Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 89


__ADS_3

Sudah 3 hari Rena di rawat di rumah sakit. Hari ini Dokter mengizinkan Rena untuk pulang. Tampak mak Irah dan bu Anis sedang merapikan barang milik Rena.


"Nanti siapa yang akan menjemput kita Ren?" tanya bu Anis.


"Mas Bagas bilang mau jemput saat istirahat jam makan siang bu." jawab Rena.


"Kalau begitu sebentar lagi ya." ucap bu Anis sambil melihat ke arah jam dinding di ruangan tersebut.


*****


"Telepon Galih, bilang gue ada di sini." suruh Intan pada pembantunya.


"Cepat. Sekarang." bentak Intan.


Karena pembantu yang di suruh olehnya hanya diam tidak mengerti.


"Ba,,, baik non."


"Aneh, biasanya paling takut jika ada mas Galih. Kenapa sekarang malah minta di kasih tahu." gumam pembantu tersebut.


"Sudah." tanya Intan pada pembantu tersebut.


"Sudah non." jawabnya.


"Dia bilang apa?" tanya Intan.


"Mas Galih hanya diam saja non." jawabnya.


"Oke. Sekarang gue kasih nomor seseorang ke elo. Dan ingat perkataan gue. Jika Galih datang ke sini. Elo telpon dia. Bilang jika gue dalam bahaya. Elo denger." kata Intan.


"I,,i,,iya non."


"Dan pastikan jika dia datang. Jika tidak, elo akan menanggung akibatnya. Dan satu lagi. Saat elo telpon dia jangan lupa sebut nama Galih. Paham." ucap Intan.


"Paham non."


"Sana pergi." suruh Intan.


"Gue tahu, jika elo dan mas Bagas sahabat lama. Tapi sekarang kalian berdua bermusuhan karena Rena. Dan gue bisa manfaatkan semua ini. Dan gue yakin mas Bagas akan datang. Pasti dia penasaran. Kenapa bisa Galih datang ke rumah gue." ucap Intan sambil tertawa.


Intan tahu saat mamanya Intan menyelidiki kegiatan Galih. Dan permasalahan antara Bagas dan Galih akan dia gunakan untuk mendekati Bagas.


"Aku harus bersiap. Siapa tahu, Galih akan segera datang." ucap Intan dengan hati senang.


*****


"Wati, aku mau tanya." kata Lina.


"Apa?" tanya Wati.


"Kedua orang tuanya Intan di mana sih. Sewaktu dia di rawat di rumah sakit. Terus saat dia tinggal di rumahku. Mereka sama sekali tidak menjenguk Intan." kata Lina.


"Emm,,, kedua orang tua Intan sudah bercerai. Mereka masing-masing tinggal bersama keluarga baru mereka." ucap Wati.

__ADS_1


Wati dan Lina sedang berada di butik. Karena butik sepi, mereka merapikan dan menata baju yang di pajang di butik sambil mengobrol. Sementara Sari berada di kasir.


"Apa Intan punya saudara?" tanya Lina mencoba mencari tahu tentang Intan dan Galih.


"Nggak punya. Dia bilang dia anak tunggal." jawab Wati


"Saudara tiri mungkin." tanya Lina lagi.


"Kurang tahu sih. Kenapa kamu tanya soal Intan." ucap Wati penasaran.


"Gimana ya. Selama dia sakit nggak ada satupun saudaranya yang jenguk dia. Terus dia bilang dia tinggal di kontrakan bareng kalian." jelas Lina.


"Iya sih." ucap Wati.


"Tapi setelah dia keluar dari rumahku, dia pergi kemana. Maksud ku sekarang dia tinggal di mana. Sedangkan kamu pernah bilang jika dia tidak kembali ke kontrakan lagi." jelas Lina.


"Itu,,,, aku juga sempat bicara sama Sari. Bahkan kita sudah menghubunginya. Dia bilang sekarang tinggal di rumah saudaranya." ucap Wati.


"Di mana?" tanya Lina.


"Nggak tahu." jawab Wati.


"Wat,, kamu pernah tahu soal kehidupan Intan nggak. Maksud ku gimana ya. Em,,,, kata temen aku, mamanya Intan itu,,,, anu,,, emmmm. Pelakor." kata Lina.


Lina sengaja berbohong jika dia tahu informasi mengenai Intan dari sahabatnya. Dia ingin Wati menceritakan sesuatu, yang ingin Intan ketahui.


"Iya sih, waktu itu ada pembeli di butik yang ngasih tahu ke kita. Untuk hati-hati. Katanya kalau mamanya Intan,,, ya,,, seperti itu. Bisa jadi anaknya juga sama." ucap Wati.


"Apa jangan-jangan, kak Galih dan Intan saudara tiri." batin Lina.


"Nggak. Eh,,, aku apa kamu yang kebelakang dulu. Sudah jam makan siang." ucap Lina.


"Aku saja. Mumpung sepi." kata Wati dan segera bergegas pergi ke belakang.


"Kelihatannya Wati nggak tahu soal kak Galih dan Intan." batin Lina.


*****


"Di mana dia?" tanya Galih pada pembantu di rumah Intan.


"Di kamarnya Den." jawab pembantu dengan nada sedikit takut.


Galih berjalan menuju ke kamar Intan. Entah apa yang ingin dia lakukan pada saudara tirinya tersebut.


Sementara, pembantu tadi menelpon Bagas dan mengatakan jika Intan sedang dalam keadaan bahaya. Karena ada Galih yang datang ke rumah Intan.


Di dalam mobil, Bagas berpikir setelah menerima telepon dari rumah Intan.


"Galih. Intan. Kenapa mereka bisa saling kenal. Dan kenapa Intan sedang dalam bahaya jika Galih berada di sana. Ada apa ini. Apa hubungan mereka berdua." batin Bagas.


Karena rasa penasarannya, Bagas melaju menuju rumah Intan. Bahkan dia sampai melupakan tujuannya keluar sebentar saat makan siang. Sedangkan di rumah sakit, semuanya sedang menunggu kedatangan dirinya.


"Bagas jadi jemput kan Ren?" tanya bu Anis yang mulai tidak sabar menunggu putranya.

__ADS_1


"Sudah bu, tadi mas Bagas kirim pesan ke Rena. Katanya sudah ada di jalan." ucap Rena.


Sembari menunggu Bagas datang, merekapun mengobrol.


Di dalam kamar Intan terjadi perdebatan antara Intan dan Galih.


"Enak sekali. Sungguh tuan putri. Tinggal makan dan tidur." ejek Galih melihat Intan sedang menikmati makanannya sambil melihat televisi.


"Mau?" tawar Intan bermaksud memancing amarah Galih.


"Tidak tahu diri. Kamu pikir harta siapa yang sedang kamu gunakan."


"Kenapa? Iri? Mamanya gila. Papanya tidak peduli. Pasti stres ya." ejek Intan sambil berdiri dengan tangan bersedekap.


"Jaga mulut kamu." bentak Galih.


"Kenapa, mau marah. Upss,,,, Memang gue bicara salah. Papa kamu lebih sayang sama a-ku. Kamu lihat." kata Intan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Aku minta rumah, di belikan. Aku minta mobil, di belikan. Bahkan tabunganku setiap bulan selalu di isi. Dan sebentar lagi,,,, aku pastikan. Aku akan meminta hal yang sangat luar biasa pada pa-pa. Kamu mau tahu, aku mau minta apa sama papa kita?" tanya Intan sembari dengan ekspresi menjengkelkan.


Galih menahan amarahnya melihat perkataan Intan.


"Nyawa seseorang." ucap Intan dengan penekanan.


Galih mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Intan.


"Ayo Galih, keluarkan amarahmu. Bukankah biasanya elo selalu berapi-api saat berhadapan dengan gue." batin Intan.


"Pasti elo belum mengertikan. Gue mau nyawa papa kamu. Dengan begitu, semua ini akan jadi milik kami." ucap Intan sembari tertawa.


Tidak tahan menahan amarah, Galih langsung mencekik leher Intan.


"Jangan berani-beraninya menyentuh bokap gue. Sehelai rambut saja yang elo sentuh, gue akan patahin tangan elo." ancam Galih sambil melepaskan tangannya di leher Intan.


Uhuk,,uhuk,,


Intan terbatuk dengan nafas tersengal-sengal begitu tangan Galih lepas dari lehernya.


"Mana sih mas Bagas. Bisa mati beneran gue ntar." batin Intan sambil memegang lehernya yang terlihat memar.


"Itu, ada suara mobil. Pasti milik mas Bagas." kata Intan dalam hati.


"Kenapa,,, marah ya. Marah karena harta bokap elo, apa karena nyawa bokap elo. Pecundang. Elo nggak mau nemuin bokap elo. Elo pura-pura nggak mau megang perusahaannya. Tapi apa. Diam-diam elo ambil perusahaan bokap elo. Malah sekarang, perusahaan itu atas nama elo. Benar-benar licik." ucap Intan dengan senyum iblisnya.


"Lihat saja. Sebentar lagi akan ada kejutan besar buat kakak Galih." ucap Intan.


"Kita,,, akan,,, punya,,, adik,,, baru." bisik Intan di telinga Galih.


Sontak membuat Galih menatap tajam Intan.


"Apa maksud elo." ucap Galih sambil mencekal erat lengan Intan.


Terdengar suara langkah kaki dari tangga. Seseorang sedang menuju ke kamar Intan.

__ADS_1


"Permainan baru di mulai." ucap Intan dengan menatap Galih di sertai senyum mengembang di bibirnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2