Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 112


__ADS_3

"Malam pak, bisa saya bertemu dengan kak Galih?" tanya Lina dengan sopan pada pak satpam.


"Maaf, apa mbak ini mbak Lina?" tanya pak satpam.


"Iya pak." jawab Lina.


"Tadi mas Galih sudah bilang sama saya. Untuk langsung menyuruh mbak Lina masuk ke dalam rumah. Mbak Lina sudah di tunggu mas Galih di dalam mbak." jelas pak satpam.


"Baik pak, terimakasih." ucap Lina sambil berlalu meninggalkan pos satpam.


"Inikan mobil milik Intan." gumam Lina.


Segera Lina mempercepat jalannya. Setelah sampai di depan pintu, dia berjalan mengendap-endap. Dan mencoba membuka sedikit pintu rumah Galih.


"Kok nggak ada orang. Mereka di mana?" gumam Lina.


Lina sengaja mengetuk pintu tanpa membunyikan bel rumah Galih. Dia berharap jika Intan maupun Galih tidak tahu akan kedatangannya.


Lina kembali mengetuk pintu dengan kencang.


"Aduh, mana sih. Kok nggak ada yang buka. Mana sudah sakit lagi tangan gue." gumam Lina.


"Maaf mbak, cari siapa?" tanya pembantu di rumah Galih setelah membuka pintu.


"Alkhamdulillah, ada yang buka pintunya." batin Lina.


"Saya Lina bu, tadi saya sudah janjian sama kak Galih bu." ucap Lina.


"Silahkan masuk mbak. Saya panggilkan mas Galih dulu." ucapnya.


"Nggak perlu bu. Biar saya saja yang mendatangi kak Galih. Kalau boleh tahu, kak Galihnya ada di mana ya bu?" tanya Lina.


"Ada di sana mbak." ucapnya sambil menunjukkan ke arah dimana Galih berada.


"Jika kak Galih ada di sana, berarti Intan juga di sana." batin Lina.


"Baik bu. Terimakasih." ucap Lina dan langsung berjalan ke tempat Galih.


Galih dan Intan sedang berbicara sambil duduk di kursi teras rumah bagian samping. Sedangkan Lina berusaha menguping pembicaraan mereka dengan mendekat ke arah jendela, tepat di belakang Galih dan Intan.


Galih dan Intan tidak akan bisa melihat Lina karena terhalang oleh gorden jendela yang tertutup. Sejenak Lina menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


"Bagaiman. Elo tertarik?" tanya Intan.


"Sudahlah nggak usah munafik. Elo pasti masih menginginkan Rena. Jika gue bisa ngedapetin mas Bagas, gue pastikan Rena akan jadi milik elo. Gimana. Oke." imbuh Intan.


Lina mendengar ada langkah kaki mendekat ke arahnya. Lina lantas mencarinya. Ternyata ada seseorang yang hendak turun dari tangga.


"Bisa ketahuan kalau gue tetap di sini." batin Lina.


Lina segera pergi dari tempatnya menguping dan berjalan ke arah lain.


"Mereka mau kerja sama." batin Lina.


Meskipun Linat tidak mendengar secara keseluruhan pembicaraan mereka. Tapi dia bisa menyimpulkan ke mana arah pembicaraan mereka.


"Mbaknya kok di sini?" tanya pembantu yang tadi sempat berbicara dengan Lina di ruang tamu.


"Kesasar bu." ucap Lina mencari alasan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Saya cari-cari kak Galih nya nggak ada. Maaf ya bu." ucap Lina.


"Nggak apa-apa mbak. Biar saya panggilkan saja mas Galihnya. Mbak sebaiknya tunggu saja di sini."


"Terimakasih bu." kata Lina sambil duduk di kursi sebelahnya.


"Besar banget rumahnya. Pantas rumah Intan juga bagus banget. Memang benar-benar orang kaya." gumam Lina.


"Lin." tegur Galih dari belakang.


"Sudah lama datangnya?" tanya Galih.


"Belum kak." jawab Lina.


"Maaf ya, tadi ada tamu. Jadi aku nggak bisa langsung nemuin kamu." ujar Galih.


"Iya kak. Nggak apa-apa. Terus tamunya sekarang sudah pulang?" tanya Lina.


"Sudah." jawab Galih.


"Ayo Lina, lakukan sesuatu. Tapi kenapa gue jadi nggak punya nyali jika langsung di hadapankan sama kak Galih." kata Lina dalam hati dengan mengambil nafas panjang.


"Bagas sama Rena sudah balik Lin?" tanya Galih.


"Mungkin sudah kak. Soal nya Lina belum tahu." jawab Lina.


"Kak, kak Galih emm."


"Apa?"


"Nggak jadi kak."


"Kak, emmm,, apa kakak sudah punya kekasih?" tanya Lina dengan jantung berdegup.


"Kakak gimana sih. Di tanya malah balik tanya." ucap Lina.


"Nggak punya. Tapi sekarang aku memang sedang menyukai seseorang." jawab Galih.


"Benarkah. Siapa?" tanya Lina berpura-pura tidak tahu.


"Ada sih. Dan aku berharap dia juga bisa menerima diriku." ucap Galih dengan tersenyum.


Melihat senyum di bibir Galih, membuat hati Lina sedikit nyeri. Ada rasa kecewa atas jawaban yang di berikan Galih pada dirinya. Padahal sejak awal Lina tahu, hati Galih memang telah tertambat pada Rena.


"Semoga kakak menemukan cinta kakak ya." kata Lina.


Galih menengokkan kepalanya dan memandang sesaat ke arah Lina sembari mengangguk.


"Asal, kakak jangan sampai salah memilih." kata Lina.


"Maksud kamu?" tanya Galih sambil memandang kembali ke arah Lina.


"Apalagi cinta yang kakak miliki itu merusak. Dan membuat seseorang sakit hati. Cinta itu tulus kak. Jangan sampai cinta yang kakak bilang tulus dari dalam hati berubah menjadi obsesi."


"Kak, Lina memang belum pernah menyukai seseorang. Tapi Lina tahu, cinta yang tulus itu memberi tanpa mengharap. Seperti mbak Rena dan mas Bagas."


"Rena dan Bagas?" tanya Galih merasa tidak paham dengan perkataan Lina.


"Iya, mbak Rena yang selalu ada untuk mas Bagas. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling memberi. Dan aku juga berharap kelak seperti mereka." jelas Lina.

__ADS_1


"Kamu yakin, rumah tangga mereka seperti itu. Kamu hanya melihat dari luar Lin." ucap Galih.


"Sepertinya kak Galih juga mengetahui tentang Intan. Ya pasti tahu lah Lin. Tadi saja mereka mau kerja sama. Gimana sih." batin Lina bicara pada dirinya sendiri.


"Yakin. Bahkan Lina tahu segalanya kak. Tanpa mas Bagas dan mbak Rena cerita pun, kami sudah tahu. Tapi kami tahu batasan kami kak. Apalagi mbak Rena bukan seorang istri yang suka mengumbar aib dari suaminya. Dia perempuan yang benar-benar hebat. Dan aku bisa memastikan, mas Bagas bukan lelaki bodoh yang akan melepaskan perempuan seperti mbak Rena." jelas Lina.


Galih hanya diam mendengarkan perkataan Lina.


"Kak, Lina ke sini mau ambil motor Lina. Oh iya. Habis berapa kak semua biaya nya." tanya Lina.


"Nggak usah. Sudah aku bayar." jawab Galih.


"Yeee, gratis dong. Makasih ya kak." ucap Lina.


"Ayo, aku tunjukkan motor kamu."


Galih berjalan lebih dulu dengan Lina berada di belakangnya.


"Itu motor kamu. Kuncinya sudah ada di sana." ucap Galih.


"Apa gue perlu bilang sama kak Galih jika mbak Rena sedang hamil. Tapi gue takut jika kak Galih melakukan hal yang sama kayak Intan. Tapi kak Galih kan tidak seperti Intan." batin Lina.


"Ada apa Lin?" tanya Galih saat menyadari Lina sedang melamun sambil menatap lurus ke depan.


"Eh, nggak kak." kata Lina.


"Bismillah. Semoga keputusan ku ini tepat." batin Lina.


"Kak, Lina mau ngomong. Serius." ucap Lina dengan raut muka yang serius.


"Apa?" tanya Galih dengan santai.


"Ya sudah, kita masuk lagi jika kamu mau bicara serius." kata Galih.


"Nggak usah kak. Bagaimana kalau kita duduk di sana saja." ucap Lina sambil menunjuk ke sebuah kursi di taman halaman depan rumah Galih.


"Ada apa? Mau ngomong apa?" tanya Galih setelah mereka berdua duduk.


Lina memejamkan matanya sebentar sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba untuk setenang mungkin.


"Semoga gue membuat keputusan yang tepat." gumam Lina.


"Lina tahu, jika kak Galih menyukai mbak Rena." ucap Lina sambil memandang ke arah Galih dan tersenyum.


Perkataan Lina sangat membuat Galih kaget. Bagaimana tidak. Galih mengira Lina tidak mengetahui hal tersebut, makanya Lina tetap bersikap baik pada dirinya selama ini.


"Tapi sekarang mbak Rena sedang hamil kak." ucap Lina kembali.


"Hamil." kata Galih seperti tidak percaya.


"Iya. Hamil. Sudah 6 minggu." jelas Lina.


"Jika kak Galih benar-benar mencintai mbak Rena. Tolong lepaskan mbak Rena kak. Jangan pernah usik keluarga kecilnya." imbuh Lina.


"Kak. Kakak adalah lelaki yang baik. Lina yakin kakak bukan tipikal orang yang senang melihat orang lain bersedih. Apalagi itu adalah orang yang kakak cintai." ujar Lina.


Lina berdiri dan secara tiba-tiba mencium pipi Galih.


"Jika kakak bersedia, Lina bisa memberikan obat untuk menyembuhkan hati kakak yang sedang patah hati." ucap Lina dan langsung pergi dari hadapan Galih.

__ADS_1


"I LOVE YOU KAK." bisik Lina tepat di samping telinga Galih.


BERSAMBUNG.


__ADS_2