
"Kenapa tidak lebih lama saja tinggal di sini Ser?" tanya Lina pada Sera.
Lina dan Sera seumuran. Mereka hanya berbeda beberapa bulan saja.
"Mana bisa. Aku kan harus kerja." ucap Sera sambil meminum jus buah di depannya.
"Kamu kok bisa sih kerja di kantor pemerintah seperti bapakku?" tanya Lina penasaran.
"Dulu sewaktu SMA aku magang di sana. Terus selesai magang, aku coba bicara sama karyawan di sana untuk bekerja setelah pulang sekolah. Lebih beruntungnya aku di terima. Ya dulu sih gajinya nggak seberapa. Namanya juga paruh waktu. Dan juga di sana aku cuma bantu-bantu. Tepatnya seperti OG kalau di kota." jelas Sera.
"Terus sekarang bagaiman?" tanya Lina masih penasaran.
"Alkhamdulillah, Alloh memperlancar semuanya. Aku mengikuti tes PNS. Dan aku lulus." kata Sera.
"Hebat banget sih." kata Lina.
Sehabis dari cafe, mereka melanjutkan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
"Eh,, itu bagus Ser." ucap Lina saat melihat pakaian syar'i yang terpasang di manekin.
"Pasti cocok buat kamu." ucap Lina.
"Maaf." ucap seseorang lelaki yang tidak sengaja menabrak tubuh Sera.
"Tidak apa-apa." ucap Sera sambil menunduk..
Lelaki tersebut terus memperhatikan Sera.
"Sepertinya pernah lihat." gumamnya.
Sera memang terkenal bermulut pedas. Tapi hanya untuk orang-orang tertentu. Dengan pakaiannya yang tertutup Sera tidak pernah berdekatan dengan lelaki. Lelaki di kampung halamannya juga sangat segan terhadap dirinya.
Apalagi sekarang, Sera sedang di jodohkan dengan pemilik pondok pesantren. Membuat lelaki yang ingin mendekatinya mundur secara langsung.
"Kemana Lina membawa Sera. Kenapa sampai sekarang belum pulang. Anak itu." omel bu Anis melihat jam dinding.
"Biarkan saja bu, mungkin saat ini mereka sedang jalan-jalan." kata bu Yanti.
"Mereka keluar sehari penuh bu. Apalagi besok pagi-pagi kalian harus berangkat." ujar bu Anis.
Semenjak acara empat bulanan Rena, Bagas menjadi pendiam. Rena pun sempat bingung dengan perubahan suaminya tersebut.
"Mas kenapa sih. Mas keberatan ya besok nganter bapak sama ibu pulang. Jika mas nggak mau, jangan di paksa." Rena melihat Bagas yang masih diam.
"Bukan masalah itu."
"Terus kenapa. Ada apa mas, bicara dong. Mana Rena tahu jika mas hanya diam saja. Mas pikir Rena bisa membaca pikiran mas Bagas." omel Rena.
"Apa benar yang di bilang Sera?" tanya Bagas dengan cemberut.
"Sera. Memang Sera bilang apa sih mas?" tanya Rena bingung.
"Kamu di tanyakan sama pemilik pondok pesantren."
"Ya Alloh mas, mas Bagas cemburu tow ini. Astaga."
Rena tertawa melihat tingkah lucu dari suaminya tersebut.
"Jawab." kata Bagas sendu sambil menggenggam tangan Rena.
"Jangan tertawa Ren, jawab."
Bukannya menjawab pertanyaan Bagas, Rena malah tertawa.
"Ya nggak lah mas. Dia itu calon suaminya Sera." jelas Rena.
"Calon suaminya Sera?" tanya Bagas memastikan.
__ADS_1
"Iya, mereka sedang ta'aruf. Kemungkinan akan langsung menikah. Tapi kapannya, Rena juga belum tahu." jelas Rena.
"Emmm."
"Emmmmuach." Rena mencium pipi Bagas dengan sangat lama.
Kemudian Rena beranjak meninggalkan kamar. Sementara Bagas masih tersenyum mengingat rasa cemburunya yang tidak masuk akal tersebut.
Keesokan harinya, Bagas mengantarkan keluarga Rena untuk pulang ke kampung halaman.
Rena menjalani masa kehamilannya dengan santai dan juga aman. Setelah Intan pergi, kehidupan Rena kembali seperti dulu lagi.
Apalagi sekarang sudah ada bayi di dalam perut Rena. Dan bayi tersebut juga tidak pernah rewel. Setelah Rena melewati tri semester pertama,dia tidak pernah mual ataupun muntah lagi.
"Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua sayang. Kamu akan menjadi ibu. Dan aku, ayah." ucap Bagas mengusap perut Rena yang sudah membesar.
Kehamilan Rena sudah berjalan 6 bulan. Tinggal menunggu 3 bulan lagi untuk menanti kelahiran putra tercinta mereka.
Beberapa kali mereka melakukan USG, mereka mengetahui jika jenis kelamin bayi mereka adalah laki-laki.
"Mas sudah menyiapkan namanya." ucap Rena manja sambil menyender di dada Bagas.
Bagas membisikkan sesuatu di dekat telinga Rena.
"Nama yang bagus mas. Rena suka." ucap Rena.
"Sayang,, Bagas menaruh dagunya pada pundak Rena."
"Apa mas."
"Dedek bayi minta di jenguk ayahnya."
Bagas mengelus-elus perut besar istrinya.
"Itu mah kamu nya yang mau." celetuk Rena.
Tanpa menunggu jawaban dari Rena, Bagas sudah membuka kancing baju Rena bagian atas dan beralih duduk di depan Rena.
"Haus. Pengen minum susu."
Rena hanya melongo melihat mulut Bagas sudah terisi dengan sempurna buah ceri Rena. Di elusnya rambut Bagas secara lembut.
"Aku akan pelan dan akan membuat kamu senyaman mungkin." ucap Bagas setelah melepaskan pangutannya pada buah ceri di dada Rena.
Bagas membaringkan Rena dan mulai beraksi. Kali ini, Bagas benar-benar melakukan dengan lembut. Dia tidak ingin Rena dan bayi di dalam kandungannya merasakan ketidak nyamanan.
Bagas segera melakukan ritualnya sebelum larut malam. Durasi yang Bagas lakukan juga tidak seperti biasa. Malam ini Bagas hanya sebentar melakukan olah raga yang nikmat tersebut. Dirinya takut jika Rena sampai kelelahan.
Menjelang subuh, Rena segera membersihkan diri.
"Mas bangun, sholat subuh dulu. Kita jama'ah yuk. Rena tunggu. Ayo mas."
Bagas hanya menggeliat tanpa membuka kedua matanya.
Rena terus menggoyang-goyang badan Bagas.
Bagas bangun dan mencium pipi Rena.
"Cepat mas, Rena tunggu." ucap Rena sedikit meninggikan suara.
Rena merasakan sedikit mulas pada perutnya.
"Tadi sudah BAB deh. Kenapa mules lagi."
Rena memegangi perutnya yang terasa mulas.
"Kenapa sayang?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Cepat sekali mas?" tanya Rena melihat Bagas sudah keluar dari kamar mandi.
"Katanya suruh cepat." ujar Bagas.
"Ya sudah, sholat dulu saja. Perutku hanya mulas. Padahal tadi udah BAB." jelas Rena.
"Beneran, nggak apa-apa?" tanya Bagas khawatir.
Setelah menunaikan sholat subuh, perut Rena masih mulas.
"Ini diminum dulu." Bagas membawakan segelas susu ibu hamil pada Rena.
"Gimana?" tanya Bagas khawatir.
"Apa jangan-jangan dedeknya mau keluar sayang." celetuk Bagas.
"Apaan sih mas. Jangan bicara sembarangan. Ini masih 6 bulan." ucap Rena kesal.
"Maaf. Terus kenapa perut kamu sakit?" tanya Bagas.
"Nggak tahu." Rena mengingat-ngingat kembali.
"Apa jangan-jangan gara-gara kemarin sore aku makan mi instan pake cabe. Mana pedas lagi." batin Rena.
Tapi Rena tidak berani berkata jujur pada Bagas. Dia takut jika sampai suaminya marah.
"Bagaiman mbak, perutnya masih sakit?" tanya mak Irah tak kalah khawatir.
"Hust,, mak jangan bilang mas Bagas jika kemarin Rena makan mie instan pake cabe ya." ucap Rena lirih sambil melihat ke belakang.
"Iya mbak. Tapi mbak Rena jangan makan pedas lagi." kata mak Irah.
"Iya."
"Kok nggak nungguin aku sih sayang." ucap Bagas sambil memeluk Rena dari belakang.
"Aku sudah laper mas." kata Rena manja sambil menggigit roti di tangannya.
"Bumil sekarang mudah laper ya." Bagas mengecup pipi Rena.
"Mas, Yuna sudah pulang?" Rena menanyakan istri Leon.
"Belum. Kasihan Leon. Uring-uringan terus. Padahal mereka sudah punya rumah sendiri. Dan juga bayinya sudah berusia 8 bulan kalau nggak salah."
"Kita kan juga nggak tahu mas, apa yang terjadi di dalam rumah tangga mereka." ucap Rena.
"Iya juga sih."
Selesai sarapan, Bagas berangkat bekerja.
"Aku berangkat dulu."
Rena mencium telapak tangan milik suaminya tersebut. Dan Bagas mencium kening Rena.
"Ayah kerja dulu ya sayang. Baik-baik di rumah sama ibu." ucap Bagas sambil mengelus lembut perut Rena.
"Ini bekalnya." Rena menyodorkan tas kecil berisi bekal untuk Bagas makan siang.
Semenjak kehamilan Rena memasuki usia 3 bulan, Bagas selalu membawa bekal untuk makan siang. Entah kenapa hanya masakan istrinya yang ingin di makan Bagas.
Bahkan selama itu, Bagas tidak pernah makan di luar. Jika Rena menginginkan sesuatu, Bagas akan dengan senang hati membelikannya. Tapi dia tidak pernah makan sedikitpun makanan yang di belikan untuk Rena.
Beruntung kehamilan Rena tidak rewel. Rena juga tidak pernah makan di luar. Sebenarnya Bagas juga tidak menolak jika Rena menyuruhnya untuk mengantarkan dirinya makan di warung makan. Tapi Rena merasa kasihan dengan suaminya.
Tidak mungkin dirinya makan sendiri, sedangkan Bagas hanya duduk menemani dirinya.
Kan tidak enak dilihat. 😅😅😅
__ADS_1
BERSAMBUNG.