
"Mas." panggil Rena dengan suara lembutnya.
Bagas hanya diam sambil memandang wajah cantik istrinya.
"Mas tahu, kenapa aku memberitahukan mas tentang Angga yang menyukai diriku." ucap Rena sembari menatap senja dari jendela kamar.
"Karena aku ingin mas tahu, sebesar apapun Angga menginginkanku. Aku tidak akan pernah berpaling dari mas Bagas. Bukan hanya Angga. Siapapun lelaki di luar sana yang menginginkan diriku, aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhku. Aku akan menjaga dan memastikan, hati dan tubuh ini hanya di miliki oleh seseorang saja. Yaitu,,, suamiku." ucap Rena panjang lebar.
Rena berbalik dan menatap lekat pada netra mata milik Bagas.
"Tapi jika suatu saat mas Bagas sendiri yang menginginkan aku pergi. Maka aku akan melakukannya." ucap Rena.
"Tanpa ragu." imbuh Rena.
Rena pergi melangkah kaki keluar kamar meninggalkan Bagas yang berdiri mematung. Perkataan Rena barusan seperti pedang tajam dan lancip yang menusuk langsung ke jantung dan hati Bagas.
Bagas mengingat bagaimana Rena melarikan diri dari genggaman Tio. Sedangkan dia, dengan mudahnya masuk ke dalam kenikmatan yang di berikan Intan.
Tubuh Bagas merosot ke lantai. Di pegang kepalanya menggunakan kedua tangannya.
Rena bersender di balik pintu kamar. Segera ia mengusap air mata yang akan jatuh di pipi.
"Jika kau tidak bisa berkata jujur padaku. Jangan salahkan aku jika aku bertindak sendiri." ucap Rena.
Malam hari, Rena tidur lebih dulu. Bagas berada di depan meja, mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai karena kejadian siang tadi.
Bagas menutup mematikan komputernya dan menyusul Rena di atas ranjang.
"Maaf sayang, bukannya aku tidak mau jujur. Tapi aku terlalu takut. Aku takut jika kamu marah." gumam Bagas sembari mengecup pelan kening istrinya.
Bagas lantas membaringkan badannya di samping Rena, dan memeluk sang istri dari belakang.
Keesokan harinya Rena dan Bagas berinteraksi seperti biasa. Tetapi, Rena tidak menampakkan senyumnya. Bagas pun menyadari hal tersebut.
"Apa Rena sudah tahu jika Intan mencoba mendekatiku. Apa yang harus aku lakukan." kata Bagas pada saat dirinya sedang menyetir mobil menuju kantor.
"Aku harus jujur pada Rena. Iya, pasti semuanya akan baik-baik saja." kata Bagas dalam hatinya.
Bagas berencana untuk menceritakan semuanya pada Rena sepulang kerja nanti.
"Intan." gumam Bagas saat dia sampai di parkiran kantornya.
Intan duduk di bagian belakang mobil. Dia memang sengaja menunggu kedatangan Bagas. Beberapa karyawan terlihat memperhatikan Intan. Mungkin karena mereka baru pertama kali melihatnya.
Senyum Intan mengembang tatkala melihat kedatangan mobil Bagas.
"Untuk apa dia ke sini?" tanya Bagas pada dirinya sendiri.
Bagas keluar dari mobil dan berpura-pura tidak melihat Intan. Dia berjalan begitu saja. Merasa di abaikan Intan berteriak memanggil nama Bagas dan menghampirinya.
"Mas Bagas."
"Kenapa?" tanya Bagas tanpa melihat ke arah Intan.
"Bagaimana, suka dengan kemeja yang aku berikan kemarin?" tanya Intan antusias.
__ADS_1
Intan langsung bergelendotan di lengan Bagas.
"Lepas. Kamu tidak lihat. Ini di kantor. Banyak orang di sini." ucap Bagas sambil melepaskan tangan Intan dari lengannya.
"Jika tidak ada orang berarti boleh dong?" tanya Intan suara manja.
"Jangan pernah lagi datangi saya. Bahkan menelpon saya. Paham." sarkas Bagas.
Bagas meninggalkan Intan dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kantor.
"Sabar Intan. Oke. Jangan sampai kamu emosi. Apalagi marah. Hufftt." ucap Intan pada dirinya sendiri sembari mengatur nafasnya.
Dari arah lain, Galih memperhatikan mereka berdua. Dengan senyum mengejek, diapun juga melangkahkan kakinya ke dalam kantor.
"Sekarang aku tidak perlu melakukan apapun. Kamu sendiri yang menggali lubang untukmu sendiri Bagas. Aku juga harus lebih berhati-hati dengan anak palakor itu. Dia lebih berbahaya dari dugaanku ." batin Galih.
Sementara di seberang jalan, seseorang dengan menggunakan motor juga memperhatikan interaksi Bagas dan Intan.
"Ternyata benar." gumam Rena kembali menjalankan sepeda motor miliknya.
Rena memacu sepeda motornya menuju danau tempat ia dan Bagas sering menghabiskan waktu saat masih pacaran. Dia ingin menenangkan pikirannya.
Di butik, Lina mencari informasi mengenai hubungan Intan dan Galih pada Wati dan Sari. Tapi tidak ada hasil apapun. Malahan Lina sendiri terpojokkan dengan pertanyaan dari Sari.
Sari merasa curiga pada Lina karena Lina selalu menanyakan Intan pada dirinya dan juga Wati.
"Oke aku akan berkata jujur." kata Lina pada Sari dan Wati.
Saat ini mereka masih berada di ruang belakang karena butik belum buka. Mereka masih menunggu kedatangan Dona.
Lina tidak mengatakan di mana dia melihat pertengkaran itu. Dia tidak ingin aib kakaknya di ketahui oleh orang lain.
"Galih. Aku seperti pernah mendengarnya." kata Wati sambil mengingat-ngingat kembali.
"Bukan mendengar, tapi melihat." ucap Sari.
"Dimana? Kapan? Kok aku nggak inget." kata Wati.
"Pikun. Waktu di kontrakan. Saat itu kita masih bareng sama Intan. Inget?" tanya Sari pada Wati.
Wati menggelengkan kepalanya lemah.
"Kamu itu. Sudahlah kamu tidak perlu mengingat. Cukup aku saja yang mengingat. Karena mengingat itu butuh tenaga." kata Sari.
"Nggak nyambung." teriak Wati dan Lina bersamaan.
"Cepat ceritakan. Keburu mbak Dona datang." ucap Lina tidak sabar.
"Saat itu ada lelaki yang mengaku sebagai saudara Intan. Namanya Galih. Tapi karena Intan tidak ada, akhirnya dia pulang lagi. Dan Intan minta tolong pada kita untuk bilang bahwa dia sudah pindah saat Galih datang lagi. Ternyata benar, Galih datang lagi. Dan aku bilang jika Intan sudah tidak tinggal bersama kita." jelas Sari panjang lebar.
"Emmm, saudara." gumam Lina.
"Yap." ucap Sari.
"Eh,, iya. Aku inget." ucap Wati antusias.
__ADS_1
"Tetotttt,,,,, telat mbak." kata Sari dengan nada sedikit tinggi.
Lina tertawa terbahak-bahak melihat bibir manyun Wati.
"Saudara tapi nggak mau ketemu. Jangan-jangan,,,," ucap Lina sembari menatap Sari dan Wati bergantian.
"Bisa juga." ucap Sari yang tahu maksud dari perkataan Lina.
"Apaan sih? Jelasin dong?" tanya Wati tidak mengerti.
"Ayam bakar enak." kata Sari dan Lina bersamaan.
Sari dan Lina menyebut ayam bakar, karena ayam bakar adalah makanan kesukaan Wati.
Sementara Sari dan Lina tertawa melihat bibir Wati yang manyun lagi.
"Seneng banget. Ada apa?" tanya Dona begitu sampai dan melihat karyawannya terlihat bahagia.
"Nggak mbak. Kok tumben baru dateng mbak?" tanya Sari dengan sopan.
"Iya, kesiangan bangun tidur." jawab Dona.
Rena masih duduk di kursi tepi danau. Panas matahari yang mulai menyengat di kulitnya membuat Rena membuka jaket yang sedang ia kenakan.
"Entah kenapa, jika di sini pasti hati dan pikiranku terasa tenang." gumam Rena dengan melihat air danau yang ada di depannya.
Perut Rena terasa lapar. Rena menengok ke kanan dan kiri.
"Makan apa ya enaknya." gumam Rena.
Rena berdiri dan menuju warung dekat danau.
"Mbak, nasi pecel satu. Minumnya,,, teh hangat saja." kata Rena pada pelayan warung tersebut.
"Sudah lama nggak up date status." gumam Rena.
Rena memfoto sepiring nasi pecel beserta satu gelas teh hangat.
SEDERHANA PUN BISA BAHAGIA
Rena menambahkan kalimat untuk melengkapi gambar tersebut.
Setelah itu Rena makan dengan lahapnya. Selesai makan, Rena berencana untuk jalan-jalan kembali menggunakan sepeda motornya.
"Lho jaket ku." ucap Rena saat dia ingin menyalakan sepeda motornya.
Rena pun kembali ke tempat ia duduk di tepi danau. Tapi jaketnya sudah tidak ada. Akhirnya Rena menaiki sepeda motor tanpa menggunakan jaket.
Penampilan Rena tanpa jaket yang melekat di tubuhnya mengundang pengguna jalan untuk melihat dirinya.
Kaos lengan pendek warna biru muda pas di badan dengan celana jeans navy sedikit robek di paha, di tambah rambut yang terurai membuat Rena semakin seksi di atas sepeda motor sport milik Bagas.
Beruntung Rena menggunakan helm milik Bagas. Jadi wajahnya tidak terlihat semuanya. Rena tidak mempedulikan mata-mata yang tengah menatapnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1