
"Intan, kenapa dia masih berada di rumah. Dan ini, dia berada di kamarku." batin Bagas memejamkan mata untuk menahan amarah.
"Perempuan itu benar-benar berbahaya." imbuhnya.
Ekspresi Bagas tak luput dari pengawasan Galih yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Apa yang ada di dalam ponselnya. Kenapa ekspresinya berubah seketika." batin Galih.
Bagas melangkahkan kakinya untuk pergi ke kantin menyusul yang lain. Dan Galih berjalan tepat di belakang Bagas.
Bagas tidak tahu jika di belakangnya ada Galih. Karena saat berjalan dia memikirkan, bagaimana jika saat dia pulang, Intan masih berada di rumahnya.
"Ah,,, sial. Mengganggu pikiranku saja." gumam Bagas sambil mengacak rambutnya.
"Lebih baik aku sholat dulu. Ke kantin nanti saja." batin Bagas.
"Apa terjadi sesuatu dengan Rena, kenapa Bagas seperti frustasi." batin Galih tetap berjalan di belakang Bagas.
Saat berwudhu, Bagas meletakkan ponsel miliknya di dekatnya. Karena kebetulan ponselnya sejak keluar dari ruangan tetap berada di genggaman tangannya. Karena biasanya ponsel tersebut di taruh di saku celana.
Dilepaskan pula jam tangan yang melingkar di oergelangan tangannya. Dan di taruh bersama ponsel. Bagas membungkukkan badan untuk berwudhu.
Saat itulah Galih mendekat dan mengambil ponsel Bagas. Dan membawanya menjauh dari Bagas. Karena keadaan di sekitar masjid masih sepi. Kebanyakan karyawan lebih memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Jadi tidak ada seorangpun yang melihat tindakan Galih.
Bagas yang selesai berwudhu langsung meraih jam tangannya dan masuk ke dalam masjid. Dia lupa jika ponselnya di taruh bersama jam tangan tersebut.
Tidak jauh dari tempat wudhu, Galih membuka ponsel Bagas. Karena ponsel Bagas tidak di kunci menggunakan sandi.
Galih membuka riwayat panggilan. Tidak ada yang mencurigakan, dia beralih ke pesan. Betapa kagetnya saat dia melihat pesan dari Intan. Saudara tirinya, yang selama ini dia cari. Apalagi bukan hanya pesan tertulis. Melainkan pesan bergambar.
"Gila, ternyata elo nggak sebaik yang gue pikir. Gue sempat ingin mengubur perasaan gue ke Rena. Ternyata elo lebih brengsek dari gue Gas." ucap Galih lirih dengan nada sinis.
"Mungkin Bagas tidak terlalu sulit, karena dia sendiri yang melakukan kesalahan. Tapi Angga. Dia lebih berkuasa dan tangguh dari pada Bagas." batin Galih.
Melihat Rena sangat mencintai Bagas, Galih sempat berpikir untuk mengubur perasaannya. Tapi saat melihat Intan mengirim pesan bergambar seperti yang dia lihat di ponsel Bagas, Galih berspekulasi bahwa mereka, Bagas dan Intan mempunyai hubungan.
Galih segera mengembalikan ponsel Bagas ke tempat dia mengambil tadi, sebelum Bagas menyadarinya.
Ternyata benar. Saat akan melaksanakan sholat, Bagas merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet dan ponselnya. Tapi dia tidak menemukan ponselnya.
"Mana ponselku." batin Bagas sambil mengingat-ngingat kembali di mana dia menaruh ponselnya.
"Astagaaaa."
Bagas menepuk pelan keningnya. Dan berjalan menuju tempat wudhu. Di sana dia menemukan ponselnya.
"Perasaan tadi nggak ada di sini." ucap Bagas sambil melihat sekelilingnya.
"Entahlah. Lebih baik aku segera sholat." imbuh Bagas.
Bagas segera kembali ke dalam masjid dan melaksanakan sholat. Setelah itu dia pergi ke kantin untuk makan siang.
Sebelum itu, dia meminta bantuan pada adiknya untuk mengusir Intan dari rumahnya. Bagas tidak ingin kejadian yang lalu dengan Intan terjadi kembali.
__ADS_1
"Tapi Lina kan sedang bekerja." batin Bagas.
"Sudahlah. Lebih baik di telpon dulu. Siapa tahu bisa." kata Bagas.
Di carinya kontak nomor Lina, kemudian di telponnya.
Bagas bercerita bahwa saat ini Intan berada di rumahnya. Dan dia minta tolong pada Lina untuk mengusirnya.
Setelah menelpon Lina Bagas bergegas pergi ke kantin.
Di butik, Lina kelihatan sangat gelisah sesudah di telpon oleh sang kakak.
"Gimana ini, gue kan lagi kerja. Masa iya gue izin. Mana ini kerja hari pertama gue." kata Lina bingung.
"Elo kenapa Lin?" tanya Wati setelah sampai di belakang.
"Nggak, nggak apa-apa. Gue mau ke depan. Tapi kebelet BAB." kilah Lina.
"Ooo,,,, ya udah, elo buang dulu yang akan menghambat kinerja elo. Baru elo ke depan. Nggak enak tahu rasanya me-na-han." ucap Wati sambil cekikikan.
Lina tersenyum kaku dan masuk ke dalam toilet.
"Lina ayo,,, berpikir." ucap Lina lirih sambil memegang ponselnya dengan kedua tangan.
"Mak Irah. Iya,, benar." batin Lina.
"Eitzz,,, tunggu. Kan sekarang mak Irah di rumah sakit. Ada mama lagi di sana. Jika aku telpon, pasti mama akan tahu. Terus, mbak Rena bisa-bisa curiga." kata Lina.
Akhirnya Lina memutuskan mengirim pesan pada mak
Irah.
MAK, SEKARANG SETAN BETINA ADA DI RUMAH.
MAK SEGERA PULANG DAN USIR DIA.
JANGAN SAMPAI MAS BAGAS PULANG SETAN BETINA MASIH ADA DI RUMAH.
"Selesai." ucap Lina sambil mengirim pesan pada mak Irah.
Segera Lina keluar dari toilet dan bergegas kembali bekerja.
Di rumah sakit, Rena sedang di periksa oleh dokter. Perban di kakinya di buka.
"Bagaimana dok?" tanya bu Anis.
"Sebagian sudah membaik. Tapi ada beberapa luka yang masih membengkak. Karena luka tersebut lumayan dalam. Sekarang tidak perlu di perban ya bu. Karena lukanya sudah agak mengering. Jika bisa, jangan di gunakan untuk berjalan terlebih dulu." jelas Dokter.
"Baik dok, terimakasih." ucap bu Anis.
"Kapan saya boleh pulang dok?" tanya Rena.
"Sabar ya bu, biarkan keadaan ibu pulih terlebih dulu." jawab Dokter dengan senyum mengembang di bibir.
__ADS_1
"Kamu itu Ren, nurut kata Bu Dokter saja." kata bu Anis.
"Iya mbak. Nanti mak akan ke sini setiap hari." ujar mak Irah.
"Maaf ya semua. Rena ngrepotin." kata Rena merasa tidak enak pada mertuanya dan mak Irah.
"Kamu kan anak ibu. Masa ngrepotin." ucap bu Anis dengan tersenyum.
Mendengar percakapan mereka, bu Dokter hanya tersenyum.
"Ya sudah, karena saya sudah selesai. Saya pamit dulu ya bu." kata bu Dokter.
"Silahkan bu, terimakasih." ucap bu Anis.
Mak Irah mengambil ponselnya untuk melihat pukul berapa saat ini. Padahal di dinding kamar rawat Rena terpasang jam dinding. Ada-ada saja mak Irah ini.
Tapi beruntung mak Irah membuka ponsel miliknya. Mak Irah memang di berikan ponsel oleh Rena. Supaya lebih mudah untuk berkomunikasi. Karena mak Irah tidak 24 jam berada di rumah Rena.
"Astaghfirulloh,,," ucap mak Irah begitu membaca pesan sari Lina.
"Ada apa mak?" tanya Rena dan bu Anis bersamaan.
"Nggak bu, nggak apa-apa. Saya tadi lupa. Belum menjemur cucian. Karena terburu-buru datang ke sini." kilah mak Irah.
"Ya sudah mak, nggak apa-apa. Di jemur besok saja." kata Rena.
"Nggak bisa mbak. Nanti mak takut bajunya rusak,,,, atau,,, eeemmmm,,,,, bau. Iya bau." kata mak Irah memberi alasan.
"Lebih baik mak pulang dulu saja ya mbak, bu. Nanti mak ke sini lagi." kata mak Irah.
"Benar kata Rena mak, biarin saja bajunya. Besok saja. Dari pada mak Irah nanti bolak balik." kata bu Anis.
"Tapi mak tadi juga belum beres-beres rumah bu." ucap mak Irah lagi.
"Nggak apa-apa mak. Sudah, biarkan saja. Mak di sini saja. Nemenin kami." kata Rena.
"Aduh. Ini gimana. Buat alasan apa. Jadi bingung." batin mak Irah.
"Ada apa mak?" tanya Rena.
"Mak mau ke belakang sebentar mbak." kata mak Irah melangkah keluar dari ruangan Rena.
"Mak,, mau kemana?" tanya Rena lagi saat mak Irah berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kebelakang. Mau ke toilet mbak."
"Itu. Di sana ada toiletnya mak." kata Rena sambil menunjuk kamar mandi beserta toilet yang ada di dalam ruangannya.
"Oh iya. Mak lupa mbak." kata mak Irah sambil tersenyum.
Bu Anis dan Rena tertawa melihat mak Irah.
BERSAMBUNG
__ADS_1