Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 33


__ADS_3

Rena masuk kedalam kawasan kantor tempat kerja Bagas. Dia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil. Dia berjalan menuju pos satpam dan bertanya pada satpam.


"Maaf pak mau tanya, apa karyawan kantor sudah pulang pak?"


"Belum mbak, mungkin sebentar lagi."


"Terimakasih pak." Rena membalikkan badannya hendak pergi, tetapi langkahnya tertahan saat pak satpam bertanya lagi.


"Maaf, mbak ini siapa ya?" Pak Satpam bertanya karena dia belum pernah melihat Rena.


"Saya istrinya pak Bagas pak."


"Oo,, maaf mbak, saya tidak tahu."


"Iya pak, tidak apa-apa."


Rena kembali berjalan ke arah dia memarkirkan mobilnya. Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, tampak beberapa karyawan keluar dari gedung.


"Sudah ada karyawan yang keluar. Berarti bentar lagi mas Bagas juga keluar."


Akhirnya ia memutuskan berdiri di samping mobil dan menyenderkan badannya ke mobil untuk menunggu suaminya.


Dari arah samping dia melihat Bagas berjalan ke luar gedung bersama Mira. Mereka berdua tampak akrab dengan berjalan bersama di selingi obrolan dan senyum. Rena hanya memandang dari samping mobil tanpa berniat menghampiri mereka. Dia berfikir akan menunggu saja. Biarkan Bagas yang datang menghampirinya.


"Mereka hanya berteman, tidak lebih."


Rena menoleh ke samping. Di sampingnya sudah ada Galih. Entah dari kapan dia berdiri di samping Rena. Hingga Rena saja tidak menyadarinya.


" Kami semua sama, dalam satu divisi kita harus akrab. Karena setiap hari kita bersama. Dan kita harus bisa bekerja sama dengan baik."


Rena tersenyum mendengar penjelasan dari Galih.


"Tumben kamu jemput Bagas." Galih berdiri tepat di depan Rena.


"Tadi mobilnya saya pakai."


"Sekarang kamu kerja di mana?"


"Mungkin mulai besok kerja di butik milik Dona lagi. Tapi cuma sebentar. Menggantikan Intan."


"Intan.."


"Iya, karyawan di butik Dona sedang sakit. Jadi sementara aku gantikan sampai dia masuk kerja lagi."


Tampak Galih sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu kenal sama Intan?"


Rena bertanya seperti itu karena dia merasa saat dia menyebut nama Intan, Galih seperti kenal.


"Eh,, nggak. Mana mungkin aku kenal."


"Sepertinya Galih menyembunyikan sesuatu, tapi biarlah. Urusan dia juga." batin Rena.


Rena hanya menebak lewat ekspresi wajah yang di tampilkan oleh Galih.

__ADS_1


"Apa Bagas mengizinkan kamu kerja?"


"Kan cuma sebentar. Sebagai pengganti doang."


Galih hanya manggut-manggut mendengar penuturan Rena.


"Wajah kamu nggak ngebosenin buat di pandang Ren." batin Galih dengan menatap wajah Rena.


"Ada apa, apa ada sesuatu di wajah ku?" Rena meraba-raba wajahnya karena dia sadar Galih melihatnya terus. Dia berpikir ada sesuatu di wajahnya.


"Nggak ada, lucu banget sih kamu. Memang kalau mau memandang kamu harus ada apa-apa dulu di wajah kamu."


Rena hanya cengengesan mendengar perkataan Galih.


"Ehm, sudah lama kamu di sini sayang." Bagas langsung merangkul pinggang Rena dengan posesif begitu sampai di dekat istrinya.


"Mulai deh." batin Rena.


"Belum."


"Thanks ya brow, sudah nemenin istri gue. Sekarang gue sudah ada di sini. Elo bisa pergi." usir Bagas pada Galih secara halus.


"Nggak masalah, Rena kan juga temen gue. Ya sudah, gue pamit dulu. Hati-hati Ren."


"Ya, makasih."


"Apa-apaan sih, di sini kan ada dua orang. Kenapa cuma kamu yang di sebut." Bagas merasa kesal karena Galih mencari perhatian pada istrinya.


"Sudah lah mas, ayo masuk."


*****


"Nggak, tiba-tiba dia sudah ada di sampingku tadi


Oh iya mas, kok aku tadi nggak lihat Leo mas."


"Dia minta cuti beberapa hari, istrinya mau melahirkan."


Bagas memutar musik dengan nada rendah di dalam mobilnya.


"Ren, kamu jangan dekat-dekat...."


"Iya mas, aku nggak akan dekat-dekat dengan Galih." Rena memotong kalimat suaminya.


"Lagian di sana tadi kan banyak orang. Mana mungkin aku usir dia."


"Aku sedikit ragu jika Galih punya niat jahat dengan keluarga kami. Apalagi tadi dia malah membela mas Bagas. Jika dia memang menyukaiku, seharusnya tadi dia memanas-manasi aku." batin Rena.


Rena beberapa kali menoleh ke samping untuk memandang suaminya.


"Ada apa, biasa saja kali, suamimu memang tampan." ucap Bagas narsis sambil mengelus dagunya.


Rena hanya memainkan kedua bola matanya mendengar kenarsisan Bagas.


"Bagaiman Lina dan Intan."

__ADS_1


Rena menceritakan keadaan keduanya. Dia juga bercerita Intan sementara tidur di rumah orang tua Bagas.


"Intan tidak tidur di kamar kita kan?"


"Nggak, dia tidur di kamar dekat kamarnya Lina."


"Baguslah."


"Lagian mana berani Ibu memberikan kamar kita untuk di tempati orang lain. Bisa marah besar anak lelaki kesayangannya nanti." cibir Rena.


"Bukan begitu, aku hanya tidak suka jika kamar kita di tempati orang lain. Aku takut nanti bau badan kamu hilang." kilah Bagas.


"Iihhh,,, apaan. Bau badan di bawa-bawa."


"La gimana sih, ntar kalau ada yang tidur di kasur kita oto-ma-tisss bau badannya nempel dong ke kasur kita. Nanti bau badan kamu nggak ada di kasur lagi."


"Udah lah mas, terserah. Ngomongnya makin ngaco. Lagian di sana sudah nggak ada bau badan kita mas. Kita kan sudah lama nggak tidur di sana."


Rena merasa jengah mendengar perkataan dari Bagas.


"Oh iya ya, berarti ini saatnya menempelkan bau badan kita lagi di sana."


Rena membulatkan ke dua matanya mendengar perkataan Bagas.


*****


Seseorang sedang duduk di jok mobil sambil melihat foto yang berada di dalam ponselnya.


"Rena, selain cantik kamu juga lucu. Jadi nggak sabar pengen ketemu kamu setiap hari."


Galih memasukkan ponselnya di saku bajunya. Di senderkan badannya pada jok mobil dengan memejamkan mata.


Terdengar ketukan di kaca dari luar mobil Galih. Di bukanya kaca mobil oleh Galih.


"Mas Galih belum pulang?"


"Sebentar lagi pak, soalnya capek banget. Tadi pekerjaan banyak. Leo kan gak masuk."


"Makanya pak, cepet cari pendamping. Biar semangat pulang ke rumah kalau habis kerja."


Galih hanya menanggapi dengan senyum saran dari pak satpam.


"Noh seperti mas Bagas, pinter cari istri. Selain cantik kelihatannya juga baik."


"Semoga saja saya bisa mendapatkan istri seperti Rena, istrinya Bagas."


Galih menutup kaca mobil dan menjalankannya. Tanpa berpamitan pada pak Satpam.


"Main nylonong saja. Memang saya salah ya bicara seperti itu."


Di dalam mobil Galih hanya bisa mengumpat.


"Bre**sek, apa dia bilang. Bagas pinter cari istri. Ya ya ya,, tapi sebentar lagi dia tidak akan memiliki istri yang cantik dan baik lagi. Karena Rena akan menjadi milik Galih." di cengkeramnya dengan kuat stir mobil dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba dia teringat perkataan Rena mengenai Intan.

__ADS_1


"Apa mungkin Intan... Aku harus mencari tahu. Dia Intan yang aku pikirkan atau bukan. Jika benar, mujur sekali nasibku. Akhirnya aku menemukannya. Anak wanita murahan itu. Aku harus mencari tahu."


BERSAMBUNG


__ADS_2