
"Dokter Angga kok belum datang ya mas?" Rena melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.
"Mungkin masih di jalan." Bagas mengangkat tangannya dan melambaikannya pada karyawan di cafe.
"Kita pesan minum saja dulu sambil menunggu dokter Angga datang, kamu mau pesan apa?" Bagas menyodorkan buku menu pada Rena.
"Ini saja." Rena menunjuk daftar minum di buku menu.
Bagas menyebutkan pesanan mereka pada karyawan cafe.
"Mas coba telpon dokter Angga, siapa tahu dia lupa. Dia kan orang sibuk." Rena mulai merasa khawatir jika dokter Angga tidak datang.
"Sabar dulu, kita tunggu sebentar lagi."
Minuman yang mereka pesan datang.
Hening...
Hanya beberapa kali terdengar seruputan air yang di minum oleh Rena dan Bagas menggunakan sedotan.
"Maaf saya terlambat, soalnya tadi mendadak ada pasien yang harus saya tangani terlebih dulu." Angga merasa tidak enak pada Bagas dan Rena karena sudah datang terlambat.
"Tidak apa-apa Dok, silahkan duduk." Bagas berdiri dan mempersilahkan dokter Angga duduk.
"Bukankah itu sudah kewajiban seorang dokter." lanjut Bagas setelah duduk.
Mereka saling memandang dan tersenyum.
"Sebaiknya panggil saja saya Angga. Tidak usah memakai kata dokter."
Rena hanya diam menyimak percakapan mereka.
"Bagaimana kondisi ibu Rena, sudah lebih baik kan?"
"Alkhamdulillah sudah dok,, eh maksud saya Angga." Rena tersenyum canggung.
"Maaf sebelumnya, sebenarnya ada apa pak Bagas dan ibu Rena ingin bertemu saya." Angga bertanya dengan sopan pada mereka.
"Panggil saja nama kami tanpa pak atau pun ibu, supaya lebih enak di dengar. Usia kami juga belum terlalu tua." Bagas merasa panggilan untuknya dan juga Rena terlalu tua untuk umur mereka.
Mereka tertawa bersama.
"Baiklah."
"Sebenarnya kami ingin membicarakan soal Dona."
Rena langsung berterus terang kepada Angga kenapa mereka mengajaknya untuk bertemu.
Bagas memandang Rena dengan menggeleng pelan.
" Rena, Rena, dasar wanita. Tidak bisa lebih sabar sedikit saja." batin Bagas.
Angga menatap Rena dengan tatapan menyelidik.
"Maaf, dok,, maksud saya Angga lebih baik anda pesan minum dulu." tawar Bagas untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Begini saja, kita jangan berbicara di sini. Lebih baik kita berbicara di tempat lain." ekspresi Angga berubah 360°.
Di awal pembicaraan Angga terlihat sangat bersahabat dan ramah terhadap mereka. Tapi setelah Rena mengatakan tujuan mereka ekspresi Angga berubah dingin. Seolah dia memiliki kepribadian ganda. Antara kejam dan lembut.
Angga berdiri dari duduknya. Rena melihat ke arah Bagas. Bagas mengangguk pada Rena. Seakan dia tahu arti tatapan Rena padanya.
Mereka bergandengan tangan dan berjalan mengikuti Angga.
****
Rena mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang sekarang ia masuki bersama Bagas.
"Silahkan duduk." Angga duduk di sofa tunggal.
Rena dan Bagas duduk berdampingan.
"Kebetulan ini adalah cafe milik teman saya, jadi saya bisa meminjam ruangan ini." Angga menjelaskan pada Bagas dan Rena karena mereka terlihat bingung.
"Sebenarnya saya ingin menemui dok,, eh maksud saya,,," Rena memejamkan matanya sebentar untuk menetralkan rasa gugup yang menjalar di hatinya.
Bagas memegang tangan Rena, memberikan kekuatan pada Rena.
"Apa mas saja yang berbicara dengan Angga." Bagas berbisik pada Rena.
"Tidak perlu mas, biar aku saja. Dona kan sahabat ku. Akan aku selesaikan seperti janjiku pada tante Tika." Rena tersenyum dan mengatur nafasnya.
Angga hanya melihat mereka berdua tanpa ekspresi.
"Kenapa?" tanya Angga singkat. Tetapi pandangan matanya menusuk seperti garpu. (memang makanan, mau di tusuk.. 🤭🤭)
(siapa ya dokter Angga sebenarnya.. 🤔🤔.. hanya author dan Bagas yang tahu...😉😉)
Bagas memegang kedua bahu Rena. Dia menatap Rena sambil tersenyum untuk memberikan dukungan.
"Siapa lelaki ini, sikapnya begitu tenang. Biasanya mereka akan mundur melihat tatapan mataku yang bisa mengintimidasi lawan bicara." batin Angga sambil menatap Bagas dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. DATAR.
"Saya akan menceritakan kenapa tante Tika menjodohkan kamu dengan putrinya. Dona." Rena membuka suaranya begitu dia bisa melawan rasa gugupnya.
Rena menceritakan semuanya kepada Angga.
Angga hanya duduk diam dan mendengarkan semua cerita Rena tanpa memotong perkataan Rena. Dia duduk tenang dengan raut muka datarnya. Bahkan bisa di bilang tanpa ekspresi.
"Seperti dugaan ku, dia sudah mengetahui semuanya. Dengan kedudukan yang dia miliki tidak mungkin dia tidak tahu. Tapi kenapa dia tetap menerima perjodohan ini." batin Bagas.
Bagas bisa menebaknya dari sikap Angga saat mendengar cerita dari Rena.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Kerja sama." jawab Rena tenang. Saat ini Rena sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Tatapan intimidasi dari Angga sudah tidak mempan untuknya.
Seketika Bagas menoleh pada istrinya setelah mendengar jawaban Rena.
"Kamu.. memang wanita hebat." batin Bagas dengan tersenyum tipis melirik Rena.
"Wanita ini,, bisa mengubah keadaan dengan cepat." batin Angga kagum."
__ADS_1
"Anda adalah seorang dokter, pasti setiap hari banyak pasien yang anda tolong. Benarkan?"
Rena menghentikan perkataanya dan tersenyum pada Angga.
"Saat ini ada seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan anda. Sahabat saya, perempuan yang di jodohkan dengan anda. Dona."
Bagas duduk tenang di samping Rena. Dia percaya istrinya dapat menyelesaikan permasalahan ini.
Angga menyipitkan matanya.
"Jika anda tidak menolongnya, rumah tangga seseorang akan hancur. Seorang wanita akan menyandang status janda. Dan nama baik orang tua Dona akan hancur seketika. "
Rena menghentikan perkataannya dan mengubah duduknya. Dia mengangkat satu kakinya, menyilang di kakinya yang satu.
"Dengan tetap menerima perjodohan ini, anda akan menyelamatkan banyak orang. Bukankah itu pekerjaan anda sehari-hari."
Angga berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju jendela. Kedua tangannya di masukkan ke saku celana sambil memandang keluar jendela.
Bagas menyusul Angga. Dia berdiri di samping Angga.
"Apakah seorang dokter dan juga pemilik perusahaan besar yang berwajah tampan akan kalah pesona dari lelaki yang sudah beristri." Bagas mencoba membuat hati Angga panas.
"Apa kata orang, jika mereka tahu dokter tampan sekaligus CEO perusahaan besar di tolak perempuan karena seorang lelaki yang sudah beristri."
Angga membalikkan badan dan menatap Rena.
"Apakah dokter yang tampan ini bisa menaklukkan hati seorang perempuan. Saya hanya penasaran saja." Rena mencoba membuat Angga semakin tertantang.
"Saya akan membuat sahabat kamu bertekuk lutut di hadapan saya, dia akan berada dalam genggaman tangan seorang Angga karena sudah berani menolak perjodohan ini." Angga melihat telapak tangannya. Dan menggenggam erat telapak tangannya.
Dia melangkah keluar ruangan meninggalkan Bagas dan Rena.
"Kita berhasil membuat dia panas."
"Setidaknya dia tidak membatalkan perjodohan ini."
Bagas merangkul pundak Rena. Mereka berjalan keluar ruangan.
"Misi telah selesai, tinggal melaporkan pada ketua."
"Ketua?"
"Tante Tika maksud ku mas,,,"
"Kita lihat saja, apa yang akan di lakukan Angga."
"Betul. Dokter tampan itu sepertinya sudah terhasut omongan kita." Rena berkata dengan nada gembira.
Bagas melepas rangkulannya pada Rena. Dia berjalan sendiri meninggalkan Rena.
Rena segera menyusul langkah suaminya. Dia memegang tangan Bagas. Tapi di lepaskan oleh Bagas. Rena menghentikan langkahnya. Melihat Bagas dari belakang.
"Kenapa sih, tadi baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba jadi aneh begitu." Rena segera berjalan cepat untuk menyusul Bagas.
BERSAMBUNG
__ADS_1