Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 15


__ADS_3

Ruangan Dona


"Apa,,! kamu mau berhenti." Dona kaget mendengar Rena akan berhenti bekerja di butiknya.


"Iya,, mas Bagas menyuruhku fokus dengan kesehatanku. Kita akan memulai program kehamilan sesudah aku di nyatakan benar-benar sehat setelah keguguran." jelas Rena.


"Baiklah, semoga berhasil. Aku selalu mendukungmu."


Dona dan Rena tengah duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Dona.


"Jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan hubungi aku."


Mereka saling memandang dan tersenyum.


"Apa kamu sudah sehat, ini baru beberapa hari setelah kamu keluar dari rumah sakit. Seharusnya kamu telepon aku saja. Tidak perlu ke sini." Dona bertanya dengan cemas.


"Aku sudah sehat, di rumah beberapa hari saja aku merasa bosan."


"Sabar, nanti juga terbiasa. Terus kamu mau ngapain di rumah." Dona bertanya pada Rena karena dia tahu sahabatnya ini akan merasa jenuh apabila tidak memiliki kesibukan.


"Aku mau buat kue, terus mau aku jual secara online. Kamu bantu ya."


"Bantu apaan."


"Bantu pasarkan, siapa tahu bisa laku banyak jika kamu yang pasarkan."


"Siap bosss."


"Don, waktu aku sedang di rumah sakit kamu tahu darimana jika aku sudah diperbolehkan pulang."


"Dari temanku,, iya dari temanku." Dona langsung menoleh ke arah lain setelah selesai menjawab pertanyaan Rena.


Rena merasa temannya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Lebih baik aku tidak bertanya terlalu jauh. Mungkin Dona belum bisa menceritakannya. Semoga semuanya baik-baik saja." batin Rena


"Kalau begitu aku pamit dulu, mas Bagas menunggu di luar."


"Kenapa kamu tidak ajak dia masuk ke ruangan ku tadi."


"Mungkin dia tahu, jika dia ikut masuk pasti akan lama."


"Ada-ada saja Bagas itu."


Mereka saling berpelukan.


"Kapan-kapan aku akan ke rumahmu."


"Hubungi aku dulu jika mau berkunjung."


"Dasar,,, sok sibuk." Dona mencubit pelan lengan Rena.


Sebelum pulang Rena menemui Intan dan Wati untuk berpamitan.


"Mbak Rena hati-hati di jalan ya." ucap Wati

__ADS_1


"Terimakasih, kalian berdua kerja yang rajin ya."


"Pasti mbak, sering jenguk kami ya mbak." Wati memegang tangan Rena.


Setelah itu ia berjalan menuju tempat Bagas. Intan melihat Rena dengan pandangan yang aneh. Wati yang menyadarinya hanya diam tanpa berkomentar.


" Dasar,,, mungkin jiwa pelakor nya mulai tumbuh." batin Wati pergi meninggalkan Intan.


*****


Bagas melihat Rena berjalan mendekatinya.


"Sudah selesai kangen-kangenannya." Bagas bertanya sambil tersenyum.


"Apa sih mas, yuk pulang."


Bagas berdiri dan menggandeng tangan Rena.


"Sari, kami pulang dulu."


"Iya mbak, hati-hati di jalan."


Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama Bagas menuju mobil


"Kita cari makan dulu ya, aku lapar."


"Aku juga, tadi kan kita belum sempat makan."


Bagas menjalankan mobilnya untuk mencari tempat makan.


"Bagaimana kalau kita ke tempat makan dekat danau. Tempat pertama kita bertemu." ucap Bagas.


"Boleh, sudah lama kita tidak ke sana."


*****


Flash back


9 tahun yang lalu Rena bekerja di toko pakaian dekat sebuah danau. Setiap hari ia di suruh pemilik toko membeli makanan untuk karyawan yang berada di sebelah toko tempatnya bekerja.


Saat itu Bagas dan Leon sedang makan di tempat tersebut. Sedangkan Galih tidak ikut karena ada kepentingan.


"Seperti biasa ya mbak, di bungkus. Saya tunggu di sana." Rena duduk di kursi kosong menunggu pesanannya.


Saat menunggu pesanan Rena di hampiri dua pemuda.


"Mana pacarnya mbak, sendiri saja."


"Kursi ini kosong mbak, kami boleh duduk di sini kan."


Mereka duduk satu meja dengan Rena. Rena hanya memandang mereka dan tersenyum tanpa menjawabnya.


Di meja lain Bagas tengah memandang Rena dan dua pemuda tadi. Dia tengah menebak apa yang akan terjadi.


Rena berdiri dari meja dan mengatupkan tangannya pada dua pemuda di depannya sambil membungkukkan badan dan tersenyum. Lalu beranjak pergi mengambil pesanannya.

__ADS_1


"Sial... jangan-jangan dia bisu."


"Cantik-cantik kok bisu."


Bagas tersenyum melihat kejadian di depannya.


"Hebat juga ide itu cewek, tapi memang cantik sih." batin Bagas.


Sejak kejadian itu Bagas sering duduk di tepi danau sambil memperhatikan Rena dari jauh. Hingga suatu hari dia memberanikan diri untuk datang ke toko tempat Rena bekerja. Dia berpura-pura membeli pakaian.


"Maaf, mas mau cari apa?" Rena bertanya dengan senyum di bibirnya.


"Itu senyum apa gula,, manis banget." batin Bagas.


"Mas,,, ada yang bisa saya bantu." Rena kembali bertanya.


Bagas tersadar dari lamunannya.


"Saya mencari pakaian seperti ini." Bagas menunjukkan sebuah foto di ponsel nya.


"Mari ikut saya."


Rena mengajak Bagas ke sisi toko yang lain.


"Seperti ini." Rena menunjukkannya.


"Apa ada warna lain."


"Warnanya tinggal dua ini, mungkin lusa baru datang warna yang lain."


"Pas,, ini kesempatan." batin Bagas


"Begini saja, saya minta nomer ponsel kamu. Nanti kalau sudah datang kamu bisa memberi tahu saya."


"Semoga dia memberikan nomernya." batin Bagas sambil menunggu jawaban Rena dengan cemas.


"Baiklah, biar saya catat nomer nya."


"Tidak perlu, kamu sebutkan saja nomer kamu, nanti biar saya yang menghubungi. Saya takut nanti kamu lupa. Soalnya saya sangat membutuhkan bajunya."


"Baiklah." Rena menyebutkan nomer ponselnya pada Bagas tanpa rasa curiga.


Semenjak mendapatkan nomer Rena, Bagas selalu menghubunginya dengan berbagai alasan. Apalagi Rena bukan perempuan yang mudah untuk di dekati.


Butuh berbulan-bulan hanya untuk mengajaknya makan berdua. Dengan sabar Bagas menunjukkan sikap perhatiannya pada Rena. Hingga Rena merasa tersentuh.


Setelah beberapa bulan mereka akhirnya bisa semakin akrab. Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkapkan cintanya pada Rena. Itupun tidak langsung di terima oleh Rena.


"Berikan aku waktu untuk menjawabnya mas."


"Baiklah akan aku tunggu, tapi kamu jangan menghindari ku."


Ada ras takut di hati Rena. Dia hanya perempuan yang berasal dari desa. Sementara Bagas adalah lelaki tampan, pasti banyak yang menyukainya. Apalagi Bagas sedang kuliah. Biasanya lelaki kota yang tampan, apalagi sedang kuliah pasti banyak ceweknya.


Sudah tiga hari berlalu Bagas menyatakan cintanya. Tapi belum di jawab Rena.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2