
Intan terus menggesek-gesekkan benjolan di depan dada miliknya pada dada Bagas. Sementara ponsel Bagas terus berdering di bawah. Karena Bagas menaruh tasnya di meja ruang tamu. Dan itu terletak di lantai bawah. Sedangkan saat ini mereka ada di atas. Tepatnya lantai dua.
"Bagaimana ini. Ponsel milik teman non Intan berbunyi terus." kata salah satu pembantu.
"Sudah, biarkan saja. Kita kembali bekerja. Jangan ganggu mereka. Bisa-bisa kamu nanti malah di pecat. Kayak nggak tahu saja watak anak majikan kita."
Mereka kembali bekerja dan menghiraukan bunyi ponsel Bagas.
Dalam pelukan Bagas, tangan Intan mengambil sebutir obat di sakunya. Dan memasukkan ke minuman Bagas. Posisi mereka saat ini duduk di sebelah meja. Jadi Bagas tidak tahu jika Intan memasukkan sesuatu ke minumannya.
Intan melihat pil tersebut sudah larut. Dia tersenyum licik.
"Jika dengan cara ini bisa lebih cepat mendapatkan kamu. Kenapa tidak." batin Intan.
Intan melepas pelukannya. Dan mengambil air minum untuk di berikan pada Bagas dan dirinya sendiri.
"Ternyata dia korban perceraian orang tua. Pantas, jika dia kekurangan kasih sayang." batin Bagas.
"Ini mas minum dulu." kata Intan menyodorkan minuman pada Bagas.
"Apa kamu tidak punya saudara di sini?"
Intan hanya menggelengkan kepala.
"Kamu bisa menghubungi saya jika saudara tiri kamu macam-macam."
"Terimakasih mas."
"Kamu dan Lina kan berteman. Sudah sepantasnya saya juga menganggap kamu seperti adik saya." kata Bagas.
Jlebb....
"Adik,, enak saja. Mana ada gue mau jadi adik kamu mas. Gue mau lebih." batin Intan.
"Terimakasih." kata Intan.
"Aku harus segera pulang. Pasti Rena sedang menungguku."
Bagas meminum minumannya dan berdiri. Tetapi di tahan oleh Intan.
"Mas, ini hampir mahghrib lo. Lihat, sudah jam setengah enam. Sebentar lagi pasti pasti adzan. Lebih baik sholat dulu di sini." kata Intan.
Entah mengapa Bagas merasakan tubuhnya panas.
"Kenapa mas?" tanya Intan.
"Pasti obatnya sudah bereaksi." batin Intan.
Tanpa banyak bicara Intan mendekat dan melepas jas yang Bagas kenakan.
"Biar nggak terlalu panas." kilah Intan.
"Kenapa ya, perasan tadi baik-baik saja. Kenapa badanku terasa aneh." kata Bagas.
"Mungkin kecapekan mas."
Intan sudah mulai meraba dada Bagas. Mendapat sentuhan dari Intan, apalagi dengan pengaruh obat membuat Bagas merasakan sentuhan tersebut begitu berbeda.
__ADS_1
Intan langsung mencium bibir Bagas. Sungguh Intan tidak tahu tempat. Karena saat ini mereka berada di tempat terbuka. Dan di rumah ada beberapa pembantu yang kapan saja bisa melihat adegan mereka.
Tangan Intan mulai membuka kancing baju Bagas. Setelah terbuka dengan sempurna dia melempar baju Bagas ke lantai.
Di tangga ada seorang pembantu yang hendak naik. Tapi melihat pemandangan tersebut, dia kembali turun.
"Ada apa, kenapa turun lagi?"
"Jangan sampai ada yang ke atas. Mereka sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas di lihat oleh mata kita."
Pembantu yang lain paham maksud temannya.
"Dasar, tidak tahu tempat."
Intan terus mencium bibir Bagas, dan tangannya terus menggerayangi seluruh badan Bagas.
Bagas yang sudah di beri obat pun membalas ciuman dari Intan. Mendapat balasan dari Bagas, Intan langsung melepas dress yang ia kenakan. Menyisakan pakaian dalamnya.
Di tuntunnya Bagas untuk duduk di kursi tanpa melepas ciuman mereka. Setelah itu, Intan duduk di atas pangkuan Bagas. Tangan Intan meraih pengait branya dan membukanya.
Setelah terbuka sempurna, Intan menghentikan ciumannya. Dan memindahkan kepala Bagas pada benda kenyal di dadanya.
Intan membusungkan dadanya. Dan Bagas menghisap butiran kecil di ujungnya, seperti bayi yang sedang menyusu.
Sekali ******* Intan keluar dari mulutnya. Tangan Intan tidak tinggal diam. Dia melepaskan satu-satunya yang masih menempel di badannya, tanpa menghentikan aktifitas Bagas.
Kini di tubuh Intan sudah tidak tersisa benang sehelaipun. Intan mengambil tangan kanan Bagas dan membawanya ke belakang tubuhnya. Suara kenikmatan Intan menggema di ruangan terbuka tersebut.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Intan meraih tangan kanan kiri Bagas dan mengarahkannya pada donat miliknya yang sudah basah.
Entah, karena mungkin sudah meminum obat tersebut, tangan Bagas bergerak di sekitar donat milik Intan. Berkali-kali Intan mende**h merasakan nikmat karena permainan tangan Bagas.
Di rumah, Rena tampak gelisah. Berkali-kali dia menghubungi Bagas, tetapi tidak di angkat.
Akhirnya Rena menghubungi Leon. Dan ternyata Bagas sudah pulang sejak tadi.
"Terimakasih Yon." ucap Rena sambil mematikan sambungan teleponnya.
Telepon Rena berbunyi. Dia berpikir mungkin Bagas menelponnya. Ternyata bukan.
LINA
Lina menelponnya ingin menanyakan kabar Rena. Dan setelah itu, Lina bertanya tentang Bagas.
"Mas Bagas belum pulang Lin. Dari tadi mbak hubungi tapi tidak diangkat." ucap Rena dengan nada khawatir.
"Ya sudah ya Lin, mbak tutup dulu telponnya."
Rena duduk di kursi teras rumah sambil memandang ke depan. Kecemasan jelas terpancar dari matanya.
Di rumah pak Ramli, Lina mendengus kesal.
"Kemana mas Bagas dan Intan pergi."
Sebelum menghubungi Rena, Lina terlebih dulu menghubungi Intan. Tetapi nomor ponsel Intan tidak aktif. Dia mempunyai pemikiran, mungkin Intan saat ini bersama dengan kakaknya.
"Lihat saja kalian."
__ADS_1
Lina mengambil tasnya dan hendak pergi. Tetapi di tegur oleh pak Ramli.
"Mau kemana, ini hampir maghrib. Tidak baik, keluar rumah di waktu seperti ini." kata pak Ramli melihat Lina.
Intan menoleh ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul lima lebih lima puluh menit. Menandakan sebentar lagi adzan manghrib berkumandang.
Tanpa menjawab, Lina membalikkan badan dan masuk lagi ke dalam kamar.
"Ya Alloh, di tanya orang tua. Bukannya jawab, malah nylonong pergi." kata bu Intan.
"Sudah, yang terpenting dia tidak keluar rumah di waktu seperti ini." ucap pak Ramli.
Di dalam kamar, Lina uring-uringan.
"Apa aku harus menceritakan pada bapak dan ibu tentang kekhawatiran ku. Tapi mana mereka percaya. Tidak ada bukti."
Lina duduk di tepi ranjangnya dan melempar ke kasur tas selempang kecil yang tadi dia selempang kan di pundaknya.
Adzan maghrib mulai berkumandang.
"Lin, sholat dulu. Di tunggu bapak di belakang." kata bu Anis di depan pintu kamar Lina.
"Iya bu." jawab Lina.
Intan dan Bagas masih melakukan kegiatan panas mereka. Mungkin Tuhan masih menyayangi Bagas. Saat Bagas mendengar suara adzan, Bagas langsung melepaskan tubuh Intan.
"Astaghfirullah.. Apa yang aku lakukan." ucap Bagas melihat badannya sudah setengah telanjang.
Bahkan sabuk dan resleting celananya terbuka. Di lihatnya Intan tanpa sehelai benang di tubuhnya.
Bagas langsung membetulkan celananya dan mengambil pakaiannya. Kemudian lari ke bawah.
"Mas,,,,,!" teriak Intan.
Beruntungnya mereka belum sempat melakukan hubungan suami istri.
Bagas mengambil tasnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah Intan.
Pembantu di rumah Intan hanya diam dan melihat Bagas.
Sepeninggal Bagas, Intan berteriak dan mengamuk. Semua barang yang ada di depannya di lemparkannya.
"Kapal pecah, kapal pecah." ucap seorang pembantu.
"Biarkan saja sampai puas dulu. Setelah puas pasti dia pergi lagi."
"Kira-kira kenapa ya?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa laki-laki tadi tiba-tiba pergi. Dan non Intan berteriak."
"Mana aku tahu."
Di rumah, Rena melaksanakan sholat sendirian.
"Mas, kamu ke mana sih." kata Rena sambil merapikan mukenanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.