Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 73


__ADS_3

Rena keluar kamar mandi dengan handuk melilit di badannya. Matanya masih sembab. Bagas berdiri dan menghampiri dirinya.


"Mas,,"


Bagas memeluk dirinya dari belakang.


"Kamu harum sayang." kata Bagas dengan berbisik di samping telinga Rena.


"Mas, geli..." kata Rena menahannya.


Bagas terus menciumi pundak Rena.


"Mas, aku mau pakai baju dulu. Dingin."


"Dingin ya, kalau begitu ikut mas saja. Biar nggak dingin."


"Mas,,,"


Rena berteriak, karena kaget. Tiba-tiba Bagas mengendong dirinya dan membawanya ke tempat tidur.


Bibir Bagas sudah menempel sempurna di bibir Rena. Lidah Bagas menjelajahi setiap rongga di dalam mulut Rena. Tidak mau kalah dari Bagas. Rena membalas permainan lidah Bagas.


Handuk yang melilit di badan Rena kini sudah tergeletak di pinggir ranjang. Entah kapan handuk tersebut lepas dari tubuh pemiliknya.


Bagas melepaskan pangutan nya di bibir Rena. Kini bibirnya sudah menempel di ceri milik Rena yang terletak di benjolan dadanya.


Rena tidak mau tinggal diam. Di busungkan dadanya. Dan di remas rambut milik Bagas, sambil di tekan supaya lebih menempel pada benjolan di dadanya.


Bagas menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia bangun dan membuka kaos yang dia gunakan. Tangan Rena terulur memegang dan mengusap dengan lembut perut Bagas yang berpeck-peck tersebut.


Bibir Bagas mulai membuat setempel kepemilikan di tubuh Rena. Suara lenguhan dari Rena membuat Bagas semakin mengganas. Kini bibirnya kembali lagi ke buah ceri di dada Rena.


Tangan kanan Bagas berada di buah ceri Rena yang satunya lagi. Sedangkan tangan satunya sudah berada di lubang kenikmatan milik Rena.


Sesekali Rena menggeliat merasakan nikmat. Tangan Rena membelai lembut rambut Bagas. Dan yang satunya terulur membuka celana Bagas.


Bagas menghentikan kegiatannya. Dia bangun, melepas celana beserta **********.


Deggg...


Saat timun milik Bagas sudah menegang sempurna di hadapan Rena, hati Rena merasakan nyeri. Dia teringat pesan yang dia baca tadi.


TANDA LAHIR DI SAMPINGNYA.


Seketika Rena menoleh ke samping. Air matanya menetes. Segera di usapnya air mata yang sudah ada di pipinya.


Bagas memegang kepala Rena dan membawanya untuk melihat dirinya. Rena tersenyum untuk menutupi hatinya yang sakit. Bagas mencium semua bagian di wajah Rena secara bertubi-tubi.


Bagas memasukkan timun miliknya ke dalam donat milik Rena. Dengan kendali di pegang oleh Bagas. Suara ******* antara keduanya berbunyi nyaring di dalam kamar. Peluh keringat membasahi kedua nya. Hingga Bagas menyemburkan sp**ma nya secara sempura ke dalam rahim Rena.


Bagas mencium kening Rena dan berbaring di samping Rena.


"Ada apa sayang, kamu capek ya?" tanya Bagas sambil mencium hidung mancung milik Rena.


Rena hanya mengangguk dan tersenyum. Bagas tidur menyamping dan memeluk Rena yang tidur dengan posisi telentang.


Keduanya masih tanpa pakaian berada di bawah selimut. Bagas memiringkan badan Rena dan meletakkan kepalanya tepat di dada Rena.

__ADS_1


Rena hanya diam, pikirannya seperti kosong. Rena memejamkan matanya. Tetapi sebenarnya dia tidak tidur. Rena hanya ingin menenangkan pikirannya.


Tampak Bagas juga belum tidur. Kepalanya masih bergerak menjauh dari dada Rena. Di pandangnya wajah Rena dan di belainya.


"Mas,, tadi mas bilang ada yang ingin mas bicarakan. Apa?" tanya Rena setelah membuka kedua matanya.


"Besok saja." jawab Bagas.


"Mas,,, tadi ada yang nganter jas milik mas. Tapi Rena nggak tahu siapa. Soalnya ketika Rena membuka pintu, orangnya sudah tidak ada."


"Teman mas, dia bilang dia tergesa-gesa. Makanya hanya di taruh saja." kata Bagas berbohong.


Ingin sekali Rena bertanya siapa teman Bagas itu. Lelaki apa perempuan. Banyak sekali yang ingin Rena tanyakan pada Bagas. Tapi sepertinya Rena takut dengan jawaban Bagas.


Rena menyibakkan selimut.


"Ke mana?" tanya Bagas.


"Kamar mandi."


Rena menjawab tanpa menoleh. Air matanya sudah menetes. Rena berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Rena menangis dengan posisi jongkong, dengan tangan melingkar di kedua kakinya. Kepalanya berada di atas lututnya.


Tanda lahir di sebelah kelamin milik Bagas. Bagaimana ada orang yang bisa tahu, selain dirinya.


"Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan mas." kata Rena lirih dalam isak tangisannya.


"Ya Alloh, jangan sampai apa yang ada dalam pikiranku ternyata benar."


Rena merasa tidak akan kuat menerima, jika ternyata suaminya memiliki wanita selain dirinya di dalam hatinya.


Setelah selesai berpakaian, di lihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas malam.


"Mas, bangun."


"Ada apa?" tanya Bagas.


"Mas sudah sholat isya apa belum?"


"Sudah, tadi sebelum kamu datang."


Bagas memejamkan kedua matanya lagi. Dengkuran halus terdengar di telinga Rena. Menandakan sang suami sudah terlelap.


Ponsel milik Rena menyala. Sebuah pesan masuk dalam ponselnya.


"Kenapa Dona ngajak ketemuan di cafe." kata Rena setelah membaca pesan dari Dona.


"Ada apa ya. Bukannya besok jam kerja." ucap Rena sambil berpikir.


Rena menghubungi Dona. Tetapi panggilannya tidak di angkat oleh Dona.


"Kenapa sih Dona, baru saja mengirim pesan. Sekarang di telpon nggak di angkat." omel Rena.


Baru saja Rena meletakkan ponselnya, sebuah pesan masuk lagi.


"Apaan sih Dona, di telpon nggak di angkat. Sekarang ngirim pesan lagi." kata Rena.

__ADS_1


BESOK TIDAK PERLU MASUK KERJA.


AKU SUDAH BILANG YANG LAIN.


"Maksudnya apa nih. Tidak perlu masuk kerja. Ini yang libur aku sendiri apa memang butik tutup." batin Rena.


Tidak mau ambil pusing, Rena membalas pesan Dona.


OK


Setelah mengetiknya lalu Rena mengirim ke Dona. Rena meletakkan ponselnya dan melaksanakan sholat. Sebenarnya tadi setelah mandi, Rena ingin shalat terlebih dulu. Ternyata Bagas membawanya ke ranjang tempat tidur.


*****


Di sebuah tempat, seseorang tersenyum menyeringai dengan memutar-mutar ponsel di tangannya.


"Cantik, besok kita akan olah raga. Pastinya akan menguras tenaga." katanya sambil tertawa menyeramkan.


"Dona dan Rena. Sahabat yang saling melindungi." katanya lagi.


Sementara di dalam kamarnya, Dona nampak uring-uringan. Sejak di butik dia mencari ponselnya. Tapi tetap tidak bisa di temukan.


"Ada apa sih Don?" tanya mamanya saat Dona turun dari tangga dengan bibir cemberut.


"Ponsel Dona hilang ma." ucap Dona begitu sudah duduk di samping mamanya.


"Hilang bagaimana?"


"Hilang ya hilanglah ma." jawab Dona ketus.


"Aww."


Dona berteriak saat cubitan mamanya bersarang di lengan tangannya.


"Kamu itu, di tanya orang tua. Jawab yang benar dong." kata mama Dona kesal.


"Seingat Dona, saat di butik tadi Dona taruh di meja. Tapi kok nggak ada." kata Dona.


"Kamu yang lupa. Masak iya, hilang di curi orang." ucap mamanya.


"Aaaaaa,,,,,"


Dona berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan posisi masih duduk.


"Apa sih kamu tu, kayak anak kecil saja."


Mamanya geleng-geleng melihat tingkah putri tunggalnya tersebut.


"Trus bagaimana dong ma?"


"Beli lah." jawab mamanya singkat.


"Bukan soal ponselnya mamaku yang cantik. Tapi kontak dalam ponsel. Itu yang penting."


"Mama memang cantik. Makanya kamu juga cantik."


"Ahh,,, mama. Nggak nyambung."

__ADS_1


Dona berdiri dan meninggalkan mamanya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2