
Sesampai di kantor Bagas segera menelpon rumahnya. Dia menanyakan keadaan Rena pada mak Irah. Setelah mendengar bahwa istrinya baik-baik saja, ada rasa lega di hati Bagas.
"Kenapa Rena?" tanya Mira karena mendengar percakapan Bagas dengan Mak Irah.
"Kurang enak badan."
Sementara Galih hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Iya, kurang enak badannya kenapa?"
"Badannya agak demam, kecapekan mungkin."
Bagas membuat alasan lain. Karena tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya pada Mira. Apalagi di sana ada Galih.
Galih segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Rena.
"Kamu sakit apa Ren, kata Bagas kamu sedang tidak enak badan."
Setela menulis pesan untuk Rena, Galih langsung mengirim pada Rena. Setelah itu selalu di lihatnya ponsel yang telah di letakkan di mejanya. Tak ada balasan dari Rena.
*****
Rena sedang tidur, badannya masih terasa tidak enak. Beberapa kali ponsel Rena berdering. Tetapi Rena tidak mengangkatnya. Sebenarnya dia mendengarnya, tetapi dia enggan untuk bangun.
Saat tengah hari mak Irah masuk ke kamar Rena. Mak Irah berniat membangunkannya. Karena Rena bilang bahwa dia akan bekerja setengah hari saja.
"Mbak Rena,,,"
Mak Irah berdiri di samping Rena, dan di panggilnya secara pelan. Tapi Rena tidak menjawabnya. Beberapa kali mak Irah memanggil-manggil Rena. Tetapi tetap saja, Rena tidak bergerak sedikitpun.
"Mbak.."
Mak Irah memegang badan Rena. Badan Rena terasa panas. Mak Irah pun merasa khawatir. Dia mencoba menggoyang secara pelan.
Eghh... Rena menggeliat. Mengerjakan kedua matanya secara perlahan.
"Mak,, badan Rena dingin."
Mak Irah segera mengambil selimut di dalam lemari. Kemudian di taruh di atas tubuh Rena. Sebenarnya Rena sudah memakai selimut. Tetapi dia masih bisa merasakan dingin merasuki tubuhnya. Setelah mak Irah memakaikan selimutnya, Rena memejamkan matanya lagi.
Mak Irah bingung, apa yang harus dia lakukan. Mak Irah mencoba menelpon Bagas tetapi tidak di angkat.
"Ya Alloh mas Bagas, kemana sih. Kok gak di angkat."
omel mak Irah karena telpon darinya tidak di jawab.
Mak Irah mencoba menghubungi Bagas lagi, tetapi tetap tidak di angkat.
Saat mak Irah sedang mencoba menghubungi Bagas lewat telepon rumah, ponsel Rena berdering. Segera di letakkan gagang teleponnya.
"Semoga itu mas Bagas."
__ADS_1
Mak Irah bergegas kembali ke kamar Rena. Diambilnya ponsel milik Rena. Dan segera di angkat panggilan telpon dari Dona. Sebelum Dona berbicara, mak Irah sudah berbicara lebih dulu.
"Halo mbak Dona, tolongin mak mbak,,,. Ini mbak Rena sedang sakit. Badannya panas sekali. Mak sudah mencoba menghubungi mas Bagas tetapi tidak di angkat."
"Baik mbak, baik."
Mak Irah menutup teleponnya dan segera mengambil air juga handuk kecil untuk mengompres Rena.
*****
Setelah mendengar keadaan Rena dari Mak Irah, Dona juga panik. Diapun meninggalkan butik untuk pergi ke rumah Rena.
"Sari, Wati,,, nitip butik ya.."
Dona keluar dari ruangan dan langsung menghampiri dua karyawannya.
"Iya mbak."
"Maaf, jika boleh tahu mbak Dona mau kemana?"
Sari memberanikan diri untuk bertanya pada Dona.Karena Dona terlihat sangat panik.
"Rena sakit, sekarang saya mau ke sana."
Setelah menjelaskan dengan singkat, Dona langsung berjalan meninggalkan Sari dan Wati. Dia berjalan dengan sedikit berlari supaya cepat sampai di mobil.
"Mbak Rena sakit apa?"
"Elo ada saja, mbak Dona saja panik kayak gitu, mana mungkin gue tanya." kata Sari.
*****
"Angga."
Entah kenapa di pikiran Dona terlintas tentang dokter tampan itu. Mungkin karena saat ini sahabatnya sedang sakit. Dan dia membutuhkan seorang dokter.
Diambilnya ponsel dari dalam tas. Sebelum itu dia menghentikan mobil di pinggir jalan. Karena akan sangat berbahaya menyetir sambil memainkan ponsel.
"Halo,, Angga. Bisa minta tolong."
"Rena sedang sakit, bisa kan kamu datang ke rumahnya?"
"Ya sudah, nanti biar aku share lock."
Setelah selesai berbicara dengan Angga di telpon, Dona segera mematikan ponselnya dan menaruhnya di dalam tasnya lagi.
Karena saat ini jalanan lumayan lenggang, Dona mengemudikan mobilnya dengan sedikit kencang. Dia ingin cepat sampai di rumah Rena.
*****
Angga membereskan peralatannya dan memasukkan beberapa obat ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Sus, saya keluar sebentar. Ada pasien di luar rumah sakit yang harus saya tangani."
"Baik dok." jawab suster yang berada di samping meja Angga dengan posisi berdiri.
"Aneh, siapa yang sakit. Kelihatan khawatir banget. Lagi pula ini masih jam kerja. Keluar rumah sakit seenaknya. Apa pasiennya tidak bisa di suruh kemari. Yang punya rumah sakit sih, jadi bebas." gumam sang suster sambil membersihkan beberapa lembar kertas di atas meja Angga setelah Angga meninggalkan ruangannya.
Setelah mendengar Rena sakit, entah kenapa Angga merasakan khawatir. Mungkin karena dia tahu, semalam Rena sempat kehujanan.
"Pantas, tadi di telpon tidak di angkat." kata Angga sambil menyetir.
Ternyata selain Dona, tadi Angga juga sempat menelpon Rena. Ponsel Angga berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk dalam ponselnya. Dia menepikan mobilnya dan berhenti sejenak. Di lihatnya layar ponsel miliknya. Ternyata Dona mengirimi dirinya alamat rumah Rena.
"Buang-buang waktu saja." gumam Angga.
Di masukkan kembali ponselnya ke dalam jas miliknya.Dona tidak tahu bahwa Angga sudah mengetahui alamat rumah dari sahabatnya tersebut maka dari itu dia memberitahu alamat Rena pada Angga.
Angga terlebih dulu sampai ke rumah Rena dari pada Dona. Karena jarak antara rumah sakit dan rumah Rena tidak terlalu jauh.
Setelah Angga sampai di depan pintu, di ketuknya pintu rumah Rena di barengi dengan ucapan salam.
"Assalamu'alaikum."
Mak Irah yang mendengar dari dalam rumah suara salam lari tergopoh-gopoh menuju pintu.
"Wa'alaikum salam." ucap mak Irah sambil membuka pintu.
"Saya Angga, dokter yang akan memeriksa mbak Rena. Dona yang menyuruh saya kesini."
Angga menjelaskan pada mak Irah sebelum mak Irah bertanya. Karena terlihat jelas di wajah mak Irah yang menunjukkan kebingungan dengan datangnya Angga dengan memakai baju dinasnya. Yaitu jas putih yang menandakan bahwa dia dokter.
"Alkhamdulillah."
Ada rasa lega di hati mak Irah. Tanpa berbicara mak Irah langsung menarik tangan dokter Angga dan membawanya ke kamar Rena. Anggapun hanya diam dan mengikuti mak Irah tanpa melepaskan cekalan tangan dari mak Irah.
"Ayo dok, cepat. Badan mbak Rena panas sekali. Mak khawatir."
Mak Irah tetap memegang tangan dokter Angga sambil berbicara. Dia bahkan tidak melepaskan tangan dokter Angga setelah sampai di kamar Rena.
"Dok, cepat periksa mbak Rena."
" Iya, tapi sebentar. Tolong tangan saya."
Angga berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya yang di cekal mak Irah.
"Astaghfirullah, maaf dok, maaf."
Mak Irah langsung melepaskan cekalan tangannya dan langsung mengatupkan ke dua telapak tangan untuk meminta maaf.
"Iya, tidak apa-apa." jawab dokter Angga sambil tersenyum
BERSAMBUNG
__ADS_1