Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 12


__ADS_3

Rena dan Bagas berada di ruang tengah sambil melihat televisi. Bagas menyender pada sofa. Sementara Rena tidur di paha Bagas.


"Ada apa mas?" tanya Rena pada Bagas, karena ia sadar sedari tadi suaminya memandanginya.


"Ada yang ingin aku sampaikan Ren, tapi kamu jangan marah."


"Ada apa." Rena semakin penasaran dan khawatir.


"Sebaiknya kamu berhenti kerja." kata Bagas sambil mengelus rambut Rena.


"Memangnya kenapa mas, Rena jenuh kalau di rumah terus."


"Kamu fokus sama kesehatan kamu dulu, setelah benar-benar sembuh kita konsultasi ke dokter."


Rena hanya diam tidak menjawabnya.


"Di rumah kamu bisa cari kesibukan. Kamu kan bisa bikin kue." bujuk Bagas pada Rena.


"Memang tidak apa-apa aku di rumah saja."


"Memang kenapa, suami kamu kan sudah bekerja."


"Aku hanya akan menghabiskan uang saja, tanpa membantu mas." ucap Rena parau.


"Selama ini kamu sudah sangat membantu ku Ren."


"Baiklah, aku akan buat kue, lalu akan ku jual secara online." ujar Rena dengan semangat.


"Tapi jangan sampai kamu kelelahan."


"Iya mas." jawab Rena sambil memeluk perut suaminya.


"Mas hanya ingin supaya kamu tidak kelelahan sayang."


"Iya, Rena paham kok mas."


Disaat mereka sedang asyik menonton televisi sambil mengobrol tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


"Siapa ya mas?" tanya Rena sambil memandang ke arah jam. Yang ternyata masih jam setengah 8.


"Mas buka dulu." Bagas beranjak dari duduknya dan membuka pintu.

__ADS_1


Rena masih melanjutkan rebahannya sambil menonton televisi.


*****


Bagas membuka pintunya.


"Kalian, ayo masuk."


Galih dan Leon datang ke rumah Bagas berniat menjenguk Rena. Mereka masuk ke dalam. Leon menyerahkan kantong kresek pada Bagas.


"Apa ini?" tanya Bagas sambil menerimanya.


"Nggak tahu, titipan dari Yuna. Katanya buat Rena. Dia nggak bisa datang ke sini. Maklum perutnya semakin besar." jawab Leon


Yuna adalah istri dari Leon. Mereka sudah menikah sekitar satu tahun lamanya. Dan sekarang Yuna sedang hamil 8 bulan.


"Ren,,, ada Galih sama Leon." Bagas sedikit mengeraskan suaranya karena Rena masih di ruang tengah menonton televisi.


Rena berdiri dan segera menuju ke ruang tamu.


Setelah sampai Rena langsung bersalaman dengan mereka.


"Ini." Bagas menyerahkan kantong kresek pada istrinya begitu Rena sampai di dekatnya.


"Itu titipan dari Yuna, maaf dia tidak bisa datang ke sini." jelas Leon.


"Ya ampun, jadi merepotkan. Lagian aku sudah baikan." kata Rena merasa tidak enak pada mereka.


"Tidak apa-apa, lagi pula kita juga sudah lama tidak ke sini." tutur Leon


"Bagaimana kabar Yuna, kandungannya sehat kan, prediksi dokter kapan Yuna akan melahirkan. Sudah di USG kan, apa hasilnya, anaknya cewek apa cowok." Rena bertanya dengan bertubi-tubi.


"Banyak banget kamu tanyanya. Lihat, Leon bingung mau jawabnya." Ucap Bagas sambil mencubit hidung Rena gemas.


Rena hanya meringis sambil mengusap hidungnya.


"Maaf, soalnya aku penasaran. Udah lama nggak ketemu."


"Iya, nggak apa-apa. Kondisi Yuna dan bayinya baik. Insya Alloh bulan depan lahirannya. Yuna melarang dokter mengatakan jenis kelaminnya. Katanya biar surprise." jelas Leon dengan senyumnya.


"Alkhamdulillah, astaga aku hampir lupa belum membuat minum. Maaf ya aku tinggal sebentar." Rena berdiri dan segera menujun ke dapur.

__ADS_1


Sejak tadi Galih terus memandangi Rena. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Galih mempunyai perasaan suka pada Rena sejak pertama dia bertemu dengannya. Senyuman Rena menghilangkan akal sehatnya.


Saat itu Rena pertama kali di ajak oleh Bagas untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dan saat itulah ketertarikan Galih pada Rena di mulai.


Leon yang tahu perasaan Galih pada Rena selalu mengingatkan pada Galih. Bahwa perasaannya salah.


Bahkan Galih beberapa kali mempengaruhi Bagas untuk meninggalkan Rena. Dengan alasan ketidak hadiran anak di antara mereka. Bahkan pernah beberapa kali dia mengenalkan teman wanitanya pada Bagas. Beruntungnya Bagas tidak tertarik pada mereka.


Di sisi lain Leon merasa serba selah dengan keadaannya. Jika dia memberi tahu Bagas, pasti persahabatan mereka sejak SMA akan hancur seketika. Sementara Galih yang selalu mendapat nasihat darinya hanya acuh saja. Yang bisa di lakukan Leon hanya bisa memantau keadaan. Jangan sampai keadaan berubah menjadi lebih buruk.


Kembali ke ruang tamu rumah Bagas.


Rena kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan di tangannya.


"Ini minumnya, maaf cuma seadanya." ucap Rena menaruh minuman beserta camilan di meja.


"Terimakasih."jawab Galih dengan senyum pada Rena.


"Di minum dulu." kata Bagas sambil meminum kopinya.


"Pas manisnya, seperti yang membuat." ujar Galih setelah meminum kopinya dan meletakkan kembali di meja. Matanya memandang Rena.


Rena dan Bagas hanya diam sambil mencerna ucapan Galih. Dan Leon langsung mencairkan suasana.


" Bisa saja elo bercandanya Lih,," Leon menepuk bahu Galih dengan senyum tertawa di paksakan dan memandang nya tajam.


Rena dan Bagas pun ikut tertawa. Mereka terus berbincang dan tertawa bersama. Dalam beberapa kesempatan Galih selalu memandang Rena dengan tatapan memuja. Beruntung Bagas dan Rena tidak menyadari. Tapi tidak dengan Leon.


"Kita pulang dulu, sudah malam. Lagi pula Rena baru saja sakit. Tidak baik tidur terlalu malam." ucap Leon.


"Baiklah, terimakasih sudah berkunjung."


"Kita pulang dulu, maaf merepotkan. Ayo Lih."


Leon mengajak Galih untuk berpamitan. Dengan enggan Galih berdiri dari duduknya. Dia seperti tidak rela meninggalkan rumah itu.


"Hati-hati di jalan." ucap Bagas


Bagas dan Rena mengantar mereka sampai teras rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


.


__ADS_2