Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 94


__ADS_3

"Mak, Rena di mana?" tanya Bagas begitu masuk ke dalam rumah.


"Sejak tadi ada di dalam kamar mas. Belum keluar." jelas mak Irah.


Bagas membuka pintu kamar dengan perlahan. Di lihatnya Rena sedang terlelap di atas ranjang milik mereka. Bagas mendekat dan mencium pelan pipi Rena.


"Sayang, bangun." ucap Bagas membangunkan Rena dengan pelan.


"Eughhh." terdengar suara lenguhan dari Rena.


"Mas sudah pulang?" tanya Rena sambil mengucek matanya.


"Iya, baru saja. Lihat pakaianku, masih pakaian kerja" ucap Bagas.


"Bangun, sudah sore. Ayo kita mandi." imbuh Bagas.


Rena yang baru saja bangun, masih tidak terlalu peka dengan apa yang di katakan oleh Bagas. Bagas membuka jas dan sepatunya.


Setelah itu dia menggendong Rena untuk di bawa masuk ke dalam kamar mandi. Dengan terkejut, Rena langsung melingkarkan tangannya ke leher milik suaminya.


"Mas, mas duluan saja yang mandi. Nanti ganti aku." ucap Rena setelah Bagas menurunkannya di dalam kamar mandi dan hendak melangkahkan kakinya kaluar.


"Kenapa. Kita sudah lama tidak melakukannya di sini bukan?" bisik Bagas di telinga Rena.


"Mas." kata Rena dengan suara serak.


Bagas langsung menyambar bibir seksi milik istrinya. Rena yang sudah terbiasa pun mengimbangi ciuman Bagas dengan sangat baik.


"Hahh."


Suara helaan nafas terdengar saat ciuman mereka terlepas. Pandangan mereka beradu. Bagas menyatukan kening mereka. Dan tangan Rena masih setia melingkar di leher Bagas.


Tangan Bagas sudah melepas kaos milik Rena. Dan tangan Rena pun melepas kancing kemeja milik Bagas.


Dengan terampil Bagas memainkan payu**ra milik Rena. Hingga Rena pun mengeluarkan suara yang merdu karena permainan Bagas yang tidak perlu di ragukan lagi.


Entah bagaimana caranya, celana yang sebelumnya masih terpasang sempurna di badan masing-masing, kini sudah berada di lantai kamar mandi.


Dengan cekatan, jari jemari Bagas sudah bermain di lubang kenikmatan milik Rena. Lenguhan demi lenguhan terdengar di kamar mandi.


Tangan Rena meraba dinding dan menyalakan shower. Hingga mereka basah karena guyuran air. Tangan Rena pun tidak tinggal diam. Dia sudah memanjakan mentimun milik sang suami yang sudah berdiri menantang.


Bagas menghentikan gerakan jarinya dan mulai berjongkok. Lidahnya bermain di lubang donat milik Rena. Suara air shower berpadu dengan suara yang keluar dari mulut Rena.


Merasa sudah cukup, Bagas membalikkan badan Rena dan mulai menyatukan tubuh mereka. Dengan Bagas berada di belakang Rena.


Ahhh...


Suara Rena semakin terdengar seksi di telinga Bagas. Dan itu menjadi penyemangat sendiri untuk Bagas. Hentakan demi hentakan Bagas berikan pada sang istri. Keringat dan air shower bercampur jadi satu.


Setelah selesai melakukan ritual tersebut, mereka berendam di air hangat terlebih dulu. Rena menyenderkan badannya ke tubuh Bagas. Dengan Bagas memeluknya dari belakang.


"Mas,, ayo." ucap Rena.

__ADS_1


"Kamu mau lagi sayang." kata Bagas menggoda Rena.


"Bukan. Aku belum sholat tadi. Kamu tu." ucap Rena dengan memukul lengan Bagas yang tengah melingkar di perutnya.


"Oke tuan putri." kata Bagas.


Bagas berdiri dan langsung mengangkat Rena.


"Mas, turunin. Aku mau wudhu dulu. Gimanasih." ujar Rena sebal dengan suaminya.


"Maaf, lupa sayang. Tubuh kamu itu ciu buat aku." kata Bagas sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Selesai sholat, mereka menuju meja makan. Rena dan Bagas nampak lahap menikmati makanan mereka. Mungkin karena olah raga yang mereka lakukan barusan membuat perut mereka lapar.


"Makan yang banyak. Biar tenaga kamu pulih lagi." ucap Bagas.


Rena langsung menatap Bagas dan menjulurkan lidahnya. Sambil melanjutkan makannya. Sebenarnya sejak tadi Bagas ingin bertanya ke mana Rena tadi pergi. Tapi Bagas mencoba menahannya, karena Bagas juga ingin jujur pada Rena tentang Intan.


"Sayang, mak Irah ke mana?" tanya Bagas.


"Oh iya ya. Mak Irah ke mana." ucap Rena sambil berdiri dari duduknya dan pergi ke belakang untuk mencari mak Irah.


Karena tidak menemukan mak Irah, Rena masuk ke dalam kamar dan mencoba menghubungi mak Irah. Ternyata mak Irah sudah pulang ke rumahnya sejak tadi sore.


"Mak Irah sudah pulang mas." ucap Rena sambil duduk kembali di kursi.


Selesai makan, Rena membersihkan meja makan dan mencuci piring serta alat makan lain yang kotor. Bagas pun membantunya. Padahal Rena susah melarang suaminya, tetapi Bagas tetap kekeh ingin membantu.


Setelah selesai membereskan dapur, Rena dan Bagas duduk di ruang tengah.


Rena menoleh ke arah Bagas.


"Tadi kamu pergi ke mana?" tanya Bagas sambil mengelus pelan rambut istrinya.


"Jalan-jalan saja. Di rumah terus terasa jenuh." ucap Rena.


"Maaf, tadi nggak minta izin sama mas dulu." imbuh Rena.


"Nggak apa-apa. Mas hanya khawatir kamu kenapa-napa." ucap Bagas.


"Sayang, ada yang mas ingin ceritakan sama kamu. Tapi janji ya, kamu jangan marah sama aku." kata Bagas sambil menggenggam tangan Rena.


Rena tidak menjawab. Dia hanya memandang Bagas.


"Ini soal Intan." lanjut Bagas.


Deggg...


"Akhirnya kamu mau cerita juga mas." batin Rena.


"Dia berkata bahwa dia mencintaiku." kata Bagas.


Sementara Rena masih menatap Bagas dengan intens.

__ADS_1


"Apa mas juga menyukainya?" tanya Rena berusaha tenang.


"Nggak sayang. Mas tidak menyukainya."


"Apa ada lagi yang mas ingin ceritakan sama Rena?" tanya Rena.


Seketika Rena teringat pesan yang dikirim seseorang yang mengatakan jika dirinya tahu bahwa Bagas mempunyai tahi lalat di dekat alat kelaminnya.


"Intan dan aku,,,, kami,,,,"


Bagas menghentikan perkataanya dan mencoba mengatur detak jantungnya. Sementara tangannya semakin erat memegang tangan Rena. Seperti takut jika Rena akan pergi darinya.


Rena pun dilanda kecemasan dan juga rasa takut. Dia takut jika Bagas akan bercerita hal yang akan menyakitkan hatinya.


"Kami,,, hampir pernah. Kami,,, hampir melakukan,,, melakukan hubungan. Tapi itu masih hampir sayang. Sumpah." lanjut Bagas.


"Sumpah, mas nggak bohong. Masih hampir." ucap Bagas mencoba menyakinkan Rena.


"Kapan." tanya Rena mencoba tetap tenang dan menatap tajam pada suaminya.


"Pertama..."


"Pertama." kata Rena menghentikan perkataan Bagas.


Bagas segera memeluk erat tubuh Rena dari belakang.


"Sayang, dengarkan dulu penjelasan ku. Jangan marah. Maaf." ucap Bagas.


Rena hanya diam tanpa memandang wajah dari suaminya.


"Tapi benarkan, mas nggak pernah berhubungan lebih dengannya." ucap Rena memastikan.


"Sumpah. Hampir sayang. Hampir." kata Bagas menyakinkan istrinya.


"Apa mas juga mempunyai perasaan padanya?" tanya Rena.


"Nggak sayang. Nggak. Mas sama sekali nggak punya perasaan apapun padanya." kata Bagas.


Rena hanya diam tidak berkata apapun. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Mas, Rena ngantuk." ucap Rena mencoba melepaskan pelukan suaminya.


Bagas melepaskan pelukannya dari tubuh Rena. Tanpa menoleh ke arah Bagas, Rena melangkahkan kakinya ke kamar.


Dikamar, Rena berwudhu dan melaksanakan sholat. Rena ingin menenangkan diri terlebih dahulu.


"Ya Alloh, jangan Engkau biarkan hamba Mu berjalan di jalan yang salah. Selalu permudahkan langkah hamba ya Alloh. Dan jadikanlah hamba istri yang selalu Engkau ridhoi." ucap Rena seraya mengucap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Rena berbaring terlebih dulu di tempat tidur. Padahal ini masih terlalu sore bagi Rena untuk tidur. Kedua matanya sudah terpejam. Padahal dia belum tidur.


Bagas menyusul istrinya ke dalam kamar dan berbaring di belakang Rena. Dipeluknya Rena dari belakang.


"Maaf sayang. Mas tahu mas salah. Mas khilaf." ucap Bagas.

__ADS_1


"Mas sangat mencintai kamu." imbuh Bagas.


BERSAMBUNG


__ADS_2