Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 111


__ADS_3

"Kalian hati-hati ya di jalan. Jangan lupa untuk memberitahu ibu jika sudah sampai." ucap bu Yanti.


"Iya bu." kata Rena.


"Jaga diri kamu dan calon cucu bapak baik-baik." kata pak Abdul.


"Mbak Rena, padahal Sera masih kangen." ucap Sera sambil memeluk Rena.


"Jika libur kamu bilang sama mas mu. Biar nanti di jemput sama bapak dan ibu sekalian." kata Rena.


"Kami pamit pak, bu." kata Bagas.


"Titip Rena ya nak." kata bu Yanti.


Rena dan Bagas meninggalkan rumah pak Abdul sekitar jam 8 pagi. Di bagasi mobil Bagas terdapat banyak sekali barang yang di masukkan oleh bu Yanti.


Mulai dari beras, singkong, buah pisang, buah mangga, dan masih banyak lagi. Belum lagi sayur kering yang bu Yanti sengaja masakkan untuk Rena.


"Kamu tidur saja kalau ngantuk sayang." kata Bagas sambil menyetir mobil.


"Iya. Sekarang belum ngantuk mas. Masa di suruh tidur." ucap Rena.


"Kamu sudah bilang mak Irah, jika kita mau pulang?" tanya Bagas.


"Sudah." jawab Rena.


"Ibu tadi juga tanya, kapan kita pulang." ucap Bagas.


"Mas kasih tahu." tanya Rena.


"Iya." jawab Bagas.


Ternyata Intan mengetahui jika Galih mencintai Rena dan menginginkannya. Dia mengetahui dari orang suruhannya. Dan Intan berencana untuk menemui Galih dan mengajaknya bekerja sama dengan dirinya.


"Gue harus coba. Siapa tahu dia mau kerja sama. Iya, gue harus ngajak dia ketemuan." ucap Intan dalam hatinya.


NANTI MALAM GUE MAU KE RUMAH ELO.


ADA YANG MAU GUE OMONGIN SAMA ELO.


Intan mengirim pesan pada Galih. Dan berharap mendapat respon dari Galih.


"Cuma di baca doang. Nggak ada niat buat balas gitu." gumam Intan.


"Sepertinya gue harus tulis dan kirim pesan lagi. Gue nggak mau, jauh-jauh datang ke rumahnya. Orangnya nggak ada. Sama saja bohong." omel Intan.


INI SOAL RENA.


"Selesai. Lalu kirim." ucap Intan sambil menyentuh layar ponselnya.


"Brengsek. Cuma di baca doang. Ya sudahlah. Yang penting gue ke sana. Dasar, sombong." ucap Intan dengan menatap layar ponselnya.


Sementara Bagas masih terus fokus menyetir sambil sesekali menengok ke arah istrinya duduk. Bagas hanya tersenyum saat melihat Rena sudah memejamkan matanya, dengan mulut sedikit terbuka.


"Sayang, kamu lapar apa nggak?" tanya Bagas setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Bagas dengan pelan membangunkan Rena. Dia takut jika Rena lapar. Karena setelah hamil, Rena sebentar-sebentar makan.


"Apa mas?" tanya Rena sambil mengucek kedua matanya.


"Kamu lapar apa nggak?" tanya Bagas.


"Sebenarnya sih nggak lapar. Tapi makan juga nggak apa-apa." ucap Rena.


"Ya sudah, kita cari makan dulu ya." kata Bagas.


Bagas kembali melajukan mobilnya dan mencari tempat makan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Bagas.


"Sebentar." kata Rena sambil memandang ke pinggir jalan.

__ADS_1


"Itu mas. Mie ayam ceker. Kelihatannya enak." kata Rena.


"Ya sudah, kita ke sana saja." kata Bagas.


*****


Di butik, Lina tampak sumringah. Hatinya begitu bahagia. Selain kabar kehamilan kakak iparnya, dia juga bahagia karena ingin bertemu dengan Galih.


"Elo kenapa. Gue lihat dari tadi tampak bahagia banget." tanya Wati.


"Kita ke kasir yuk. Sekalian gue mau cerita sama Sari." ajak Lina.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Sari melihat kedatangan ke dua temannya.


"Nggak tahu. Di ajak Lina ke sini. Gue sih ngikut aja." ucap Wati.


"Terus kalau elo di ajak telanjang di tengaj jalan, elo juga ngikut?" tanya Sari sambil menjulurkan lidahnya.


"Apa sih kalian. Gue mau ngomong. Serius." ucap Lina.


"Apaan?" tanya Sari penasaran.


"Mbak Rena hamil." kata Lina pelan.


"Aaa." teriak Sari dan Wati bersamaan sambil jingkrak-jingkrak.


"Hust,,, diam. Gue juga khawatir." kata Lina.


"Kenapa. Elo nggak suka." kata Wati dengan jutek.


"Apa sih. Dengerin dulu makanya. Gue takut Intan tahu. Kalian tahu sendiri kan, gimana nekatnya dia. Gue takut nanti malah dia ngapa-ngapain mbak Rena." jelas Lina.


"Iya juga sih. Pokoknya yang terpenting jangan sampai dia tahu." ucap Sari.


"Betul." lanjut Wati.


"Kenapa kalian kumpul di sini?" tanya Dona yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Lina dan Wati.


"Maaf mbak, ini karena saya. Maaf." ucap Lina merasa tidak enak.


"Ada apa?" tanya Dona penasaran.


Lina pun menceritakan pada Dona jika kakak iparnya, Rena, sedang mengandung. Dia juga mengatakan kekhawatirannya jika sampai Intan mengetahuinya.


"Semoga Rena selalu dalam lindungan Alloh." ucap Dona.


"Amin." kata Lina, Sari, dan Wati bersamaan.


Bagas dan Rena sudah sampai di rumah. Tapi Rena masih terlelap di dalam mobil.


"Mas Bagas, mbak Rena mana?" tanya mak Irah di teras rumah.


Mak Irah hanya melihat Bagas yang turun dari dalam mobil.


"Masih di dalam mobil mak, tidur. Mak tolong bantu Bagas menurunkan ini ya." ucap Bagas sambil membuka bagasi mobil.


"Ya Alloh, banyak sekali mas." ucap mak Irah begitu melihat banyaknya barang di dalam bagasi mobil Bagas.


"Nggak tahu mak. Ini semua ibu sama bapak yang masukin." ucap Bagas.


Bagas sama mak Irah menurunkan barang-barang di dalam bagasi, sampai semuanya habis.


"Alkhamdulillah." ucap mak Irah begitu selesai menurunkan semuanya dan memasukkan ke dalam rumah.


"Oh iya mak, Bagas mau memberitahu sesuatu sama mak Irah. Saat ini Rena sedang hamil. Jadi saya minta tolong sama mak untuk ikut menjaga Rena dan bayi dalam kandungannya." jelas Bagas.


"Ya Alloh. Alkhamdulillah ya Alloh." ucap mak Irah sambil meneteskan air mata.


"Ya sudah mak, Bagas mau membangunkan Rena dulu." ucap Bagas.


Mak Irah segera ke dapur dan membuatkan minuman untuk kedua majikannya.

__ADS_1


"Sayang bangun. Sudah sampai." kata Bagas lirih dengan membelai rambut Rena.


"Sudah sampai." ucap Rena sambil melihat ke depan.


"Ini rumah kita mas?" tanya Rena.


"Iya." jawab Bagas.


"Hati-hati." kata Bagas saat Rena turun dari mobil.


"Mbak Rena. Ini mbak, mas. Di minum dulu teh hangatnya." ucap mak Irah.


"Makasih mak." ucap Bagas dan Rena bersama.


"Selamat ya mbak. akhirnya Alloh mengabulkan do'a mbak Rena." kata mak Irah.


Rena memandang mak Irah dengan tatapan penasaran. Rena berpikir dari siapa mak Irah tahu.


"Mas Bagas yang memberitahu saya mbak." tutur mak Irah.


"Makasih ya mak." ucap Rena.


"Kita mau ke dalam dulu ya mak. Bagas mau istirahat dulu." kata Bagas.


"Kita belum sholat mas." ucap Rena.


"Iya, kita sholat dulu. Baru istirahat. Mas ngantuk Ren. Kalua kamu sih tidur terus selama di mobil." kata Bagas sambil mencubit hidung istrinya.


"Iiihh mas Bagas. Rena masih ngantuk mas." ucap Rena sambil mendahului Bagas berjalan ke dalam kamar.


Bagas hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Rena sekarang suka makan dan tidur mak. Harap maklum ya." ucap Bagas.


"Iya mas. Wajar saja. Kan sekarang mbak Rena sedang berbadan dua." kata mak Irah.


"Makanya mak, sekarang mak Irah kalau masak sedikit lebih banyak ya." suruh Bagas sambil tertawa.


"Siap mas. Oh iya mas, nggak makan dulu mas?" tanya mak Irah.


"Nanti saja mak." jawan Bagas.


Bagas berjalan ke dalam kamar sambil memegang ponselnya. Dia memberitahu Sera bahwa dirinya dan Rena sudah sampai di rumah dengan selamat.


Di rumah pak Ramli, bu Anis merengek meminta pada suaminya untuk di antar ke rumah Bagas.


"Pak, ayo. Anterin ibu. Pasti sekarang mereka sudah sampai rumah pak." kata bu Anis.


"Astaghfirulloh bu. Biarkan mereka istirahat dulu. Pasti mereka masih capek bu. Jarak tempuh dari rumah besan sampai di sinikan lumayan jauh bu." kata Pak Ramli.


"Ya sudah kalau begitu. Ibu naik ojek saja." rajuk bu Anis.


"Bu, jika kita ke sana, nanti mereka tidak jadi istirahat. Ibu kenapa tidak sabaran sih." ucap pak Ramli sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Bapak ini." ucap bu Anis langsung berdiri dan meninggalkan pak Ramli.


"Ya Alloh." ucap pak Ramli sambil geleng-geleng.


Di butik, Lina sangat senang. Karena akhirnya jam pulang datang juga.


"Elo naik apa Lin?" tanya Sari saat mereka sudah berada di parkiran butik.


"Naik taksi." ucap Lina.


"Gue duluan ya." imbuh Lina berjalan meninggalkan Sari dan Wati menuju taksi pesanannya.


Sari dan Wati hanya memandang taksi yang di tumpangi oleh Lina melaju meninggalkan butik.


"Tumben. Biasanya dia pasti ngajak kita buat bareng. Kan kita searah." kata Wati merasa heran.


"Iya. Tadi juga di belakang Lina sedikit menambahkan bedak dan lipstik. Padahal kan biasanya jika sudah mau pulang dia nggak pernah melakukan itu." ucap Sari.

__ADS_1


"Sudah lah. Lebih baik kita segera pulang." imbuh Sari.


BERSAMBUNG.


__ADS_2