
"Assalamu'alaikum..." ucap Lina dengan membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam..." jawab pak Ramli.
"Ibu di mana pak?" tanya Lina begitu sudah duduk di samping bapaknya.
"Di dalam."
"Ibu kenapa sih pak?" tanya Lina.
"Ngambek. Gara-gara Intan."
"Kok bisa?" tanya Lina penasaran.
"Biasa, bapak nanyain Intan. Ibu mu malah marah-maram." jelas pak Ramli.
"Memangnya Intan sudah pulang pak?"
"Belum. Coba kamu hubungi Intan."
Lina mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dan mencoba menghubungi Intan.
"Nggak aktif pak." kata Lina.
"Kemana, bapak khawatir. Walau bagaimanapun juga, dia dititipkan di sini. Kalau sampai ada apa-apa kita juga yang akan merasa bersalah." tutur pak Ramli.
"Mungkin di rumah temannya pak?"
"Setidaknya dia bisa menghubungi kamu, diakan masih tinggal di sini?"
"Apa bapak bisa berkata seperti itu, jika tahu yang sebenarnya." batin Lina.
Sejujurnya, saat keluar dari rumah mak Irah, Lina berniat akan menceritakan semuanya pada pak Ramli. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tapi melihat wajah pak Ramli, Lina tidak tega. Apalagi ini menyangkut kakaknya. BAGAS.
Lina tahu, bagaimana kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan kakaknya. Begitupun juga dengan dirinya. Lina juga sangat menyayangi Bagas. Apalagi dalam kasus ini, bukan hanya Intan yang bersalah. Tetapi juga Bagas.
Lina tidak ingin melihat kekecewaan di hati kedua orang tuanya.
"Ada apa Lin?" tanya pak Ramli.
Karena sedari tadi Lina terus memandangi wajah pak Ramli.
"Tidak pak, Lina ke dalam dulu ya. Ngantuk."
Lina berdiri dan berjalan menuju kamar. Sesekali dia menengok ke belakang. Ke arah pak Ramli duduk.
"Ada apa dengan Lina. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa gelagatnya menjadi aneh." gumam pak Ramli.
Di dalam kamar, Lina duduk di kursi depan meja riasnya.
"Ya Alloh, aku harus bagaimana. Apa aku bisa memberitahu pada bapak dan ibu. Pasti mereka akan sangat kecewa. Mas Bagas. Putra satu-satunya, kebanggaan di rumah ini. Melakukan hal yang sangat memalukan."
Lina memegang kepalanya dan menangis.
"Mbak Rena, maaf mbak. Lina nggak bisa memberitahu pada bapak dan ibu. Tapi Lina janji, Lina akan berusaha menggagalkan semua rencana perempuan ****** itu." kata Lina lirih, dengan nada geram.
"Aku harus bicara dengan mas Bagas. Harus. Kasihan bapak dan ibu. Apalagi mbak Rena. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan kelakuan mas Bagas."
*****
Seperti biasa, pagi hari Bagas berangkat bekerja di antar Rena sampai teras rumah mereka.
"Mas, nanti Rena mulai bekerja ya."
__ADS_1
"Iya, kamu hati-hati."
" Mas yakin, kerja pakai motor saja."
"Iya, mobilnya kamu pakai saja. Dari pada istriku yang cantik ini naik motor." ucap Bagas sambil tersenyum memandang Rena.
"Makasih sayangku. Suamiku." kata Rena memeluk Bagas.
Tidak jauh dari tempat mereka, ada seseorang di dalam taxi yang menyaksikan adegan mesra mereka.
" Kali ini kamu bisa tertawa Rena, tapi sebentar lagi tawamu akan berubah jadi air mata." ucap orang tersebut sambil memandang tas kecil yang sedang ia bawa
Setelah Bagas sudah berangkat kerka, Rena kembali masuk ke dalam rumah.
"Mak, nanti Rena tinggal ya. Mulai hari ini Rena mau kerja lagi." kata Rena.
"Iya mbak." jawab mak Irah sembari mencuci piring.
tok tok tok (suara pintu di ketuk)
"Biar saya saja mak." ucap Rena saat melihat mak Irah membersihkan tangannya yang terkena busa sabun dan hendak membuka pintu.
Rena membuka pintu.
"Perasaan tadi dengar ada yang ketuk pintu, kok nggak ada orangnya." kata Rena sambil celingukan mencari orang yang sudah mengetuk pintu.
Saat Rena hendak menutup pintu, Rena melihat ada sebuah tas kecil yang diletakkan atas meja terasnya.
Rena mendekatinya, dan melihat isinya.
"Jas." gumam Rena.
Rena membawa masuk tas tersebut. Di ambilnya jas yang ada di dalam tas tersebut.
Rena kemudian melihat lagi isi tas tersebut. Ternyata di dalamnya ada sebuah kertas. Diambilnya kertas tersebut. Jantung Rena berdetak kencang saat membaca tulisan di kertas tersebut.
SAYANG, JAS KAMU KEMARIN TERTINGGAL DI RUMAHKU. SUDAH AKU CUCI BERSIH LOW.
LOVE YOU.
"Mas Bagas."
Rena duduk di sofa sambil memegang jas dan kertas di tangannya.
Rena menarik nafas panjang dan pelan.
"Oke Rena. Tenangkan dirimu." kata Rena menenangkan dirinya sendiri.
Dilipatnya kembali jas tersebut. Dan di bawa ke dalam kamar. Diletakkan jas Bagas di dalam almari bersama pakaian Bagas yang lain.
Sesekali Rena membaca tulisan tangan di kertas tersebut. Air mata yang sebenarnya tidak ingin dia keluarkan, tiba-tiba meluncur dari matanya.
"Apa yang harus aku tangisi, belum tentu mas Bagas melakukan apa yang ada dalam pikiran ku. Bisa jadi ini ulah orang iseng. Iya Rena, tak ada yang perlu kamu tangisi."
Rena meremas kertas di tangannya, dan memasukkan kembali ke dalam tas. Dia berniat membuangnya.
Di dalam sebuah taxi, Intan terus mengembangkan senyumnya.
"Pak jalan."
Setelah memastikan paket yang dia antar sampai di tangan pemilik rumah, dia menyuruh sopir taxi meninggalkan tempat tersebut.
Intan mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bagas.
__ADS_1
MAS, JAS KAMU SUDAH AKU KEMBALIKAN.
BAHKAN SEKARANG SUDAH BERADA DI TANGAN YANG TEPAT.
LOVE YOU
Klik,,, di kirimnya kalimat tersebut pada Bagas.
Centang dua hitam. Menandakan pesannya telah masuk, namun belum dibuka.
"Maaf non, ini mau kemana?" tanya pak sopir taxi.
Intan menyebutkan alamat rumah pak Ramli. Sungguh tidak tahu malu. Dia seperti tinggal di rumah sendiri. Pergi dan datang seenaknya.
"Assalamu'alaikum."
Intan mengucapkan salam sambil membuka pintu. Astaga,,, dia pikir ini rumah miliknya.
"Wa'alaikum salam." jawab bu Anis dengan malas.
Bu Anis tahu siapa pemilik suara tersebut. Beliau bahkan tidak menghentikan kegiatannya membersihkan rumah.
Lina hanya menengok ke arah suara, dan melanjutkan membantu ibunya membersihkan rumah.
"Maaf bu, tadi malam Intan tidur di rumah teman. Karena ketiduran, Intan lupa memberi kabar." kata Intan dengan sopan sambil berdiri di samping bu Anis yang sedang memegang sapu.
"Iya." jawab bu Anis singkat.
Intan melangkahkan kakinya, tetapi tertahan mendengar suara bu Anis.
"Rumah ini memiliki aturan. Jadi taati aturan tersebut." kata bu Anis dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maksud ibu apa?" tanya Intan.
Bu Anis menghentikan menggerakkan sapunya. Beliau memandang Intan.
" Jika masih ingin tinggal di sini, jaga perilaku kamu dan cara berpakaian kamu." kata bu Anis.
"Maaf bu." ucap Intan.
Lina hanya diam menyaksikan. Dia tidak ingin membuka mulutnya. Entah kenapa, setelah mendengar cerita dari mak Irah, Lina jadi malas untuk berbicara dengan baik pada Intan.
"Ingin sekali aku mengumpat mu. Rubah licik." batin Lina.
Intan melangkah meninggalkan bu Anis.
"Sudah numpang gratis, berbuat seenaknya. Dia kira rumah ini tempat apaan. Kos-kosan saja punya aturan." omel bu Anis.
"Sudahlah bu, nanti ibu bisa darting low." ucap Lina.
"Darting. Apaan darting Lin?" tanya bu Anis penasaran dengan kata yang baru saja dia dengar.
"Darah tinggi." ucap Lina.
"Kamu itu."
Bu Anis mengangkat sapu seperti hendak melemparkannya pada Lina. Padahal itu tidak mungkin beliau lakukan.
Lina berlari menjauh sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dasar, bocah bandel." ucap bu Anis dengan tersenyum dan melihat ke arah Lina yang sedang berlari menjauhi dirinya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1