
"Dia pikir dia siapa. Berani marahin aku. Akan aku pastikan. Anak laki-laki kesayangannya akan menjadi milik seorang Intan. Dan pastinya akan menuruti semua perintahku. Termasuk menjauh dari nenek lampir kayak kamu." kata Intan geram.
Sementara di dalam kamar, Rena tengah bersiap untuk pergi ke butik.
"Mak,, Rena berangkat dulu ya. Titip rumah."
"Iya mbak. Hati-hati di jalan." jawab mak Irah tanpa melihat ke arah Rena.
Karena mak Irah masih sibuk membersihkan dapur.
"Oke mak, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab mak Irah.
Rena berangkat bekerja dengan mengendarai mobil. Matanya masih terlihat sembab, karena baru saja menangis.
Sesampainya di butik, Rena menyapa teman-temannya. Walau dengan mata yang sembab, ia tetap terlihat cantik.
"Hai,,hai,,hai,,," sapa Rena dengan senyumnya.
"Mbak Rena." teriak Wati dan Sari bersama.
"Maaf ya mbak, kita nggak jenguk mbak Rena." ucap Wati merasa tidak enak.
"Iya mbak, soalnya butik selalu ramai." timpal Sari.
"Iya nggak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku tidak masuk kalian jadi kerepotan." ucap Rena.
"Ya nggak lah mbak. Mbak Rena nggak salah. Kan mbak Rena cuma gantiin Intan saja." kata Wati.
"Mbak Rena baik-baik saja kan?" tanya Wati yang melihat mata Rena sembab.
Rena yang mengerti maksud pertanyaan Wati, hanya bisa menjawabnya dengan kebohongan.
"Baik, aku tadi habis tidur sebentar. Terus bangun langsung mandi. Dan juga nggak pake make-up." kata Rena beralasan.
"Oh iya mbak, Intan bagaimana. Apa masih tinggal di rumah mertua mbak Rena?" tanya Sari.
"Masih." jawab Rena singkat.
"Gimana sih, udah lama kok belum sembuh-sembuh. Apa jangan-jangan keenakan tinggal di sana lagi." kata Sari.
"Mungkin masih sedikit ada rasa sakit di bagian badannya." kata Rena.
"Dasar manja. Padahal udah di telpon sama mbak Dona. Dia bilang sih mau masuk kerja lagi. Tapi sampai sekarang. Boro-boro masuk kerja. Kabar aja nggak ada." ucap Sari.
"Ya sudah, biarkan saja. Oh iya, Dona sudah datang?" tanya Rena.
"Sudah mbak. Kalau mbak mau bertemu mbak Dona dulu nggak apa-apa. Biar kasir aku yang jaga." kata Sari menawarkan diri.
"Nggak, cuma tanya. Maaf ya Sari yang cantik. Kasir aku ambil alih lagi ya." kata Rena sambil masuk ke dalam kasir.
"Mbak Rena, tahu saja kalau aku cantik." kata Sari sambil berjalan keluar kasir dengan gaya jalan yang di buat-buat.
"Amit-amit." ucap Wati sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.
Rena tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka berdua.
Tanpa Rena sadari sepasang mata memperhatikan dirinya dari luar kaca butik.
"Cantik juga ternyata. Awalnya aku ingin memberi dia peringatan keras. Tapi melihatnya seperti itu jadi tidak tega. Lebih baik aku berikan saja dia kenikmatan." katanya sambil tersenyum menakutkan.
"Cantik, kita akan bermain-main sebentar lagi. Dan pastinya, permainan ini tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Seandainya saja kamu tidak ikut campur urusanku, pasti hidupmu akan damai. Tapi kamu sudah ikut campur dalam hubunganku dengan Dona." katanya kemudian.
__ADS_1
"Dona ada?" tanyanya setelah berada di depan Rena.
"Mas Tio. Dona ada di ruangannya." jawab Rena.
Mendengar jawaban dari Rena, Tio langsung melenggang menuju ruangan Dona.
"Mbak Mira bilang, Dona mau bertunangan dengan Angga. Tapi kenapa dia masih ke sini, menemui Dona." batin Rena sambil melihat Tio berjalan menuju ruangan Dona.
Tidak lama setelah itu, Tio sudah keluar dari ruangan Dona. Dia lewat di depan Rena begitu saja, tanpa menegur bahkan melihat ke arah Rena.
"Kenapa sudah pergi. Mereka membicarakan apa. Tumben cuma sebentar." batin Rena.
Rena bekerja seperti biasa. Baru setengah hari, butik sudah lumayan ramai.
"Mbak, biar Sari gantikan dulu. Mbak ke belakang, istirahat dulu." kata Sari.
"Kamu sama Wati sudah istirahat?" tanya Rena.
"Sudah mbak, tinggal mbak Rena. Lagian ini sudah jam satu lebih low mbak." ucap Sari.
"Oke. Aku tinggal ya."
Sari hanya mengangguk. Dan Rena pergi ke belakang untuk makan dan sholat.
"Ren,,, kangen."
Baru sampai di belakang, Rena sudah di sambut rentangan tangan dari sahabatnya. Dona.
Mereka berpelukan sembari menggerakkan badan ke kanan dan kiri.
"Maaf, tadi nggak sempat menemui kamu. Aku sedikit sibuk." ucap Dona sambil melepaskan pelukannya dengan Rena.
"Iya nyonya." jawab Rena.
"Nggak bisa Don, butik kamu sedang ramai. Kasihan Sari sama Wati." tutur Rena.
"Iya sih. Kemarin aku sempat telepon Intan. Katanya mau kerja lagi. Padahal aku berniat mau cari karyawan lain saja." jelas Dona.
"Don, jika aku memasukkan seseorang buat kerja di butik kamu bagaimana?" tanya Rena.
"Siapa?"
"Lina, adiknya mas Bagas. Sekarang dia lagi nganggur di rumah." jelas Rena.
"Boleh, kamu suruh saja datang ke sini." ucap Dona.
"Makasih cantik. Maaf ya Don, aku harus sholat dulu." kata Rena.
"Oke. Nanti kita ngobrol ya. Butik mau aku tutup sore saja. Ada yang mau aku ceritakan sama kamu." kata Dona.
"Siap bu bos. Yang punya mah,,,, bebasssss." kata Rena sambil berjalan pergi meninggalkan Dona.
Saat jam makan siang, Bagas mengecek ponsel miliknya. Karena dari tadi, dia tidak memegang ponsel sama sekali. Pekerjaan yang menumpuk membuat dia tidak bisa bersantai, walaupun hanya sebentar.
"Intan."
Bagas membuka pesan yang di kirim oleh Intan.
Mata Bagas membulat sempurna.
"Kenapa aku sampai lupa dengan jas yang aku pakai kemarin." gumam Bagas frustasi.
"Apa maksud pesan Intan ini."
Bagas membacanya berkali-kali.
__ADS_1
"Jangan-jangan, Intan mengantarkannya ke rumah." batin Bagas.
Bagas segera menelpon nomor rumah. Dia bertanya pada mak Irah, apakah ada tamu tadi pagi.
"Tadi pagi memang ada yang ketuk pintu, tapi mbak Rena yang membuka. Jadi mak tidak tahu mas."
Jawaban dari mak Irah tidak bisa membuat Bagas tenang.
"Gas, elo kenapa. Kantin yuk. Keburu jam istirahat selesai." ajak Leon.
Bagas dan Leon berjalan menuju kantin. Setelah memesan makanan mereka mencari tempat duduk.
"Elo kemarin kemana?" tanya Leon setelah duduk.
"Ke mana apanya?" kata Bagas.
"Ya elahhh,,, Istri elo kemarin sempat telepon gue brow. Nanyain elo." kata Leon.
"Ooo,, kemarin gue ketemu ma kenalan gue, habis itu gue ngobrol sampai lupa waktu."
"Serius?" tanya Leon seperti menyelidik.
"Buat apa gue bohong." jawab Bagas.
Saat sedang makan, ponsel Bagas berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Diambilnya ponsel yang berada di dalam saku kemejanya.
INTAN
Bagas segera membuka pesan yang dikirim oleh Intan.
SAMPAI KETEMU SAYANGKU
AKU TUNGGU KAMU DI RUMAH.
Bagas mengerutkan dahinya membaca pesan dari Intan. Dia merasa bingung, apa maksud Intan mengirim pesan seperti itu pada dirinya.
Tidak mau ambil pusing, Bagas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Dan melanjutkan makan siangnya.
"Siapa?" tanya Leon.
"Nomor nggak di kenal. Ngasih hadiah seratus juta. Kamu mau, ambil saja kalau mau." ucap Bagas.
"Bocah edan." kata Leon sambil meneruskan menyuapkan makanan di mulutnya.
"Istri elo sudah pulang?" tanya Bagas.
"Sudah, pulang ke rumah orang tuanya." jawab Leon santai.
Sejak melahirkan, istri Leon masih tinggal di rumah orang tuanya.
"Siapa yang ngurusin elo?" tanya Bagas lagi.
Leon menghentikan makannya dan melihat ke arah Bagas. Kemudian tersenyum penuh makna.
"Bagaimana kalau sementara gue nginep di rumah elo. Gue kangen sama masakan Rena." ucap Leon.
"Sinting."
Bagas melempar kerupuknya ke arah Leon.
Leon pun menangkapnya dan tertawa sambil memakan kerupuk yang di lemparkan Bagas pada dirinya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1