Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 49


__ADS_3

Bu Anis dan Lina menaruh sapu dan kemoceng mereka dan langsung duduk di dekat Bagas.


"Panggil bapakmu di belakang Lin."


"Baik bu."


Lina segera memanggil pak Ramli.


"Kenapa bisa Gas?" tanya pak Ramli begitu sampai di dekat Bagas.


Bagas tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Jawab pertanyaan bapakmu." sarkas bu Anis.


"Bagas cemburu, sebenarnya semalam Bagas yang ingin pergi. Tapi Rena menghentikannya. Akhirnya dia yang pergi."


"Ya Alloh,, semalam. Kamu bilang semalam." bu Anis menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tampak Intan yang duduk di samping Lina merasa bahagia.


"Mudah-mudahan nggak balik lagi." batin Intan.


"Kamu sudah mencarinya?"


"Sudah pak, tapi tidak ketemu."


"Lin, coba kamu telpon mbak mu." kata pak Ramli.


"Rena nggak bawa ponsel pak. Bahkan dia tidak membawa dompetnya."


"Bagas,,,!"


Air mata bu Anis sudah menggenang di matanya.


"Memangnya Rena bersama siapa, kenapa kamu bisa cemburu." tanya pak Ramli.


"Rena menyimpan nomor Galih. Padahal aku sudah menyuruhnya tidak berhubungan dengannya."


"Kak Galih, teman mas Bagas." tanya Lina.


Bagas hanya menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa?"


"Galih menyukai Rena."


"Apa Rena juga membalas perasaan Galih." tanya pak Ramli.


Bagas hanya diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari pak Ramli.

__ADS_1


"Kamu cemburu boleh, tapi lihat dulu. Di sini Galih yang menyukai istrimu. Bukan istrimu yang mempunyai perasaan padanya. Selama ini kalian bersama, apa pernah Rena menduakan kamu. Apa pernah Rena membantah perintah kamu?" tanya pak Ramli.


"Apa mungkin mbak Rena bertemu dengan Galih." gumam Intan. Tapi masih bisa di dengar oleh semua orang di ruangan itu. Semuanya langsung menatap ke arah Intan.


Sebenarnya Intan sengaja berkata seperti itu. Dia ingin Rena di salahkan. Bahkan jika bisa, dia tidak ingin Rena di cari. Dia tidak ingin Rena kembali pada Bagas.


"Mbak Rena bukan perempuan seperti itu. Kamu nggak usah bicara ngawur. Bikin emosi saja." kata Lina sambil memandang tajam Intan.


"Ya,, kan aku hanya menebak saja. Mungkin saja kan, mbak Rena..."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, bu Anis sudah memotong kalimat Intan lebih dulu.


"Sudah,, sudah. Lebih baik sekarang kita cari Rena. Ibu khawatir. Dari semalem meninggalkan rumah, tanpa membawa uang. Dia tidur di mana. Bagaimana dia makan."


Bu Anis menangis, Lina menghampiri ibunya dan mencoba menenangkannya.


"Bu, mbak Rena itu perempuan kuat. Dia tidak selemah yang ibu pikirkan. Dia perempuan pintar. Pasti mbak Rena baik-baik saja."


"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya. Apa yang akan ibu katakan pada orang tuanya."


"Sudah bu, lebih baik kita cari Rena. Benar kata Lina. Menantu kita perempuan hebat dan pintar."


Bagas berdiri dan masuk dalam kamarnya. Dia ingin membersihkan badannya terlebih dulu. Sementara pak Ramli dan Lina mencari Rena menggunakan sepeda motor. Mereka berdua berboncengan.


"Mas Bagas, boleh Intan masuk."


"Masuk saja."


"Ini mas, Intan bawakan secangkir kopi"


"Kamu taruh saja di meja."


Setelah menaruhnya dimeja, Intan mendekat ke Bagas.


Saat ini Bagas tengah berdiri sambil mengancingkan bajunya.


"Andai saja aku bisa melakukan itu." batin Intan sambil menggigit bibirnya.


"Sabar Intan, sabar." batin Intan.


"Ada apa?"


Bagas menyadari Intan memperhatikan dirinya sedari tadi.


"Tidak seharusnya seorang istri meninggalkan rumah. Apapun alasannya. Apapun masalahnya. Seharusnya seorang istri harus menuruti perkataan suaminya." kata Intan.


"Seandainya kelak aku menjadi seorang istri, aku pasti akan menuruti semua perkataan suamiku. Karena tugas seorang istri itu harus berbakti pada suaminya."


Intan berjalan mendekati Bagas.

__ADS_1


"Apa mungkin, karena belum ada seorang anak. Mbak Rena merasa dirinya masih seperti remaja. Apa mas Bagas tidak curiga. Kenapa mbak Rena bersikap begitu tenang, padahal sampai saat ini dia belum memberikan mas Bagas keturunan."


Bagas hanya diam. Bahkan tangannya juga diam. Padahal kancing bajunya belum terpasang semuanya.


Intan lebih mendekat ke arah Bagas. Dia berdiri di depan Bagas. Tangannya terulur mengancingkan kemeja Bagas yang belum terkancing.


Bagas hanya diam tanpa memandang Intan. Jarak mereka berdua cukup dekat.


"Apa mas Bagas tidak menginginkan seorang anak. Lina bilang, kalian sudah pernah ke dokter. Tapi kata dokter semuanya baik-baik saja. Mas,,, hidup tanpa kehadiran anak akan terasa sepi. Kelak jika kita menua tanpa anak, apa yang akan terjadi."


Intan selesai mengancingkan baju yang di pakai Bagas. Tangannya menyentuh dada Bagas dengan lembut. Entah apa yang Bagas pikirkan. Dia hanya diam tidak melakukan pergerakan sama sekali.


Matanya memandang lurus ke depan. Dia sama sekali tidak memandang Intan. Tapi dia juga tidak menepis tangan Intan yang tengah meraba dadanya.


Intan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu, saat ini pikiran Bagas sedang kacau. Dan akan semakin mudah untuk mempengaruhinya.


Bahkan jika bisa dia ingin membawa Bagas bermain di atas ranjang. Apalagi pintu kamar Bagas sudah Intan kunci sewaktu dirinya masuk tadi.


"Padahal mas Bagas sudah memperingatkan mbak Rena, tapi mbak Rena mengabaikannya. Dia bahkan masih berhubungan dengan teman mas Bagas di belakang mas Bagas. Itupun tanpa sepengetahuan mas Bagas."


Intan sudah mulai menempelkan badannya ke tubuh Bagas. Tangannya terulur menyentuh pinggang Bagas. Detik berikutnya, dia sudah memeluk Bagas.


"Oh,,, wangi banget. Terasa nyaman. Badannya,,, kekar abis. Coba saja jika tidak ada baju sialan ini. Pasti akan lebih nyaman." batin Intan.


Intan sudah memeluk Bagas dengan kepalanya menempel sempurna di dada Bagas. Bagas hanya diam, tangannya masih berada di samping badannya.


"Gila,,, pengen banget di ajak di atas ranjang. Pasti nikmat." batin Intan.


Bagas melepaskan pelukan Intan dan berjalan ke arah ranjang. Dia duduk di tepi ranjang.


"Tidak mungkin Rena mengkhianatiku." kata Bagas


Intan menghampiri Bagas, dia duduk di samping Bagas. Tangannya kanannya mengelus pelan bahu Bagas. Sedang sebelah kiri mengelus paha Bagas.


Ya,, Intan begitu mahir memainkan perannya. Dia sudah seperti seorang ahli dalam merayu lelaki. Mungkin karena menurun dari sifat ibunya.


"Bisa jadi mbak Rena merasa kesepian, mas Bagas selalu bekerja. Sedangkan kalian belum punya anak."


Intan lebih merapatkan badannya ke Bagas. Bahkan saat ini bibir Intan berada di dekat telinga Bagas.


"Mereka pernah bertemu di butik. Kalau mas nggak percaya, mas boleh tanya pada karyawan butik." bisik Intan di telinga Bagas.


Bagas langsung menoleh ke arah Intan. Dan yap,,, bibir Bagas menyentuh sempurna di pipi Intan. Karena posisi wajah Intan sangat dekat dengan wajah Bagas.


Intan langsung mengubah posisi wajahnya. Dan bibir mereka bertemu. Intan langsung memegang kepala Bagas. Seperti tidak sadar Bagas membiarkan bibirnya menempel di bibir Intan.


Intan langsung ******* bibir Bagas bagian luar. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Intan langsung duduk di pangkuan Bagas tanpa melepas bibirnya dan tangannya di belakang kepala Bagas.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2