Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 55


__ADS_3

"Sini, biar mas saja yang merapikan mukenanya."


Bagas mengambil mukena dan sajadah yang telah selesai Rena gunakan.


"Kamu istirahat saja." ucap Bagas sambil melipat mukena Rena.


"Mas sudah sholat?" tanya Rena sambil berjalan menuju tempat tidur.


"Sudah, tadi sama yang lain di luar."


"Yang lain?"


"Iya, di luar ada bapak, ibu, Lina, dan Intan."


"Kenapa mas nggak bilang. Mas kan bisa bangunkan aku."


"Kamu lagi sakit. Lagian mana tega bapak sama ibu mengganggu tidur menantu kesayangannya." ucap Bagas sambil membelai pipi Rena.


"Maaf ya mas, sudah membuat mas kecewa." kata Rena lirih sambil menundukkan kepalanya.


" Mas juga minta maaf. Sudah egois. Tidak mendengarkan penjelasan kamu dulu."


Bagas memegang kedua pipi Rena dan menghadapkan wajah Rena pada dirinya.


tok tok tok


"Mas Bagas, di tunggu bapak sama ibu di ruang makan. Mas Bagas makan sekarang apa nanti saja?" kata mak Irah dari balik pintu.


"Saya makan sekarang saja bersama mereka." kata Bagas sesudah membuka pintu kamarnya.


"Aku ikut mas."


"Kamu kuat, apa perlu mas gendong."


"Nggak usah aneh-aneh mas, Rena sudah enakan kok. Lagian gak enak sama bapak dan ibu."


"Tapi kalau masih nggak enak badan jangan di paksa mbak. Bapak sama ibu juga pasti ngerti kok."


"Nggak mak, Rena sudah enakan. Benar."


Bagas merangkul Rena menuju ruang makan. Mak Irah mengikuti mereka dari belakang.


"Pak, bu, maaf Rena nggak tahu kalian ada di sini."


Bu Anis segera berdiri dan menghampiri Rena.


"Kenapa kamu ke sini. Ayo balik lagi ke kamar. Kamu itu Gas, istri sakit malah di ajak keluar. Nggak perhatian banget."


Bagas hanya diam mendapat omelan dari ibunya.


"Nggak apa-apa bu, Rena sudah merasa lebih baik. Lagian Rena jenuh, seharian berbaring terus di kasur."


"Ibu itu gimana sih. Malah di ajak ngobrol sambil berdiri. Sini mbak Rena duduk sini." ucap Lina sambil menarik kursi di depan Rena.


"Aduh maaf, ibu sampai lupa. Bapak nggak ngingetin sih." kata bu Anis sambil memandang suaminya.


"Kok jadi saya yang salah. Dasar wanita." gumam pak Ramli.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa sayang." tanya Bagas.


"Mas."


Rena merasa canggung karena Bagas memanggilnya dengan kata sayang di hadapan keluarga Bagas.


"Biasa aja kali mbak, nggak usah merasa sungkan sama kita. Anggap saja kita nggak ada." kata Lina sambil cekikikan.


"Kamu saja yang nggak ada Lin. Kalau ibu nyata." kata bu Anis sambil mengisi piring milik pak Ramli.


"Ibu sama anak, jika bersama pasti berdebat terus. Nggak di rumah nggak di sini." kata pak Ramli.


"Maaf mbak Rena, ini ada bubur buat mbak Rena. Masih hangat. Mak barusan buatkan bubur lumayan manis mbak, pasti mulutnya masih berasa pahit kan."


Mak Irah menaruh semangkuk bubur di meja depan Rena duduk.


"Makasih ya mak, seharusnya nggak perlu. Ini di meja banyak makanan."


"Pasti nanti makannya sedikit kalau makanan di meja. Soalnya kan mulut mbak Rena masih terasa pahit."


"Iya, makasih mak. Mak duduk sini gih. Makan bareng kita. Bapak sama yang lain nggak keberatan kan, jika mak Irah makan bersama kita?" tanya Rena sambil memandang semua orang di ruangan secara bergantian.


"Nggak usah mbak, mak makan di belakang saja." tolak mak Irah.


Mak Irah merasa tidak enak dengan yang lain. Seorang pembantu makan bersama dengan keluarga majikannya. Tapi beda cerita jika hanya Rena yang makan sendiri. Pasti mak Irah akan menemani, dan makan bersama dengan Rena dengan senang hati.


"Nggak apa-apa mak, duduk dulu. Makan bareng-bareng itu lebih nikmat low." ucap bu Anis.


"Nggak usah sungkan mak, kita kan keluarga" sahut pak Ramli.


Lina berdiri dan menarik mak Irah untuk duduk di dekatnya.


"Bagas tidak salah pilih istri." batin bu Anis sambil memandang Rena.


"Nglunjak." gumam Intan tapi masih bisa didengar oleh Lina.


Karena tempat duduk Intan bersebelahan dengan Lina.


Lina pun melirik Intan.


Saat makan, tidak ada yang berbicara. Semua menikmati makanan yang sedang mereka makan.


"Sudah mas, Rena makan sendiri saja."


"Nggak apa-apa, biar mas suapi kamu."


"Terus mas kapan makannya?"


"Nanti, setelah suapi kamu. Aa..."


Semua orang di meja makan tersenyum senang melihat perhatian yang di berikan Bagas pada Rena. Terkecuali Intan.


Intan makan dengan mata terus memandang tajam pada Rena dan Bagas. Ada kilatan amarah dari cara memandang mereka.


"Kenapa Rena kembali, seharusnya dia mati saja." batin Intan sambil menusukkan garpu ke makanan yang ada di piringnya .


Lina yang berada tepat di samping Intan terus memperhatikan gerak gerik Intan. Lina akhirnya berencana memancing emosi Intan.

__ADS_1


"Kalian berdua memang pasangan yang sangat amat serasi. Jadi makin sayang sama kalian. Semoga mbak sama mas selalu bersama sampai maut yang memisahkan." kata Lina.


Amin....


Semuanya serentak mengucapkan kata amin. Tetapi tidak dengan Intan. Dia hanya diam saja.


Sebenarnya Lina sengaja berkata demikian. Dia ingin tahu tanggapan dari Intan. Ternyata Intan hanya diam dan tidak mengamini seperti yang lain.


"Nggak ada serasi serasinya. Mas Bagas lebih serasi dengan diriku di banding wanita mandul seperti Rena." batin Intan.


"Ada sesuatu yang nggak beres nih. Gue harus cari tahu." batin Lina.


Setelah makan malam, pak Ramli, Lina , dan Intan pulang ke rumah pak Ramli. Sedangkan sesuai rencana, bu Anis akan tinggal di rumah Bagas.


"Besok-besok lagi, kalau ada apa-apa jangan pergi ke mana-mana. Kamu pulang saja ke rumah ibu."


Saat ini Bu Anis dan Rena berada di dalam kamar Rena. Sedangkan Bagas masih berada di depan televisi. Dia sengaja meninggalkan Rena, supaya lebih leluasa berbicara dengan ibunya.


"Rena nggak mau merepotkan kalian."


"Kamu itu juga anak ibu Ren, jangan sungkan bercerita apapun sama ibu. Walau Bagas anak kandung ibu, tapi ibu tidak akan membedakan kalian berdua. Jika Bagas yang salah, ibu akan menegurnya."


"Iya bu, terimakasih. Maaf ya bu, Rena merepotkan kalian."


"Tidak ada yang di repot kan di sini. Tapi tolong, jangan bikin ibu cemas lagi ya."


"Iya bu."


*****


"Tan, malam ini tidur sekamar yuk?" ajak Lina.


"Padahal gue mau telpon mas Bagas." batin Intan.


"Kenapa?" tanya Lina pada Intan.


Lina merasa aneh karena Intan tidak segera menjawab pertanyaan Lina. Dia malah memandangi Lina.


"Boleh." Intan masuk ke dalam kamarnya. Diikuti oleh Lina.


Di dalam kamar tampak Intan menjadi lebih diam dari biasanya.


"Jika tebakanku benar, kamu akan menjadi masalah besar dalam keluarga mas Bagas. Aku akan mencoba mencari tahu mulai sekarang. Malam ini juga." batin Lina.


"Ehm,, beruntung kita bisa menemukan mbak Rena. Jika tidak, pasti orang tuaku akan merasa sedih. Apalagi mas Bagas. Dia sangat amat mencintai mbak Rena." kata Lina dengan posisi bersandar di ranjang tempat tidur.


"Iya." jawab Intan datar.


"Mbak Rena itu wanita yang sangat baik, cantik, seksi. Makanya mas Bagas juga sangat menyayanginya. Ibu dan Bapak juga sangat bahagia, mas Bagas bertemu dengan wanita berhati malaikat." kata Lina sambil melirik ke arah Intan.


Dia ingin melihat ekspresi dan tanggapan dari Intan.


"Lin, aku ngantuk banget. Mau tidur dulu. Nanti kamu matikan lampunya." kata Intan sambil menarik selimut untuk menutupi badannya.


Disampingnya Lina hanya tersenyum sinis sambil melirik Intan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2