
"Ibu Rena, silahkan berbaring di brankar." kata asisten dokter Puspa dengan sopan.
"Maaf ya bu, bajunya saya naikkan sedikit untuk pemeriksaan." imbuhnya.
Rena hanya mengangguk sambil berbaring di brankar. Sementara Bagas berdiri di samping Rena dan menggenggam telapak tangan istrinya tersebut. Senyum dari bibir keduanya tak pernah luntur dari wajah mereka.
Dokter mulai menuangkan sedikit gel di atas perut Rena. Dan sedikit menekan alat USG di perut Rena sambil mengarahkan kepada layar yang tersambung di monitor.
"Ibu, bapak silahkan lihat ke layar monitor ya. Kita lihat bagaimana perkembangan janinnya. Ini dia janin di dalam perut ibu Rena. Masih kecil ya. Masih sebesar buah sawo, karena usianya masih menginjak tri semester pertama. Tapi semuanya baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." jelas dokter Puspa.
"Ini nanti ada beberapa vitamin. Jangan lupa di minum ya bu. Pastikan jangan lupa juga susunya untuk di minum." imbuh dokter.
"Oh iya bu, apa masih mual dan muntah?" tanya dokter Puspa.
"Iya bu. Tapi hanya di pagi hari. Dan juga masih wajar." jelas Rena.
Sementara Bagas memandang hasil USG dengan senyum di bibirnya. Rena juga merasa senang mendengar penjelasan dari Dokter.
"Terimakasih dok, kami pamit dulu." pamit Rena.
Di koridor rumah sakit, mereka bertemu dengan Angga.
"Kenapa selalu ada dia." gumam Bagas saat melihat Angga.
"Rena." sapa Angga.
Rena tersenyum pada dokter Angga. Tangan Bagas segera melingkar secara posesif di pinggang Rena yang sudah tidak seramping dulu. Angga hanya tersenyum cuek melihat tingkah dari Bagas.
"Sedang periksa kandungan." tanya Angga.
"Iya. Baru saja." jawab Rena.
"Sayang, pulang yuk." kata Bagas manja.
"Angga. Kami duluan." pamit Rena.
Angga melihat kepergian mereka dengan senyum. Meskipun masih ada sedikit rasa nyeri di hatinya. Dia berjanji akan mencoba membuka hatinya untuk Dona.
Bagas dan Rena kini sudah ada di dalam mobil.
"Mas, lepas dong. Fokus nyetir saja." kata Rena.
Tangan kanan Bagas sibuk memegang kemudi mobil. Sementara tangan kirinya dengan setia menggenggam telapak tangan Rena. Sesekali dia menciuminya.
"Mas, lapar." ucap Rena dengan manja.
"Oke. Mau makan apa?" tanya Bagas.
"Apa ya." gumam Rena sambil berpikir.
"Soto. Kelihatannya enak. Iya, soto saja deh." ujar Rena.
Bagas menghentikan mobilnya di depan warung makan.
"Bu, dua mangkok soto. Kamu minumnya apa sayang?" tanya Bagas dengan lembut.
"Es campur saja deh."
"Es campur satu sama es tehnya satu." pesan Bagas.
Saat mereka sedang menikmati makanan, seseorang yang tidak mereka harapkan tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Mas Bagas. Aku kangen." ujar Intan langsung memeluk Bagas.
Uhuk uhuk uhuk
Bagas langsung terbatuk dan segera menyingkirkan tangan Intan dari tubuhnya.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini. Pasti gara-gara perempuan ini kan." kata Intan menunjuk ke arah Rena.
Sementara Rena masih diam dan dengan santai meminum es campur pesanannya. Karena soto yang ia pesan telah masuk ke dalam perutnya semua.
"Jaga bicara kamu. Dia istriku." bentak Bagas.
"Mas." rengek Intan dengan manja.
"Sebaiknya kamu pergi dari hadapan saya. Masih banyak kursi kosong." imbuh Bagas.
"Aku nggak terima. Kenapa kamu seperti ini." ujar Intan.
"Apa nya sih yang nggak terima. Aku ngapain kamu. Jangan terus memancing emosi ku."
Bagas berdiri dan mendekat ke arah Intan.
"Kamu pikir kamu siapa. Aku memang pernah khilaf. Dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sebaiknya kamu jangan pernah menampakkan wajah kamu di depanku. Ataupun keluargaku. Aku tahu siapa kamu. Adik tiri Galih." kata Bagas dengan lirih, tapi masih bisa di dengar Intan dan Rena.
"Mas." Intan langsung memeluk tubuh Bagas.
Bagas melepaskan tubuh Intan dan sedikit mendorongnya. Membuat tubuh Intan jatuh ke lantai.
Rena melihat sekitarnya. Semua mata memandang ke arah mereka.
Rena segera berdiri dan menghampiri suaminya.
"Mas, sudah. Kita pergi dari sini." ajak Rena.
Bagas menaruh uang di atas meja dan segera menggandeng tangan kiri Rena.
"Sebentar." ucap Rena meraih es teh milik Bagas yang masih tersisa banyak.
"Ini, kamu minum. Kasihan. Pasti panas kan." ejek Rena.
Rena menyerahkan segelas es teh pada Intan yang baru saja berdiri.
"Upsss, maaf. Tapi kan jadi dingin. OTAK KAMU." kata Rena menumpahkan air es ke tubuh Intan.
"Kamu harus hati-hati sama Intan sayang." kata Bagas.
"Iya."
"Maaf."
"Untuk?"
"Semua karena aku. Coba saja aku tidak tergoda. Pasti semuanya tidak akan seperti ini." ucap Bagas dengan sendu.
"Sudahlah mas. Yang sudah terjadi ya, bagaimana lagi. Ini mungkin bisa menjadi pembelajaran untuk kita. Supaya ke depannya lebih hati-hati." ucap Rena sabar.
"Kamu memang istri yang paling sempurna." kata Bagas sambil mencuri cium di pipi Rena.
"Astahgfirulloh mas. Bahaya. Kamu tu ada-ada saja. Lagi nyetir kamu mas." ucap Rena kesal.
"Lagi sepi sayang." kata Bagas santai.
Jalanan yang di lewati Bagas memang sangat sepi. Karena Bagas melewati jalan kecil.
Setelah kejadian tadi, Intan malah semakin menjadi. Malam hari dia kembali mendatangi rumah Galih.
"Kenapa elo nggak pernah menghubungi gue. Saat gue telpon juga nggak pernah elo angkat. Sebenarnya elo tu suka sama Rena apa nggak sih." cecar Intan.
"Gue belum selesai ngomong." imbuh Intan saat melihat Galih ingin beranjak meninggalkan dirinya.
Galih berjalan mendekat ke arah Intan.
"Jauhi mereka. Sehelai saja rambut Rena elo sentuh, elo akan terima akibatnya." ancam Galih.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar jika Rena tengah mengandung, Galih sudah memutuskan untuk berhenti menginginkan Rena.
Dia sadar, cinta Rena hanya untuk suaminya. Bagas. Apalagi sekarang Rena sedang hamil. Dia tidak ingin, jika anak Bagas dan Rena akan menjadi korban karena rasa cintanya pada Rena.
Perkataan Lina juga selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Apalagi dia juga sudah bercerita semuanya pada mamanya. Dan sang mama juga menasehati dirinya.
JANGAN PERNAH MENJADI ORANG KE TIGA DALAM HUBUNGAN SESEORANG.
RASA SAKIT YANG AKAN DITIMBULKAN, AKAN TERINGAT DAN TERASA SEUMUR HIDUP.
"Apa!" ucap Intan marah mendengar perkataan Galih.
Intan segera meninggalkan rumah Galih dan pergi menuju ke rumah Bagas. Entah keributan apa lagi yang akan dia lakukan.
Sampai di rumah Bagas, tanpa permisi Intan langsung masuk dan berteriak memanggil nama Bagas.
"Mas Bagas!" teriak Intan.
Rena dan Bagas yang sedang bersantai di ruang tengah langsung kaget dan beranjak. Sedangkan mak Irah yang ada di belakang pun langsung berlari menuju depan.
"Kamu." ucap Bagas kaget karena melihat Intan sudah berada di ruang tamu.
Sementara Rena berada di samping Bagas. Mak Irah yang melihat kedatangan Intan langsung menghubungi Lina.
Lina yang sudah berada di parkiran butik dan bersiap untuk pulang, langsung melajukan sepeda motornya ke rumah Bagas.
"Brengsek. Belum kapok juga. Dasar iblis. Mau apa lagi sih." omel Lina sambil mengendarai sepeda motor.
Ciiitt...
Motor Lina berhenti mendadak karena hampir menabrak sebuah mobil yang ingin menyeberang.
"Hoe. Bisa bawa mobil nggak sih!" teriak Lina dengan marah sambil menggebrak mobil tersebut.
Lina yang sudah emosi mendengar Intan berada di rumah kakaknya bertambah emosi karena hampir menabrak mobil di depannya.
Seorang lelaki keluar dari dalam mobil.
"Kak." lidah Lina langsung kelu setelah tahu siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Galih memegang ke dua pundak Lina.
"Lin." panggil Galih karena Lina terdiam sambil memandanginya.
"Eh iya. Apa kak." tanya Lina ramah.
Seolah emosi yang sempat membara langsung padam setelah berhadapan dengan lelaki yang di taksirnya.
Bahkan Lina, sampai lupa tujuannya untuk pergi ke rumah Bagas.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Galih lagi.
"Nggak kak. Lina nggak apa-apa. Cuma kaget." jawab Lina sambil senyum-senyum.
Galih pun menjadi salah tingkah karena terus di tatap oleh Lina secara intens dan senyum-senyum.
"Ekhem. Lagian kamu kenapa sih, pake ngebut segala. Kan bahaya." ujar Galih.
"Mau ke rumah kak Bagas." jawab Lina santai dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
"Ke rumah Bagas. Mau ngapain. Ini sudah malam. Sebaiknya langsung pulang saja." ujar Galih.
Senyum di bibir Lina langsung menghilang. Seakan dia tersadar tujuannya kembali.
"Omegattttt." seru Lina.
__ADS_1
Galih yang mendengarnya sedikit kaget. Karena tiba-tiba Lina berteriak dan langsung berlari ke sepeda motornya dan meninggalkan Galih yang masih berdiri dan bingung.
BERSAMBUNG.