Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 43


__ADS_3

tok,, tok,, tok,,


Lina mengetuk pintu kamar Intan.


"Tan, ini titipan kamu." teriak Lina dari luar kamar Intan.


Sebenarnya tadi Lina keluar rumah untuk membeli makanan. Dia sedang ingin makan bakso. Sedangkan Intan menitip bakso juga padanya.


"Iya.." Intan membuka pintu kamarnya.


Mereka makan bersama di ruang makan.


"Ibu sama bapak belum pulang Tan?"


"Belum."


"Kamu kenapa?" tanya Lina pada Intan.


Karena Lina melihat raut wajah Intan tampak berbeda dengan saat dia tinggalkan tadi.


"Nggak kenapa-napa. Sudah ya, aku mau tidur dulu. Kakiku terasa agak sakit."


"Ooo,, ya sudah. Lebih baik kamu istirahat saja dulu. Biar mangkuknya nanti aku yang cuci."


"Maaf merepotkan. Terimakasih ya."


Intan pergi dari ruang makan. Lina menikmati bakso yang baru saja di belinya.


"Kok lama bapak sama ibu perginya. Keburu dingin baksonya nanti."


Intan makan sambil mengomel. Karena tadi dia belikan bakso untuk orang tuanya. Dia mengira mereka sudah pulang.


*****


"Apa keadaannya sudah lebih baik."


Angga berada di dalam ruang kerjanya. Dia sedang duduk dengan memegang ponsel. Tertera nama RENA di layar ponselnya.


Entah kenapa terbesit di pikiran Angga tentang Rena. Ada perasaan antara penasaran dan khawatir mengenai Rena.


" Sial,,, kenapa akhir-akhir ini aku malah selalu kepikiran istri orang. Benar-benar gila. Padahal dia juga tidak terlalu cantik."


" Tapi dia menarik, smart dan juga..."


Angga tidak melanjutkan perkataannya. Sebelumnya dia tidak pernah tertarik dengan perempuan. Karena biasanya perempuan yang mengejar dirinya.


Di letakkan ponselnya di atas meja kerja. Angga menyandarkan badan di kursinya. Kepalanya di senderkan dengan menghadap ke atas.


Ponsel yang baru saja dia letakkan di meja tengah berdering.


DONA


Di letakkan kembali ponselnya. Tidak ada minat Angga untuk mengangkat telepon dari Dona. Angga membiarkan ponselnya terus berdering. Sampai akhirnya dering ponselnya berhenti.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ponselnya berdering lagi. Tetapi Angga tidak melihatnya. Dia berpikir pasti Dona yang menelponnya kembali. Dan dugaan Angga memang benar.


Pintu ruang kerja Angga terbuka dari luar. Angga pun langsung menengok ke arah pintu.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dari Dona?"


Mama Angga langsung mengomel begitu membuka pintu. Tetapi Angga hanya diam sambil menatap sang mama.


" Angga, tadi Dona telpon mama. Dia nanyain kamu. Dia bilang telpon ke kamu, tapi tidak kamu angkat."


"Angga sedang sibuk ma."


"Sibuk apa, mama lihat kamu hanya duduk-duduk saja." ucap mama Angga sambil melipat ke dua tangannya di depan dadanya.


"Oke, baiklah."


Angga paling malas berhadapan dengan mamanya. Karena dia tahu, pasti akan kalah jika berdebat dengan sang mama.


Angga mengambil ponselnya dan menghubungi Dona. Sementara mamanya masih berdiri di samping meja kerja Angga.


"Ada apa."


"Ok."


Angga menutup telponnya.


"Ya ampun, ini anak. Kenapa nggak bisa romantis sih. Kalau begini caranya kapan kamu akan membuat Dona cinta sama kamu."


Angga berdiri dan pergi meninggalkan mamanya yang masih mengomeli dirinya.


"Apa ma,,, Angga mau bertemu Dona." Angga berhenti saat mamanya memanggil dirinya.


"Ooo,,,, iya sayang. Silahkan, titip salam buat Dona dari mama ya."


Mama Angga mendekati anaknya dan mencium ke dua pipinya.


*****


Dona telah menunggu kedatangan Angga di parkiran butiknya. Saat ini butik telah sepi. Karena butik sudah tutup sekitar satu jam yang lalu.


Begitu Angga sampai di parkiran Dona mengajak Angga masuk kedalam ruangannya.


"Ada apa?"


Tanya Angga dengan ekspresi datarnya begitu sampai di dalam butik. Dona mempersilahkan Angga duduk terlebih dulu.


"Apa keputusan kamu tentang perjodohan ini."


"Sudah aku bilang dari awal. Ter-se-rah kamu."


"Mana bisa, kamu harus punya pendapat juga dong."


Dona bicara sambil berdiri dari duduknya. Ada rasa kesal terhadap Angga. Karena dari awal perjodohan mereka, Angga tidak menolak atau menerima perjodohan ini.

__ADS_1


"Kamu tahu, orang yang aku cinta menanyakan tentang kelanjutan hubungan kita. Seandainya kita batalkan perjodohan ini, dia mau bercerai dengan istrinya."


"Jika tidak."


Dona tidak menjawab pertanyaan Angga.Dia diam sambil berdiri membelakangi Angga.


"Jika kita tidak membatalkan perjodohan ini, apa itu artinya dia tidak akan menceraikan istrinya. Apa dia akan tetap bersama dengan istrinya. Kamu tahu apa itu artinya?"


Lagi-lagi Dona tidak menjawab pertanyaan dari Angga. Pikirannya seperti kacau mendengar pertanyaan dari Angga. Sedangkan Angga duduk dengan santai sambil memainkan botol minuman yang sedang ia pegang.


"Itu artinya, dia tidak benar-benar mencintai dirimu."


Angga sudah berada di belakang tubuh Angga, badannya sangat dekat dengan Dona. Tetapi tidak bersentuhan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.


Dona yang terkejut membalikkan badannya. Sehingga hampir menabrak badan dari Angga. Tangan Angga dengan sigap meraih pinggang Dona. Jika di lihat mereka seperti berpelukan.


"Lepas, jangan pernah mengambil kesempatan."


Dona mencoba melepaskan diri dari dekapan Angga. Tetapi tangan Angga terlalu kuat.


"Tenang saja, sejak awal aku tidak pernah tertarik denganmu nona."


Ucap Angga di samping telinga Dona. Di lepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Dona. Angga berjalan menuju pintu keluar.


"Apa maksudmu?"


Tangan Rena mencekal sempurna di pergelangan tangan milik Angga.


Angga tidak menjawab, dia hanya tersenyum remeh pada Dona. Dengan mudah Angga membalikkan tangan Dona, yang awalnya memegangnya kini berbalik. Tangan Angga yang sekarang memegang tangan Dona.


"Kamu tidak perlu tahu, karena bagiku.." Angga menjeda perkataannya. Kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Dona.


"Kamu tidak penting." Angga berkata dengan nada yang datar tetapi penuh penekanan.


"Aww."


Genggaman tangan Angga di eratkan pada tangan Dona. Sehingga Dona merasakan sakit. Di lepaskan cekalan tangannya, kemudian Angga pergi meninggalkan Dona.


Dona memundurkan kakinya. Ada perasaan takut saat Angga membisikkan kalimat di samping telinganya.


"RENA..."


Entah kenapa Dona teringat sahabatnya itu. Dia mengingat saat dia melihat perlakuan Angga pada Rena, saat sahabatnya sedang sakit. Dan juga saat Angga bersama Rena, Angga menjadi pribadi yang jahil dan cerewet. Padahal setahu Dona, Angga adalah seorang yang sulit di dekati. Apalagi bisa akrab dengan lawan jenis.


"Angga adalah lelaki yang terkenal dingin di dunia bisnis. Tetapi dia sangat murah senyum saat memakai jas dokternya. Dia seperti mempunyai dua pribadi. Jangan sampai dia menyukai Rena. Jika benar, Rena akan mengalami kesulitan. Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh."


Dona duduk di sofa dengan ke dua telapak tangannya menutup wajahnya.


"Aku harus melakukan sesuatu, Angga tidak boleh mengusik rumah tangga Rena. Sudah cukup ia menderita selama ini. Iya,,, aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?"


"Ayo Dona berpikirlah."


Dona mengetuk-ngetuk pelan kepalanya. Dia benar-benar khawatir jika tebakannya benar.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2