
Hujan mulai turun. Rasa gelisah mulai masuk dalam hati Rena. Dia berdiri dari duduknya dan mondar mandir sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kemana sih mas Bagas, di telpon nggak di angkat. Kalau nggak bisa jemput setidaknya bisa ngabarin dulu. Hujan pake turun segala." sungut Rena.
Rena selalu menengok ke kanan dan kiri. Di lihatnya tidak ada satupun kendaraan lewat. Sekarang selain rasa gelisah, kini bertambah pula rasa takut di hati Rena.
Rena sudah menunggu hampir setengah jam. Dia pun memutuskan pergi mencari kendaraan umum. Diambilnya ponsel dari dalam tas dan di masukkan ke dalam saku bajunya. Karena saat ini dia menggunakan jaket di luar seragam kerjanya.
Rena berjalan di tengah hujan yang tidak terlalu lebat dengan menggunakan tas sebagai payung. Dengan tangan kirinya menenteng sendal berhak tinggi yang ia gunakan untuk bekerja. Dia menengok ke sana kemari mencari ojek. Kira-kira hampir 15 menit ia berjalan tanpa alas kaki tetapi tidak menemukan ojek.
"Nasib,, nasib." gumam Rena sambil menahan rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya.
Karena kedinginan dan capek berjalan Rena mencari pohoh besar untuk berteduh.
"Ya Alloh, mas Bagas ke mana sih. Nggak ada kabar juga."
Di saat dia berdiri di bawah pohon dengan bibir yang sudah pucat dan tubuh menggigil, sebuah mobil berhenti di depannya.
"Masuk."
Seseorang membuka pintu mobil dari dalam. Tanpa berpikir Rena langsung masuk ke dalam mobil milik Angga.
"Maaf, mobilnya jadi basah."
Rena merasa tidak enak, karena saat ini badannya basah kuyup. Melihat Rena kedinginan Angga mematikan pendingin di dalam mobilnya.
Angga menanyakan alamat rumah Rena dan mengantarnya pulang. Sebenarnya dia baru saja menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Di perjalanan dia melihat Rena berada di bawah pohon. Badannya sudah terlihat basah dengan sebelah tangannya menenteng sendalnya. Karena merasa iba akhirnya Angga memutuskan menghampirinya.
Angga mengantar sampai depan rumah Rena.
"Terimakasih banyak, kamu tidak mampir dulu."
Tanpa menjawab ucapan dan ajakan Rena, Angga menutup pintu mobil dan melajukan kendaraannya.
"Ohh,,, ya ampun,, ada manusia seperti itu. Nggak sopan. Dokter kok kayak gitu." Rena menggerutu sambil berjalan ke dalam rumah. Setelah itu ia mandi dengan air hangat.
"Mas Bagas kemana sih, di rumah juga nggak ada. Untung ada dokter songong itu."
Saat ini dia sedang berendam dengan air hangat di dalam bak kamar mandi. Terdengar ponselnya berbunyi. Tapi dia enggan untuk berdiri dari rendamannya di dalam air hangat. Di biarkan saja
ponselnya terus bernyanyi tanpa berniat untuk melihatnya.
*****
"Mas, nggak jemput mbak Rena?" tanya Lina sambil berdiri di tengah pintu.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari adiknya, Bagas malah bertanya balik sambil meminum kopi.
"Setengah sembilan lebih."
"Astaga."
Bagas langsung berdiri dan berlari menuju kamar. Bu Anis dan pak Ramli hanya melihat sambil bertanya-tanya.
"Kenapa Bagas bu?"
"Ibu nggak tahu pak."
Masih di depan pintu, Lina bertanya kepada Intan.
"Kenapa kamu tidak mengingatkan mas Bagas."
"Maaf, aku juga tidak pegang ponsel. Jadi tidak tahu pukul berapa saat ini." kilah Intan.
Padahal sebenarnya Intan sengaja tidak memberi tahu Bagas. Dia masih ingin berlama-lama dengan suami Rena. Mendengar jawaban Intan, Lina berbalik dan berjalan ke ruang tengah kembali.
Di dalam kamar Bagas melihat ponselnya. Ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dari istrinya. Dia mencoba menelpon balik. Tetapi tidak di angkat.
Bu Anis yang penasaran mengikuti Bagas ke kamar. Beliau bertanya kenapa Bagas berlari-lari. Bagas pun menceritakan kalau dia tadi sudah berjanji menjemput Rena.
"Sudah bu, tapi tidak di angkat."
Bu Anis berteriak memanggil Lina.
"Ada apa sih bu, malam-malam teriak-teriak."
"Kamu telpon mbak mu sekarang. Mas mu ini, sudah janji malah nggak di jemput. Mana hujan lagi."
Lina pun menghubungi Rena. Tetapi juga tidak di angkat.
Akhirnya Bagas pulang untuk menjemput Rena di butik.
*****
Selesai mandi Rena melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Satu gelas teh hangat di habiskan nya. Di ambilnya obat flu di kotak obat lalu di minumnya tanpa makan terlebih dulu. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di ranjang tempat tidur tanpa melihat ponselnya.
Tubuh Rena terasa dingin, sepertinya dia demam karena terkena air hujan di tambah berendam di dalam air saat malam. Diapun terlelap dalam tidurnya.
*****
__ADS_1
Bagas berada di depan butik. Ternyata butik sudah tutup. Semakin malam hujan bukannya reda tapi malah semakin deras. Di telpon kembali nomor milik istrinya dan tidak di angkat oleh Rena.
Bagas melajukan mobilnya menuju rumah. Sampai rumah dia membuka pintu. Kunci pintu ada tiga. Bagas memegang satu kunci. Rena juga memegang satu kunci. Kunci yang satu lagi di pegang oleh mak Irah.
Setelah masuk ke dalam rumah, Bagas langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Di dapati istrinya tengah terlelap di balik selimut. Ada perasaan lega di hatinya. Di lihatnya ponsel Rena di meja berbunyi. Tapi tak sedikitpun mengganggu tidur Rena. Bagas beranjak mendekati meja dan mengambil ponsel Rena. Ternyata Dona yang tengah menelpon istrinya.
"Halo.."
"Bagas, Rena ke mana? Dari tadi di telpon tidak di angkat." omel Dona di balik telepon.
"Tidur."
Dona bercerita tentang kekhawatirannya saat ia pulang dari kantor, sementara Rena belum Bagas jemput.
Setelah selesai berbincang dengan Dona di telepon Bagas mendekati Rena. Dia menyentuh tubuh Rena.
"Panas."
Bagas memegang dahi Rena. Sedikit di bukanya selimut yang menutupi tubuh Rena.
"Sudah berkeringat." Bagas kembali menutup selimut ke tubuh Rena.
Bagas beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur. Dia hanya menemukan gelas teh bekas Rena.
"Berarti dia belum makan."
Di ambilnya piring dan di isi sayur juga lauk pauk. Setelah itu di bawa ke kamar bersama dengan segelas air putih.
Sampai di kamar, di letakkan nasi dan gelas di meja dekat ranjang.
"Sayang, bangun dulu."
Bagas mengelus pelan secara berulang-ulang pucuk kepala Rena. Rena yang merasa tidurnya terganggu membuka matanya.
"Makan dulu."
Bagas membantu Rena duduk. Dengan setengah sadar Rena duduk. Dia masih mengumpulkan kesadarannya dengan beberapa kali mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Makan dulu."
Bagas mengambil piring berisi makanan kemudian menyuapi Rena. Karena merasa tidak enak badan Rena hanya menurut dan menerima setiap suapan dari Bagas. Selesai makan Rena langsung merebahkan badannya kembali.
Melihat keadaan istrinya yang kurang sehat Bagas mengurungkan niatnya untuk bertanya pada istrinya. Bagaimana dia bisa pulang ke rumah.
Setelah mengembalikan piring dan gelas bekas Rena makan ke dapur, Bagas mengganti bajunya dan berbaring di samping Rena. Dia menyusul Rena menuju alam mimpinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG