Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 105


__ADS_3

"Sebentar lagi kita sampai sayang." ucap Bagas.


"Hem." jawab Rena singkat.


Rena membuka jendela mobilnya dan memandang hamparan sawah yang terbentang luas di pinggir jalan yang mereka lewati.


Bagas mengacak pelan rambut Rena.


"Sejuk sekali ya mas." ucap Rena.


"Hem." jawab Bagas.


Mendengar jawaban dari Bagas, Rena langsung menoleh dan memandang Bagas sambil cemberut.


"Balas dendam nih." kata Rena.


Bagas tidak membalas ucapan Rena. Dia hanya tersenyum sambil terus menatap ke arah depan.


"Satu belokan lagi kita sampai." jelas Bagas.


Rena langsung menoleh ke arah depan. Senyumnya mengembang di bibir cantiknya.


"Alkhamdulillah, sampai." ujar Rena.


Bagas dan Rena turun dari mobil dan melangkah ke rumah pak Abdul.


"Sepi banget yang." kata Bagas sambil menoleh ke kanan dan kiri.


"Jam segini semua nggak ada di rumah mas. Sera masuk kerja. Ibu ke pasar. Bapak pasti sedang di sawah." jelas Rena.


"Tetangga juga sepi. Nggak ada satu orangpun." tutur Bagas sembari melihat rumah tetangga di kanan kiri rumah pak Abdul.


"Mereka juga pasti bekerja lah mas." ucap Rena.


Rumah pak Abdul sama seperti rumah lainnya di desa. Rata-rata rumah mereka tidak memakai pagar di depan rumah mereka. Hanya ada pelataran luas yang di tanami bunga dan beberapa jenis tanaman yang berbuah. Seperti mangga, rambutan, dan lain-lain.


"Bagaimana kita masuk kalau begitu." kata Bagas mendadak merasa bingung.


"Tenang saja." kata Rena.


Rena naik ke atas kursi di teras rumah. Tangannya terulur mengambil sesuatu dari lubang di tembok, tepat di atas jendela rumah.


"Mas, kamu ambil dulu oleh-oleh nya di bagasi mobil." ucap Rena sambil membuka kunci rumah.


"Siap Yang Mulia." ucap Bagas.


"Ini di taruh di mana?" tanya Bagas.


"Di situ saja." kata Rena sambil menunjuk ke arah kursi di ruang tamu.


Bagas dan Rena masuk ke dalam kamar Rena. Kamar yang selalu Rena pakai sebelum menikah dengan Bagas.


"Bersih." ucap Bagas begitu sampai di dalam kamar.


"Pastilah mas. Kan di bersihkan setiap hati sama Sera." jelas Rena sambil membuka lemari pakaian.


"Mas mau mandi apa istirahat dulu." tanya Rena.


"Mas mau tidur dulu saja. Nanti saja mandinya. Sekalian sholat jum'at." jelas Bagas sambil melihat jam dinding.


"Oke." ucap Rena.

__ADS_1


Bagas merebahkan badannya ke kasur. Sementara Rena langsung meninggalkan suaminya yang sedang tertidur pulas. Dia berjalan menuju dapur.


Rena memang tidak membawa pakaian sehelaipun. Karena Rena memang sudah meninggalkan beberapa pakaiannya dan Bagas di rumah ke dua orang tuanya.


"Emmm, jadi lapar lihat masakan ibu." ucap Rena.


Tanpa berpikir lama, Rena langsung mengambil piring dan mengisinya dengan masakan bu Yanti. Setelah merasa kenyang, Rena mencuci piringnya dan masuk kembali ke dalam kamar.


Rena merebahkan badannya di samping Bagas yang sudah tertidur pulas. Tidak lama kemudian Rena sudah menyusul Bagas ke dalam mimpinya.


Bu Yanti yang pulang dari pasar merasa heran, karena ada mobil yang parkir di pekarangan rumahnya.


"Mobil siapa. Parkir di sini." gumam bu Yanti sambil mencoba mengintip lewat kaca mobil.


Siapa tahu di dalam mobil ada orangnya, makanya bu Yanti intip.


"Mobil siapa mbak?" tanya Bu Dewi, tetangga bu Yanti.


"Nggak tahu." jawab Bu Yanti.


Karena bu Yanti tidak menemukan seseorang di dalam mobil, akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah.


"Loh, kok nggak ada." gumam bu Yanti yang sudah berada di atas kursi dengan tangan hendak mengambil kunci rumah.


"Kenapa bu?" tanya pak Abdul begitu sampai di depan rumah.


"Kuncinya nggak ada pak." ucap Bu Yanti.


"Masa sih bu. Biasanya juga ditaruh di situ sama Sera." kata pak Abdul sambil membilas kakinya yang kotor karena baru dari pulang sawah.


"Itu mobil siapa bu?" tanya pak Abdul.


"Coba bapak cari. Ibu turun dulu." imbuh pak Abdul.


"Iya bu, nggak ada." ucap pak Abdul.


"Pak, kok pintunya bisa di buka." ucap bu Yanti dengan khawatir.


"Pasti Sera lupa kunci pintu." omel bu Yanti sambil masuk ke dalam rumah.


"Ini apa pak?" tanya bu Yanti sembari pandangan matanya mengarah ke kursi ruang tamu.


"Jajan bu." kata pak Abdul dengan membuka beberapa kantong plastik di kursi.


Pak Abdul dan bu Yanti saling memandang. Lantas keduanya secara bersamaan mengalihkan pandangan ke kamar Rena.


"Pintunya kok kebuka." ucap bu Yanti yang melihat pintu kamar Rena yang terbuka sedikit.


Bu Yanti dengan tergesa-gesa menuju kamar Rena dan membukanya dengan pelan.


"Astaghfirullah." ucap bu Yanti pelan sambil memegang dadanya.


"Kenapa bu?" tanya pak Abdul.


"Husst." ucap bu Yanti sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.


"Sini." ucap bu Yanti pelan.


"Ternyata mereka." kata pak Abdul setelah melihat putrinya dan menantunya sedang tertidur pulas.


Bu Yanti menutup pintu kamar Rena secara pelan. Dia tidak ingin anak dan menantunya terbangun.

__ADS_1


"Lebih baik kita biarkan mereka saja. Nanti kita bangunin saat masuk waktu sholat jum'at saja. Bapak mandi sana. Nanti gantian sama nak Bagas." kata bu Yanti.


Pak Abdul pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Karena kamar mandi di rumah mereka hanya ada satu. Mereka harus bergantian saat ingin mandi.


Di dalam kamar, Bagas sudah membuka matanya. Dia mencoba memindahkan kaki Rena yang saat ini berada di atas kakinya secara perlahan.


Bagas mencium kening Rena dan beranjak keluar dari dalam kamar.


"Ibu sudah pulang?" tanya Bagas saat melihat bu Yanti berada di dapur.


"Sudah." jawab bu Yanti.


"Maaf ya bu. Bagas tadi langsung masuk dan tidur." ucap Bagas sambil bersalaman dengan ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa. Ini kan juga rumah kamu. Tapi ibu cuma kaget saja. Soalnya, pintunya nggak di kunci tadi." jelas bu Yanti sambil membuatkan kopi untuk menantu dan suaminya.


"Kata Rena nggak boleh kasih tahu. Mau buat kejutan katanya." jelas Bagas.


"Bapak mana bu?" tanya Bagas.


"Lagi mandi." jawab bu Yanti.


"Nak Bagas." ucap pak Abdul begitu keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan sarung.


"Pak." ucap Bagas sambil bersalaman dengan mertuanya.


"Rena masih di dalam." tanya pak Abdul.


"Iya pak." jawab Bagas.


"Ya sudah, kamu mandi sana. Ini kopinya ibu taruh di ruang tengah sama punya bapak." ucap bu Yanti.


"Iya bu. Oh iya bu, tadi di depan ada oleh-oleh." kata Bagas.


"Iya, terimakasih. Kalian banyak sekali membawa jajannya. Sudah ibu bawa ke dapur itu." ucap bu Yanti sambil menunjukkannya pada Bagas.


Bagas kembali ke kamar dan mengambil pakaian serta sarung. Bagas sekalian memakai sarung, karena jam sudah menunjukkan masuk waktu sholat jum'at.


Setelah selesai mandi, Bagas berbincang dengan pak Abdul dan bu Yanti di ruang tengah sambil menunggu adzan berkumandang.


"Rena belum bangun juga?" tanya bu Yanti.


"Belum bu. Akhir-akhir ini Rena sering tidur." ucap Bagas.


"Emm." gumam bu Yanti sambil mengangguk pelan.


"Ibu mau bagi-bagikan jajan kamu ke tetangga nak. Soalnya banyak sekali. Kalau kita makan sendiri pasti nggak habis." jelas bu Yanti.


"Iya bu. Rena juga bilang, katanya sebagian mau di kasih ke tetangga. Makanya belinya banyak." ucap Bagas.


"Alkhamdulillah." ucap Pak Abdul saat mendengar suara adzan.


"Kita pergi dulu bu." pamit pak Abdul pada istrinya.


Bagas dan pak Abdul pergi ke masjid dengan berjalan kaki, karena jarak rumah pak Abdul dan masjid tidak terlalu jauh.


Saat di jalan mereka tidak hanya jalan berdua. Ada beberapa warga yang juga berjalan bersama mereka. Mereka berbincang saat dalam perjalanan menuju masjid.


Sementara di rumah pak Abdul, bu Yanti sedang memasukkan oleh-oleh yang dibawa Rena ke dalam kantong-kantong kresek untuk di bagikan pada tetangga dekat rumah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2