


"Terus yang masak buat makan malam tadi siapa?"


"Aku lah."


"Astaga, kamu nggak capek?" tanya Bagas khawatir dsn langsung bangun dari tidurnya.


"Ya Alloh mas, nggak lah. Masak doang." jelas Rena.


"Ren,, sayang,,"


"Apa mas." ucap Rena menghadap ke samping.

__ADS_1


"Kamu kalau lahiran maunya di mana?" tanya Bagas.


"Ya di rumah sakit lah mas. Di mana lagi coba." jawab Rena merasa heran dengan pertanyaan Bagas.


"Bukan itu maksud mas sayang. Gimana ya." ucap Bagas sambil berpikir.


"Begini. Setelah melahirkan, kamu mau ke rumah siapa?" tanya Bagas dengan duduk bersila menghadap Rena.


"Ke rumah siapa gimana sih. Ya rumah kita lah. Aneh deh kamu mas tanyanya." ujar Rena.


"Ya,,, mungkin saja kamu mau tinggal di rumah ibu, apa di kampung halaman kamu." ujar Bagas.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu." Rena langsung duduk dari tempatnya berbaring.


"Ooo,,, aku tahu. Kamu nggak mau rawat aku dan anak kita. Gitu kan. Kamu takut, kami merepotkan kamu. Astaga mas." Rena berdiri dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Meninggalkan Bagas yang masih duduk di depan televisi.


"Aduhhh,,, salah paham kan. Begitu maksud aku tadi. Sayang,,,, tunggu. Bukan seperti itu maksudku." Bagas segera menyusul Rena ke dalam kamar.


"Sayang. Dengarkan dulu dong. Bukan begitu maksud ku tadi." Bagas mencoba membujuk Rena.


Rena sudah berbaring di ranjang dengan posisi miring, dan memakai selimut untuk menutupi badannya. Bahkan Rena sudah memejamkan mata.


Bagas tidak kehilangan akal. Dia ikut membaringkan badannya dan memeluk Rena dari belakang.


"Aku takut, jika kamu akan seperti Yuna." kata Bagas pelan di samping telinga Rena.


Rena langsung membuka matanya saat Bagas menyebut nama Yuna. Rena membalikkan badan dan menghadap ke arah Bagas.


"Setelah melahirkan, Yuna tidak mau tinggal di rumahnya sendiri." ujar Bagas.


Rena yang merasa kurang nyaman pun akhirnya bangun dari tidurnya dan menyenderkan badannya di senderan ranjang tempat tidur.


"Dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya." jelas Bagas dan mengalihkan kepalanya ke atas paha Rena.


"Kenapa?" tanya Rena.


"Kata Leon, awalnya Yuna bilang dia belum bisa merawat bayinya. Karena ini merupakan anak pertama mereka. Tapi sampai sekarang dia tetap kekeh nggak mau pulang." jelas Bagas.


"Aku takut kamu seperti Yuna. Meninggalkan aku sendiri di rumah." kata Bagas menatap Rena dengan sendu.


"Ada-ada saja kamu mas." ucap Rena tertawa dan mencubit pipi Bagas.


"Terus sekarang Leon bagaimana?" tanya Rena penasaran.


"Dia juga bingung. Setiap hari selalu uring-uringan." jelas Bagas.


"Mas, memang semuanya akan berubah setelah aku melahirkan. Rumah kita, panggilan kita, dan masih banyak lagi." ucap Rena.


Bagas masih diam dan menatap intens wajah istrinya.


"Setelah aku melahirkan, kita tidak akan lagi hidup berdua mas, kita akan hidup bertiga di rumah ini. Aku, kamu, dan anak kita." kata Rena sambil menunjuk pada dirinya, Bagas, dan perutnya.


"Rumah kita juga akan berubah. Taman di belakang akan kita rapikan supaya lebih indah. Biar bisa di pakai untuk tempat bermain anak kita. Kamar di sebelah kita akan kita jadikan kamar anak kita." jelas Rena dengan bibir melengkung ke atas.


Tangan Bagas langsung memeluk erat pinggang Rena. Kepalanya dia letakkan tepat di depan perut Rena.


"Dan kamu akan mendapat panggilan baru. Ayah. Sedangkan aku pastinya juga akan mendapat panggilan baru. Ibu." ujar Rena.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2