Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 93


__ADS_3

"Tumben bini elo up date status Gas." kata Mira yang tengah melihat ponselnya. Padahal ini masih jam kerja.


Mendengar perkataan Mira membuat semua orang di ruangan mengambil ponsel dan melihat status milik Rena.


"Wiiihh,,, di mana nih Rena. Kelihatannya nggak di rumah ni anak." celetuk Leon.


"Tumben Rena nggak minta izin gue dulu. Biasanya setiap mau pergi dia selalu minta izin." kata Bagas dalam hati.


Galih hanya tersenyum melihat ekspresi dari Bagas. Bagas menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi dia tidak bisa fokus kerja seperti biasa.


"Kenapa Rena nggak ngomong sama gue kalau mau keluar rumah." batin Bagas.


"Kerja kerja,,, jangan nglamun terus." ucap Galih.


"Elo pikir gue ngapain. Tidur." celetuk Mira.


Di pinggir jalan yang sepi, Rena memberhentikan sepeda motornya. Tampak di kanan kiri jalan tertanam pohon cemara yang berjejer rapi.


Di tatapnya jalan panjang sedikit menanjak di depannya. Iya, Rena ingin pergi ke gunung. Di mana dia dulu pernah datang ke sini bersama teman-teman kerjanya sebelum menikah dengan Bagas.


"Selfie dulu lah." ucap Rena mengeluarkan ponselnya dan memotret dirinya sendiri.


Rena berfoto dengan tetap berada di atas sepeda motornya dengan melepas helm. Di biarkan rambutnya tertiup angin.


"Unggah dulu di status IG. Tadi udah di WA, sekarang di IG" gumam Rena.


Di tambah dengan caption.


DI SINI TETAP SEJUK WALAU MATAHARI BEGITU CERAH.


Rena menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan perjalanannya. Hari ini Rena berencana akan berjalan-jalan kemanapun dia inginkan.


*****


"Ternyata dia bisa mengendarai sepeda motor." ucap Angga setelah melihat status yang di unggah Rena.


Angga pun mengomentari status milik Rena.


-- seksi 😘😘--


Bukan hanya Angga yang memberi komentar pada status Rena, tapi masih banyak lagi pengguna sosmed yang berkomentar juga.


Di butik, Dona juga tengah melihat gambar Rena. Dia juga membaca komentar dari Angga.


"Bagaimana caranya, supaya Angga nggak ngejar Rena. Elo memang cantik Ren. Wajar jika banyak yang suka sama elo." batin Dona sambil melihat foto Rena.


"Gue harus bisa membuat Angga menjauhi Rena. Benar kata Rena, gue harus bisa membuat Angga melihat gue. Baru gue bisa bikin dia suka sama gue. Tapi gimana caranya. Rena,,,, tolongin gue." ucap Dona.


"Busyet,,, waow,,, Gas buka ponsel elo. Kayaknya istri elo sedang menikmati harinya deh." ucap Leon.


"Apaan sih." kata Mira.


"IG Rena. Elo buka." ucap Leon.


Bagas dan yang lain langsung mengambil ponsel masing-masing dan membukanya.

__ADS_1


"Gila. Emang Rena bisa naik motor milik elo Gas." kata Mira.


"Widiiiihhh,,, komentarnya udah banyak banget. Gue akui sih. Istri elo memang saek-sai." ucap Leon.


"Sama siapa dia ke sana?" tanya Mira lagi.


Galih melihat foto Rema dan tersenyum. Kemudian dia juga mengomentari foto tersebut.


-- beautiful 😍 --


Sontak Mira dan Leon langsung menatap ke arah Galih setelah melihat komentar Galih. Sementara Bagas acuh dan tidak ingin terpancing dengan tindakan Galih.


"Ada apa dengan elo Ren?" batin Bagas.


Bagas mencoba menghubungi ponsel Rena. Tapi tidak diangkat oleh Rena. Bagas juga menghubungi telepon rumah, tetapi mak Irah berkata bahwa dirinya juga tidak tahu ke mana Rena pergi.


Hati Bagas semakin gundah, di mana istri yang selama ini selalu menuruti semua perkataannya, bahkan jika Rena hendak pergi ke manapun dia selalu minta izin padanya.


Tapi untuk kali ini Rena pergi tanpa meminta izin terlebih dulu. Bahkan Rena tidak memberitahu Bagas ke mana dia akan pergi dan bersama siapa dia pergi.


Tidak lama kemudian Rena memposting foto dirinya kembali. Berlatar pegunungan yang membentang di belakangnya. Dengan Rena duduk di atas batu besar.


Membuat kecantikan Rena bertambah. Apalagi dengan senyum mengembang di bibirnya.


Dia memposting foto tersebut dengan caption.


INGIN MENYENDIRI


"Rena benar-benar. Sekali keluar langsung gila. Sekali memposting foto nggak tanggung-tanggung. Lihat, baru sebentar saja kolom komentar sudah penuh." cerocos Mira dengan antusias.


"Santai Gas, gue cuman bercanda." imbuh Leon karena dirinya mendapat tatapan angker dari Bagas.


Semenjak Rena memposting fotonya di sosmed, Bagas benar-benar tidak fokus kerja. Sesekali dia menelpon Rena. Berharap ada jawaban. Tapi ternyata hasilnya nihil. Rena bahkan mematikan ponsel miliknya.


Siang hari saat jam makan siang, Bagas mendapat makanan yang dintitipkan pada pak satpam.


"Maaf mas, ini tadi ada titipan untuk mas Bagas." ucap pak satpam pada Bagas yang masih berada di ruangannya.


"Makasih pak." ucap Bagas.


"Makan siang gratis nih kita." kata Leon saat melihat beberapa susun rantang di atas meja Bagas.


"Dari siapa Gas?" tanya Mira.


Bagas membuka rantangnya satu persatu dan di taruh di atas meja. Ponsel Bagas berbunyi. Menandakan pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


SELAMAT MAKAN MAS.


"Intan." batin Bagas.


"Kalian makan saja." ucap Bagas pada Leon dan Mira.


"Pasti rasanya enak. Apalagi dari kekasih hati." ucap Galih sambil berjalan meninggalkan ruangan.


Mira dan Leon saling memandang. Sedangkan Bagas menatap kepergian Galih dengan tidak suka.

__ADS_1


"Ini semua dari siapa?" tanya Mira.


"Kalian makan saja semuanya. Gue mau sholat dulu." ucap Bagas.


"Makanan dari siapa sih." ucap Mira penasaran.


"Tidak penting dari siapa. Yang penting kenyang dan gratis." ucap Leon langsung saja mengambil makanan di atas meja kerja Bagas.


"Kenapa nggak kalian habiskan?" tanya Bagas begitu sampai di ruangannya lagi.


"Itu buat elo." kata Leon.


"Gue udah kenyang." ucap Bagas sambil merapikan makanan di atas meja kerjanya.


"Bangkai pasti akan tercium, walau di simpan rapat-rapat." celetuk Galih saat dia masuki ruangan.


Sontak semua menatap ke arah Galih. Tak terkecuali Bagas. Bagas sadar, ucapan Galih di tujukan kepadanya. Rahang Bagas mengeras dengan tangan mengepal sempurna. Tapi dia harus menahan amarahnya. Karena saat ini dia berada di kantor.


*****


"Lin, kamu tahu Rena pergi ke mana?" tanya Dona dengan menghampiri Lina.


"Mungkin sekarang mbak Rena ada di rumah. Memang kenapa mbak?" tanya Lina yang tidak mengerti kenapa Dona bertanya seperti itu pada dirinya.


Dona menyerahkan ponselnya pada Lina.


"Waoww. Ini mbak Rena ada di mana?" tanya Lina sambil menatap ke arah Dona.


"Kalau saya tahu, saya tidak akan bertanya sama kamu." ucap Dona sambil mengambil kembali ponselnya.


"Di telpon saja mbak." ucap Lina.


"Ponselnya nggak aktif." kata Dona.


"Tanya mak Irah saja mbak." ucap Lina.


"Sudah. Mak Irah bilang dia juga nggak tahu." jelas Dona.


Sedangkan Rena di puncak bukit sedang menikmati hembusan angin dan pemandangan dengan alam hijaunya.


"Rasanya sangat tenang." gumam Rena


Sekitar jam 1 siang, Rena turun dari bukit dan mencari tempat ibadah terdekat. Setelah itu dia memutuskan untuk mampir dulu mencari makan sebelum pulang ke rumah.


"Mbak Rena, mbak dari mana saja. Tadi mas Bagas sama mbak Dona telpon ke rumah nanyain mbak Rena." ucap Mak Irah begitu Rena sampai rumah.


"Rena ke kamar dulu ya mak. Mau istirahat." kata Rena.


Bukannya menjawab pertanyaan dari mak Irah, Rena malah langsung menuju ke kamar.


"Kenapa dengan mbak Rena. Biasanya nggak seperti ini." ucap mak Irah dalam hati.


Di dalam kamar, Rena langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2