
"Jika mas Bagas nggak mau nerima aku. Jangan salahkan aku berbuat nekat." ucap Intan mengeluarkan pisau lipat dari dalam tasnya.
"Mak, hubungi polisi." bisik Rena pada mak Irah.
Mak Irah segera pergi dan melaksanakan perintah majikannya.
"Jangan nekat kamu." cegah Bagas.
Bagas khawatir pada istri dan calon anaknya. Sementara Intan terus memandang tajam pada Rena.
"Kamu masuk ke kamar sayang." suruh Bagas pada Rena.
"Tapi mas."
Sebenarnya Rena khawatir pada suaminya. Tapi dia juga khawatir pada calon anak yang ada di dalam perutnya. Apalagi Intan belum mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua.
Rena memang sengaja memakai baju longgar selama kehamilannya. Apalagi kehamilan Rena masih masuki tri semester pertama. Dia khawatir akan keselamatan calon bayinya jika Intan mengetahui kehamilan dirinya
Rena hendak membalikkan badannya. Tapi Intan berlari untuk mengejar Rena. Tangan Bagas menghalau Intan sebelum sampai pada Rena.
Pisau di tangan Intan terlempar jatuh dari tangan Intan. Pisau tersebut sempat mengenai lengan Bagas.
"Mas." teriak Rena melihat goresan yang cukup panjang di lengan kiri milik Bagas.
"Kamu masuk sayang. Biar mas yang menanganinya." suruh Bagas.
"Tapi mas." Rena khawatir membiarkan Bagas sendirian.
"Mak Irah." teriak Bagas.
"Baik mas. Ayo mbak, sebaiknya kita ke dalam. Kasihan nanti bayinya." kata mak Irah menuntun Rena masuk ke dalam kamar.
"Bayi...." kata Intan melihat ke arah Bagas.
"Nggak. Nggak boleh. Rena nggak boleh hamil. Aku mas. Aku yang akan memberikan anak untuk mas Bagas." teriak Intan.
"Ya Alloh. Ingin sekali aku memukulmu Intan." geram Bagas.
"Seandainya kamu laki-laki. Pasti sudah ku hajar kamu." imbuh Bagas.
Bagas langsung menyeret Intan keluar rumah dan menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Biar Lina saja kak." ujar Lina yang sudah berada di samping Intan.
"Gue tu gemes ba....nget tahu nggak sama ellllo." ucap Lina tepat di depan Intan.
Plaakkk....
Hufttt,,, Lina meniup telapak tangannya yang di gunakan untuk menampar pipi Intan.
Rena segera keluar kamar saat mendengar ada suara Lina di luar.
"Kurang ajar." ucap Intan dengan menatap tajam ke arah Lina.
Tangan Intan meraih vas bunga di meja dekatnya berdiri. Dengan cepat dia melempar tepat ke arah Lina.
Hingga Bagas dan Lina pun tidak sempat menghalaunya.
"Aaahhh." teriak Lina saat vas tersebut tepat mengenai pundak kanannya.
"Lina." ucap Bagas dan Rena bersamaan.
Bagas segera mendekat ke arah Lina yang memegangi pundaknya.
Intan menghampiri Rena yang sedang berdiri sendirian. Matanya mengarah ke perut Rena.
Rena yang menyadarinya bersikap waspada.
"Mbak Rena." ucap Lina saat melihat Intan sudah berdiri tepat di depan Rena.
__ADS_1
Bagas langsung menoleh dan segera berlari ke arah Rena. Tangan kekar Bagas dengan mudah menarik tubuh Intan. Dan menekannya ke dinding.
Tangan Bagas memegang leher Intan dengan mata yang merah menyalang.
"Sudah aku peringatkan. Jauhi keluargaku. Aku bisa menghilangkan nyawamu jika kamu masih tidak mengindahkan ancaman ku." ucap Bagas.
Intan seperti kehabisan nafas karena cekikan tangan Bagas di lehernya. Kedua tangannya mencoba melepaskan tangan Bagas dari lehernya. Tapi mustahil. Kekuatan Bagas lebih besar.
"Mas lepas. Dia bisa mati." kata Rena mengingatkan Bagas dan memegang lengan Bagas.
Bagas melepaskan cekikannya di leher Intan. Hingga Intan duduk lemas di lantai sambil terbatuk-batuk.
"Lina. Mak Irah tolong ajak Lina masuk dan obati dia." suruh Rena.
"Baik mbak."
"Sudah mas. Tahan emosi kamu." kata Rena.
Rena berjongkok dan mendekatkan badannya pada Intan yang masih duduk di lantai.
"Kamu tahu sayang. Aku sedang hamil. Anaknya lelaki yang sangat kau dambakan. Lihat, betapa menyedihkannya dirimu. Hidup sendiri." bisik Rena.
"Sudah ku katakan padamu. Kamu belum mengenalku Intan. Aku bisa menjadi malaikat. Tapi aku juga bisa menjadi iblis. Aku akan membalas orang yang berbuat baik padaku, dengan lebih baik. Tapi aku bisa membalas mereka yang berbuat jahat padaku. Lebih kejam." imbuh Rena.
"Seandainya kamu mendengarkan ku untuk menjauhi keluargaku dan mengubah sikapmu menjadi lebih baik, mungkin semua tidak akan pernah seperti ini. Aku pasti akan maafkan mu. Tapi sepertinya sekarang kata maaf saja tidak cukup."
Rena berdiri dan mendekat ke arah Bagas. Dan mengajak suaminya untuk masuk ke dalam. Rena sadar jika di seberang jalan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi. Dan Rena tahu persisi siapa orang tersebut.
Polisi yang di panggil mak Irah tidak datang karena Galih menghubungi kantor polisi tersebut. Dan mengatakan bahwa laporan tersebut palsu.
Entah bagaimana Galih bisa menebak jika mereka akan melaporkan Intan pada polisi.
"Penjara terlalu mudah untukmu Intan." gumam Galih di dalam mobil.
Saat Intan hendak masuk ke dalam mobilnya, sebuah tangan mencekalnya dan menyeretnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Intan yang sudah lemas karena tekanan tangan Bagas di lehernya tadi tidak bisa melakukan perlawanan lagi.
Mobil milik Intan di kendarai oleh orang suruhan Galih.
Entah apa yang akan Galih lakukan pada Intan. Hanya Galih yang tahu.
Rena melihat kepergian mereka dari balik jendela kaca. Segera Rena mengambil ponselnya dan berkirim pesan pada Galih.
JANGAN TERLALU KEJAM. DIA HANYA SEORANG ANAK YANG TIDAK PERNAH MENDAPATKAN KASIH SAYANG.
Rena kembali menyimpan ponselnya di saku bajunya dan kembali ke ruang tengah.
"Kamu sudah bilang sama ibu jika tidur di sini kan." tanya Rena.
"Sudah mbak."
"Sini mas, biar Rena obati." panggil Rena pada Bagas yang keluar dari kamar mandi.
Rena mengobati luka di lengan Bagas. Sedangkan mak Irah mengobati luka di pundak Lina.
"Sebaiknya kita panggil dokter saja." ujar Rena.
"Nggak perlu sayang. Malu lah. Begini saja panggil dokter." kata Bagas.
"Tapi Lina perlu mas." kata Rena.
"Nggak usah mbak. Pundakku tadi cuma kena dikit kok. Lihat." Lina memperlihatkan tanda memar di pundaknya.
"Awww." seru Bagas.
"Pelan sayang. Jangan di tekan. Sakit." keluh Bagas.
"Sakit. Katanya tidak apa-apa. Tidak mau di panggilkan dokter." ujar Rena seraya melirik ke arah Lina.
__ADS_1
Lina pun langsung menunduk mendapati lirikan dari kakak iparnya.
Rena mengambil ponsel di dalam sakunya dan menelpon Angga. Dia meminta tolong pada Angga untuk datang ke rumahnya.
Bagas yang melihat dan mendengarkan langsung menatap tajam pada Rena.
"Kenapa? Marah. Mau tidur di luar." ancam Rena.
Bagas hanya diam dan membuang muka.
"Serem juga kalau mbak Rena marah." batin Lina.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Angga saat memeriksa lengan Bagas dan pundak Lina.
"Biasa. Adik kakak waktu kecil jarang main bersama. Sekalinya main langsung kayak gini." canda Rena.
Angga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini obat untuk Lina. Yang ini Bagas." ucap Angga.
Sebelum pamit pulang, Angga sempat-sempatnya membuat Bagas cemburu.
"Ren, kamu makin seksi setelah hamil. Makin cantik saja. Makin berisi." ucap Angga.
"Kamu." kata Bagas geram.
"Aku pamit ya bumil seksi." pamit Angga pada Rena dan langsung ngibrit keluar rumah sambil tersenyum puas melihat wajah Bagas.
"Sial." ucap Bagas.
"Aw aw aw,,," seru Bagas karena dia mengibaskan lengannya.
Karena cemburu dengan Angga, Bagas sampai lupa jika tangannya sedang sakit. Rena hanya tersenyum melihat tingkah Bagas.
"Kenapa senyum-senyum." ucap Bagas kesal.
"Gantengnya suamiku." Rena menjawil dagu Bagas.
"Nggak usah pegang-pegang. Sana. Susul Angga sana." kata Bagas jutek.
"Nggak mau. Aku maunya sama kamu sayang." Rena memeluk tubuh Bagas dari belakang.
Bagas menahan senyumnya melihat tingkah manja Rena. Sebenarnya Bagas juga tahu, Rena hanya bercanda. Tapi Bagas memang tidak suka melihat Rena dekat dengan Angga. Apalagi Bagas tahu jika Angga menaruh hati pada istrinya.
Lina hanya bergidik melihat drama di depan matanya.
"Yang lain ngontrak nafas. Mak Irah,,, tunjukkan kamarku." celetuk Lina
Bagas dan Rena tertawa bersama.
"Ya Alloh. Sumpah mas, aku lupa kalau Lina masih ada di sini." ucap Rena memegang perutnya sambil tertawa.
Bagas yang ikut tertawa langsung diam dan melihat ke arah istrinya.
"Terimakasih." kata Bagas membawa Rena ke dalam pelukannya dan menciumi pipi Rena berkali-kali.
"Mas, kempes pipiku nanti." ucap Rena manja.
"Ke kamar yuk mas. Ngantuk." ajak Rena.
"Mau aku gendong." tawar Bagas.
"Ingat woe ingat. Lengan lengan." ucap Rena.
Bagas meringis menunjukkan deretan giginya.
"Lupa. Kamu jangan lupa minum susu dulu sebelum tidur. Biar anak kita sehat. Dan juga ibunya." kata Bagas mengingatkan.
"Siap tuan." ucap Rena.
__ADS_1
BERSAMBUNG.