Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 60


__ADS_3

Siang hari Rena terbangun dari tidurnya. Setelah melaksanakan sholat, dia keluar dari kamar. Di depan televisi nampak Intan dan Lina merebahkan badan mereka sambil bermain ponsel.


"Ibu mana Lin?"


Mendengar namanya di sebut, Lina langsung menoleh ke sumber suara.


"Di dapur mbak. Ada apa, apa mbak membutuhkan sesuatu?" tanya Lina dan segera membenarkan posisinya dengan duduk.


"Nggak, mbak ke dapur dulu Lin, mau lihat ibu."


Rena menuju dapur. Lina melihat Intan. Intan bahkan tidak peduli dengan kehadiran Rena barusan. Dia beranggapan seolah-olah Rena tidak terlihat. Intan bahkan masih sibuk dengan ponselnya, sambil sesekali menunjukkan raut wajah kesalnya.


"Kenapa sih Intan." batin Lina.


Lina hendak mengintip apa yang di lihat Intan pada ponselnya. Dia penasaran. Tetapi tidak bisa. Karena posisi ke duanya sedikit jauh. Dan berseberangan.


Sebenarnya Intan mengirim banyak pesan pada Bagas, sejak tadi pagi. Tapi tidak ada yang di balas satupun oleh Bagas. Padahal WA Bagas dalam keadaan online. Tapi tidak di baca oleh Bagas.


Hanya terdapat centang dua hitam di ponsel Intan. Menandakan pesannya telah masuk, namun tidak di baca.


"Ibu sedang apa?" tanya Rena setelah berada di dapur.


"Kamu sudah bangun Ren. Maaf, ibu lancang. Tadi sebenarnya ibu mau membangunkan kamu. Tapi ibu tidak tega." kata bu Anis.


"Ibu mau minta sayur, buat di bawa pulang. Kasihan bapak. Tidak ada sayur di rumah. Mereka kan tidak bisa masak." jawab bu Anis sambil memasukkan sayur ke dalam rantang.


Bu Anis sengaja membawa sayur dari rumah Rena, beliau takut jika tidak sempat masak di rumah. Karena bu Anis khawatir pak Ramli keburu pulang.


"Ya ampun bu, Rena pikir ada apa. Ibu ambil saja secukupnya. Lagian sayurnya masih banyak


Rena kan masih makan sedikit bu, nanti pasti sisa banyak." tutur Rena.


"Ibu menginap lagi di sinikan?"


"Tidak Ren, kasihan bapak mu nanti. Tidak ada yang memasakkan. Tadi pagi saja sudah makan nasi bungkus." jawab bu Anis.


Rena hanya tersenyum mendengar perkataan dari hu Anis.


"Makanya kamu suruh adikmu belajar masak, jika ibu mau tidur di sini kan tidak kepikiran bapak mu di rumah." kata bu Anis.


"Iya bu, nanti pelan-pelan Rena akan berbicara sama Lina."


"Makasih ya Ren."


Rena hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum untuk menjawab ucapan terimakasih dari mertuanya.


Setelah selesai menaruh sayuran di rantang, bu Anis dan Rena berjalan menuju ke tempat Intan dan Lina rebahan.


"Mbak Rena gimana, sudah enakan. Jika belum, nanti biar Intan yang tidur sini saja." kata Intan.


Lina hanya memandang Intan tanpa berkata apapun. Entah apa yang dipikirkan oleh Lina.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang di rencanakan oleh Intan?" batin Lina.


"Tidak perlu mbak, nanti malah merepotkan. Lagi pula nanti mak akan menginap di sini. Nanti jika mbak menginap disini malah mbak Intan kerepotan. Harus bangun pagi-pagi membantu mak menyiapkan sarapan dan bersih-bersih rumah."


Mak Irah menjawab perkataan Intan sambil berjalan ke arah mereka. Di tangannya ada empat gelas jus buah.


Mendengar perkataan mak Irah, Intan seperti di timpuk batu besar.


"Sial, apa di menyindir gue." batin Intan.


Karena selama Intan menumpang tinggal di rumah Lina, dia selalu bangun agak siang. Dia tinggal membantu bu Anis menyiapkan makan di meja makan.


Karena Intan selalu bangun saat bu Anis sudah selesai memasak. Sebenarnya bu Anis sudah mulai geram, tetapi pak Ramli selalu memberinya pengertian.


Pernah terpikir oleh bu Anis menyuruh Intan untuk meninggalkan rumahnya. Tetapi saat bu Anis menyampaikannya pada pak Ramli, suaminya tersebut tidak memperbolehkannya. Entah apa yang di pikirkan pak Ramli.


Saat bu Anis bertanya alasan pak Ramli tetap mengijinkan Intan tinggal di rumahnya, jawabannya hanya rasa kemanusiaan semata.


"Penyelamat datang. Tenang saja mak, setelah aku memastikan semuanya, aku juga akan turun tangan. Dan pastinya kita tidak akan bekerja berdua saja." batin Lina sambil mengangan-angan sesuatu.


"Ini jusnya, dan ini untuk mbak Rena. Tanpa air es." kata mak Irah menaruh gelas jus di hadapan Rena.


"Makasih mak, tahu saja tenggorokan ini butuh yang segar-segar." kata Lina sambil tersenyum dan mengambil jus.


"Sialan, aku harus segera menyingkirkan pembantu brengsek ini. Perusak saja." batin Intan.


Tanpa sengaja Rena melihat jika Intan menatap mak Irah dengan tatapan yang tidak suka. Ada amarah dalam tatapan Intan.


Sekitar jam tiga sore.


Bu Anis, Lina dan Intan meninggalkan rumah Rena.


"Maaf ya mak nggak bisa bantu masak." kata Rena sambil duduk di kursi dapur.


"Iya mbak, nggak apa-apa. Mbak kan lagi sakit."


"Mak, jangan masak banyak-banyak. Sayur tadi pagi masih ada. Mak buat lauknya saja. Rena kan masih malas makan."


"Iya mbak, ini mak buatkan bubur nasi buat mbak Rena nanti."


"Makasih mak. Rena tinggal ke ruang tengah ya mak."


Di ruang tengah Rena menelpon Dona. Dia menceritakan tentang kejadian tadi pagi saat Angga datang ke rumahnya pada sahabatnya tersebut.


"Apa aku harus menceritakan pada mas Bagas?" tanya Rena.


"Iya, baiklah. Terimakasih kamu selalu baik denganku."


Rena menutup ponselnya.


"Aku harus menceritakan pada mas Bagas. Aku tidak ingin mas Bagas salah paham lagi." kata Rena.

__ADS_1


"Aku tidak ingin rumah tanggaku hancur." batin Rena.


*****


Di tempat lain, seorang pria tampan sedang duduk santai sambil memegang gelas berisi minuman. Dengan sesekali menegak minuman tersebut.


"Sangat menggemaskan. Aku semakin tertarik untuk memilikinya." kata Angga.


"Galak tapi menarik. Coba saja dia tidak mempunyai suami. Pasti lebih mudah mendapatkannya." ucap Angga.


Ponsel Angga yang dia taruh di meja tiba-tiba berbunyi.


DONA


"Halo. Terserah."


Angga mematikan sambungan teleponnya dengan Dona.


"Tidak penting kamu mau berbuat apa, semuanya sama saja." kata Angga sambil meneguk minuman di gelas yang sedang di pegangnya.


*****


Di butik, Dona memikirkan cara membuat Angga menjauh dari Rena. Setelah dia berpikir dengan matang, akhirnya dia memutuskan untuk menerima pertunangan dirinya dengan Angga.


"Mungkin dengan menerima perjodohan ini, aku tidak akan pernah menyakiti siapapun. Bahkan aku akan menyelamatkan temanku." ucap Dona.


Dona mengambil ponselnya dan menelpon Angga. Dia berkata bahwa dia menerima perjodohan mereka. Dan dia ingin segera bertunangan.


"Ohhh, dia matikan ponselnya. Dan bilang ter-se-rah."


Dona bicara dengan memandang ponsel yang berada di tangannya.


"Aku tidak boleh menyerah. Aku sudah memutuskan menerima perjodohan ini. Dan meninggalkan mas Tio. Ya, benar."


Dona berjalan menuju kursinya, dan duduk di sana.


"Jika aku tetap bersama mas Tio, mbak Mira akan sakit hati. Apa aku bisa menjalani hidupku dengan rasa bersalah. Aku memang mencintai mas Tio, tapi aku juga tidak boleh buta. Bagaimana dengan papa dan mama. Mereka pasti akan malu pada semua orang."


Dona memijat pelipisnya.


"Satu-satunya pilihan menyetujui perjodohan ini. Aku bisa membuat papa mama bahagia. Dan juga menyelamatkan Rena. Ya, benar."


"Oke Dona, kamu jangan ragu lagi. Kamu harus membuat dirimu berguna." kata Dona menyemangati dirinya sendiri.


"Walaupun kamu akan merasakan sakitnya kehilangan orang yang sangat kamu cintai." Dona berbicara dengan nada yang rendah dan melas pada dirinya sendiri.


"Tapi ini akan sangat sulit, Angga sangat menginginkan Rena. Mudah-mudahan aku bisa membelokkan hatinya."


Di belokkan, Dona pikir mobil.


😄😄😄

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2