
"Ren...." tanpa mengucapkan salam seperti biasanya Bagas langsung masuk ke dalam rumah.
"Mas Bagas kenapa?" mak Irah datang tergopoh-gopoh begitu mendengar suara teriakan majikannya.
"Mana Rena mak?" Bagas bertanya sambil berjalan menuju kamar.
"Mbak Rena keluar mas." mak Irah mengikuti di belakang Bagas.
Setelah mendengar jawaban mak Irah, Bagas tidak jadi membuka pintu kamar.
"Pergi ke mana?" Bagas membalikkan badan menghadap mak Irah.
Sebelum sempat di jawab oleh mak Irah. Terdengar suara pintu terbuka. Bagas segera menuju depan. Mak Irah kembali mengikuti Bagas dari belakang.
"Ya Alloh, kenapa dengan mas Bagas." batin mak Irah masih mengikuti Bagas dari belakang dengan perasaan takut.
Begitu sampai di depan Bagas segera memeluk Rena.
"Mas, lepas. Sesek nih." Rena merenggangkan pelukan Bagas.
"Alkhamdulillah, aku pikir mas Bagas marah." ucap mak Irah lirih. Dia kembali ke belakang sambil tersenyum.
"Kenapa sih mas." Rena melepaskan pelukan Bagas.
"Kamu dari mana, kok nggak minta izin mau keluar."
"Cuma ke toko depan sana beli ini. Masa mesti izin dulu. Ada-ada saja." Rena mengangkat kantong kresek yang sedang ia bawa.
"Oo.." Bagas hanya manggut-manggut.
"Sudah sana, bersihkan badan dulu. Aku mau taruh ini di dapur." Rena mendorong pelan tubuh suaminya.
"Galih belum mengirim fotoku dengan Mira pada Rena. Aku harus menceritakan lebih dulu pada Rena." batin Bagas.
"Mas." Rena melambaikan tangannya di depan wajah Bagas.
"Eh,, Aku mau pinjam ponsel kamu."
"Ada di dalam kamar."
Tanpa mengucapkan kata lagi Bagas membalikkan badan menuju kamar.
"Mak.." Rena memanggil mak Irah sambil berjalan menuju dapur.
"Pas pulang tadi mas Bagas baik-baik saja kan?" Rena meletakkan kantong kresek yang dia bawa di meja sambil mengeluarkan isinya.
Mak Irah menceritakan bagaimana Bagas begitu pulang langsung berteriak memanggil namanya.
"Kenapa ya mak?"
"Mak nggak tahu mbak, lebih baik mbak Rena nyusul ke kamar. Ini biar mak yang bereskan."
*****
Seperti biasa Rena menyiapkan pakaian untuk Bagas.
Setelah itu ia mencari di mana ponselnya berada.
"Perasaan aku taruh di atas meja. Kok nggak ada."
Pintu kamar mandi terbuka. Bagas keluar menggunakan handuk sepinggang dengan rambut agak basah.
__ADS_1
Rena tersenyum licik menatap ke arah suaminya. Ia mendekati Bagas.
"Mas.." dengan suara manja ia memanggil suaminya.
"Jangan macam-macam. Aku sudah wudhu Ren."
Bagas menjauh dari Rena. Akan tetapi Rena malah mendekatinya.
"Rena..." mata Bagas melotot melihat istrinya.
"Ap-paa." suara Rena di buat-buat. Tangan nya terulur seperti ingin menyentuh tubuh Bagas.
"Aku sudah wudhu sayang, sudah sana minggir dulu." Bagas mengibas-ngibaskan tangannya.
Saat Rena ingin lanjutkan menggoda Bagas pintu kamar di ketok dari luar.
"Mbak, mak pulang dulu ya." mak Irah bicara sedikit keras dari luar kamar.
"Iya mak, hati-hati."
Bagas sudah rapi dengan pakaian menempel di tubuhnya.
"Kenapa mak Irah nggak sholat dulu sebelum pulang."
"Mak nggak mau, katanya sih rumahnya dekat. Mau sholat di rumahnya sendiri."
Rena melihat Bagas dengan senyum-senyum.
"Mas, ganteng banget sih." Rena bertanya dengan centil.
"Beraninya waktu seperti ini. Coba nanti, setelah sholat berani nggak." tantang Bagas.
"Itukan ponsel ku mas. Mas tadi taruh di mana."
"Eit,eit, nggak usah dekat-dekat. Mas malas wudhu lagi." Bagas menjaga jarak dari Rena.
"Ya Alloh mas, air banyak." Rena berdiri di depan Bagas sambil berkacak pinggang.
"Ya sudah, punya suami nggak mau di sentuh. Aku cari yang lain saja. Yang mau di sentuh." Rena melangkah menuju kamar mandi.
"Jangan macam-macam. Aku kurung di rumah baru tahu rasa."
Rena keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil peralatan sholat dan meletakkan di atas karpet.
"Mas, letakkan dulu ponselnya. Sudah adzan."
"Kamu sudah sholat." Bagas meletakkan ponsel Rena. Dia berjalan mendekat ke Rena sambil senyum mengembang di bibirnya.
"Sejak kapan."
Rena tidak menjawab pertanyaan Bagas. Dia sibuk memakai mukena.
"Sayang, kok nggak di jawab sih. Dosa lo."
"Ayo sholat dulu mas."
Setelah selesai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim mereka makan malam. Kemudian bersantai di depan televisi.
"Ren, ada yang ingin aku katakan." Bagas memeluk Rena dari belakang dengan posisi keduanya sedang duduk di atas karpet.
"Apa?"
__ADS_1
Belum sempat Bagas menjawab, ponsel Rena berbunyi. Sebuah pesan masuk dalam ponselnya.
Saat Rena ingin membuka pesan di ponselnya Bagas menghentikannya.
"Aku mau bicara, serius."
Bagas mengambil ponsel Rena dan menaruhnya di samping dia duduk. Bagas mengambil ponsel miliknya. Kemudian di berikan pada Rena.
"Apa ini." Rena memicingkan sebelah matanya melihat foto suaminya dengan perempuan lain sedang berada di cafe. Dan perempuan itu adalah Mira.
"Mas, tolong jelaskan." Rena kembali memberikan ponsel milik Bagas.
Bagas menjelaskan pertemuannya dengan Mira di cafe pada Rena.
"Kamu harus percaya pada mas Ren, kita tidak mempunyai hubungan apa-apa selain rekan kerja."
Bagas tetap memeluk Rena dari belakang dengan menaruh dagunya di atas pundak Rena.
"Apa benar yang di katakan mas Bagas. Sementara mbak Mira sedang bermasalah dengan suaminya." batin Rena.
Kini Rena tengah terombang-ambing dalam pikirannya sendiri.
"Sayang, kamu percaya kan." Bagas mencium pipi Rena dari samping.
"Hem,," Rena tidak menjawab pertanyaan Bagas. Dia hanya memberikan senyum pada Bagas.
"Mas, lepas. Aku mau ke kamar mandi." Rena melepas pelukan Bagas dan mengambil ponselnya.
Sulit bagi Rena untuk percaya perkataan Bagas. Di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat besar. ANAK. Itulah ketakutan terbesar Rena. Dia takut Bagas meninggalkannya karena sampai saat ini dia belum bisa memberikan keturunan untuk Bagas. Apalagi saat ini dia tahu bahwa Mira sedang bermasalah dengan suaminya. Dan juga setiap hari mereka bertemu di tempat kerja. Perasaan curiga pada suaminya bertambah besar.
Di dalam kamar mandi Rena membasuh wajahnya.
Di ambilnya ponsel dari sakunya.
"Apa sih ini?" Rena melihat pesan bergambar yang dikirim padanya.
Di layar ponselnya ada gambar bunga dan tertulis kata
"SEMOGA HARIMU BERTAMBAH BAIK"
Ternyata tidak seperti yang dipikirkan oleh Bagas. Galih tidak mengirimkan fotonya pada Rena.
"Siapa sih dia."
Rena mencoba untuk menelfon nomor yang telah mengirim pesan padanya. Tetapi tidak di angkat.
Kemudian Rena membalas pesannya dengan menanyakan namanya.
*****
"Pasti Bagas mengira aku mengirimkannya pada Rena. Pancinganku berhasil. Bagas Bagas... "
Ponsel Galih berbunyi. Ada pesan masuk ke dalamnya. Dia tersenyum senang. Karena akhirnya Rena membalas pesan nya.
"Maaf sayang, aku belum bisa membalas pesan kamu. Belum saatnya. Jika sudah waktunya kamu akan tahu tentang aku."
Galih menatap foto Rena yang terpasang dalam dinding kamarnya. Di dalam kamar Galih terpasang foto Rena yang dia pasang di dinding.
Gila, psikopat, obsesi atau apalah namannya. Galih benar-benar membuktikan ucapannya pada Bagas.
BERSAMBUNG
__ADS_1