
Pagi hari seperti biasa mak Irah sudah berada di dapur. Dia tidak tahu jika Rena meninggalkan rumah dari semalam. Karena saat Bagas dan Rena bertengkar, mak Irah berada di dalam kamar belakang. Jadi dia tidak mendengarnya.
"Tumben, mbak Rena belum bangun."
Dilihatnya jam dinding yang menempel di dinding dapur. Jam saat ini menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Di dalam kamar, Bagas mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah sadar sepenuhnya dari tidurnya dia melangkah pergi ke kamar mandi.
Saat di dalam kamar mandi, dia mendengar suara ponsel Rena berdering.
"Rena."
Bagas seperti tersadar jika semalam dia bertengkar dengan istrinya. Segera dia keluar dari kamar menuju ke dapur. Dia menghiraukan ponsel Rena yang terus berdering.
"Mak, sudah bangun."
"Mas Bagas. Dari tadi mak bangunnya mas. Iya mas, apa mbak Rena tidak enak badan. Tumben belum nyamperin mak di dapur."
Bagas tidak menjawab pertanyaan mak Irah. Dia membalikkan badannya dan berjalan menuju kamar.
"Ponselnya ada di rumah."
Kemudian Bagas berjalan menuju meja, tempat biasanya Rena meletakkan dompetnya.
"Dompetnya juga ada."
Bagas membuka laci meja tempat Rena menyimpan dompetnya.
"Astaga, kemana Rena. Ya Alloh, semalam dia tidur di mana. Jika dia pergi ke rumah ibu, pasti mereka sudah menghubungiku. Apa mungkin dia pergi ke rumah Dona."
Bagas membuka ponsel milik istrinya. Terdapat pesan dari Dona yang menanyakan kapan Rena akan kembali bekerja. Dan juga ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Dona.
"Itu artinya Rena tidak bersama Dona."
Bagas duduk di ranjang. Dia langsung cemas karena tidak tahu kondisi istrinya saat ini.
"Aaaaa,,,, kenapa aku bisa seperti ini. Jika saja semalam aku tidak egois."
Bagas menjambak rambutnya sendiri. Dia meraih kunci mobil hendak mencari Rena.
"Mas Bagas mau kemana?"
Tanya mak Irah, karena terlihat Bagas berjalan dengan tergesa-gesa.
"Mau cari Rena."
Bagas hanya menjawab singkat dan langsung pergi meninggalkan mak Irah yang masih kebingungan.
"Cari mbak Rena. Memang mbak Rena ke mana. Sebenarnya ini ada apa." gumam mak Irah saat Bagas sudah pergi dari hadapannya.
Bagas mengendarai mobil dengan pelan. Pandangannya mengarah ke kanan dan kiri. Berharap bisa menemukan Rena.
*****
"Ya Alloh, dingin banget."
Rena masih berbaring di atas kasur dengan posisi meringkuk. Badannya panas. Mungkin karena dia baru saja sembuh dari sakit, di tambah lagi semalam kehujanan cukup lama.
__ADS_1
Apalagi saat ini dia tidak memakai selimut. Ketukan pintu dari luar membuat Rena bangun dari tidurnya dan membuka pintu.
"Maaf bu, saya belum meninggalkan tempat ini."
Rena langsung berbicara setelah membuka pintu. Karena saat ini ibu kos berdiri di depan pintu kamarnya. Dia merasa tidak enak. Padahal dia semalam sempat bilang bahwa dia hanya akan tinggal satu malam saja.
"Kamu sakit."
Ibu kos meletakkan telapak tangannya di dahi Rena.
"Badan kamu panas."
"Mungkin karena saya kehujanan semalam bu. Sebentar lagi saya akan keluar dari sini bu. Terimakasih sudah meminjamkan baju pada saya."
"Sebaiknya kamu di sini dulu. Jika sudah enakan kamu baru pergi."
"Tapi bu, saya tidak punya uang."
"Nggak apa-apa. Lagi pula anting yang kamu kasih saya semalam sudah saya jual. Harganya lumayan mahal. Kamu bisa tidur di sini sampai badan kamu sehat."
"Terimakasih bu."
Ibu kos pergi meninggalkan Rena. Rena kembali ke dalam kamar, dia mengambil pakaian yang semalam basah terkena air hujan. Dia membawanya ke kamar mandi umum untuk di cuci.
Di kamar mandi ada seorang perempuan juga sedang mencuci. Rena memberanikan diri untuk meminta sabun cuci sedikit saja. Untungnya Rena di izinkan untuk mengambil sabun cuci miliknya.
Setelah selesai menjemur pakaiannya, Rena kembali ke dalam kamar. Dia hendak merebahkan diri. Tapi belum sempat berbaring, pintu kamar di ketuk kembali dari luar.
Rena berdiri dan membuka pintu.
"Ini kamu pakai. Dan ini kamu makan. Di dalamnya ada obat. Jangan lupa di minum"
Ibu kos hanya mengangguk dan pergi dari kamar Rena. Rena masuk dan segera makan nasi bungkus yang di beri ibu kos tadi. Dan meminum obatnya.
"Ternyata baik juga ibu kosnya. Walau kelihatan galak."
Rena merebahkan tubuhnya dan memakai selimut yang di beri oleh ibu kos barusan. Saat hendak memejamkan mata, Rena teringat Bagas.
"Kamu sedang apa mas, apa kamu mencari aku saat ini."
Air mata Rena menetes di pipi. Rena pun tertidur karena efek dari obat yang di minumnya tadi. Bahkan air mata di pipinya masih ada.
*****
Bagas memukul-mukul stir mobilnya. Dia sudah berputar-putar cukup lama, dan bertanya pada beberapa orang dengan memperlihatkan foto Rena. Tapi tidak ada yang pernah melihat Rena.
Ponsel Bagas berdering.
LEON
"Halo, ada apa Yon?"
"Maaf, hari ini aku tidak masuk kerja. Tolong kamu izinkan. Ada urusan keluarga."
Bagas menutup teleponnya. Dia ingin mencari Rena. Jika dia bekerja, pasti dia tidak akan fokus. Lagi pula Leon sudah masuk kerja. Jadi dia bisa mengambil izin tidak masuk untuk hari ini.
Di kantor Leon mendengus kesal, karena Bagas mematikan telepon darinya. Padahal Leon masih ingin berbicara padanya.
__ADS_1
"Kenapa sih lo, ngomel-ngomel." ucap Mira.
"Bagas, tiba-tiba mematikan teleponnya. Padahal aku ingin bertanya."
"Eh iya, tumben dia belum datang." tanya Mira.
"Hari ini dia nggak masuk. Katanya ada urusan keluarga."
Galih hanya mendengarkan obrolan Leon dan Mira.
"Isti lo masih di rumah orang tuanya?"
"Iya, dia bilang dia belum bisa ngurus bayinya sendirian. Padahal aku sudah memberi saran untuk mencari baby sister."
"Aduh kasihan. Di rumah sendiri. Berasa duda."
"Sialan."
Leon menimpuk kepala Mira menggunakan kertas yang sedang dia pegang. Mira hanya tertawa cekikikan.
Sementara di dalam mobil Bagas tampak putus asa mencari Rena. Dia mengambil ponsel dan menghubungi telepon rumahnya. Dia bertanya pada mak Irah, apakah Rena sudah pulang apa belum.
"Jadi Rena belum pulang. Ya Alloh,, kamu kemana sayang. Kenapa aku tidak menghentikan dia tadi malam."
Bagas menyandarkan kepalanya di stir mobil. Bagas melajukan mobilnya lagi. Dia berputar-putar mencari Rena sampai siang. Tapi tetap hasilnya nihil.
Bagas merasa perutnya lapar. Dia menghentikan mobilnya di depan warung. Kemudian masuk dalam warung untuk mengisi perutnya.
Saat menyuapkan sendok berisi nasi ke mulutnya, dia teringat istrinya.
"Dia tidak membawa uang. Lalu dia makan apa. Tidur di mana."
Bagas memakan makanannya hanya sedikit. Perutnya memang terasa lapar. Tapi dia tidak sanggup untuk makan, dia selalu teringat Rena.
"Apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya. Tapi tidak mungkin. Dia tidak bawa uang."
Bagas segera mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya. Dia mengemudikan dengan cepat.
"Aku harus meminta bantuan. Terserah jika mereka memarahiku. Yang terpenting Rena segera di temukan."
Bagas memutuskan bercerita pada kedua orang tuanya. Dia bingung dan cemas. Dia takut jika Rena kenapa-napa. Apalagi Rena tidak membawa ponsel. Bahkan uang sepeserpun dia tidak membawanya.
Sesampai di rumah orang tuanya, Bagas langsung masuk tanpa mengucapkan salam.
"Lo, Mas Bagas nggak masuk kerja."
Lina yang sedang membersihkan rumah melihat Bagas berjalan menuju arahnya. Bu Anis yang sedang memegang kemoceng pun menoleh ke arah Bagas.
"Kamu ini, masuk rumah nggak mengucap salam." tegur bu Anis.
"Kenapa mas?"
Lina mendekat ke tempat Bagas dan bu Anis. Dia melihat raut wajah Bagas yang nampak cemas dan bingung.
"Rena pergi dari rumah."
Bagas mendudukkan boko**nya di sofa. Intan yang mendengar langsung berjalan mendekat.
__ADS_1
BERSAMBUNG