
Sore hari mereka pulang dari rumah sakit. Tapi sebelum pulang Rena meminta suaminya untuk mampir ke butik milik Dona.
"Sore Sari yang cantik." sapa Rena begitu sampai di depan kasir.
"Mbak Rena, mas Bagas, apa kabar mbak? Lama nggak main ke sini."
"Kamu pikir butik Dona tempat bermain gitu."
Mereka hanya tertawa bersama.
"Dona ada?"
"Ada mbak. Kayaknya sedang ada tamu."
"Siapa?"
Sari hanya menggelengkan kepalanya.
"Nggak pernah lihat orangnya." jawab Sari kemudian.
"Jadi penasaran, siapa sih tamunya. Emmm,,.kita jadi ketemu Dona apa nggak ya mas. Takut tamu penting " Rena menghadap ke arah suaminya.
Belum sempat Bagas menjawab Dona sudah terlihat berjalan bersama seorang lelaki ke arah mereka. Tetapi Rena tidak melihatnya. Karena posisi Rena membelakangi Dona.
"Mas, di tanya kok malah buang muka. Ada apa sih."
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Bagas akhirnya Rena menengok ke belakang. Ke arah pandangan Bagas menatap sesuatu.
"Mas Tio." gumam Rena.
Bagas dan Rena saling berpandangan. Rena tersenyum menakutkan sambil memainkan kedua alisnya, naik turun naik turun. Bagas hanya mengerutkan dahinya melihat senyum dari Rena. Rena membalikkan badannya dan berjalan ke arah Dona. Dia langsung berlari menghampiri Dona.
"Don,,, kangen." Rena langsung memeluk sahabatnya tersebut.
"Dasar wanita. Dia pasti akan melakukan dramanya." batin Bagas sambil berjalan santai dengan memasukkan ke dua tangan ke dalam saku celananya menuju tempat Rena.
"Pantas saja Intan suka sama mas Bagas, keren abis sih. Astaghfirullah,, ingat Sari ingat. Dosa dosa dosa. Kayak nggak ada laki-laki aja. Suami orang mau di embat. Lagi pula cantikan mbak Rena dari pada kamu." batin Sari sambil memegang dadanya.
"Lo, mas Tio. Kok ada disini." Rena pura-pura terkejut melihat Tio.
Tio dan Bagas saling menyapa dan bersalaman.
"Kenal?" tanya Dona.
"Dia mas Tio, suaminya mbak Mira. Rekan kerja mas Bagas di kantor. Oh iya mas. Mbak Mira nya mana?" Rena celingukan mencari keberadaan Mira. Padahal itu semua cuma aktingnya.
"Aaa,,, mas Tio ke sini pasti mau beli bajukan? Buat surprise untuk mbak Mira. Ya ampun so sweet banget sih. Lihat tu mas, kayak mas Tio dong." Rena berbicara panjang lebar. Sementara Bagas hanya diam menyaksikan drama yang akan di buat istrinya.
__ADS_1
"Don, tadi pagi kamu ngapain hayo?" Rena menjawil-jawil tubuh Dona.
Dona hanya memandang Rena, karena tidak tahu apa yang di maksud sahabatnya tersebut.
"Ngapain pagi-pagi udah pergi ke kafe. Sama cowok cakep lagi." Rena berbicara sambil melirik ke arah Tio.
Pandangan Tio langsung mengarah pada Dona.
"Ka- kapan?" Dona menjawab dengan gugup.
"Cie,, pakai malu-malu segala. Pepet terus Don. Jangan sampai lepas. Mubadzir. Udah tampan, kaya lagi. Kalau aku masih sendiri aku juga mau." Rena menghadap ke arah Bagas.
"Canda mas,,." Rena mengangkat ke dua jarinya sambil merenges memperlihatkan deretan giginya.
Bagas sebenarnya merasa risih mendengar istrinya memuji pria lain. Walau pujian itu drama yang sengaja di buat istrinya. Tapi dia harus sabar. Di samping Bagas, Tio sudah menunjukkan ekspresi kesalnya. Dia mengeratkan kedua rahangnya. Tangannya sudah mengepal sempurna di bawah.
Sesekali Rena tampak melirik ke arah Tio. Dia sadar saat ini Tio sedang tangah terbakar cemburu mendengar perkataannya.
Bagas juga hanya melirik Tio. Tetapi dia sudah bersiap-siap. Dia takut Tio gelap mata mendengar perkataan istrinya. Segera Rena mengalihkan pandangan ke arah Tio.
"Mas Tio, sudah dapat baju buat mbak Mira?"
"Belum. Tidak ada yang cocok. Saya permisi dulu."
Tio langsung bergegas pergi setelah pamit. Rena sedikit tersenyum menatap suaminya. Sementara Dona terlihat cemas sambil memandang kepergian Tio.
"Ada apa Don? Kamu lihat apa sih." Rena berpura-pura tidak tahu.
"Rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
Rena menceritakan pada Dona tentang Lina dan Intan.
"Jadi sekarang Intan tinggal di rumah kamu?"
"Bukan rumah ku Don, rumah mertuaku."
"Apa mbak. Intan tinggal di rumah orang tua mas Bagas?"
Sari langsung bertanya begitu mendengar cerita Rena. Saat ini mereka masih berada di depan kasir.
"Kok di bolehin sih mbak?"
"Memang kenapa? Lagian orang tuanya tidak bisa pulang. Mereka ada pekerjaan di luar kota. Dan juga Lina merasa bersalah, karena dia berpikir kecelakaan ini karena dia."
"Nggak kenapa-kenapa kok mbak." jawab Sari. Dia takut jika Rena curiga padanya.
__ADS_1
"Ya sudah, ngobrol di ruangan ku saja." sela Dona memotong pembicaraan Rena dan Sari.
Rena, Bagas, dan Dona berjalan menuju ruangan Dona.
"Aku seperti tidak terlihat." batin Bagas.
Karena saat berjalan Rena dan Dona berada di depan. Mereka asik mengobrol berdua. Sementara Bagas berjalan di belakang mereka. Terlihat seperti pengawal mereka. Tapi pengawal ganteng.. ðŸ¤ðŸ¤
Wati lari menuju kasir saat mereka bertiga meninggalkan kasir dan berjalan menuju ruangan Dona. Kebetulan butik sedang sepi.
"Ada apa?" Wati sangat penasaran tentang pembicaraan mereka.
"Gila, benar-benar gila." Sari mengeleng-gelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Apa sih."
Sari menceritakan bahwa Intan tinggal di rumah orang tua Bagas untuk sementara.
"Dasar, susah banget di bilangin. Maunya apa coba."
"Apa perlu kita kasih tahu mbak Rena."
"Jangan dulu deh, kita pantau saja dulu. Jika memang kelewat batas baru kita bertindak." ucap Wati menggebu-gebu.
"Iya benar. Kalau sampai yang aku bayangin terjadi,, aduhhh,,, kasihan mbak Rena." ucap Sari sambil menempelkan telapak tangan pada pipinya.
"Dasar pelakor.. Mungkin sudah keturunan dari mamanya."
"Hust,, jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar." ucap Sari takut jika sampai ada yang dengar.
"Bodo."
Orang tua Intan sudah lama berpisah. Papanya sudah berkeluarga lagi dan tinggal di luar kota. Hanya sesekali dia berkunjung untuk bertemu dengan Intan. Sedangkan mamanya menikah siri dengan seorang pengusaha. Dan kabarnya pengusaha tersebut sudah mempunyai istri dan juga anak.
Dulu keluarga Intan juga termasuk keluarga sederhana. Tetapi setelah mamanya menikah lagi sekarang hidup Intan dan mamanya lebih terjamin. Tetapi Intan lebih memilih bekerja dan tinggal di kontrakan dengan Sari dan Wati. Dia beralasan ingin hidup mandiri. Sebenarnya Sari maupun Wati tidak begitu percaya dengan alasan Intan. Karena mereka yakin ada sesuatu yang di tutup-tutupi oleh Intan.
"Dasar keluarga pelakor." Wati *******-***** sendiri kedua telapak tangannya.
"Tega banget, kurang baik apa coba mbak Rena. Lagian cantikan mbak Rena ke mana-mana."
"Ya iyalah, orang kaya kutu kupret gitu. Sudah lah aku mau balik kerja dulu. Soalnya tadi ada pembeli."
****
"Kalian mau minum apa." tawar Dona setelah sampai di ruangannya.
"Kebetulan tadi baru belanja, jadi masih banyak pilihan di kulkas." Dona membuka pintu kulkas yang berada di dalam ruangannya
__ADS_1
"Apa aja, yang penting seger."
BERSAMBUNG