Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 13


__ADS_3

Galih mengantar Leon pulang. Mobil yang mereka gunakan saat ini adalah mobil Galih. Sebelum ke rumah Bagas, Galih mampir ke rumah Leon dahulu untuk menjemputnya.


"Apa perasaan kamu ke Rena masih belum berubah."


"Kamu pikir segampang itu melenyapkan rasa suka."


"Tapi elo jangan gila, Rena istri Bagas. Sahabat elo sendiri."


"Gue tahu, tapi tiap lihat dia ada perasaan aneh di hati gue."


"Karena elo nggak mau berusaha buat hilangin perasaan itu. Kita sahabatan sejak SMA. Jangan sampai masalah ini menjadi penyebab persahabatan kita rusak. Elo harus bisa mengendalikan perasaan elo."


Mereka terdiam sejenak. Galih masih fokus menyetir.


"Elo coba cari cewek, siapa tahu rasa suka elo ke Rena bisa pindah ke cewek itu."


"Elo pikir apaan, pake acara pindah segala."


"Gue serius Lih,,,"


"Gue paham. Dan gue tahu maksud lo. Tapi nggak segampang itu."


Leon segera turun begitu sampai di depan rumahnya.


"Elo nggak mampir dulu."


"Nggak."


"Ok, makasih."


"Ya."


Leon memandang mobil Galih yang meninggalkan rumahnya.


"Galih,, Galih,, sulit banget kasih tahu elo."


****


Galih segera mengemudikan mobilnya pergi dari depan rumah Leon. Ada perasaan kesal pada Leon.


"Sial, kenapa mesti Rena sih, kenapa dia yang jadi istri Bagas. Coba saja gue yang kenal lebih dulu. Pasti keadaannya gak bakal kayak gini. Atau paling tidak jika dia bukan istri Bagas akan lebih mudah merebutnya.


Bagas,,,, kenapa elo beruntung banget. Apa yang harus gue lakukan. Tapi siapa tahu, jika Rena adalah jodoh gue. Rena, gue akan berusaha mendapatkan kamu".


Galih menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tersenyum sambil melihat foto Rena di dalam hp nya.


*****


Sementara di rumah Bagas, pasangan suami istri ini tengah berada di kamar tidur.


Bagas melakukan shalat. Rena menunggu Bagas dengan duduk di atas ranjang. Rena tidak sholat karena masih dalam masa nifas setelah keguguran.


Setelah selesai shalat Bagas membereskan alat shalatnya dan beranjak ke ranjang.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur."


"Nunggu mas,"


"Ya sudah kita tidur, udah malam."


"Mas, besok aku mau ke butik boleh."


"Mau ngapain."


"Mau pamit sama anak-anak, sama Dona juga. Soalnya aku belum memberi tahu Dona, kalau mau berhenti kerja di butik."


"Sore saja ke sananya, nanti biar mas antar setelah mas pulang kerja."


"Mas nanti capek."


"Nggak, ya sudah sekarang kita tidur."


Bagas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Rena. Merek tidur sambil berpelukan. Mereka memejamkan mata. Sampai akhirnya masuk dalam mimpi masing-masing.


****


Keesokan harinya saat di kantor Bagas di panggil oleh atasan.


Begitu keluar dari ruangan atasannya Bagas kembali ke ruangan tempat dia bekerja sambil tersenyum.


"Ada apa Gas?" tanya Leon dengan cemas.


"Gue serius, kenapa elo di panggil." tanya Leon dengan serius.


"Nggak kenapa-napa. Pinjaman yang gue ajukan di terima."


"Pinjaman buat beli mobil."


Bagas menjawabnya dengan mengangguk.


"Cie,,, jangan lupa syukuran pak." celetuk Mira. Salah satu teman Bagas di kantor yang masih satu divisi dengannya, Leon dan juga Galih.


Leon dan Mira sibuk menggoda Bagas karena bakal memiliki mobil. Tetapi Galih hanya diam tidak merespon.


"Kenapa si Galih, di tekuk aja itu muka. Kaya pakaian belum di setrika. Kucel" kata Mira.


Bagas dan Leon mengalihkan pandangannya ke Galih.


"Kenapa lo Lih, ada masalah." tanya Bagas.


"Masalah hati mungkin." celetuk Mira.


Galih mengangkat kepalanya dan memandang Mira dengan tatapan tajam. Setelah itu dia langsung berdiri meninggalkan ruangan.


"Mau kemana itu orang,, kerja hey,, kerja. Malah nyelonong pergi." ujar Mira.


"Sudah, biarkan saja. Mungkin dia lagi ada masalah. Sekarang kita kerja lagi." ujar Leon.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Galih kembali ke meja kerjanya. Yang lain hanya diam memandang tanpa berani bertanya ataupun berkomentar.


****


Sore hari saat Bagas hendak pulang, dia di datangi oleh sekertaris kantor.


"Pak Bagas bisa ikut saya sebentar."


"Baik." jawab Bagas.


"Ada apa Gas?" tanya Leon.


"Nggak tahu, gue pergi dulu."


Bagas segera menyusul sekertaris tersebut.


"Ada apa ya bu?" tanya Bagas setelah tiba di meja sekertaris.


"Silahkan duduk." kata sekertaris sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.


Kertas tersebut adalah surat perjanjian pinjaman Bagas untuk membeli mobil dari kantor.


"Silahkan di tanda tangani pak, di sini, dan disini juga."


ucap sekertaris itu sambil menunjukkan tempatnya.


"Terimakasih, ini kunci dan surat-surat mobil bapak."


dia menyerahkannya pada Bagas.


"Sudah ada mobilnya bu, cepat sekali."


"Sekarang mobil bapak ada di parkiran."


"Terimakasih banyak bu, saya undur diri dulu."


****


Sesampainya di parkiran Bagas melihat mobil yang di belinya sudah terparkir di sana. Kemudian dia menuju pos satpam. Dia berniat menitipkan motornya di kantor. Karena tidak mungkin dia pulang membawa mobil dan motornya sekaligus.


"Maaf pak, saya mau nitip motor saya di sini pak. Mungkin semalam, apa boleh."


"Memang kenapa pak dengan motornya." tanya pak satpam sambil melihat motor di samping Bagas.


"Saya tidak mungkin bisa membawanya pulang pak, soalnya saya mau menyetir mobil." jelas Bagas pada satpam tersebut.


"Oalahhh,,, iya pak. Bapak tinggal saja di sini motornya. Aman pak. Soalnya kantor ini di jaga 24 jam begiliran pak. Nanti saya bilang teman saya yang shif malam."


"Terimakasih banyak pak."


Bagas meninggalkan sepeda motornya di pos satpam. Dia berjalan menuju tempat di mana mobilnya di parkir.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2