Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 79


__ADS_3

Dokter telah mengganti perban di kaki Rena. Setelah dokter keluar dari ruangan, Bu Anis pun membuka suara.


"Rena,,"


Bu Anis terus memandang wajah menantunya secara intens. Beliau membutuhkan penjelasan tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Dona dan Mira hanya diam seribu bahasa. Tidak mungkin jika mereka menceritakan tentang Tio. Bila mereka bercerita, sama saja mereka membuka aib masing-masing.


Rena pun serba salah. Dia tidak mungkin tidak bercerita pada keluarga Bagas. Meskipun mereka mertuanya, tetapi selama ini mereka sangat menyayangi Rena.


Tapi jika Rena bercerita, maka Rena akan membuka masalah antara Dona, Mira, dan Tio.


Akhirnya Rena memutuskan untuk bercerita pada keluarga Bagas. Walaupun ada sedikit kebohongan pada ceritanya.


"Rena mau diperkosa bu." jawab Rena lirih sambil menunduk.


"Ya ampun."


Bu Anis langsung menggenggam tangan menantunya tersebut. Sementara Dona dan Mira sedikit khawatir. Mereka berpikir, Rena akan bercerita tentang Tio. Yang artinya akan menyangkut mereka berdua.


"Bagaimana ceritanya Ren, sampai terjadi hal seperti itu." tanya pak Ramli.


"Waktu Rena mau berangkat kerja, Rena bertemu pelanggan di butik. Kami berbincang sebentar. Tidak terbesit di pikiran Rena, jika dia melakukan hal serendah itu pada Rena." ucap Rena.


"Maaf bu, pak. Rena berbohong." batin Rena.


"Kamu kenal orangnya?" tanya pak Ramli lagi.


"Namanya Tio. Dia bisanya membeli baju di butik Dona." jelas Rena.


Dona dan Mira saling pandang. Mereka tidak menyangka, Rena berbohong untuk masalah ini.


Rena mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Dona dan Mira. Tampak keduanya berkaca-kaca melihat kebaikan hati Rena.


"Kamu sudah lapor polisi?"


"Tidak tahu pak. Mas Bagas keluar untuk mengurus masalah ini." jelas Rena.


"Bagas pergi sendiri?"


"Tidak pak, ada Angga, Galih, dan Leon yang menemaninya." tutur Rena.


Mendengar nama Galih di sebut, pak Ramli teringat cerita Bagas. Jika Galih mempunyai perasaan pada Rena.


"Syukurlah jika dia tidak sendiri. Ibu takut jika Bagas tidak bisa mengendalikan dirinya." tutur bu Anis.


Rena, Mira, dan Dona hanya saling memandang. Entah apa yang ada di dalam benak mereka saat ini. Dan mungkin saja pemikiran mereka saat ini sama.


Tiga lelaki yang sama-sama mempunyai perasaan pada Rena pergi bersama mencari Tio. Entah apa yang akan terjadi pada Tio, jika mereka berhasil menemukan dirinya.


Tetapi setidaknya mereka sedikit lega. Karena Leon mengikuti mereka. Tapi pertanyaannya, apakah Leon bisa meredam emosi mereka yang sudah tersulut tersebut. Atau bisa jadi, Leon malah emosi seperti mereka. Ya sudahlah....


Karena Rena sudah ada yang menunggu, Dona dan Mira pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Terimakasih, kalian sudah menjaga mantu ibu." ucap bu Anis pada Dona dan Mira.


"Sama-sama bu, Rena kan sahabat kami juga." tutur Dona.

__ADS_1


"Lin, kapan kamu mulai masuk kerja?" tanya Dona.


"Kapan ya mbak."


Lina tampak berpikir.


"Besok saja, nanti biar ibu yang jaga mbak mu di sini." kata bu Anis.


"Ya sudah kalau begitu. BESOK." kata Lina dengan mantap.


"Kami titip Lina ya nak, soalnya dia terlalu agresif. Jika dia melakukan kesalahan tegur saja." kata pak Ramli.


"Dan juga kamu jangan centil-centil di sana." tambah bu Anis.


"Iiihhh,,,, ibu sama bapak apaan sih." ucap Lina cemberut.


Semuanya tertawa melihat Lina merajuk.


"Baik bu, pak. Kalau begitu kami pamit dulu." ucap Dona.


"Bu, Intan tumben nggak bareng kalian?" tanya Rena.


Mendengar pertanyaan Rena, semua hanya bisa diam. Mereka takut berbicara. Apalagi Rena belum tahu permasalahan Intan dan Bagas.


"Ren, Intan sudah sembuh. Dia sudah kembali ke rumahnya." jawab bu Anis tanpa memamdang ke arah Rena.


Rena tidak bertanya tentang Intan lagi. Dia merasa ada sesuatu antara Intan dan keluarga suaminya. Karena semenjak Dona menanyakan tentang Intan, mereka selalu menjawab secara singkat. Seperti enggan untuk membicarakan Intan.


"Sepulang dari rumah sakit, kamu tinggal dulu di rumah ibu ya?" pinta bu Anis.


"Jangan." teriak Lina.


"Maksud Lina, jika mbak Rena tinggal di rumah kita, bagaimana dengan mas Bagas." imbuh Lina karena merasa khawatir.


"Biar mas mu juga tinggal di rumah kita untuk sementara waktu." kata pak Ramli.


"Ren, sebaiknya kamu tidak usah menghubungi orang tua kamu. Biar ibu saja yang merawat kamu. Kasihan mereka jika harus bolak balik datang ke sini." ucap bu Anis.


"Baik bu."


Ponsel milik Rena berdering.


SERA


Sera, adik Rena memang sering berkirim pesan pada Rena. Tetapi jika bertelepon, mereka sangat jarang.


"Ingat Ren, jangan kasih tahu." ingat bu Anis.


"Iya bu." jawab Rena, kemudian di angkat telepon dari Sera.


Beruntung Sera hanya menelpon. Coba kalau video call. Pasti Rena tidak akan bisa berbohong.


Saat ini Bagas dan yang lainnya sudah sampai di cafe milik Tio.


"Di mana Tio. Pemilik cafe ini." tanya Bagas pada salah satu karyawan di sana.


"Maaf, ada perlu apa mencari pak Tio?"

__ADS_1


"Kamu tinggal jawab. Di mana dia." bentak Bagas.


Melihat ke empat lelaki di hadapannya. Dan semua menatap tajam ke arahnya, membuat nyali karyawan tersebut menciut. Apalagi dia hanyalah seorang perempuan.


"Pak Tio tidak ada di sini. Beliau baru saja pergi meninggalkan cafe." jelasnya.


Galih sedikit menjauh dari yang lain. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


Bagas membawa karyawan tadi menjauh dari tempatnya sekarang. Bagas merasa di sini terlalu rame. Karena banyak pelanggan cafe yang memperhatikan mereka.


Sampai di tempat lumayan sepi, yaitu di samping cafe. Bagas melepaskan cekalan tangannya. Di sampingnya sudah ada Angga dan Leon. Sedangkan Galih masih sibuk menelpon seseorang dengan ponselnya di dalam cafe.


"Sumpah pak, saya tidak tahu di mana pak Tio. Setelah kejadian tadi siang, beliau pergi dari cafe." ujar karyawan cafe.


"Aduh keceplosan." gumamnya sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


Mereka bertiga memandang tajam pada karyawan cafe tersebut. Merasa tertekan, akhirnya dia pun menceritakan apa yang di lihat tadi siang.


"Tadi ada seorang wanita yang di bawa paksa pak Tio ke ruangannya. Tapi saya tidak tahu apa uang terjadi di dalam pak. Sumpah."


"Setelah itu pak Tio keluar dari ruangannya, menyuruh kita mencari wanita tersebut. Karena di baju bagian bahu pak Tio nampak ada bekas darah." jelasnya.


"Bawa kami ke ruangan itu." ucap Angga.


"Baik, mari, silahkan."


Karyawan tadi berjalan mendahului mereka bertiga.


"Aduh, kenapa tadi mesti gue yang di tanya. Jadinya kan gini. Ngasih tahu salah, nggak ngasih tahu juga salah. Apes banget gue. Ngalamat di pecat nih gue." batin karyawan tersebut.


"Ini pak ruangannya."


"Buka." suruh Bagas pada karyawan cafe.


Setelah pintu terbuka mereka masuk ke dalam. Kemudian mereka masuk lagi ke sebuah ruangan lagi. Dimana ruangan tersebut biasa di gunakan istirahat oleh Tio jika berada di cafe. Galih berlari dan menyusul mereka berempat.


"Ya Alloh." gumam Leon masih bisa terdengar oleh semuanya.


Nampak seprei dan bantal di ranjang yang sangat berantakan. Dan ada banyak bekas darah di seprei tersebut.


Di sudut lain. Kaca jendela yang sudah pecah dengan kaca masih berserakan di lantai dan belum di bersihkan. Terdapat darah juga di pecahan kaca yang berhamburan di lantai.


"Tiooooo...."


Bagas berteriak sambil menggenggam tangannya erat.


"Akan ku pastikan, kamu akan membayar mahal semua ini. Karena sudah berani menyentuh wanita yang aku cintai." batin Angga.


"Masuk penjara terlalu mudah untukmu." batin Galih.


Leon hanya bisa membayangkan bagaimana perjuangan Rena tadi.


"Istrimu sungguh pemberani. Kamu tenang saja. Aku akan membantumu menemukan bajingan itu." ucap Leon di samping Bagas.


"Apa kita perlu melapor pada polisi." imbuh Leon.


"Tidak."

__ADS_1


Bagas, Galih, dan Angga menjawab secara bersamaan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2