Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 42


__ADS_3

Bagas kembali menelpon rumahnya. Tetapi tidak ada yang mengangkat. Dia kembali menelpon lagi, kali ini mak Irah yang mengangkatnya.


"Halo mak, ada apa tadi menelpon?"


Mak Irah menceritakan keadaan Rena.


" Lalu sekarang Rena bagaimana?"


Setelah mendapat kabar tentang keadaan istrinya, Bagas menjadi tidak fokus bekerja. Sebenarnya dia ingin pulang, tetapi tidak mungkin. Karena pekerjaan Bagas masih banyak. Apalagi Leo belum masuk kerja. Menjadikan pekerjaan Bagas dan teman-temannya sedikit bertambah.


*****


"Mak, di mana Rena?"


Begitu sampai rumah, Bagas langsung menanyakan keberadaan istrinya. Setelah mendapat jawaban dari mak Irah, Bagas bergegas pergi ke kamar.


"Sayang."


Begitu sampai di dekat Rena, Bagas mencium kening istrinya.


"Maaf, mas tadi sedang rapat. Ponselnya aku tinggal di laci meja kerja."


Bagas memeluk Rena yang sedang duduk di ranjang.


"Iya nggak apa-apa, lagian cuma panas biasa kok mas."


Rena melepaskan pelukan dari suaminya. Dan menyuruh Bagas untuk membersihkan badan dulu.


"Masih sakit?" tanya Bagas setelah keluar dari kamar mandi.


"Nggak, cuma di kepala terasa sedikit berat." ucap Rena sambil memijat pelan keningnya.


Bagas memakai bajunya, kemudian duduk di samping Rena.


"Bagaimana, lebih enak?" tanya Bagas sambil memijat kepala Rena.


Rena tidak menjawab pertanyaan dari suaminya. Dia memejamkan mata menikmati pijitan dari Bagas.


"Sebelah sini di pijat juga apa tidak?"


Tangan Bagas sudah berada di depan dada Rena. Menyentuh pa**dara istrinya.


"Maaass,,,."


Rena memegang tangan Bagas dan menariknya ke bawah. Bagas hanya tertawa.


"Emm,,, mas tahu. Kamu tidak mau mas sentuh yang atas karena maunya mas sentuh yang bawahkan."


Tangan Bagas sudah berada di dalam selimut dan mencoba menyentuh donat Rena.


"Mas,,,,!!"


Rena membuka mata dan melotot pada Bagas. Sedangkan Bagas hanya tertawa. Kemudian memeluk Rena dari belakang.


" Badan kamu masih sedikit panas sayang."


Bagas meletakkan kepala di pundak Rena.

__ADS_1


"Makanya jangan nempel-nempel, nanti ketularan low."


Rena mencoba melepas tangan Bagas yang melingkar di depan perutnya. Tetapi sia-sia. Bagas tak mengendorkan tangannya sama sekali.


"Nggak apa-apa ketularan. Nanti kita berdua bisa tidur seharian."


Bagas semakin mengeratkan pelukannya. Kepalanya masih berada di pundak Rena dengan wajahnya menghadap ke samping. Tangan Bagas mengambil rambut yang terurai di pipi Rena, dan membawanya ke belakang telinga.


Kini hidung Bagas sudah menempel di pipi Rena.


"Mas, Rena bau. Seharian nggak mandi."


"Iya, kamu bau. Tapi mas suka."


Rena hanya senyum-senyum. Sudah lama Bagas tidak semanja ini padanya. Rasanya sakit uang tadi ia rasakan telah hilang.


Di balik pintu kamar Rena, mak Irah mendengar percakapan mereka. Senyum merekah tampak mengembang di bibirnya. Mak Irah ikut bahagia saat mendengarkan obrolan mereka.


"Terimakasih ya Alloh, jagalah selalu mbak Rena dan mas Bagas. Jangan sampai ada yang memisahkan mereka." batin mak Irah.


"Mas,, Rena boleh tanya."


"Tanya apa."


Rena menanyakan hubungan Bagas dengan Mira. Entah kenapa masih ada yang mengganjal dalam pikiran dan juga hatinya.


"Aku hanya takut, mas meninggalkan aku."


"Kami hanya rekan kerja. Tidak lebih. Kenapa kamu bisa berpikir sampai sejauh ini, hemm."


Bagas mengelus lembut rambut Rena. Sebenarnya Rena ingin mengungkapkan semua unek-unek di hatinya. Tapi ada perasaan takut yang menyeruak di hatinya.


"Apa tidak ada rasa percaya di hati kamu untuk mas Ren?"


Bagas masih dalam posisinya memeluk Rena dari belakang.


"Waktu itu Dona pernah cerita, jika istri dari lelaki yang di cintanya mengikhlaskan hubungan mereka. Saat itu aku tidak tahu bahwa dia adalah mbak Mira. Setelah tahu aku juga sempat shock. Suatu hari ada seseorang yang mengirimi foto mas dengan mbak Mira. Itupun tidak hanya sekali atau dua kali."


Bagas hanya diam mendengarkan cerita dari istrinya.


"Aku berpikir, pantas jika mbak Mira mengizinkan suaminya berhubungan dengan Dona. Karena dia telah mempunyai pria lain."


"Dan kamu berpikir, pria itu adalah aku." Bagas motong perkataan Rena.


"Kamu ada-ada saja. Mana mungkin aku meninggalkan istriku yang cantik dan seksi ini."


Tangan Bagas memegang kedua pipi Rena dan mengarahkan ke wajahnya. Saat ini posisi kepala Rena menengok ke samping. Dimana Bagas meletakkan kepalanya di pundak Rena.


Di kecupnya sebentar bibir Rena.


"Panas,,, bibir kamu panas sayang."


"Mas Bagas,, ihhh. Istri sedang sakit juga. Di ledekin terus." rajuk Rena.


"Kenapa kamu berpikir sejauh itu."


"Kata Dona, kemungkinan mbak Mira akan berpisah. Itu artinya mbak Mira.."

__ADS_1


Rena tidak melanjutkan perkataannya. Ada rasa sesak tiba-tiba menghimpit jantungnya. Serasa Rena tidak bisa bernapas. Air matanya sudah jatuh di pipi.


"Sayang,, kenapa?"


Bagas berdiri dan beralih duduk di depan Rena. Di usapnya air mata di pipi Rena.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Apalagi pikiran seperti itu. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu. Nanti kamu bisa sakit."


"Ya sudah, kita sholat dulu. Kamu wudhu dulu sana. Nanti gantian aku."


Rena turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


"Ternyata selama ini Rena berpikir aku mempunyai hubungan dengan Mira. Sebaiknya mulai sekarang aku menjaga jarak darinya." batin Bagas.


Bagas tidak ingin Rena berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.


Saat menunggu Rena, ponsel Bagas berdering.


INTAN..


"Ada apa Intan telepon?"


Bagas mengangkat telepon dari Intan.


"Halo Intan, ada apa?"


Intan meminta tolong pada Bagas. Dia beralasan kakinya tiba-tiba merasakan sakit. Sedangkan di rumah sedang tidak ada orang. Ibu Anis dan pak Ramli sedang menghadiri acara di desanya. Sedangkan Lina pergi ke luar membeli sesuatu.


" Maaf Tan, aku tidak bisa. Rena juga sedang sakit. Tidak mungkin aku meninggalkannya di rumah. Sebaiknya kamu tunggu Lina pulang saja."


Bagas menutup ponselnya. Rena keluar dari kamar mandi. Sekarang berganti Bagas masuk dalam kamar mandi, dan Rena menyiapkan peralatan sholat.


"Siapa yang telpon tadi mas?"


"Intan."


"Intan,, kenapa?"


"Katanya kakinya sedang sakit. Di rumah tidak ada orang. Ya sudah, sekarang kita sholat dulu."


*****


Aaaaaa.....


Intan berteriak sambil membanting ponselnya ke lantai. Dan mengacak-acak kamarnya.


"Rena, Rena, Rena. Apa sih spesialnya. Wanita mandul. Apa yang di lihat mas Bagas darinya."


Saat ini rumah pak Ramli sedang sepi. Hanya ada Intan sendiri.


"Lihat, lebih cantik aku. Lebih seksi aku. Dan pastinya lebih menarik aku dari pada Rena. Aku juga lebih muda." kata Intan sambil menghadap ke arah cermin.


"Apa yang harus aku lakukan supaya mas Bagas bisa melihat ku. Supaya mas Bagas tahu, aku mencintainya, bahkan lebih dari Rena."


Intan memandang dirinya di cermin. Dia sedang memikirkan sesuatu. Dan yang pasti itu untuk mendapatkan hati Bagas.


Terdengar suara pintu terbuka. Intan segera mengunci pintu kamarnya dan merapikannya karena sempat ia acak-acak karena kesal dengan penolakan Bagas.

__ADS_1


Di pungutnya ponsel yang sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Dan di simpannya di dalam laci. Setelah kondisi kamarnya terlihat rapi di bukanya kuncinya. Kemudian Intan segera merebahkan badannya di atas ranjang.


BERSAMBUNG


__ADS_2