Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 102


__ADS_3

"Kalian bisa berterus terang sama saya." ucap Dona.


"Sebenarnya ada apa mbak?" tanya Sari.


"Apa kalian tahu, jika Intan menyukai Bagas. Suami Rena." tanya Dona langsung ke intinya.


"Kok mbak Dona tahu?" tanya Wati dengan polos.


"Akhirnya. Ketahuan juga kan." batin Sari.


"Bisa kalian ceritakan apa sebenarnya yang terjadi." pinta Dona.


"Intan sudah lama menyukai mas Bagas. Setiap mas Bagas menjemput mbak Rena, dia selalu mengatakan kalau dia kasihan sama mas Bagas." ucap Wati.


"Kenapa?" tanya Lina.


"Intan bilang kasihan, karena sampai sekarang mas Bagas belum di berikan keturunan." imbuh Wati.


"Dan juga. Setiap Intan melihat mas Bagas, dia selalu memuji mas Bagas." kata Sari.


"Dari mana mbak Dona sama Lina tahu?" tanya Sari.


"Intan sudah mulai mendekati bahkan merayu mas Bagas." jelas Lina.


"Astaga." ucap Sari dan Wati bersamaan.


"Padahal kita selalu mengingatkan mbak. Supaya Intan tidak merusak rumah tangga mbak Rena sama mas Bagas." tutur Sari.


"Walaupun elo ngingetin sampai mulut elo berbusa. Jika sudah keturunan, pasti akan sulit." kata Wati sambil memandang ke arah Sari.


"Maksud kamu?" tanya Dona.


"Maaf mbak. Maksud saya, saya pernah dengar jika mamanya Intan juga seperti itu." jelas Wati.


"Ya sudah, kalian boleh kembali bekerja lagi." kata Dona, dan kembali ke ruangannya.


"Apa mbak Rena sudah tahu?" tanya Sari.


"Gue sih belum ngasih tahu mbak Rena. Semoga saja mbak Rena nggak tahu." ucap Lina.


"Eh. Kalian tahu tempat tinggal Intan sekarang?" tanya Lina.


"Mau apa kamu. Jangan macam-macam." ucap Sari khawatir.


"Iya bener. Intan tu nekat loh" ucap Wati.


"Ya, gue nggak ke sana sendiri kali." kata Lina sambil memainkan matanya.


"Sama kita." kata Sari sambil menunjuk pada dirinya dan Wati.


"Oke. Gue ikut." ucap Wati antusias.


"Okelah. Ngikut aja gue. Tapi kita ke sana naik apa?" tanya Sari.


"Taksi. Biar gue yang bayar. Bagaiman?" tanya Lina.


"Oke. Setuju." jawab Sari dan Wati bersamaan.


"Oke. Nanti setelah pulang kerja. Kita datangi rumah iblis betina itu." kata Lina.


*****

__ADS_1


"Mau kemana sayang. Cantik banget." tanya Bagas melihat Rena sedang memakai lip balm di depan meja rias.


"Mau ketemu Intan." jawab Rena.


"Aku ikut." kata Bagas.


"Aku ganti baju dulunya." imbuh Bagas.


Penampilan Rena saat menemui Intan.



Bagas ingin menemani Rena saat bertemu dengan Intan. Tapi sayang, Rena meminta Bagas untuk duduk sendiri dan menjauh dari dirinya. Rena ingin tahu, apa yang ingin di bicarakan oleh Intan pada dirinya.



Intan sedang menunggu kedatangan Rena di cafe. Dia ingin menceritakan kejadian antara dirinya dan Bagas, dengan sedikit bumbu-bumbu penyedap. Supaya Rena semakin percaya pada ceritanya. Dia berharap, setelah mendengar cerita darinya, Rena akan marah. Dan meninggalkan Bagas.



Sesampai di halaman cafe, Bagas dan Rena berpisah. Rena masuk terlebih dahulu dan langsung menemui Intan. Sedangkan Bagas memilih duduk di meja lain, sembari memperhatikan Intan dengan istrinya.


"Jangan sampai Rena kenapa-napa. Dia perempuan yang nekat." batin Bagas sambil terus memantau dari arah lain yang menurutnya tidak akan terlihat oleh Intan.


"Ada apa kamu menyuruhku ke sini?" tanya Rena.


"Silahkan duduk dulu mbak." ucap Intan dengan ramah.


"Mbak Rena mau pesan apa?" tanya Intan setelah Rena mendaratkan bokongnya di kursi.


"Lemon tea." jawab Rena.


"Mbak, sebenarnya saya mengajak mbak bertemu karena ingin mengatakan sesuatu." ucap Intan.


"Silahkan di minum dulu mbak." imbuh Intan begitu minuman yang di pesan Rena sudah datang.


Rena mengambil minumnya, kemudian menyeruputnya.


"Mau bicara apa?" tanya Rena dengan tenang sambil meletakkan kembali minumannya ke atas meja.


"Maaf mbak, jika cerita saya akan membuat mbak Rena sakit hati. Tapi mbak Rena harus mengetahui kebenarannya." ucap Intan.


Sepertinya Rena sudah bisa menebak. Apa yang ingin Intan katakan pada dirinya.


"Saya dan mas Bagas sebenarnya saling mencintai mbak." ucap Intan sambil meneteskan air mata.


"Sebenarnya saya sulit untuk berbicara seperti ini sama mbak Rena. Tapi, kami sudah pernah melakukannya. Dan saya, saya seorang perempuan. Saya bingung mbak. Jika saya melepaskan mas Bagas, apa masih ada lelaki yang mau sama saya." jelas Intan sambil menangis.


"Lalu, apa kata mas Bagas?" tanya Rena sambil menyeruput minumannya lagi.


"Kenapa dia bisa begitu tenang. Padahal gue bilang jika suaminya pernah tidur sama gue." batin Intan.


"Mas Bagas bilang, dia akan bertanggung jawab. Dia bilang, dia akan berbicara sama mbak Rena." kata Intan berbohong.


"Begitu ya." kata Rena sambil terus memperhatikan Intan.


"Sial, kenapa nggak marah. Apa sebenarnya dia nggak mencintai mas Bagas." batin Intan.


"Kamu bilang tadi bertanggung jawab. Memang kamu hamil?" tanya Rena.


"Terus waktu me-la-ku-kan hubungan suami istri, kamu di paksa sama suami saya. Atau, kamu, memang, menyerahkan. TUBUH KAMU. Secara gratis." ucap Rena dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Maksud mbak Rena." tanya Intan.


Rena tidak menjawab pertanyaan dari Intan. Dia malah memanggil Bagas.


"Sayang." panggil Rena sambil memandang ke arah Bagas duduk.


Sontak panggilan sayang Rena pada Bagas membuat Intan kaget.


"Bagaimana bisa, mas Bagas berada di sini." batin Intan.


Dan juga, mereka langsung menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe. Bagas pun berjalan mendekati tempat duduk Intan dan Rena.


"Mas Bagas." gumam Intan.


"Mas, dia bilang mas sudah pernah melakukan itu sama dia." kata Rena.


"Nggak pernah sayang. Mas saja nggak tahu, dia masih perawan apa nggak." ucap Bagas.


"Serius." kata Rena.


"Aku kan sudah menceritakan semuanya sama kamu sayang." ucap Bagas sambil mengecup pipi Rena dengan mesra.


"Menceritakan semua. Jadi, Rena sudah tahu semuanya. Tapi kenapa dia nggak marah." batin Intan.


"Kemarin aku ke sana, Rena baik sama gue. Kapan mas Bagas cerita." kara Intan dalam hati.


"Apa kamu mau menikahi dia?" tanya Rena.


"Nggak akan. Tidak akan pernah." jawab Bagas tegas sambil memandang tajam ke arah Intan.


"Mas." ucap Intan parau.


Air mata Intan sudah jatuh di pipi.


"Aku rela mas madu. Aku ikhlas. Seandainya nanti kita punya anak, aku ikhlas anak kita di asuh bersama-sama. Sama mbak Rena juga." kata Intan.


"Apa mbak Rena nggak kasihan sama mas Bagas. Kalian sudah menikah lama. Tapi mbak Rena belum bisa memberikan anak untuk mas Bagas." imbuh Intan.


"Jika mbak Rena memang mencintai mas Bagas. Seharusnya mbak Rena nggak egois. Biarkan mas Bagas bahagia." cerocos Intan.


Rena mengeraskan rahangnya. Perkataan Intan mengenai anak, sangat menusuk ke hati Rena. Tapi sebisa mungkin Rena menahan emosinya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Apalagi sekarang mereka menjadi pusat perhatian lara pengunjung cafe.


"Cukup." bentak Bagas.


"Kita pergi dari sini sayang." ucap Bagas pada Rena dengan lembut.


"Dan kamu. Jangan pernah mimpi. Aku tidak sudi menikah dengan perempuan seperti kamu." ucap Bagas pada Intan.


"Mas." panggil Intan sambil menggenggam tangan Bagas.


"Jangan pernah sentuh saya." kata Bagas sambil menghempaskan tangan Intan.


"Apa mas tidak menginginkan keturunan. Apa mas tidak ingin mempunyai anak?" tanya Intan dengan raut wajah memelas.


"Aku bisa memberikannya mas. Aku bisa." ucap Intan dengan sungguh-sungguh.


"Kita pergi dari sini sayang." ucap Bagas pada Rena.


"Mas." teriak Intan saat Bagas dan Rena pergi meninggalkan cafe.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2