Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 91


__ADS_3

"Maaf sayang." kata Bagas setelah sampai rumah.


Bagas memeluk leher Rena dari belakang. Dagunya ia letakkan di bahu milik istrinya. Sementara mata Rena tetap melihat ke arah televisi.


"Mas, lebih baik bersihkan badan dulu sana." ucap Rena.


"Kamu marah sayang. Maaf tadi,,,,"


"Aku tidak marah mas. Lebih baik mas mandi dulu." ucap Rena memotong perkataan Bagas.


Rena tersenyum dan mencium tangan Bagas.


"Baiklah sayang. Aku mandi dulu." kata Bagas sambil mencium rambut Rena.


Rena memandang Bagas yang sedang berjalan menuju kamar. Senyum yang baru saja ia perlihatkan pada Bagas langsung memudar. Hanya ada tatapan tanpa ekspresi yang Rena perlihatkan di wajahnya.


Mata Rena memandang ke arah televisi. Tapi tidak dengan pikirannya. Entah apa yang sedang Rena pikirkan saat ini. Hanya dia yang tahu.


Malam hari, dia tetap bersikap biasa pada Bagas. Bahkan senyumnya selalu mengembang di bibirnya.


Keesokan hari saat Bagas bekerja, Rena pun keluar rumah untuk pergi ke suatu tempat.


"Mak, jika mas Bagas tanya, bilang jika aku sedang istirahat di kamar." kata Rena.


"Mbak Rena mau ke mana?" tanya mak Irah.


Tampak Rena menggunakan kaos lengan pendek dengan jaket kulit di luarnya di padukan dengan celana jeans berwarna hitam.


"Aku hanya ingin mencari udara segar mak. Aku terlalu penat." ucap Rena.


Rena menggunakan motor milik Bagas untuk keluar.


"Mbak Rena mau ke mana? Apa aku perlu memberitahu mbak Lina. Aduh,,, bagaimana ini." gumam mak Irah.


"Jika nanti mbak Rena keluar lama, aku akan memberitahu mbak Lina. Lebih baik sekarang aku biarkan saja." batin mak Irah.


Rena mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah Intan. Di depan rumah megah tersebut, Rena menghentikan motornya tanpa membuka helm. Di pandanginya rumah tersebut dari luar pagar.


Seseorang keluar menggunakan mobil dari rumah tersebut. Rena segera bergegas melajukan motornya. Dari balik kaca spion motor miliknya, Rena dapat melihat mobil tersebut melaju ke arah berlawanan dengannya.


Rena berbalik arah dan mengikuti ke mana mobil tadi pergi. Tampak mobil tersebut berhenti di depan toko yang menjual pakaian khusus untuk pria. Seorang perempuan keluar dari mobil tersebut dan masuk ke dalam.


"Intan." gumam Rena dengan masih duduk di atas motornya tanpa melepas helm yang dia pakai.


Tidak lama kemudian Intan keluar dari toko dengan paper bag di tangannya dan masuk ke dalam mobil. Rena memarkirkan motornya di depan toko setelah memastikan Intan pergi meninggalkan toko.


Rena masuk ke dalam, dan berpura-pura mencari pakaian.


"Maaf mbak, boleh tanya?" ucap Rena dengan sopan pada karyawan toko.


"Iya mbak, ada apa?"


"Apa baju yang di ambil mbak nya tadi masih ada stoknya?" tanya Rena.

__ADS_1


"Maksud saya mbak yang barusan keluar tadi. Jika masih ada saya mau lihat ukuran lainnya mbak." imbuh Rena.


"Baik mbak, silahkan ikut saya."


Karyawan toko memperlihatkan sebuah kemeja berwarna hitam pada Rena.


"Apa merknya sama dengan yang di ambil mbak-mbak tadi. Soalnya, kata mbaknya tadi, merk yang itu kain dan jahitannya bagus." ucap Rena mencari alasan.


"Ee,,, iya. Sama mbak. Mbaknya tadi juga ambil kemeja hitam yang merk ini."


"Kalai begitu saya ambil ini mbak." ucap Rena.


"Ukurannya?"


"Yang ini saja." kata Rena setelah melihat ukuran kemejanya.


"Emmm,,, mbaknya tadi juga ambil ukuran yang ini." jelas karyawan toko sambil tersenyum.


Rena hanya tersenyum menanggapi perkataan karyawan toko tersebut. Selesai membelinya, Rena bergegas pulang ke rumah.


"Mbak Rena." sapa mak Irah.


Rena tersenyum sambil memandang mak Irah dan masuk ke dalam kamar. Diletakkannya kemeja yang baru ia beli di atas nakas.


Rena merebahkan badannya di atas ranjang. Terlihat Rena tampak lelah, bukan hanya fisiknya. Tapi juga batinnya. Rena memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya.


Terdengar suara dari ponsel Rena yang sedang berdering. Rena membuka matanya dan melihat siapa yang menelponnya.


DONA


Rena teringat akan Tio. Dia langsung bangun dan duduk. Sangat nampak di wajah Rena rasa takut itu masih ada. Rena terdiam sejenak dan keluar dari kamar.


Rena menuju dapur dan meminum dua gelas air sekaligus. Dia duduk di ruang makan sambil memainkan gelas yang sudah kosong dengan tangannya.


"Kenapa dengan mbak Rena." gumam mak Irah merasa khawatir dengan majikannya.


"Mak, pasti sangat senang bisa memberikan keturunan untuk pasangan kita. Pasti suami akan lebih menyayangi istrinya jika dia bisa memberikannya anak. Perempuan seperti mereka, tidak pernah merasakan rasa takut. Rasa takut jika di tinggalkan pasangan." ucap Rena dengan mata yang sudah tergenang dengan air.


"Mbak Rena, tidak seperti itu. Setiap rumah tangga, pasti mempunyai masalah. Mbak Rena tidak boleh berpikiran seperti itu." ucap mak Irah mencoba membuat Rena tenang.


Pundak Rena bergetar. Tangis yang sedari tadi dia tahan, akhirnya tidak bisa ia sembunyikan lagi.


"Mbak Rena."


Rena memeluk erat tubuh mak Irah. Melihat Rena seperti ini, membuat mak Irah juga mengeluarkan air mata.


"Mak,, Rena takut. Rena takut ada wanita lain di hati mas Bagas. Rena takut mas Bagas meninggalkan Rena." ucap Rena pelan dalam tangisnya.


Mak Irah pun tidak menjawab perkataan Rena. Mak Irah sendiri bingung. Apa yang harus dia katakan pada Rena.


Sementara Intan dengan berani datang ke kantor tempat kerja Bagas. Dia menitipkan kemeja yang akan di berikan pada Bagas pada satpam.


"Mas Bagas, ada titipan buat mas Bagas." ucap pak satpam menghampiri Bagas yang hendak masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


"Dari siapa pak?" tanya Bagas heran.


"Perempuan cantik mas, masih muda." ucap pak satpam lirih.


"Makasih pak." kata Bagas.


Di dalam mobil, Bagas membuka paper bag. Ternyata isinya kemeja berwarna hitam.


Bagas mengambil dan membaca selembar kartu ucapan di dalamnya.


MAKASIH SAYANG, SUDAH MENOLONGKU 😘😘


"Pasti Intan." batin Bagas sambil meremas kartu ucapan tersebut dan membuangnya keluar dari kaca samping mobil.


"Mas,, sudah pulang." kata Rena menyambut kedatangan Bagas.


"Bagaimana, lukanya masih sakit?" tanya Bagas.


"Sudah nggak." jawab Rena.


"Mas mandi sana gih, bau. Bajunya sudah aku siapkan." kata Rena.


"Oke. Makasih." ucap Bagas di barengi ciuman ke pipi Rena.


"Sayang. Besok lusa kamu bisa kan temani mas ke acara ulang tahun kantor." pinta Bagas.


"Bisa mas, Rena kan sudah sembuh." kata Rena.


Senyum Rena hilang saat Bagas membalikkan badan dan berjalan menuju kamar. Rena duduk di sofa depan televisi. Dia duduk bersandar sambil memejamkan mata dengan memijat keningnya.


Setelah mandi, Bagas hendak memakai baju yang sudah di siapkan oleh Rena. Betapa terkejutnya, saat dia melihat baju tersebut.


"Kemeja ini, kenapa bisa sama." gumam Bagas.


Bagas seperti ragu saat akan memakainya. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia tidak ingin mendapat pertanyaan dari Rena saat dirinya tidak mau memakai kemeja tersebut.


"Mas suka kemejanya?" tanya Rena begitu membuka pintu kamar.


"Suka." jawab Bagas sambil mengancingkan kemeja yang telah dia pakai.


"Ini baru saja aku beli tadi. Aku suka. Jadi aku beli untuk mas. Untung saja mas juga suka." ucap Rena dengan senyum di bibir.


"Ada apa?" tanya Bagas pada Rena.


Bagas sadar jika Rena sedang memperhatikan dirinya.


"Suamiku tampan. Aku beruntung punya suami seperti mas. Pasti di luar sana banyak perempuan yang suka sama mas. Iyakan? Tapi aku bersyukur, mas lelaki yang setia." ucap Rena sambil menempelkan kedua tangannya di dada milik Bagas.


"Meskipun sampai sekarang, aku belum bisa memberi anak untuk mas. Tapi suamiku ini tetap setia di sampingku." ucap Rena dengan mengalihkan tangannya ke leher Bagas.


Rena tetap memandang wajah Bagas dengan intens. Dia ingin tahu perubahan wajah suaminya tersebut.


Dan tebakan Rena benar, Bagas melepaskan tangan Rena yang melingkar di lehernya dan segera berpaling dari pandangan Rena.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2