
"Mas, tumben pulang jam segini?" tanya Rena sambil mengambil tas yang berada di tangan suaminya.
"Tadi mampir ke rumah ibu dulu."
Bagas berbicara sambil berjalan menuju kamar. Sementara Rena hanya mengekor di belakangnya.
"Aku mau bersihin badan dulu, nanti mas ceritakan semuanya sama kamu."
Bagas menjelaskan pada Rena, karena sepertinya Rena ingin tahu kenapa Bagas mampir ke rumah orang tuanya. Bagas mengetahuinya karena Rena terus menatapnya.
Mendengar perkataan Bagas, Rena tersenyum sambil mengangguk kecil.
Di ciumnya dahi Rena oleh Bagas, kemudian dia beranjak pergi ke kamar mandi. Rena pun mengambil pakaian ganti untuk suaminya dan menaruhnya di tepi ranjang tempat tidur. Kemudian dia keluar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam nanti.
"Mak, nanti tidur sini saja. Di luar sudah mulai gerimis. Dari pada di rumah sendirian. Apalagi kelihatannya mau turun hujan."
Rena menyuruh mak Irah tidur di rumahnya bukan tanpa alasan. Mak Irah yang menempati rumahnya sendiri, membuat Rena khawatir. Apalagi saat hujan seperti ini.
"Iya mbak, nanti mak tidur sini saja."
"Ya sudah, mak istirahat saja dulu. Nanti kalau mau makan malam biar Rena panggil. Kita makan bertiga."
"Tapi mbak."
"Nggak ada tapi-tapian. Sudah sana mak istirahat saja. Ini juga sudah selesaikan."
Mak Irah pun menuruti perkataan Rena. Karena makan malam sudah di siapkan, dia segera ke dalam kamar untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya. Dan Rena pergi ke ruang tengah sambil memainkan ponselnya sambil menunggu Bagas selesai membersihkan badannya.
Saat sedang melihat-lihat desain baju dari butik Dona di ponselnya, tiba-tiba ponsel Rena berbunyi.
GALIH
Itulah nama yang tertera di layar ponsel Rena.
"Kenapa Galih menelpon ku." gumam Rena.
Rena segera menggeser ikon di layar ponselnya dan mengangkat telepon dari Galih.
"Halo, ada apa Lih?"
"Intan, memangnya kenapa dengan Intan?"
"Baiklah, nanti aku kirimkan fotonya."
"Iya, sama-sama."
Rena menutup panggilan telepon dari Galih. Saat dia memandang ke samping, Bagas sudah berdiri di sebelahnya.
"Astaghfirullah mas."
Rena seketika meletakkan tangannya di depan dadanya. Dia terkejut mendapati suaminya sudah berdiri di sampingnya dengan terus memandangi dirinya.
"Mas."
Rena berdiri dan bergelayut manja di lengan Bagas. Kemudian di tarik tubuh Bagas supaya duduk di sebelahnya. Melihat Bagas masih diam dan terus memandanginya Rena merasa takut.
__ADS_1
"Mas, tadi Galih menghubungi ku karena dia meminta fotonya Intan. Sumpah. Rena nggak bohong."
Rena berkata dengan mengangkat jarinya membentuk huruf v. Sedangkan tangan yang satunya masih memegang lengan kekar suaminya.
Rena menampilkan wajah lucunya.
"Kenapa bisa begitu?"
"Rena juga nggak tahu mas, eemmm,,, Rena akan cerita. Tapi mas janji jangan marah ya."
Rena menatap Bagas dengan menggigit bibir bagian bawah. Ada perasaan cemas pada dirinya.
"Mas ingatkan saat aku menjemput mas ke kantor. Saat mobilnya aku pakai buat nganter Lina sama Intan pulang dari rumah sakit. Waktu di parkiran Galih menghampiriku. Dan kita sedikit berbincang. Dari situ dia tahu tentang Intan."
"Apa hubungannya sama kamu?"
"Galih bilang jika dia sedang mencari seseorang yang bernama Intan. Mungkin saja Intan yang aku kenal adalah orang yang Galih cari."
"Lalu?"
"Dia minta aku mengirimi foto Intan ke ponselnya."
"Kenapa bisa Galih punya nomor kamu, bukannya nomornya sudah aku blokir."
"Emmm,,, itu mas. Waktu di parkiran. Iya, waktu di parkiran."
Rena terpaksa membohongi suaminya. Dia tidak mau Bagas marah padanya jika dia mengetahui Rena pernah berangkat kerja dengan Galih.
"Kenapa kamu kasih."
Rena hanya diam tidak menjawab. Dia bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba Bagas berdiri dan meninggalkan Rena.
Rena beranjak dari duduknya dan berlari mengejar suaminya yang menuju kamar.
"Mas,,"
Di dalam kamar, Bagas menghiraukan panggilan dari Rena. Dia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar mengacuhkan Rena.
"Mas, mau ke mana. Maafin aku."
Rena berlari menyusul Bagas. Tangan Rena memegang tangan Bagas. Tetapi di lepaskan oleh Bagas. Bagas pun keluar dari rumah dan hendak masuk dalam mobil. Tetapi Rena menghalanginya dengan berdiri di depan pintu mobil.
"Mas mau ke mana, ini hampir maghrib. Oke, aku salah. Aku minta maaf. Jangan seperti ini mas. Maafin aku. Aku nggak bermaksud menghiraukan perintah kamu."
Rena berkata sambil menyeka air matanya yang sudah menggenang di matanya.
"Mas,,"
"Minggir."
Bagas berkata dengan nada dingin tanpa melihat ke arah Rena.
"Oke, mas jangan keluar rumah. Ini mau maghrib. Lihat, kelihatannya mau turun hujan. Kita masuk ya mas."
Rena mencoba membujuk suaminya. Tetapi percuma. Bagas tetap kekeh ingin meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Minggir. Aku hanya ingin menenangkan diri."
Bagas berkata sambil mendorong pelan badan Rena dari depan pintu mobil.
"Mas, kalau mas marah sama Rena jangan seperti ini. Rena mengaku salah. Rena minta maaf. Mas jangan pergi dengan keadaan marah. Rena nggak mau terjadi apa-apa sama mas."
Rena masih menghalangi Bagas untuk naik mobil dengan memegang gagang pintu mobil.
"Aku bilang minggir Rena!"
Bagas menaikkan nada bicaranya. Dan memandang tajam ke arah Rena. Rena pun kaget mendengar nada bicara dari Bagas.
"Baiklah, mas masuk ke dalam. Biar Rena yang pergi. Mas nggak perlu keluar rumah. Rena yang salah. Maaf."
Rena meninggalkan Bagas yang sedang berdiri di samping mobil. Dia keluar dari pagar rumah dengan berjalan. Sesekali dia menengok ke belakang. Berharap Bagas menghentikannya. Tapi mustahil. Bagas malah masuk ke dalam rumah.
"Bodoh kamu Rena. Bodoh."
Rena berbicara sendiri sambil berjalan dan menghentakkan kakinya di aspal.
"Ya Alloh, aku harus ke mana."
Rena merogoh saku celana dan juga bajunya.
"Ah,, Ternyata kamu memang bodoh Rena. Nggak ada ponsel. Nggak ada uang. Astaga."
Rena terus berjalan tanpa arah sambil terus menggerutu dan sesekali mengusap air mata di pipinya.
"Kenapa juga aku kasih nomor ponselku ke Galih. Sudah tahu hubungan mas Bagas dan Galih nggak baik. Iiihhh."
"Sekarang aku harus bagaimana. Aku harus ke mana. Astaghfirullah,, lebih baik aku cari masjid saja..Ini juga sudah maghrib."
Rena terus berjalan di bawah gerimis. Tujuannya sekarang mencari masjid untuk melaksanakan sholat.
*****
"Mbak Rena sama mas Bagas kok belum makan malam ya."
Mak Irah sedang berada di dapur. Dia melihat makanan di atas meja masih utuh belum tersentuh. Dia kemudian berjalan menuju kamar Rena. Berdiri di depan pintu sambil mendengarkan jika ada suara yang bisa ia dengarkan.
"Sepi. Apa aku ketuk saja ya. Tapi nggak enak. Nanti sajalah. Tunggu sebentar lagi."
Mak Irah memutuskan untuk berjalan kembali ke dapur tanpa mengetuk pintu kamar Rena.
Di dalam kamar, Bagas tengah duduk di kursi yang berada di dalam kamarnya. Pandangan matanya memandang ke arah jendela. Terdengar suara hujan turun. Dia berjalan dan berdiri di dekat jendela.
Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Saat dia termenung, suara ponsel Rena membuyarkan pikirannya. Kemudian dia berjalan mendekat ke tempat ponsel Rena di letakkan.
DONA
"Halo, Rena sedang di kamar mandi."
"Oke, baiklah. Nanti akan aku sampaikan."
Bagas mengakhiri percakapannya dengan Dona dan kembali meletakkan ponsel Rena. Lalu dia berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata. Sebenarnya saat ini Bagas tidak berniat untuk tidur. Dia hanya ingin memejamkan matanya dan menghilangkan emosi yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
Tetapi kenyataan berkata lain. Bagas malah menuju alam mimpinya. Ya,, saat ini dia tertidur pulas di atas ranjangnya.
BERSAMBUNG.